In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
Pada submisi open column-nya, Nugroho menghidupkan kembali ingatan-ingatan tentang Stadion Lebak Bulus. Tentang teriakan yang dulu bersumber dari bangku penonton, juga aksi hingga sejarah yang pernah tercipta di atas rumputnya.
Melalui submisi open column-nya, Unies Ananda Raja mengulas mengenai bagaimana dua pemimpin tertinggi negara maju dunia, Trump sebagai perwakilan Amerika dan Macron sebagai perwakilan Perancis menyampaikan perspektif masing-masing mengenai masalah pemanasan global. Dan bagaimana keduanya luput untuk menemukan solusi sejati terhadap masalah bagi bumi ini.
Pada submisi open columnya, Ikrar Raksaperdana menyoal tentang konsepsi ruang di era sekarang. Tentang bagaimana terjadi pergeseran fungsi di dalamnya dari waktu ke waktu, dan bagaimana dinamika sosial yang terjadi di dalamnya juga turut berubah.
In her open column submission, Livina Veneralda share her view regarding the psychology behind the term, introvert and extrovert and how this kind of dichotomy affects human personality and its relation to other person.
Melalui submisi open column, Muhammad Rahaddis Adiyoga menangkap resah hati dan ketakutan dari pengungsi Rohingya dalam gambar dan tulisan. Ia bercerita mengenai kronologi dan masalah yang dihadapi oleh para pengungsi di bawah kuasa peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi.
In his open column submission, Aufa Ahdan mainly talks about how he sees stand up comedy as a self-heckling medium, or so-called comedic sociology, and relates it to the current divisive nature of (some) Indonesian people.