W_LIST: Best Local Music of 2025 So Far
Sederet pilihan lagu-lagu lokal terbaik sejauh ini di 2025, langsung dari ruang editorial kami.
Sederet pilihan lagu-lagu lokal terbaik sejauh ini di 2025, langsung dari ruang editorial kami.
Dilihat sebagai salah satu pusat pertumbuhan musik dunia, Amerika Serikat menawarkan subkultur menarik, salah satunya musik underground. Memiliki klub ikonik yang menjadi rumah dari para band indie maupun hip hop artist serta toko musik yang mewadahi bermacam-macam genre musik, adalah hal lumrah jika Amerika Serikat masuk dalam destinasi wajib bagi penikmat maupun praktisi musik.
Mengenal unit seni baru - DIVISI62.
To enrich our readers’ music reference (laugh), we asked Dreems - the eccentric DJ with mind-bending music - about his top 5 most-listened songs. This man is on a mission to free everyone from the divisive shackles of flags and tongues. We added “why” into the question, but apparently he got to run to somewhere else. So here you go, 5 current favs on his rotation outside of the disco. But before that, keep what he said in mind, "Whatever your culture, sex, or species, there is a place in your heart for light, sound, and dance, and that is where I will make my home.” Find out how those 5 songs influence or inspire his mix and see him live at Dekadenz this Saturday at FJ on 7!
Tidak banyak yang mengetahui art handling di balik berjalannya sebuah pameran seni. Berdasarkan hal tersebut, kami menemui salah satu art handler di Indonesia, yakni MG Pringgotono yang juga aktif dengan kolektif Serrum untuk menanyakan tentang penanganan seni.
Sebagai salah satu sutradara Hollywood yang tidak asing lagi karyanya di dunia layar lebar, Woody Allen tidak jarang menuai pujian maupun kritikan atas filmnya yang kental dengan ciri khasnya; di mana ia sendiri pun hampir selalu mengambil peran, yakni kisah-kisah dengan nuansa lighthearted dan komedi yang dibumbui dengan gaya quirky.
Sulit tidak menyebut nama Prabu Pramayougha saat membicarakan pop punk lokal. Melalui salah satu bandnya, Saturday Night Karaoke, ia menunjukkan bagaimana pop punk harusnya dimainkan: dengan penuh senang-senang. Beberapa waktu lalu, Saturday Night Karaoke memutuskan untuk menempatkan akhiran di perjalanannya, sebuah penutup yang manis setelah sejumlah album menawan, serta tur impian ke Jepang. Pada edisi Gimme 5 ini, kami mengundang Prabu untuk memilih lima lagu dari salah satu ikon pop punk, Descendents. Album "Milo Goes To College (MGTC)" emang rilisan yang paling bagus dari mereka menurut saya. Salah satu elemen di album ini adalah permainan bass dari Tony Lombardo (bassist pertama Descendents) yang super melodik (bahkan lebih nge- daripada gitarnya) dan hampir semua lagu di album ini diisi sama kelas wahid dari dia. Lagu ini contohnya. Semua personil seperti menghantam langsung karakter unik masing-masing instrumennya termasuk lirik kesal-tapi-sebenarnya-galau dari Bill Stevenson pas masih remaja di lagu ini sangat mematenkan posisi Descendents sebagai band punk yang (Cupu di bahasa Sunda) pada zamannya Di album "I Don`t Wanna Grow Up," mereka mulai main lebih nge-pop dibanding album MGTC plus keluarnya gitaris Frank Navetta - yang biasanya menulis dan main lagunya yang mulu - dari Descendents & masuknya Ray Cooper berpengaruh juga dalam musikalitas di album ini. Sebenarnya banyak kandidat lagu-lagu nge-pop di album ini, tapi "Christmas Vacation" benar-benar jadi pondasi awal lagu-lagu mid-tempo dengan progresi gitar yang agak miring tapi tetap nggak tuh! Album dengan materi edan dari mereka. Edan dalam artian beneran gila. Thrash, pop punk sampai experimental ada di satu album ini. Ada satu "lagu" isinya kentut semua. Di sini mereka mulai bikin lagu lebih humoris - yang sebenernya kebanyakan - dan malahan beberapa lagu yang makin nge-pop juga, seperti "Sour Grapes" atau "Get the Time," bahkan ada Beach Boys terselip satu buah. Tapi ya lagu ini sih yang paling berkesan. Gitar ke mana, bass ke mana, drum ke mana tapi tetap bagus! Album "ALL" kalo didengerin pas ALL (band setelah Descendents bubar di 1987, cuma ganti vokalis ) formasi awal pas Dave Smalley jadi vokalis rilis album "Allroy For Prez" malah terdengar jadi albumnya ALL. Masuknya Karl dengan Stephen banget ke musik Descendents yang sebelumnya agak sederhana, jadi tidak sederhana. gitar yang dan naik turun ke kunci mana mulai keliatan di album ini. Tapi ada 2 lagu yang berkesan buat saya, "Coolidge" dan "Pep Talk." Dua lagu itu masih ngasih kesan kalo Descendents masih band yang sama, yang masih ngepop. Cuma secara lirik & komposisi, "Coolidge" ini paling nempel. Kalo kamu pas sekolah ngerasa dijauhin karena jadi diri sendiri, (dan menurut orang-orang itu nggak banget) lagu ini buat kamu. Akhirnya Descendents masuk label juga di tahun 1996. Epitaph rilis album "Everything Sucks" yang sekaligus jadi momen reuni mereka setelah bubar sebelumnya. Materi di album ini mulai lebih "megah" secara komposisi juga lebih tenang dibanding "Enjoy" atau "ALL." Lagu "Sick-O-Me" ini malah bikin kangen lagu-lagu mereka di album-album sebelumnya. Cepat, nge-pop dan tentunya progresi yang agak : di album ini juga vokal Milo yang paling enak selama dia main di Descendents
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.