In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
Melalui program Open Column, Jejen Jaelani menyampaikan isu mengenai pergeseran nilai permukiman di pinggir kali yang diwarnai oleh ideologi kapitalisme dan konsumerisme. Adanya representasi yang muncul atas peristiwa tersebut telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap nilai permukiman.
In this Open Column submission, Debora Irene Christine writes about freedom and nationality in Indonesia that have been vaguely interpreted by its people. Debora reveals how we’ve been living in utopian world and hopeful to the idea of freedom in the current sociopolitical condition of Indonesia.
Sebagai salah satu pengajar fotografi di sebuah sanggar di Bukit Duri, Adrian Mulya memiliki kenangan tersendiri dengan lokasi tersebut. Ketika terjadi penggusuran di lokasi itu beberapa waktu lalu, Adrian mengunjungi kembali lokasi untuk merekam momen-momen terakhirnya di sana.
Pada Column kali ini, Febrina Anindita mencoba membahas momen yang awalnya hadir sebagai inspirasi dibalik fashion, kini terbayangi oleh penilaian orang terhadap fashion.
Melalui open column, Audry Rizki mengirimkan tulisan fiksi yang berkisah mengenai kejadian dibalik sebuah pesta keakraban. Melalui kisahnya, Audry mendedah mengenai kultur kampus, etos DIY, konsepsi masyarakat dan budaya bersenang-senang.
Pada esainya kali ini, Febrina Anindita menulis tentang bagaimana musik bergenre trip hop memiliki kemampuan untuk membuka pintu menuju ruang eksplorasi yang luas untuk mencapai level spiritual. Dengan mengambil contoh lagu-lagu dari Portishead, Febrina mencoba untuk menjelaskan bagaimana trip hop mampu menuntun pendengar untuk mengeksplorasi emosi yang biasanya dikesampingkan.