
Duka Tidak Punya Batas Kedaluwarsa
Dalam submisi Open Column ini, Boit menuliskan refleksi personalnya yang mengafirmasikan kepada kita bahwa duka akan selalu membekas, dan mungkin tidak ada tanggal kedaluwarsanya.
Words by Whiteboardjournal
Saya ingat hari itu, sebuah siang yang terik. Kami sedang di jalan menuju pemakaman Ibu saya. Handphone saya berdering: dari rumah sakit. Suara di seberang langsung memperkenalkan diri.
“Halo, Teh, ini dari Hermina Arcamanik. Kami dapat kabar, Ibu katanya sakit lagi ya? Kalo misalnya membutuhkan layanan home care, kami bisa membantu untuk menyiapkan.”
Saya menghela nafas sebelum berusaha menjawab dengan baik, “Maaf, Mbak, Ibu saya baru meninggal kemarin, ini kami sedang di jalan menuju pemakaman.”
Rentetan kata maaf dan duka cita langsung terdengar dari seberang. Saya menutup telepon sambil setengah tertawa dan pada waktu yang sama menghapus air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Sesungguhnya, tidak pernah ada waktu yang tepat untuk mengabarkan duka cita.
Pun tak pernah ada yang siap untuk ditinggalkan. Mama meninggal 9 April 2021, dikelilingi semua keluarga di rumah. Rasanya aneh menyaksikan cahaya hidup hilang dan meninggalkan raga. Rasanya ingin menangis dan berteriak kencang, tapi juga tak bisa karena persiapan pemakaman harus dimulai saat itu juga. Persiapan pemandian. Menentukan tempat istirahat terakhir. Urusan administrasi. Rumah duka, persemayaman menunggu saat pemakaman. Tamu yang datang silih berganti. Mengulang kronologis penyebab kematian. Lagi, lagi, dan lagi. Tangis yang selalu pecah setiap pelukan datang sambil mengucap, “Sabar ya, kuat ya.”
I wish I could say I couldn’t stand losing my loved ones, but the world doesn’t stop turning. Ada banyak tumpukan kesedihan yang harus ditunda karena urusan datang bertubi-tubi. Tugas yang hidup, suka tidak suka, bisa tidak bisa: meneruskan hidup setelah beres mengurus yang mati.
Berat. Semuanya berat. Dan kehilangan itu bukan pengalaman yang baru sekali saya lewati. Bapak saya meninggal bulan Juni 2009. Kemudian satu persatu mulai dari tante, paman, sepupu, teman-teman pergi, sampai kakak saya menyusul, bulan Juni 2026. Kami dua bersaudara. Saya ingat saat mendapat kabar kematiannya. Yang terlintas adalah, “Oh, gini rasanya sebatang kara.”
Semua teman dan saudara menghibur dengan, “Kan teteh punya keluarga. Kan ada kami.” Tapi rasanya beda. Kalau boleh memilih, mending saya tiap pagi ke rumah sakit ngurusin keperluan yang sakit daripada ke makam naro bunga untuk ziarah. Rindunya tidak pernah berbalas.
Mungkin karena itu, setiap kehilangan terasa seperti membuka kembali kehilangan-kehilangan sebelumnya. Saat ziarah ke makam teman baik saya, misalnya, saya pernah berkata, “Nggak bosen mati, bro, sibuk amat, lagi ngapain sih?” Rasa rindu yang tidak pernah usai adalah hal yang menurut saya paling berat. Rasa sedih dan hati yang patah berkeping setiap kali kesadaran kehilangan menghantam. Setiap kali ingat bahwa kita tidak lagi ada di dunia yang sama.
Duka tidak punya batas kadaluarsa. Dia bisa datang kapan saja. Mendengar lagu kesukaan bersama bisa bikin hati nelangsa. Makan tahu goreng bisa mengingatkan pada kakak yang biasa mengirim tahu mentah ke rumah. Memasak nasi goreng bisa bikin ingat pada malam-malam bersama Bapak yang hobinya bikin nasi goreng. Mematikan tivi saja bisa bikin ingat Ibu yang selalu ngomel, “Kalo ga ada yang nonton, matiin tivinya.”
Dan duka setelah kematian bisa datang kapan saja. Tidak ada linimasanya. Salah satu teman baik saya, Merry, meninggal 17 tahun yang lalu. Saat tahun 2013 saya nonton konser Metallica di Jakarta, di tengah ribuan penonton lainnya, saya sempat menangis dan membatin, “Harusnya gw nonton ini sama elu, Mer.”
Ibu-ibu di kelompok sekolah pernah berseloroh pada saya, “Temen Teh Boit tu banyak ya? Kayaknya sering banget ngelayat, Teh.” Saya cuma bisa tersenyum kecut. Malah jadi berpikir bahwa setiap kehilangan, artinya bisa berbeda-beda. Bahwa setiap orang yang muncul di hidup kita punya cerita dan jalannya masing-masing. Ada teman jalan beli baju, ada teman makan bubur ayam, ada teman nonton konser, ada teman berantem, ada guru sekolah, ada teman sejak kecil ada tukang masak keluarga, macam-macam.
Pada suatu malam di RSHS, sambil memeluk teman yang tengah menunggu orang terdekatnya yang sedang kritis, entah wangsit dari mana, untuk menguatkan teman saya, saya bilang “Susah saingan ama Tuhan, mah.” Tidak sampai satu jam dari lontaran kalimat itu, kami menyaksikan garis di monitor hidupnya menjadi rata. Teman yang lain memilih pergi tidur selamanya usai menyelesaikan panggungnya di sebuah acara. Yang lain? Serangan jantung. Kecelakaan. Diabetes. Stroke. Gagal ginjal. Meningitis. Asam lambung. Pagi masih ngobrol, malamnya harus ke rumah duka. Cara kepergian masing-masing orang juga tidak ada yang tahu.
Hal-hal semacam ini membuat saya jadi realistis. Setiap ada yang bercerita dan mengadu tentang kehilangan, saya selalu bilang, “Gue nggak akan bisa menghibur. Ini emang berat, ini akan sedih terus, dan kesedihannya akan terus datang. Satu-satunya jalan hanya melewatinya dan berharap semoga waktu bisa menyembuhkan.”
Tidak ada rutinitas dalam berduka. Tidak ada buku panduan berduka cita dengan baik dan benar. Tidak ada yang bilang bahwa rasa kehilangan bisa menyeretmu ke kubangan kemarahan dan sesal yang tidak berujung. Membuatmu jadi manusia egois karena merasa paling kehilangan dan merasa tidak ada orang lain yang memahami apa yang sedang dilewati. Sedikit saran, kalau ada yang terdekat sedang mengalami duka, bekali dirimu dengan sebanyak-banyaknya empati. Bantu jika bisa. Peluk dengan erat.
Tabah, kuat, ikhlas, sabar adalah kata-kata yang paling sering diucapkan pada mereka yang kehilangan. Saya ingat saat berjumpa dengan seorang teman yang baru mengetahui kalau kakak saya sudah tiada.
“Duh, apa rasanya, Boit? Lu baik-baik aja kan?”
Saya langsung menjawab, “Ya enggaklah, gile aje.”
Penghiburan biasanya justru datang dari hal yang tidak terduga. Rasa syukur setelah pemakaman Ibu saya datang sehari sesudahnya dalam bentuk sepiring picnic pie kiriman teman baik saya. Siapa sangka saya butuh makan picnic pie yang enak sambil menghibur hati yang remuk redam.
Dulu, saya mengira kalau tradisi tahlilan adalah murni mendoakan yang meninggal. Ternyata ketika saya mengalami sendiri, tahlilan adalah proses melepaskan. Menemani yang ditinggal, menghibur yang ditinggalkan, dan mengenang serta merayakan hidup yang mati.
Kompleksitas kematian datang setelah pemakaman. Cerita masa lalu, masalah, kenyataan, kejadian semasa hidup, hutang, warisan, masalah yang menggantung dan harus diselesaikan oleh mereka yang ditinggalkan. Melelahkan.
Semua itu bisa memicu friksi dan pertengkaran, kadang sampai membuat putus hubungan, kadang membuat hubungan yang jauh jadi dekat. Yang paling menyebalkan tentu saja karena orang yang sudah meninggal tidak bisa ditanya. Kesal, tapi mau marah ke siapa?
Setelah melewati beberapa pemakaman, saya akhirnya punya teori kalau lancar–tidaknya proses pemakaman berhubungan erat dengan sifat dan sikap orang yang meninggal semasa hidupnya. Salah satu peristiwa yang membuat saya meyakini itu membawa kita kembali ke siang yang terik di jalan menuju pemakaman Ibu saya.
Mobil kami ketinggalan rombongan ambulan pembawa jenazah. Saat kami sampai ke pemakaman, keranda sudah menunggu di tepi lubang makam. Rasanya seperti semasa hidup: Ibu saya meninggalkan saya pergi duluan ke acara keluarga karena dia tidak sabar menunggu saya yang sedang bersiap-siap.
Yang tidak ada cuma omelannya saja. Maka kemudian, percayalah bahwa lebih baik kita berantem sampai puas dengan siapa pun yang membuat kita kesal. Berterus terang. Jika rindu, sampaikan. Karena umur, siapa yang tahu? Mungkin beberapa teman pernah mendengar ungkapan ketika kita sedang bercerita tentang orang tua kita, “Omongin gih, mumpung masih ada.” Meski sulit untuk dilakukan, berdamailah, lakukanlah esok atau lusa.
Kehilangan selalu punya cara sendiri untuk mengendap dan menyelinap duduk dengan baik dalam hati. Setiap mengingat hal kecil tentang satu orang yang pergi, lalu teringat satu orang lagi lalu satu lagi, sampai cuma bisa menghela nafas dan menyelipkan doa.
Tersenyumlah. Ingatlah dengan rasa senang tiap kepingan ingatannya. Rayakan hidup sebaik-baiknya. Sekali lagi, tugas orang yang ditinggal mati adalah meneruskan hidup dan hidup serta segala isinya, menunggumu untuk ditempuh dan ingatlah kamu tidak sendiri. Sebisa mungkin, jangan pernah menelan duka sendirian.
Peluk dan rayakan hidup dengan semua yang kita sayang atau bahkan dengan yang kita benci, sebelum mereka tidak ada.
– Boit.
Ditulis sambil mengenang semua yang mendahului: Keluarga dan kerabat serta teman-teman. I miss you guys all the time. Mengheningkan cipta, dimulai.




