Latest stories

10.10.17

Misi Di Balik Archipelago Festival

Kehadiran salah satu kolektif muda yang memperkenalkan diri sebagai Studiorama di awal dekade tahun 2000-an, membawa sebongkah harapan besar untuk keberlangsungan skena musik independen di Indonesia. Pasalnya apa yang coba ditawarkan oleh mereka adalah bibit-bibit peleburan berbagai bidang kreatif untuk bisa menghadirkan penampilan-penampilan baru yang segar. Dengan merangkul para pelaku musik itu sendiri, seniman dan sosok-sosok kreatif lainnya, Studiorama secara pasti memperlihatkan seperti apa konsistensi yang mereka miliki. Kali ini menggandeng salah satu alternatif yang memberikan pengalaman lain untuk menyaksikan pertunjukan musik secara digital, yakni Sound From The Corner (SFTC), mereka menginisiasi sebuah konferensi musik tahun ini, bernama Archipelago Festival. Konferensi ini akan mengundang berbagai narasumber untuk panel diskusi dan musisi lintas genre untuk tampil guna memberikan berbagai menarik, dengan harapan mampu mendorong perkembangan musik Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. Kami berkesempatan untuk menanyakan konsep dan harapan dari diselenggarakannya acara ini dengan mereka. Walaupun benar SFTC dan Studiorama mengunjungi Inggris untuk The Great Escape di Brighton bulan Mei kemarin, Archipelago Festival tidak secara khusus terinspirasi hanya oleh kunjungan tersebut. Konferensi musik ada di berbagai negara (Music Matters - Singapura, SXSW - Amerika Serikat, TGE - Inggris, MIDEM - Perancis, MUCON - Korsel, dst) dan kami berpikir ini saatnya Indonesia juga punya konferensi yang serupa; yang mengajak pelaku, penikmat, maupun pemula untuk berdiskusi dan kemudian siapa tahu berujung kepada aksi nyata yang berdampak signifikan. dan memakai visual kultural, tepatnya bagian Timur Indonesia? Apa yang mau ditekankan lewat identitas ini? Bila berdiri sendiri, Archipelago sebagai sebuah kata memiliki arti “kepulauan.” Pendekatan dan identitas visual yang kami terapkan tidak ada kaitannya dengan pandangan Indonesia sebagai negara kepulauan, apalagi mengadopsi semangat nasionalisme. Kami memandang dinamika/isu/masalah yang ada di musik lokal seperti layaknya pulau-pulau kecil yang berdiri sendiri dipisahkan lautan, tapi berada di dalam satu teritori. Niatannya adalah membawa dinamika-dinamika yang berbeda ini untuk dibahas dalam satu wadah, yakni Archipelago Festival. seperti apa yang ingin kalian tekankan pada emerging artist lokal lewat festival ini? Salah satu tema besar yang kami ingin bawa adalah Ada dan yang tidak seimbang di dalam musik lokal di Indonesia. Penampil yang itu-itu saja merajai acara-acara musik lokal, di saat yang sama talenta baru yang kualitasnya bagus semakin banyak. Kami ingin menggeser pola pikir tersebut dan mencoba untuk berani memberikan panggung utama bagi musik-musik baru yang (bagi kami) layak mendapatkan perhatian lebih. Salah satu tujuan utama Archipelago Festival adalah untuk mengajak audiens yang lebih umum untuk melihat industri musik sebagai sebuah ekosistem: musik tidak hanya tentang musisi semata, tapi di balik layar adalah sejumlah peran-peran yang sama pentingnya. Dari kacamata penonton umum, Archipelago ideal bagi mereka yang ingin tahu band-band baru yang seru untuk dicek, dan melihat musik tidak hanya sebagai sesuatu yang dinikmati (sebagai penampilan musik) tapi juga sebagai sebuah industri, komunitas dan ekosistem yang berkesinambungan. Tidak ada metode empirik atau riset mendalam untuk menentukan topik panel diskusi, namun kami percaya diri topik-topik yang diusung punya relevansi besar terhadap kodisi riil di lapangan. SFTC dan Studiorama sebagai kolektif musik, juga sering berhadapan dengan isu-isu yang diangkat jadi campuran antara pengamatan sosial dan pengalaman sendiri. Kami bermitra dengan British Council untuk panel ini. Tema besarnya tentang bagaimana band Indonesia bisa memulai membangun di Inggris. Industri di Inggris termasuk yang tersulit di dunia - sangat kompetitif dan kami kira ini bisa jadi insight yang menarik untuk audiens Archipelago Festival. Dampak jangka panjangnya, kami berharap Archipelago Festival bisa dijadikan ajang silaturahmi dan semua orang yang suka dan peduli terhadap musik di Indonesia. Kami juga berharap lokal yang ditampilkan di sini, juga yang ada di luar sana, bisa mendapat sorotan layak. Sehingga acara yang bertebaran tidak hanya akan diisi oleh penampil yang berulang, tetapi juga nama-nama segar dengan cakupan musik luas. Keberagaman talenta tentunya memperkaya musik Indonesia. - 14-15 Oktober 2017 Soehanna Hall The Energy Building SCBD, Lot 11A Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53

10.10.17

Project ••||| Chapter One Part 2

Setelah melaksanakan instalasi pertamanya, Project23, kolektif musik elektronik dan seni visual asal Bali, akan mengadakan bagian kedua dari gelaran “Chapter One” mereka. Tetap dengan visi misi yang sama, yaitu menaikkan talenta-talenta kontemporer lokal yang selalu ditenggelamkan oleh artis-artis internasional, “Project23 Chapter One, Part 2” akan menjadi versi mini dari acara pertama kolektif tersebut yang diadakan pada 2 September 2017 lalu. Dengan menampilkan 8 DJ, 4 live PA, 2 instalasi seni, dan kelebihan dari instalasi kali ini adalah bahwa acara ini tidak akan memungut biaya apapun, alias gratis. Keputusan untuk menggratiskan biaya masuk sebenarnya bermotivasi dari evaluasi acara pertama. Komunitas lokal, yang merupakan target pengunjung utama Project23, merasa bahwa harga yang diangkat untuk biaya masuk instalasi pertama sedikit berlebihan. Walaupun dari pihak Project23 merasa bahwa harga yang mereka tetapkan sangat masuk akal jika mengingat besarnya biaya produksi acara tersebut, mereka juga sadar bahwa harga yang mahal tetap akan menjadi masalah secara jangka panjang. Demikian mengapa kolektif ini sepakat untuk membuat acara selanjutnya gratis. “Chapter One, Part 2” juga akan menghadirkan untuk artis dan komunitas lokal seminggu sebelum pertunjukan utama. ini akan memiliki dua kategori: kreatif dan karir. Kreatif, seperti namanya, akan membahas sisi kreatif dan memberi materi-materi tentang bagaimana membuat atau menyempurnakan karya seperti musik, DJ, dan Sedangkan kategori karir akan lebih fokus kepada dan juga menjadi “Project23 Chapter One, Part 2” akan diadakan pada tanggal 28 Oktober 2017 di Arboon Beach Bar, Bali. Untuk informasi selanjutnya, bisa dilihat di Instagram dan Facebook Project23.

09.10.17

Jagat Mawut

Perkembangan zaman membawa banyak perubahan yang mempengaruhi hampir di berbagai aspek, termasuk pada dunia kesenian. Definisi seni hari ini sudah tidak lagi sebatas karya yang sebelumnya hanya bisa dihasilkan oleh orang-orang yang mendalami atau secara formal mendapatkan pendidikan seni. Sekarang ini seni sudah dijadikan sebagai medium ekspresi yang bisa dilakukan oleh siapa saja, seperti halnya yang dilakukan oleh Imam Sucahyo. Seniman asal Tuban, Jawa Timur ini pertama kali mengenal dunia seni di umur 22 tahun dan sejak itu karya-karyanya sering berpartisipasi dalam meramaikan pameran seni rupa di Tuban, Surabaya dan Lampung. Imam Sucahyo dikenal melalui karya-karya visualnya yang brutal. Hal tersebut banyak dipengaruhi oleh dampak psikosis Imam ketika menjadi seorang pengguna obat terlarang selama kurang lebih 14 tahun. Pada proses kreatifnya, Imam menginterpretasikan bentuk halusinasi dan paranoia yang ia dapatkan dengan pengalamannya dalam melihat persinggungan sosial masyarakat kelas menengah ke bawah yang ia temukan saat merantau ke berbagai daerah di Indonesia. Sehingga kebanyakan karya imam terlihat seperti mozaik atas khazanah kehidupan dari masyarakat yang termajinalkan. Pada kesempatan kali ini, rumah seni asal Ubud, Bali yakni Cata Odata, menggelar pameran tunggal Imam Sucahyo yang dikuratori oleh Dwi S. Wibowo. Dengan di beri judul “Jagat Mawut,” pameran ini akan mendisplay 72 karya yang merepresentasikan karakter karya Imam Sucahyo dalam menyampaikan pergulatan masyarakat kelas bawah, yang lekat dengan persoalan-persoalan ekonomi, ruang, dan gender yang kompleks. Pameran ini dibuat untuk menghadirkan pertanyaan-pertanyaan seputar ‘dunia porak poranda’ oleh Imam secara gamblang dan bersamaan ke dalam sebuah diskusi. Selain pameran, nantinya juga ada rangkaiannya lain guna mendukung Jagat Mawut, seperti dan dialog agar dapat memberikan pengetahuan yang lebih dalam mengenai gelombang Art Brut dan seni di Indonesia. Registrasi di sini - 3 Oktober-4 November 2017 Cata Odata Jl. Penestanan Kelod, Ubud (Opp. Pura Dalam Penestanan Kelod) SCENE-TO-SCENE Rabu, 11 – Minggu, 15 Oktober 2017 11:00 – 18:00 WITA Film Screening BBC One Imagine Series: Turning The Art World Inside Out Minggu, 22 Oktober 2017, 18:00 – 19:30 WITA CO.Study Melangkah masuk ke luar: percakapan tentang “Seni liyan” di sekitar kita Jumat, 3 November 2017, 18:00 – 20:00 WITA

09.10.17

Quick Review: Bottle Rocket

Masyarakat penggemar sinema mungkin sudah tidak asing lagi dengan film durasi panjang pertama Wes Anderson, “Bottle Rocket.” Film yang dirilis pada tahun 1996 ini merupakan salah satu dari film tahun 90-an kesukaan Martin Scorsese, serta salah satu film yang anehnya tidak laku pada saat itu. Sayangnya, banyak yang tidak tahu bahwa dua tahun sebelumnya Anderson bersama Wilson bersaudara membuat sebuah film pendek dengan judul yang sama. Kesuksesan film ini adalah apa yang membuat mereka bertiga percaya diri untuk membuat versi panjangnya. Film pendek ini lebih menunjukan sisi Anderson yang masih mentah. Tentu dia sudah memulai menunjukan demamnya kepada kesimetrisan dan dialog jenaka, tetapi masih dalam stadium awalnya. Perpaduan akting Wilson bersaudara dan Robert Musgrave juga cocok dalam cerita, dimana karakter Dignan dan Anthony yang sudah bersahabat sejak lama mempunyai yang baik tetapi Ben yang merupakan orang diluar lingkungan sosial mereka bedua terlihat sangat asing. Secara singkat, bisa dibilang film ini adalah rangkuman dari film utamanya yang dirilis pada 1996, dengan cita-cita yang tentunya jauh lebih kecil baik dalam segi cerita maupun produksi. Sutradara: Wes Anderson Sinopsis: Dua sahabat, Dignan dan Anthony, berencana untuk merampok bank dengan teman pencinta ganja mereka, Bob.

09.10.17

Retrospeksi Industri Clothing Bandung

Tren datang, pergi dan datang lagi seiring perkembangan zaman. Namun saat tren tersebut bertransformasi menjadi sebuah budaya, ia akan tinggal di sana. Salah satunya terjadi pada industri clothing Bandung yang ikonik itu.

08.10.17

MASSEDUCTION

Kabar gembira bagi para penggemar St. Vincent. Album baru "MASSEDUCTION" akan diluncurkan pada 13 Oktober 2017. St. Vincent memproduksi album ini bersama Jack Antonoff, dan merekam hampir semua lagu di album ini di Electric Lady Studios. Album ini berkolaborasi dengan musisi-musisi hebat seperti Kamasi Washington, Jenny Lewis, Sounwave dan Thomas “Doveman” Bartlett. Menurut St. Vincent, akbum barunya berbeda dan bersifat personal karena menceritakan kehidupannya. pertama dari album ini, “Los Ageless,” memadukan unsur funk dan new wave dengan yang menonjol. Para fansnya tentu bersorak tidak sabar untuk melihat materi baru setelah menunggu 3 tahun.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.