In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
Dimulai dengan menyantap pizza, Nabilah Basuki menulis mengenai autentisitas dan kesederhanaan makanan asal Itali ini sebelum menjelaskan bagaimana dua karakter tersebut membentuk pola makan dan mempengaruhi kualitas kesehatan penikmatnya. Selamat membaca submisi Open Column ini!
Di "Surga dan Hipokrisi Kita," Muhammad Hilmi merenungkan retorika agamis yang sering dipakai kali sebagai alat menggerakan massa. Berlabuh pada pemahamannya mengenai ajaran Islam dan pengalaman pribadi, Hilmi memberi kritik pemakaian agama dalam mengesahkan pesan-pesan dan gerakan intoleran.
Tiada habisnya jika bicara bahasa, terutama Bahasa Indonesia yang terus berkembang dan merespon waktu. Berangkat dari isu spesifik, yakni estetika dan makna dalam kata tertulis, Febrina Anindita membahas fenomena dalam bahasa untuk mengerti tren penyampaian pesan yang kini marak digunakan.
In this essay, Jo Elaine conducts an imaginary conversation with celebrated Japanese author, Haruki Murakami to illustrate the personal relevance of literature on ordinary, everyday lives.
Dari Pinkshinyultrablast sampai Radiohead, Muhammad Hilmi meretrospeksi rilisan musik dari berbagai genre, dimulai dari Shoegaze, Hip Hop, hingga Hardcore. Baca bagaimana Danny Brown mencampurkan berbagai gaya musik ke dalam karyanya, dan bagaimana Leonard Cohen masih salah satu penulis lagu terbaik sampai era sekarang di dalam Column ini.
Dimulai dengan penggunaan kata "menarik" dalam mendeskripsikan karya fotografi, Ridzki Noviansyah mengangkat topik bahasa yang dipakai untuk mengkritik sebuah karya. Kosa kata, gambar, dan referensi menjadi titik awal sebuah Column dimana Ridzki ingin memperkaya opini dan perspektif dalam mengkritik fotografi.