Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Bulan April lalu, kami berkesempatan untuk berbincang dengan DJ Muro yang juga dikenal sebagai King of Diggin'. Memulai kariernya dengan kecintaannya terhadap piringan hitam, kami berdiskusi tentang listening bars di Jakarta dan bagaimana budaya musik di Tokyo dan Jakarta semakin menemukan titik temunya.
Dalam obrolan ini, Thee Marloes membuka banyak lapisan di balik musik mereka: dari romantisisme soul revival, penggalan lirik yang ‘lebay’, sampai refleksi personal yang membentuk Di Hotel Malibu (2026).
Dalam submisi Open Column ini, Randy Levin Virgiawan menyingkap bagaimana ‘Jakarta-gaze,’ dalam konteks mengapresiasi musik yang lahirnya dari luar Jakarta, jelas fatal dalam mereduksi talenta “daerah” yang mestinya bisa merekah tanpa merepotkan perhatian sang ibu kota.
Thee Marloes memilihkan beragam lagu dengan groove hangat namun sedikit melankolis, yang rasanya tepat untuk menemani di waktu-waktu tenang Ramadan.
Oktober lalu, kami berkesempatan ngobrol dengan John Paul Patton dan I Gusti Viki Vikranta dari Kelompok Penerbang Roket. Dalam perbincangan ini, keduanya membahas latar emosi di balik ‘TIGOR,’ tantangan mereka dalam berkarya di era rentan akan pembungkaman, serta pandangan mereka tentang musik sebagai medium untuk melawan dan bersuara di tengah situasi sosial dan politik yang kian mengganggu.
In this Open Column submission, Aris Setyawan suggests a couple of points for attention, only if the Indonesian Music Conference wishes to translate their aspirations into tangible achievements.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.