Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Vague dibilang sebagai salah satu yang mengangkat kembali nuansa Revolution Summer di skena musik lokal. Dan layaknya pendahulunya di Rites of Spring dan Embrace, Yudhistira sang gitaris/vokalis juga menggabungkan hardcore punk dengan college rock, isian gitar tajam, serta yang telah dicetak prototipnya oleh Hüsker Dü di era 80’an dulu. Berikut adalah lima lagu Hüsker Dü terbaik menurut Yudhis. Biarpun album kedua Husker Du, Everything Falls Apart kebanyakan masih berisi tembang hardcore/punk singkat yang menandakan era awal band asal Minnesota ini, rilisan ini melahirkan satu lagu berbeda: "Everything Falls Apart," semacam Husker Du yang nantinya mereka sempurnakan di album-album berikutnya. Tapi resep formula mereka mulai terlihat di sini: lagu bertempo sedang, energi punk, gitar berisik renyah, dan tentunya petikan gitar melodik berbalut efek chorus yang menawan. Jauh sebelum Kurt Cobain melakukan hal yang serupa dengan Nirvana. Sulit mencomot lagu dari album magnus opus Zen Arcade; album dobel ambisius berdurasi 70 menit. Mengingat ini album berkonsep di mana setiap lagu merupakan bagian dari sebuah narasi yang lebih besar. Namun lagu pembuka, "Something I Learned Today" merupakan contoh sempurna bagaimana Husker Du bisa menyajikan energi punk lengkap dengan yang sibuk tanpa mengorbankan penulisan lagu atau melodi. New Day Rising, album follow-up Zen Arcade adalah rilisan terbaik Husker Du dan favorit saya. Ada banyak sekali lagu dari album ini yang layak masuk dalam daftar ini. Namun pilihan saya jelas jatuh ke "Celebrated Summer," lagu definitif band ini. gitar berisik yang khas, riff melodik yang kebangetan nya, dan chorus yang mengundang Sulit buat saya mendengarkan lagu ini tanpa sok-sokan Kalau Vague mengkover lagu Husker Du, sudah pasti lagi ini pilihan pertama. buat "The Girl Who Lives on Heaven Hill" dan "Books About UFOs." Setelah New Day Rising, Husker Du merilis Flip Your Wig, album pertama di mana mereka mulai mengurangi takaran gitar, memberikan porsi lebih ke vokal dan menampilkan penulisan lagu yang semakin ngepop. Hasilnya adalah "Makes No Sense At All," tembang terbaik yang pernah mereka tulis. Penuh dengan dan diwarnai duel vokal Bob Mould dan Grant Hart, lagu ini membuka jalan bagi band-band pop alternatif di era 90an. Biasanya saat membicarakan album debut major label Husker, Candy Apple Grey, perhatian orang tertuju ke "I Don't Wanna Know If You're Lonely", lagu rock alternatif yang juga pernah dikover oleh Green Day. Tapi di album inilah Husker Du menunjukkan kemampuan mereka meramu lagu ballad yang efektif dan emosional. "Hardly Getting Over It" merupakan luapan keresahan Bob Mould mengenai pendeknya umur manusia di bumi setelah seorang temannya meninggal dunia tiba-tiba. Hanya bermodalkan drum, gitar akustik, dentingan piano, dan vokal rapuh Mould, Husker Du membuktikan bahwa mereka bukan sekadar musisi - Dengarkan Vague di tautan ini.
Bulan Juni lalu, artis newcomer SZA merilis debut albumnya yang bernama Ctlr. Album yang sudah dinantikan oleh banyak penggemar R&B itu berhasil memuaskan para kritikus serta artis lainnya, dan baru-baru ini, SZA baru saja merilis video musik untuk “Supermodel”. Menjadi pertama yang ada di album ini, lagu “Supermodel” memang sudah menjadi dari awal perilisan. Video yang menawan ini bercerita tentang seorang perempuan - diperankan oleh SZA sendiri - yang ditertawakan oleh pasangannya saat dia sedang bercermin, hingga akhirnya sang wanita membalas dendam kepada pasangannya dengan dibantu kekuatan magis para peri hutan. Tapi inilah memang inti dari satu album ini. SZA ingin berceramah tentang kebebasan dan kekuatan seksual pada wanita, atau lebih spesifiknya, pada diri dia sendiri. Video ini adalah perwakilan dari pernyataan bahwa sebagai perempuan, ketika ia ingin berdandan bebas dan berani, akan ada lelaki yang menertawakan dan berusaha menjatuhkan. Di akhir video SZA berhasil mengalahkan sang pasangan dengan cara mengikatnya di tengah lapangan dan menembakan petasan lewat ujung jemarinya. Dari lirik lagu tersebut dapat ditebak bahwa menjadi temanya dan dalam lagu ini, SZA memang lebih bercerita tentang insekuritas dia setelah hatinya tersakiti oleh mantannya.
4:44 adalah rilisan terbaru dari rapper asal Brooklyn, Jay Z, dan album ini mungkin saja adalah karyanya yang terbaik, atau setidaknya yang paling jujur. Dalam album ini Jay Z membuka hal-hal yang sangat personal, dari perseteruan nya dengan Solange hingga sebuah sindiran kecil untuk Kanye West, tetapi selain itu Jay Z juga menceritakan tentang sosok Adnis Reeves, ayah dari sang rapper. Memang dalam karir lama sang rapper, menceritakan sosok ayahnya bukanlah hal yang baru, tapi kali ini, ia membuat sebuah video untuk menemani “Adnis” tersebut. Dibintangkan oleh Mahershala Ali dan aktor veteran Danny Glover. Video yang terasa sangat personal ini memotret penonton perasaan duka dan simpati terhadap sang rapper lewat kepedihan dan penyesalan yang dirasa setelah ayahnya meninggal pada tahun 2003 silam. Lagu “Adnis” pun ia tulis sebagai sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada ayahnya dengan lirik sangat personal dan tulus. Untuk sementara waktu, video ini hanya bisa disaksikan lewat Tidal. Tetapi tunggu saja beberapa waktu, karena mungkin saja Jay Z akan merilis videonya di YouTube sama seperti video-video 4:44 lainnya.
Sebuah kolaborasi berisi nada harmonis hasil improvisasi bass dan synth, jelas bisa menyita perhatian penikmat musik. Singkat namun tetap memiliki energi yang cukup untuk menciptakan suasana funk yang halus dan tidak tergesa-gesa, Raw Funk #01 merupakan karya penggabungan instrumen dan groove terbaru dari Fulgeance dan DJ Soulist asal Prancis yang rapi, penuh sensasi, dan jelas hanya bisa dinikmati. Perbedaan karakter dari kedua kolaborator nyatanya tidak menghambat keselarasan melodi yang menciptakan sebuah dunia yang baru. Warna disko, hip hop, soul, latin, dan funk dari DJ Soulist bertemu dengan nuansa elektronika yang menghipnotis dari Fulgeance dan melahirkan sebuah spektrum baru yang jelas kaya akan nyawa dan energi. Sebuah keselarasan yang memang memaksa pendengar untuk menari-nari dan memang menghipnotis, kreasi Souleance nampaknya hanya mengambil bagian terbaik dari kedua dunia berbeda dari penciptanya. Raw Funk #01 by Souleance
‘Perjalanan’ akan berbagai nuansa funk ini disuguhkan oleh Will Sessions, sebuah kelompok musik yang kental dengan aliran funk asal Detroit. Deluxe yang disajikan dalam bentuk LP ini membawa pendengar memasuki berbagai dimensi funk yang berbeda, mulai dari dentingan dengan instrumen ramai hingga nuansa funk yang membawa sensasi menyantai. “Jump Back,” “Cherry Juice,” dan Run, Don’t Walk” juga disumbangi talenta dari Ricky Calloway, Allan Barnes, Coko of Funk Night Records dengan karakter-karakternya masing-masing, seperti “Cherry Juice” yang menawarkan vibe funk yang perlahan namun meroket, yang juga patut untuk disimak. Sekilas memang pasti terasa usaha keras Will Sessions menyulap Deluxe menjadi sebuah karya dengan berbagai lapisan warna funk yang tidak menjenuhkan. Sebuah kedatangan dalam skena musik funk yang menawarkan tidak hanya satu sisi dari karakter bermusiknya, Will Sessions layak dilihat sebagai pengubah mood dan nuansa menjadi lebih berwarna dan berdimensi lewat Deluxe.
Pameran yang menampilkan hasil kurasi Rizky A. Zaelani dan akan menghiasi dinding-dinding Dia.Lo.Gue hingga 14 Agustus mendatang ini mendalami persoalan waktu ‘kini’ dan pengalaman yang menyertainya. Bagaimana seluk beluk dari ‘kini’ bisa menghasilkan interpretasi yang beragam dari segelintir pribadi yang mengalaminya. Dialog yang dihasilkan pun akan berbeda antara penyaji dan penikmat karya, di mana realisasi dari varian sikap dan pengalaman mereka dipertemukan oleh ruang dan waktu di lokasi pameran. Sederet karya dari 21 nama seperti, Nus Salomo, Budi Kustarto, Ykha Amelz, Erizal As, Putu Sutawijaya, Rebellionik, dan masih banyak lainnya ini seolah merefleksikan perbedaan interpretasi yang diintensikan tersebut melalui macam medium karya yang digunakan. Seperti karya dari Rebellionik bertajuk Connecting Unconnected yang berbasis cermin, di mana kata-kata ‘kecewa, sedih, khawatir’ tertanam di atasnya; karya reflektif tersebut berada di seberang Darth Mader karya Nus Salomo dan Kotot van de Jroth yang menampilkan patung kertas tokoh Darth Vader berbuah dada. Kedua karya ini berada di ruang terpisah dari Mentari Pagi Menembus Benda-Benda dan Sebuah Perspektif karya Budi Kustarto yang menampilkan interpretasinya atas situasi pagi hari di dalam ruangan dalam lukisan cat minyak. Seluruh rangkaian pameran yang tersebar di sudut-sudut Dia.Lo.Gue ini, seolah mengundang lebih banyak interpretasi lagi dari para penyimaknya di dalam konteks berbeda. Dengan menyimak sederet judul dan rupa dari karya lainnya, mungkin yang dibutuhkan untuk memahami tiap pengalaman di baliknya memang interpretasi pribadi. Berbagai karya yang menjadikan pameran ini, memang melarutkan penyimaknya dalam pemaknaan yang meluas, namun tetap demi tujuan yang sama, yakni pengalaman emosional dalam ragam bentuk dan warna. 25 Juli – 14 Agustus 2017 Senin – Sabtu, 09:30 – 18:00 Dia.Lo.Gue Jl. Kemang Selatan 99A Jakarta
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.