Blog

Latest stories

31.07.17

UNIQLO T-Shirt (UT) Grand Prix 2018

Kontes desain tahunan UNIQLO T-Shirt (UT) Grand Prix kembali hadir dan kali ini mengangkat tema “Marvel.” Setelah sukses mendapatkan belasan ribu submisi secara global pada kontes sebelumnya, tahun ini UNIQLO memilih Marvel sebagai tema dikarenakan potret heroisme, karakter ikonik serta penceritaan epik yang diproduksi Marvel Entertainment telah menarik perhatian beragam khalayak di dunia. Kontes ini mengajak sosok kreatif di dunia untuk berpartisipasi dalam koleksi UTGP yang akan dirilis pada tahun 2018 dan menunjukkan kreativitas lewat ilustrasi maupun fotografi. Para kontestan akan diminta untuk mensubmit karya berdasarkan karakter Marvel yang terdaftar di sini. Selain akan di ke menjadi koleksi UTGP, karya yang terpilih akan mendapat sebesar US$ 10.000. - Pendaftaran dibuka mulai 24 Juli - 31 Agustus 2017 Info lebih lanjut, kunjungi laman ini

31.07.17

Quick Review: The Wailing

Menuangkan cerita yang berkaitan dengan alam gaib, dunia misteri, serta keganjilan-keganjilan yang tak masuk akal ke dalam layar sinema memang menjadi ketertarikan umum bagi para penggiat film. Selain suburnya narasi-narasi semacam itu, pengangkatan tersebut juga dilandasi motivasi banyaknya penonton yang akan datang menyaksikan. Namun apakah kualitasnya dapat menjadi jaminan? Jangan samakan dulu persepsi Anda sebelum menonton film terbaru Na Hong Jin, The Wailing. The Wailing berkisah mengenai polemik atas kematian beberapa warga di sebuah desa secara misterius. Para korban mendadak berubah brutal; dimulai dengan menghabisi anggota keluarganya sebelum akhirnya tumbang membawa noda-noda penuh darah. Satuan kepolisian lokal yang dipimpin Jong-Goo (Kwak Do-won) pun dipaksa menelan rasa bingung dan frustasi. Menerka apa penyebab tragedi pahit tersebut hingga akhirnya prasangka terhadap orang asing dari Jepang (Jun Kunimura) digunakan sebagai dalil; ia dalang atas semua perkara. Yang menarik dari The Wailing adalah bagaimana Na Hong Jin membungkus konflik berlandaskan asumsi, dugaan, omongan dari mulut ke mulut tanpa paham betul kenyataan masalah, kemudian menyembunyikan aktor sebenarnya di balik teror menyeramkan. Walaupun realitanya memang sosok roh jahat yang berdiri menghancurkan kehidupan damai warga desa, Na Hong Jin mengaburkannya dengan samar-samar di antara gadis lugu bernama Moo-Myeong (Chun Woo-Hee), cenayang beridentitas II Gwang (Hwang Jung-min), atau mungkin kiranya orang asing dari Jepang. Sayangnya, menjelang akhir Na Hong Jin merusak investigasi dengan sekenanya dan meninggalkan sejuta tanya di kepala. Menyaksikan The Wailing di lain sisi menampar keras kebiasaan kita selaku Kita tak jarang larut dalam pusaran masalah berdasarkan perkataan orang ke orang tanpa melihat jernih yang terjadi sebenarnya. Dari kegelisahan itu, Na Hong Jin mencoba menyelipkan pesan humanis kepada khalayak ramai. Dalam balut kisah menyeramkan, nyatanya muncul keteguhan sikap guna menjaga nalar manusia agar tak menelan semuanya mentah-mentah. The Wailing (2016) Sutradara: Na Hong-jin Sinopsis: Film ini menceritakan tentang kasus pembunuhan misterius yang menimpa sebuah keluarga. Seluruh anggota keluarga itu mati secara tragis. Namun salah satu korban kondisinya sangat aneh. Kulit dan tubuhnya membusuk seperti mayat hidup. Kasus ini kemudian ditangani oleh polisi bernama Jong Goo. (kakaeynotes.com)

30.07.17

Canadian ‘Field Guide’s’ Guide to Modern Reality

While it may not be the most intriguing way of describing a selective work of art undoubtedly worthy of celebration, perhaps there’s more to this inaugural exhibition at the upcoming Remai Modern’s opening than the title lets on. A collection of some 8,000 works that were previously in the former Mendel Art Gallery, joined by a selective number of Picasso linocuts and ceramics that are to be displayed upon the opening are intended to trigger visitors into raising several questions on modernity and reality. “What is modern? Can art confront reality? What is urgent and why?” are some of them. Perhaps a more conversational experience is what ‘Field Guide’ aims for. And perhaps, in a world of constantly evolving understanding of reality, met with the contradictive stillness of the limited ability of our minds to perfectly grasp the entire picture, a mind-trip into the thought-triggering collection of art that speaks through ‘Field Guide’ is just what’s needed. Who knows? Maybe ‘Field Guide’ could be the unexpected guide that provides its visitors with a wider range of ideas and possibilities of what it means to be modern, and just how art is supposed to have more to do with reality than realized.

29.07.17

Perjalanan Melankolis Matthew Dear

Kiranya semula menjadi membingungkan untuk membayangkan sebuah musikalisasi berisi ‘intipan’ ke dalam pengaruh substansi dengan dosis tertentu. Namun melalui “Modafinil Blues,” Matthew Dear memberikan kemungkinan untuk mengintip tersebut, yang disertai dengan vibrasi melankolia yang makin menuju kegelapan, namun juga dibumbui dengan sedikit humor. Terlepas dari penilaian akan kelaziman dari kondisi yang mengarah kepada terbentuknya “Modafinil Blues,” perlu diakui bahwa ia berhasil menghantui pendengar dengan sensasi seakan terjebak di dalam seluk beluk kerumitan dunia buatannya. Sebuah alunan goth yang mengalur secara perlahan, mungkin kebutuhan untuk bersantai dan meringankan suasana tidak bisa dipenuhi dengan lagu satu ini. Namun, bukan berarti kemampuan Dear dalam mengalterasi sebuah ‘perjalanan’ yang tidak berakhir dengan mulus ke dalam sebuah alunan tidak perlu diakui. “Modafinil Blues” mengundang pendengarnya untuk juga menarik kesimpulan sendiri terkait pesan yang ingin disampaikannya. Tapi bukankah itu letak keindahannya?

28.07.17

Gimme 5: Adythia Utama

Saat tak tampil dengan monikernya, Individual Distortion, Adythia Utama juga dikenal sebagai videografer handal yang telah menghasilkan beberapa video musik dan satu film dokumenter berjudul "Bising" yang merekam pergerakan noise lokal. Pada episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Adythia Utama untuk memilih lima film dokumenter terbaik versinya. Dokumenter yang menggabungkan 2 hal yang saya suka, experimental music scene di Jepang dan gaya cinema verite Perancis. Enak ditonton dan tidak membosankan. Meskipun, setelah nonton dokumenter ini saya justru ingin segera makan fastfood. Bukti yang sangat jelas kenapa GG Allin patut mendapatkan predikat legend. Semua shotnya enak dilihat. Sangat direkomendasikan untuk ditonton di layar besar. Pendekatan direct cinema yang dilakukan D.A. Pennebaker membuat saya jadi (sepertinya) mengenal Bob Dylan ketika dia tur waktu masih muda. Lihat juga karya Adythia Utama di sini.

28.07.17

Kombinasi Mematikan Donato dan Donatinho

Mungkin yang begitu kuatnya turut berkontribusi terhadap keserasian yang dihasilkan oleh Joao Donato yang sudah tidak asing lagi namanya dalam skena musik Brazil, yang menggandeng anaknya Donatinho dalam menyajikan Sintetizamor. Sebuah kolaborasi yang tidak segan-segan menunjukkan warna jazz dan funk elektronika yang selama ini memang menjadi identik dengan karya Donatino sendiri, khususnya dalam album legendarisnya Quem e Quem. Kelahiran kembali Donatino dengan rekan barunya ini tidak mengecewakan sejarah sumbangsihnya dalam skena musik Brazil selama ini. Dengan eksplosi warna-warna yang penuh keceriaan dan dentuman yang begitu menggoda untuk dinikmati, sajian-sajian dalam Sintetizamor mungkin memang sedang dalam perjalanannya mengejar keluarbiasaan Quem e Quem.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.