Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Entah darimana, selalu ada kedalaman tersendiri dari karya ciptaan Haikal Azizi. Di Sigmun, permainan gitar dan lengking suaranya mengangkat level unit ini dari Bandung, menjadi salah satu band penting di scene lokal, jika bukan internasional. Begitu pula ketika ia meninggalkan pedal distorsi dan menukarnya dengan psikedelia pada proyek musik solonya. Dengan moniker Bin Idris, manuver Haikal sering tak terkira, ia bisa tiba-tiba bertempur di tengah medan perang pada "Mahabarata", namun ia juga bisa merayakan melankolia seperti yang ia nyanyikan di "Weird People".
Ketika label Orange Cliff mengumumkan bahwa Bin Idris akan segera mengeluarkan album penuh, ini jelas merupakan kabar gembira. Dan, single pertama yang dipamerkan memiliki segalanya untuk membuktikan bahwa ini akan menjadi salah satu album yang layak untuk diantisipasi. Berjudul "Dalam Wangi", Haikal Azizi kali ini memainkan gitar dengan jauh lebih sederhana dari apa yang ia biasa lakukan, dan memutuskan untuk bermain-main dengan harmonisasi vokal yang meruang untuk menciptakan sebuah lagu sederhana yang mengingatkan pada lagu-lagu rohani era lama - sebuah tema yang juga, entah darimana, selalu ada dari karya ciptaan Haikal Azizi.
Ikuti sosial media Orange Cliff untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai rilisan ini.
Tahun 2016 adalah tahun yang membanggakan bagi Indonesia, dimana budaya bangsa mendapat apresiasi dari khalayak internasional. Salah satunya melalui Frankfurt Book Fair yang menjadikan Indonesia sebagai Guest of Honor, dimana sastra dan literatur lokal diapresiasi dan mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkannya pada book fair terbesar di dunia ini.
Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) turut menjadi bagian usaha membawa nama bangsa pada publik dunia di acara ini dengan mempersembahkan "Seeing Words", sebuah eksibisi yang mengeksplorasi cara pandang terhadap buku dalam perspektif desain. Dengan treatment visual yang baru, Adam Mulyadi (Egghead Branding), Zinnia Nizar (Ampersand studio), Adityayoga (Inlander Design Buro), Ismiaji Cahyono & Citra Lestari (Sun Visual), Andi Rahmat (Nusae Studio), Andrew Budiman (Butawarna); Cecil Mariani, Eric Wijaya (ThinkingRoom), Fergie Tan & Yusuf Asikin (Brownfox studio), Gumpita Rahayu (Formika Studio), Jefferson & Kristin Monica (Feat Studio) memikirkan cara baru untuk menciptakan bahasa visual yang lebih universal untuk menikmati kajian yang ada di dalam buku.
--
“Last year we introduce 17.000 islands of imagination to showcase Indonesia’s creative imagination as guest of honor, and the results is beyond our imagination…This year we are fortunate to celebrate and showcase one out of the 17.000 imaginations, the first collective graphic design exhibition from ADGI at International level”. – Quoted Emir Hakim, Exhibition Director & Business Development Director of ADGI.
Seeing Words examines the importance of this visual-textual relationship that grew in importance as literacy grew within the publishing realm. As much as image and word were linked, both part are equally important as forms of communication.
Throughout the exhibition words is denied its interpretive, explicatory, or narrative function. Instead the works in the exhibition embrace language's more permeable state: its elasticity, its penchant for questions, subtexts and double meanings. Exploring language's limits and limitations the works in Seeing Words are often highly emotive; as visually translated from the literary works, they embrace questions of politics, sexuality, identity, race, and idealism.
Seeing Words is a visual interpretation of selected Indonesian Authors that considers highly individual’s manifestations of language, dialogue, and words in contemporary visual artworks produced by members of The Indonesian Graphic Designers Association (ADGI). Throughout the exhibition words is denied its interpretive, explicatory, or narrative function. Instead the works in the exhibition embrace language's more permeable state: its elasticity, its penchant for questions, subtexts and double meanings. Exploring language's limits and limitations the works in Seeing Words are often highly emotive; as visually translated from the literary works, they embrace questions of politics, sexuality, identity, race, and idealism.
The exhibition of Seeing Words in Frankfurt Book Fair 2016 is collaboration between The Indonesian Graphic Designers Association (ADGI) and The Indonesian National Book Committee supported by Indonesia Ministry of Education & Culture alongside with BEKRAF (The Indonesian Agency for Creative Economy).
Seeing Words opens today on the 19th of October 2016 at Indonesia National Stand Hall 4.0, at Frankfurt Book Fair, Frankfurt, Germany.
_
SEEING WORDS
Exhibition Director
Emir Hakim
Design Curator
Zinnia Nizar
Exhibition Designer
Max Suriaganda
Dede Chaniago
Promotion
Imaduddin Muhammad
ADGI – The Indonesian Graphic Designer Association
Melalui program Open Column, Jejen Jaelani menyampaikan isu mengenai pergeseran nilai permukiman di pinggir kali yang diwarnai oleh ideologi kapitalisme dan konsumerisme. Adanya representasi yang muncul atas peristiwa tersebut telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap nilai permukiman.
di YouTube tanpa tujuan sering kali berakhir dengan satu video yang menyenangkan, dan ini yang terjadi pada saya saat menemukan Rude Ruth, kolaborasi antar penyanyi Margaret Glaspy dan gitaris Julian Lage. Diawali dengan mendengarkan lagu "Katonah", kombinasi antara suara Glaspy yang menawan, kelihaian permainan gitar Lage, dan melodi sekaligus lirik "Katonah" yang menyentuh membuat penemuan ini menjadi sebuah pada akhir pekan kemarin.
Margaret Glaspy adalah asal California yang telah pindah ke New York City setelah sekolah di Berklee College of Music. Sebagai musisi solo, dia telah merilis beberapa EP, dan album pertamanya, Emotions and Math, mendapatkan berbagai ulasan yang baik dari media musik (Pitchfork memberi album ini 7.7 - lumayan).
Julian Lage adalah seorang gitaris dan komposer yang beberapa tahun ini menjadi sosok favorit untuk banyak penggemar jazz. Seorang Lage di umur 13 telah tampil untuk Grammy Awards, dan sepanjang karirnya (sekarang dia berumur 29) telah bermain dengan musisi terkenal seperti Gary Burton dan Jim Hall.
Suara Margaret Glaspy sangatlah menawan. Karakter suaranya yang dan kadang terdengar serak membuat nyanyiannya seakan-akan datang dari seseorang yang telah melewati pengalaman hidup panjang dan penuh dengan warna. Berkat suaranya yang khas dan lirik deskriptif yang ia buat, "Katonah" menjadi salah satu nomor yang mengharukan. Digabung dengan keahlian Julian Lage dalam memetik gitar telecaster-nya dan sedikit pengaruh dari Chet Atkins, Rude Ruth pun menjadi duo yang menyajikan musik kental dengan nuansa Amerika melalui lagu-lagu pop-folk mereka.
Sayangnya, video kolaborasi mereka di-post dua tahun lalu, dan karena kedua musisi ini baru merilis album solo pada tahun ini, sepertinya tidak akan ada rilisan dari mereka dalam format Rude Ruth dalam waktu dekat. Setidaknya kita bisa menonton permainan mereka dalam video yang ada.
Semarang sering luput dari radar youth culture yang terjadi di seputaran Indonesia. Padahal, di dalamnya juga terjadi pergolakan dan semangat yang sama dari anak-anak mudanya. Garna Raditya adalah salah satu sosok penting yang menghidupkan scene Semarang melalui aktivitasnya sebagai gitaris di dua band legendaris Semarang, AK//47 dan OK Karaoke. Whiteboard Journal berbicara dengan Garna yang kini tinggal di Amerika mengenai albumnya, serta pentingnya perkembangan literasi.
Tak salah menempatkan Collapse sebagai salah satu rilisan yang layak tunggu di tahun 2016. Resmi rilis pada awal Oktober 2016 ini, Ep Grief dari Collapse yang berisi 5 lagu keluar dan memuaskan espektasi. Percampuran indie-rock dan alternatifnya pas, dan tepat guna. Packaging edisi kasetnya yang juga menarik melengkapi rilisan ini menjadi salah satu rilisan penting di tahun 2016.
--
Dapatkan Collapse - Grief melalui Royal Yawns atau WR Store.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?