
W_Circle: V^
Sebagai komunitas climbing, V^ (read: V Up) percaya bahwa olahraga ini bisa menjadi ruang kolaboratif dan inklusif untuk mendukung aksesibilitas publik terhadap olahraga yang dikenal “initimidating” ini.
Words by Whiteboardjournal
Teks: Jemima Panjaitan
Di era ketika semua orang fokus pada cabornya masing-masing, climbing hadir menjadi salah satu cabang olahraga yang mencolok di mata orang-orang yang sedang mencari hobi baru.
Belakangan ini mulai banyak indoor climbing gym di daerah Jakarta maupun Tangerang, bahkan Brookland Coffee yang notabenenya adalah tempat nongkrong dan ngopi, menghadirkan bouldering wall di rumah terbarunya tahun ini.
Jesse Nyberg, seorang desainer grafis yang berbasis di Los Angeles, California, beberapa waktu lalu juga membahas bagaimana bouldering telah menembus industri lain melalui kolaborasi antara cabang olahraga ini dengan fashion, seperti adanya event bouldering yang diadakan oleh Brain Dead, lengkap dengan koleksi Brain Dead Equipment: Climbing. Dalam salah satu kontennya, Nyberg mempertanyakan Is Climbing the New Skateboard? Mengingat evolusi cabor Skateboarding di tahun 2010-an yang membentuk fashion dan youth culture pada masa itu.
Namun, di tengah minat yang meningkat, banyak yang belum mengetahui informasi-informasi mengenai bouldering maupun climbing. Bahkan, banyak yang merasa bahwa barrier of entry untuk olahraga ini cukup tinggi.
V^ (read: V Up), salah satu komunitas climbing di Jakarta pun ingin membuat bouldering dan climbing sebagai olahraga hal yang aksesibel dengan mendorong adanya lingkungan yang kolaboratif dan inklusif untuk menjadikan cabang olahraga ini tidak ‘menakutkan’ bagi orang-orang yang baru mau memulai mendalaminya.
Kami pun menyempatkan untuk ikut dalam ekspedisi mereka ke Batu Libengkok, Bogor, dan ngobrol bersama Sherrien, Dzaki, dan Armin dari V^.
Bagaimana awal V^ terbentuk?
Awalnya V^ terbentuk karena gue (Armin) dan Dzaki menemukan ada masalah di climbing gym, kami merasa rute-rute di gym itu agak sedikit ‘gabut’ dan membingungkan lah. Terus kami mencoba act on it. Awalnya sih kami bergerak menggunakan spray wall, salah satu alat buat latihan manjat.
Spray wall itu seperti satu dinding, banyak holds, dan teman-teman kayak bisa bikin jalur di situ. Kami waktu itu pakai spray wall karena kehabisan jalur di gym. Mulai dari situ lah kami bikin semacam gathering.
Nggak lama kemudian, kami ajak Sherrien sebagai graphic designer karena kami kekurangan manpower, dan kami perlu bikin informasi untuk sebarin ke teman-teman lain kan kalau kami bikin acara di spray wall. Gitu sih paling awalnya, kami mencoba cari rute-rute yang baru lah dari situ, terus tiba-tiba rame.
Dalam gathering, apa saja yang dilakukan oleh V^?
Ya, mungkin to sum up sejauh ini kami udah ada berbagai macam agenda. Kami ada gathering di Brookland, ada juga board wars, dan semuanya punya tujuan yang berbeda-beda.
Kami juga melihat, apa sih yang dibutuhkan sama teman-teman lain? Mereka pengen ada jalur baru, kami bikin board wars. Tapi setelah itu kayaknya kami butuh sesuatu yang lebih fun—kami melihat udah banyak teman-teman community lain di luar sana yang sudah merambat ke outdoor climbing, seperti Loose Climbing dan Hidden Valley Society (HVS). Kami jadi berpikir gimana kalau misalkan kami ikut trip-trip mereka?
Akhirnya kami ngajak, nge-bridge teman-teman indoor gym yang sejauh ini ingin coba outdoor climbing untuk akhirnya punya experience itu.
Di acara Zine Launch kemarin, kami kumpulkan semua komunitas yang ada di sekitar kami di Brookland. Di acara itu kami sadar akan ada masalah ketika outdoor climbing, salah satunya aksesnya yang lumayan susah. Jadi kami bikinkan video buat teman-teman kami di Loose Climbing, di video ini mereka cerita kalau di Indonesia tuh banyak banget batu yang bagus, namun aksesnya sangat susah dan banyak pihak eksternal yang belum mau membuat akses yang lebih gampang.
Akhirnya pas di Brookland kemarin, kami kenalin lah ke teman-teman climbing lainnya, kalau misalnya mau manjat outdoor di Bogor atau Bali, ada teman kami dari komunitas yang ini, yang itu, silahkan kenalan dan jangan sungkan untuk main di tempat mereka.
Selain ngenalin teman-teman ke outdoor climbing, masalah yang kami mau angkat sebetulnya aksesibilitas terhadap batu. Kalau misalkan di luar negeri, teman-teman manjat itu nyari batu segampang itu. Di sini, sekalinya kami nemu batu gede, give it another 6 months, bisa jadi sudah hilang. Sudah ditambang duluan.
Selain itu, palingan kami ngebantu anak-anak aja sih, mereka lagi pada pengen outdoor climbing, kami bantu fasilitasi segala macem gitu-gitu.
Bagaimana sih kalian membuat olahraga bouldering maupun climbing jadi less intimidating?
Yang pasti we try to shy away from visuals yang terlalu resmi atau intimidating. Kalau ngeliat post-post La Sportiva Indonesia, atau FPTI biasanya desainnya dibuat untuk memperlihatkan atlet, kompetisi, achievements, dan performance yang cenderung lebih terlihat seperti sports bulletins & official announcements. Disaat design language yang sama digunakan untuk event “manjat bersama,” sebagai pemanjat santai kami ngeliatnya keder duluan untuk ikut karena duluan dapet kesan kalau acaranya kompetitif dan hanya untuk pemanjat-pemanjat yang udah jago baget, padahal belum tentu begitu heheheh.
Karena V^ dimulai dari community, kami ambil banyak referensi dari F&B, skate culture, brand-brand lifestyle, zines, dan juga musik. Harapannya disaat ada orang baru yang ngeliat posternya, mereka bisa ngerasa “kayaknya gue boleh ikut nih.”
Climbing yang sekarang ingin kami angkat justru bukan lagi soal jadi atlet, or being the best or the strongest, tapi sebagai pintu untuk ketemu teman baru, nongkrong di luar sesi manjat, and mostly having fun while doing what we love without being too pressured about it.
Jadi mungkin lewat typography yang lebih playful, decorative, organic, layout yang gak grid-perfect banget, warna-warna lucu, dan juga pemilihan foto, kami selalu berusaha untuk bikin desain yang lebih warm, approachable, and welcoming supaya teman-teman pemanjat, or even non-climbers can feel like they can hang out with us instead of being tested for their climbing performance.

Ada nggak bentuk kontribusi yang kalian beri ke alam?
Kemarin kami sempat diskusi untuk rencana bersihkan dinding, bersihkan batu. Dulu sempat ada teman-teman kami yang buat konsep charity work. Jadi mereka jualan barang-barang, lalu hasilnya mereka pakai untuk bersihkan dinding-dinding itu, dan hanger-hanger itu diganti setiap saat.
Harapannya sih, kami mau mencoba hal yang sama, mungkin one day kami ngelakuin charity work dan kalau lagi trip ke mana gitu, kami ikut bersihkan alam sekitarnya.
Kalau lagi ada trip ke tebing, tebingnya juga bisa kami bersihkan. Ganti hanger-nya tiap beberapa tahun sekali, karena kami pengen ngebantu recreational sports juga, sekalian preserve alam di sekitar situ sih.
Kebanyakan di tempat yang dinding-dindingnya sudah di-preserve, dan memang sudah terkenal jadi tempat manjat, pasti ada penjaganya yang ngebersihin untuk alam sekitarnya. Tapi mungkin untuk beberapa tempat-tempat yang kami baru temuin kayak di Libengkok, harapannya karena ini masih uncharted ya, yang kami bisa lakukan sekarang ya ngejaga kebersihan aja sih.
Apa yang membedakan climbing di indoor rock climbing gym dan di alam?
Kalau di dalam indoor climbing gym, kami bisa ngeliat pegangannya di mana dengan jelas ya, karena dia warna-warni, biasanya satu rute itu satu warna.
Sedangkan kalau di outdoor, pegangannya bisa nyaru sama batunya, terus biasanya itu pegangannya kecil, crimpy kami bilangnya, atau sloppy kalau licin, dan juga banyak batu yang lancip.
Di indoor gym tuh juga pegangannya halus-halus ya dan ada matrasnya yang tebal, jadi mau jatuh di mana pun juga rasanya aman, ada AC juga.
Kalau outdoor climbing, kami harus bawa crash pad sendiri dan nggak semua crash pad itu besar. Kadang cuma bawa satu, kadang bawa dua, jadi harus ada teman juga yang paling penting untuk bantu spotting, dan juga bantu gerak-gerakin crash pad ke area jatuh.
Terus harus ngelihat cuaca juga, kami harus ngelihat lagi hujan atau nggak. Kalau misalnya hujan, batunya licin, atau bahkan kalau setelah hujan, ada daerah-daerah yang sebenarnya di tempat air mengalir kayak sungai. Pastinya kalau outdoor juga ada ethics yang harus dijaga. Misal sepatunya nggak boleh kotor, untuk menjaga batunya juga.
Overtime juga pasti batunya akan berubah bentuk karena hujan, atau dia chipped off, gitu-gitu. Jadi levelnya juga bisa berubah. Level kesulitan di outdoor dan indoor juga beda, misal di indoor kita bisa V3*, di outdoor V0 juga belum tentu ada dan bisa ketemu.
*Grading untuk level kesulitan di olahraga climbing. Range dimulai dari VB (V-Beginner/Basic), lalu dilanjutkan ke V0, dan angka-angkanya semakin meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat kesulitan. Huruf V diambil dari nama Vermin, julukan bagi John Sherman, pelopor olahraga bouldering.
Style manjatnya juga beda. Kalau outdoor lebih statis, gerakan-gerakannya berat, dan old school. Kalau di indoor udah bisa running start, udah bisa loncat-loncat, dan lebih modern.
Nah musim tuh bisa mengubah batu. Di Bali ada satu tempat yang ditemui teman kami dan mereka cuma bisa ke sana kalau nggak salah kalau musim panas aja karena di musim lain ada satu musim yang airnya pasang terus. Jadi, kalau tahun depan mereka ke sana lagi, rute manjatnya berubah. Batunya berubah, rutenya otomatis berubah, jadi mereka nggak akan kehabisan rute.
Bagaimana kalian melihat masa depan climbing?
Predicting the future can be very hard, especially dengan keadaan di Indonesia ya. There’s a lot of unpredictable things.
Manjat bukan sesuatu olahraga yang baru, itu udah lama banget ada di Indonesia. Tapi, fokus untuk mengeksplorasi bouldering on its own masih cukup jauh dibanding lead climbing. Masa depan bouldering akan sangat bergantung sama fasilitasnya. Jadi, ketika sudah mulai banyak climbing gym yang beneran masif, dan nggak hanya di Jakarta, di situlah kita bisa tau kalau akan ada lebih banyak lagi teman-teman yang bisa going outdoors, untuk bisa explore batu, untuk bisa ngisi list “gue nemu batu nih di crack sini, sini, sini…” kayak gitu.
Perkembangannya akan berjalan bersamaan dengan fasilitas juga gitu. Kalo misalkan di luar, kenapa banyak banget orang yang manjat? Ya karena negara mereka menyiapkan banyak indoor climbing gym yang benar-benar bagus gitu. Di Jepang aja, mungkin sudah ada 100+ climbing gym.
Di luar Tokyo juga ada satu area batu yang kita bisa tinggal pilih, datang, dan tempatnya punya shop, punya map untuk rute manjatnya, tinggal pilih aja gitu mau ke mana. Harapannya, mungkin di masa depan, kita bisa bikin sesuatu hal kayak gini juga sih. We’re going there.

Image via V^

Image via V^

Image via V^

Image via V^

Image via V^
Menurut kalian, trend bouldering sendiri tuh seperti apa sih di Jakarta?
Mungkin kami nggak bisa ngomongin bouldering, tanpa ngomongin lead climbing, atau sport climbing. Walaupun mereka dua disiplin yang berbeda, tekniknya tetap sama, cara belajarnya itu awalnya sama.
Jadi bouldering tuh kayak versi, olahraga yang lebih ekstrimnya, lebih ekstrim daripada lead climbing, atau sport climbing. Sedangkan sport climbing itu versi endurance-nya. Jadi tergantung orangnya sebenarnya.
Kalau misalnya dia lebih suka yang endurance, dia pasti akan lebih milih, lead climbing atau sport climbing. Dan di situ juga banyak rute-rute yang susah. Kalau misalnya buat bouldering, itu mereka, lebih fokus sama teknik, dan gerakan-gerakan yang, cuman, rutenya itu cuman kayak 4–5 poin, cuman, teknik itu, setiap rute, pasti beda-beda gitu. Pasti ada teknik yang lebih selalu dipakai disini, cuman yang di rutenya sebelahnya nggak bisa. Jadi lo nggak bisa, menurut kami, bouldering itu, akan selalu ada.
Trennya sekarang lagi naik karena pas Olympics kemarin, kita [Indonesia] ada yang menang untuk cabang olahraga climbing, dan makin banyak prestasi Indonesia di mana-mana, ada yang menang ini, ada yang menang itu.
Untuk sekarang, banyak orang melihat bouldering sebagai sesuatu yang gampang diakses karena lo hanya perlu datang, perlu bawa badan, sewa sepatu. Saat climbing gym yang sudah mulai banyak yang buka di Jakarta, di awal mereka menyediakan tripod. Jadi, orang-orang bisa langsung ngerekam, dan nge-post, climbing-nya. Menurut kami, itu yang bikin orang jadi FOMO, dan pengen coba juga.
Cuman, it’s relatively not an easy sport. Jadi, kalau dibandingkan sama padel, mungkin gak banyak yang stay, tapi sekalinya orang suka tuh, bisa suka banget. Biayanya juga relatively mahal ya untuk seorang individu. Olahraga ini juga sebenarnya tuh udah ada dari lama, dan nggak pernah hilang, kenapa? Mostly sih karena kebanyakan yang menekuni olahraganya adalah orang-orang yang sudah di umur mid-thirties, karena mereka punya financial disposable yang cukup—aksesibilitasnya tuh mahal, beli sepatu juga mahal, manjat di gym sendiri aja, juga mahal untuk seharian. Jadi, susah banget untuk beberapa orang yang sekadar ingin coba karena mikirnya “gue harus ngeluarin sebanyak itu, gitu?”
Sebetulnya kalau kita lihat dari olahraganya, salah satu faktor yang membuat mahal itu sebenarnya setiap batu yang dipegang—harganya bisa mahal banget. Satu rute itu, satu tipe hold, dan harganya bisa sampai Rp100.000.000. Jadi, kalau ditanya apakah perkembangannya akan seperti padel? Jawabannya nggak, karena untuk invest dan beneran percaya bahwa olahraga ini works itu susah. Untuk climbing gym juga kalau mau bikin jalur baru, artinya harus punya tipe hold baru, dan harus mengeluarkan uang lagi. Ke depannya, ini akan menjadi tantangan bagi kedua belah pihak: pihak climbing gym, dan kita yang punya hobi climbing baik untuk sports atau entertainment aja.
Masalahnya adalahnya ketika kita bandingin Indonesia, dengan Singapura dan Jepang, atau mungkin negara tetangga lainnya seperti Thailand, skill gap antara normal enjoyers dan atlet di sana itu nggak terlalu jauh. Nah kenapa? Karena fasilitas climbing gym-nya itu banyak, dan itu ngasih jalan untuk teman-teman yang melihat climbing sebagai hobi untuk bisa berlatih lebih maksimal.
Sementara di sini ada batasan, climbing gym di Jakarta sendiri aja, itu mungkin baru ada sekitar 8–10 tempat kali ya? Jadinya kita ngelihat, bisa beda banget skill gap antara kami, normal enjoyers yang sehari-hari manjat dan teman-teman atlet yang serius gitu. Ketika kita ngomongin atlet, kita bisa ngelihat ada hasil, karena mereka sudah bertahun-tahun latihan gitu. Seperti kemarin, Srondeng bisa dapat emas di lead climbing di World Climbing Series itu sama seperti ngalahin, Ronaldo, Messi, di Piala Dunia gitu. Beneran sejago itu. Tapi balik lagi, karena batasan fasilitas, terbatasnya uang, jadinya skill gap itu jauh—padahal Indonesia itu sangat amat terkenal dalam hal speed climbing (Climbing punya 3 cabang: speed, lead, dan bouldering)
View this post on Instagram
Indonesia itu terkenal pecahkan rekor terus di speed climbing, mungkin karena atlet kita jago dalam menghafal jalur, punya strength, dan explosiveness. Kegigihan tim atlet kita itu luar biasa bagus banget. Nah, menurut kami yang nggak kalah dan ada potensinya, ke depan adalah di cabang lead climbing ini gitu. Srondeng yang menang di World Climbing Series itu sebuah jalan baru sih.
Untuk pemula, apa yang harus dipelajari terlebih dahulu—mulai dari mana?
Buat orang-orang yang mau belajar manjat, coba belajar indoor climbing dulu deh. Terus, selain menyiapkan waktu dan dana, menurut kami kalau ada yang penasaran buat nyobain manjat, dan belum pernah ada pengalaman sama sekali, langsung coba aja, karena barrier of entry untuk manjat itu nggak setinggi yang orang kira.
Paling karena ini extreme sport, jadi paling utama siapin mental sih, apalagi buat yang baru-baru mulai kan, kayak… “wah 3 meter rasanya jauh banget.” Kalau sudah sering latihan, dan sudah di atas 3 meter, rasanya ketika jatuh dan landing di bawah tuh kayak “Wah 3 meter doang, tahun depan gue cobain 15 meter ah.”
Tapi beneran, kalau buat indoor climbing gym, kalian cuma perlu datang aja, karena sewa sepatu ada di sana, sewa chalk juga ada di sana juga, pasti ada juga yang ngajarin, dan itu tempat yang paling aman buat buat belajar bouldering atau manjat in general.
Terus, kalau mau manjat outdoor, mulainya gimana? Pertanyaannya bagus nih. Kalau udah mulai kenal manjat dari gym, dan penasaran dengan manjat di outdoor, lo bisa coba tanya-tanya sama orang di home gym lo, mereka tau tempat nggak? atau tau orang-orang atau komunitasnya nggak? Dari situ nih, kalian bisa kumpulin informasi di mana tempat manjat outdoor yang paling dekat, dan yang mana menurut lo yang paling asik buat dicobain, karena menurut gue itu penting banget. Kalau informasinya sudah kekumpul, coba approach komunitas outdoor yang ada, mereka selalu terbuka dan baik-baik untuk ngerangkul orang untuk coba outdoor climbing.
Selain itu, teman kami Mas Vicky pernah bilang, kalau misalnya dia abis manjat outdoor, dia pasti balik lagi ke climbing gym karena menurut dia climbing gym itu kayak bengkelnya, dan manjat outdoor itu untuk uji skill lah.
Harapannya dengan banyak komunitas, seperti V^, Loose Climbing, Hidden Valley Society, dan lainnya yang udah mulai banyak… kami pengennya semua bisa main bareng. Maunya climbing itu… easy to be accessible gitu, karena nggak ada rasa intimidasi. Kami berharap V^ jadi ruang untuk orang datang, ngobrol-ngobrol, dan merasa nyaman aja buat ikutan. Nurunin barrier of entry-nya lah.
Gimana cara menjadi member V^?
Nggak ada sih, dan sebetulnya kita selalu mencari orang baru, ngeliat muka-muka baru. Kita punya harapan kalau it’s not just about being a member, tapi juga teman-teman bisa jump in aja langsung gitu. Kayak reply kita di Instagram kalau misalkan, eh ini ada acara apa, boleh ikut nggak? Dengan kayak gitu aja we’re more than welcome sih. It’s bigger than us as a community. For the love of sport, kami lebih suka ngajak orang manjatnya sendiri daripada introduce mereka ke V^ sebenarnya. Kami jauh lebih senang kalau misalnya mereka jatuh cinta sama sport-nya, sama olahraganya. Menurut kami lebih keren kalau kita bisa introduce mereka manjat itu seperti apa, sampai jadi manjat terus-terusan.
Kami sendiri berpikir kenapa adanya V^ itu karena kami mau membuka akses, fasilitas, dan kesempatan untuk orang-orang bisa cobain sport-nya.



