Blog

Latest stories

26.02.16

A Slower Speed of Light by MIT Game Lab

Have you ever wondered what it would be like to travel at the speed of light? Traveling at the universe's speed limit is one that we have only been able to theorise and imagine, but wouldn't it be awesome to experience how such speeds will affect our perception of time and space? Well, though we haven't figured out how to actually travel at the speed of light, the folks at the MIT Game Lab has created a game that lets you get an idea of what it would be like. A Slower Speed of Light is a virtual 3 dimensional computer game that simulates what it would be like to travel at 299,792,458 m/s. The game consists of players collecting orbs scattered throughout a 3D village, and every time an orb is collected the player will have the ability to accelerate closer to the speed of light. Technically, every time an orb is collected the speed of light is lowered (hence one's ability to experience the speed of light), and is designed so us players can see what we can experience when moving at relativistic speeds. Collecting orbs isn't the most exciting premise and seems easy, but as you collect more orbs the game progressively becomes more difficult as the 3D environment begins to seemingly expand and contract and the colors begin to change as we can now see light that are usually invisible to the human eye (such as ultraviolet and infrared). This is what you experience when traveling at the speed of light and you can experience in A Slower Speed of Light. It is a very interesting game to play even if you aren't into Einstein's Theory of Special Relativity. Check it out if you have time to spare. Visit MIT Game Lab website to download and play A Slower Speed of Light on your computer.

19.02.16

Sinema Pinggiran adalah tamu Klip Klub berikutnya!

Meski terhitung sebagai kolektif video yang cukup muda, Sinema Pinggiran telah menciptakan video musik yang cukup banyak sebagai portfolio. Hampir setiap beberapa bulan sekali mereka melahirkan karya video musik baru dengan pilihan musik yang sangat beragam, mulai dari Siksa Kubur, Marjinal, Matajiwa hingga Barefood. Diluar aktivitas mereka dalam membuat video, mereka juga cukup rajin mengadakan offline screening sekaligus workshop video pada beberapa kampus. Sebagai pembuka episode Klip Klub: Sinema Pinggiran ini, akan dihadirkan pula karya Anarcho Brothers, kolektif video yang memfokuskan pada karya-karya yang merespon subkultur metal lokal. Seusai pemutaran video akan diadakan obrolan bersama Sinema Pinggiran dan Anarcho Brothers tentang karya serta proses kreatif mereka. -- Mengenai Klip Klub Untuk merayakan kembali karya video musik, Kinosaurus, Kolektif, dan Whiteboardjournal.com mempersembahkan, “Klip Klub” acara pemutaran video klip sekaligus diskusi bersama sutradara video klip musik pilihan. Dalam acara yang akan digelar setiap hari Rabu pukul 19:30 dari tanggal 20 Januari sampai 24 Februari 2015 yang bertempat di Kinosaurus ini, secara berkala akan mengajak sutradara videoklip pilihan untuk memutar karya-karyanya untuk kemudian didiskusikan bersama. Tak hanya itu kepada sutaradara yang telah dikenal, acara ini juga memberikan kesempatan bagi sutradara muda untuk berdiskusi sekaligus belajar secara langsung dengan sutradara senior. Setiap sutradara pilihan akan memilih sutradara lain untuk ikut menayangkan karyanya di acara ini sebagai perkenalan sekaligus pemicu jalannya regenerasi dalam budaya video klip musik lokal. – Jadwal Pemutaran Klip Klub Sim F 20 Jan, 2016 19:30 WIB The Jadugar 27 Jan, 2016 19:30 WIB Cerahati 03 Feb, 2016 19:30 WIB Tromarama 10 Feb, 2016 19:30 WIB Gundala Pictures 17 Feb, 2016 19:30 WIB Sinema Pinggiran 24 Feb, 2016 19:30 WIB Alamat: Kinosaurus (Dalam Aksara Kemang) Jl. Kemang Raya No. 8 Jakarta 12730

17.02.16

Salihara Jazz Buzz 2016

Sejak 2012, Komunitas Salihara memberi panggung kepada musisi-musisi jazz tanah air untuk menunjukkan musikalitas mereka sekaligus perkembangan musik jazz di Indonesia. Festival yang berjudul Salihara Jazz Buzz telah menampilkan pertunjukan dari musisi senior seperti Dewa Budjana, Ligro, Tohpati dan Balawan. Tahun ini, Jazz Buzz memberi platform untuk 4 nama yang tidak sebesar sebelumnya tetapi telah mengharumi skena musik Indonesia dengan karya mereka yang unik. Dari Tesla Manaf sampai I Know You Well Miss Clara, Jazz Buzz tahun ini adalah acara yang melihat ke masa depan musik jazz Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut mengenai acara Jazz Buzz dan program Komunitas Salihara yang lain, kunjungi situs mereka. -- Salihara: TRODON Sabtu, 20 Februari 2016, 20:00 WIB Teater Salihara Umum: Rp75.000 Pelajar/Mahasiswa: Rp50.000 Nama grup ini diambil dari nama salah satu jenis dinosaurus, yakni Troodon, yang konon adalah jenis dinosaurus terpintar yang hidup di zaman Cretaceous. Berdiri pada Januari 2013, Trodon terdiri atas Biondi Noya (gitar), Irene Pattinaya (keyboard), Nadya Romanenta (saksofon alto, flute), Aprila Sitompul (bas), Peter Lumingkewas (drum). Mereka banyak memainkan karya instrumental yang dipengaruhi oleh jazz rock progresif, dengan kombinasi instrumen tidak lazim serta struktur musik yang kompleks. Karya-karya mereka yang berwatak progresif instrumental membuat mereka unik di panggung jazz Indonesia saat ini. Pembelian tiket paling lambat 18 februari 2016. Terdapat program tiket promo Rp125.000 untuk 2 pertunjukan Jazz Buzz yang berbeda. TESLA MANAF Minggu, 21 Februari 2016, 20:00 WIB Teater Salihara Umum: Rp75.000 Pelajar/Mahasiswa: Rp50.000 Tesla Manaf adalah musisi jazz berusia muda yang berbakat besar. Lahir dan tumbuh dalam keluarga bukan-musisi, ia mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mendalami praktik musik, khususnya gitar dan pernah menerima Yamaha Music Award untuk gitar klasik. Debut internasionalnya meluncur bersama album terbaru Tesla Manaf (2015) yang diproduksi MoonJune Records yang berpusat di New York. Tesla Manaf sekaligus adalah nama grup yang ia gerakkan bersama sejumlah rekannya yang tak kalah berbakat: Hadis Hendarisman (klarinet), Rudy Zulkarnaen/Krishna Alda Radiansyah (bas), Desal Sembada (drum). Pembelian tiket paling lambat 19 februari 2016. Terdapat program tiket promo Rp125.000 untuk 2 pertunjukan Jazz Buzz yang berbeda. I KNOW YOU WELL MISS CLARA Sabtu, 27 Februari 2016, 20:00 WIB Teater Salihara Umum: Rp75.000 Pelajar/Mahasiswa: Rp50.000 I Know You Well Miss Clara menekuni jazz eksperimental dan progresif sejak 2010. Kelompok ini menyerap pengaruh dari Soft Machine, Weather Report, Return to Forever, Miles Davis, Mahavisnhu Orchestra, Ornette Coleman, hingga Jimi Hendrix. Grup dari Yogyakarta yang berdiri pada 2010 ini beranggotakan Reza Ryan (gitar), Adi Wijaya (piano), Alfiah Akbar (drum/perkusi). Mereka akan menampilkan nomor-nomor dari album Chapter One (2013) dan nomor-nomor baru yang menjadi bagian dari album kedua mereka Chapter Two (2016). Royke B. Koapaha dan Iwan Hasan akan menjadi bintang tamu pentas ini. Pembelian tiket paling lambat 25 februari 2016. Terdapat program tiket promo Rp125.000 untuk 2 pertunjukan Jazz Buzz yang berbeda. MANTICORE PROJECT Minggu, 28 Februari 2016, 20:00 WIB Teater Salihara Umum: Rp75.000 Pelajar/Mahasiswa: Rp50.000 Manticore Project beranggotakan Dameria Hutabarat (grand piano, organ pipa), Krisna Prameswara (organ hammond, minimoog, keyboard), Dave Lumenta (bas, gitar, synthesizer, vokal). Kelompok ini berkolaborasi dengan Yandi Andraputra (drum, perkusi elektronik), Farman Purnama (tenor, vokal utama). Mereka adalah para musisi yang kerap mengisi panggung-panggung jazz di Tanah Air. Dameria Hutabarat, pemimpin kelompok ini, menyelesaikan pendidikan di Yayasan Pendidikan Musik dan secara simultan mengikuti pendidikan organ elektronik di Yamaha Musik Indonesia. Sempat mengikuti kuliah pada Jurusan Komposisi di LPKJ (kini Institut Kesenian Jakarta) selama satu tahun, ia melanjutkan kuliah di London untuk mendalami organ pipa (1976-1980). Pada Jazz Buzz kali ini mereka akan membawakan program Tribute to Emerson, Lake and Palmer. Pembelian tiket paling lambat 26 februari 2016. Terdapat program tiket promo Rp125.000 untuk 2 pertunjukan Jazz Buzz yang berbeda.

15.02.16

From The Night of Stars JKT

teks dan foto oleh Stefan Tirta Hujan dan kemacetan ibukota di hari Jumat, 12 Februari 2016 cukup menguji kesetiaan para fans Stars yang sudah menanti-nanti penampilan grup indie pop asal Canada tersebut. Hanya sedikit yang sudah sigap memasuki Soehana Hall, Energy Building tepat waktu, yang malam itu terasa sangat dingin. Mungkin karena baru 1/4 ruangannya terisi, bahkan setelah gate dibuka cukup lama. Kecanggungan malam itupun berhasil dipecahkan oleh Scaller. Band rock alternatif asal Bandung jebolan DeMajors ini mencuri perhatian penonton yang sedang asik duduk menunggu Stars. Beberapa bahkan mulai berdiri menikmati penampilan Scaller yang powerful, emotif, dan sedikit agresif. Ini mungkin cukup klise, tapi vokal kuat a la Alanis Morisette yang dilantunkan dengan sempurna oleh sang vokalis, Stella Garreth menghipnotis penonton terutama yang berjenis kelamin laki-laki. “Live and Do” dan “The Youth” menjadi highlight dari penampilan Scaller kali ini. Cukup dengan 6 lagu, Scaller mampu menghangatkan suasana malam itu. Stars pun masuk ke area panggung. Tanpa berbasa basi, “Hold On” langsung dimainkan sebagai lagu pembuka. Terdengar teriakan histeris setelah intro, rupanya tertuju kepada Amy Millan yang baru bergabung ke panggung. Sesaat sound vocal yang keluar terasa kurang maksimal. Namun keheranan tersebut langsung dijawab oleh sang Torquil Campbell, “My voice is gone somewhere after 26 hours flight, hopefully it’ll come back at the end of the show,” tuturnya sedih. Meski suaranya hilang, pria paruh baya asal Sheffield ini tetap tampil all-out dan penuh energi positif. Alih-alih tampil mengecewakan, justru crowd penonton yang semakin ramai tidak jarang ikut sing along. Belum lagi aksi panggung Amy Millan yang hangat dan begitu interaktif dengan penonton, semua itu seakan membayar musibah yang menimpa Campbell, yang tak henti-hentinya mengucapkan maaf dan rasa bersalahnya. Determinasinya untuk bisa tampil maksimal sangat terasa saat “Dead Hearts” dimainkan, dimana kekuatan vocal Torquil dan Amy menjadi kunci dari lagu tersebut. Elevator Love Letter, Dead Hearts, From the Night, dan Your Ex-Lover Is Dead adalah highlight dari penampilan Stars yang begitu emosional malam itu. Jarak panggung dengan penonton yang sangat dekat membuat ikatan tersendiri bagi Stars dan para fans. Pidato kecil di akhir acara menyuarakan betapa senangnya mereka diundang tampil di Jakarta. Dan tidak seperti standar kata manis yang diucapkan band-band internasional lainnya, yang ini terasa begitu tulus. Kecuali mungkin Campbell hanya mengeluarkan air mata palsu saat menyanyikan From the Night. “One more fucking song to a fucking inspirational and lovely audience! Next time I come back to Jakarta, I’ll be singing like Justin Bieber. Or even better,” katanya sebelum memulai lagu kedua dan terakhir pada encore.

11.02.16

Gundala Pictures adalah Tamu Klip Klub Berikutnya!

Nama Gundala Pictures mulai dikenal umum ketika mereka terlibat dalam proses dokumentasi rekaman Pandai Besi di Studio Lokananta Solo di tahun 2013 lalu. Meski sebenarnya sebelum itu mereka telah cukup aktif dalam membuat berbagai tampilan video musik bagi berbagai musisi, mulai dari Karon ‘N Roll, Maliq & D’essentials, The SIGIT hingga KOIL. Pada tahun 2014, nama mereka kembali mengemuka melalui karya musik video/short documenter yang merespon lagu Bangkutaman – Iblis Jalanan yang mendapatkan apresiasi positif di beberapa festival video. Sebagai pembuka, akan dihadirkan pula karya Sesarina Puspita, seorang videografer sekaligus director yang kerap menjadi bagian dari proyek Gundala Pictures, namun juga memiliki beberapa karya personal yang berkualitas. Seusai pemutaran video akan diadakan obrolan bersama Gundala Pictures dan Sesarina tentang karya mereka serta proses kreatif mereka. -- Mengenai Klip Klub Untuk merayakan kembali karya video musik, Kinosaurus, Kolektif, dan Whiteboardjournal.com mempersembahkan, “Klip Klub” acara pemutaran video klip sekaligus diskusi bersama sutradara video klip musik pilihan. Dalam acara yang akan digelar setiap hari Rabu pukul 19:30 dari tanggal 20 Januari sampai 24 Februari 2015 yang bertempat di Kinosaurus ini, secara berkala akan mengajak sutradara videoklip pilihan untuk memutar karya-karyanya untuk kemudian didiskusikan bersama. Tak hanya itu kepada sutaradara yang telah dikenal, acara ini juga memberikan kesempatan bagi sutradara muda untuk berdiskusi sekaligus belajar secara langsung dengan sutradara senior. Setiap sutradara pilihan akan memilih sutradara lain untuk ikut menayangkan karyanya di acara ini sebagai perkenalan sekaligus pemicu jalannya regenerasi dalam budaya video klip musik lokal. – Jadwal Pemutaran Klip Klub Sim F 20 Jan, 2016 19:30 WIB The Jadugar 27 Jan, 2016 19:30 WIB Cerahati 03 Feb, 2016 19:30 WIB Tromarama 10 Feb, 2016 19:30 WIB Gundala Pictures 17 Feb, 2016 19:30 WIB Sinema Pinggiran 24 Feb, 2016 19:30 WIB Alamat: Kinosaurus (Dalam Aksara Kemang) Jl. Kemang Raya No. 8 Jakarta 12730

10.02.16

Berbincang dengan Band Stars

Beberapa hari lagi Stars, band indie-pop berasal dari Kanada, akan pentas di Jakarta! Kami sempat berbincang dengan Stars melalui email berkat organizer acara mereka di Jakarta, Prasvana, mengenai album mereka yang terkini dan proyek-proyek mereka yang akan datang. Selamat menikmati wawancara singkat ini, dan jangan lupa menonton pertunjukan mereka Jumat ini! Stars Live in Jakarta opening act: Scaller 12 Feb 2016 Soehanna Hall The Energy Building SCBD Lot 11 A Jl. Jendral Sudirman Kav 52-53 Jakarta Untuk pembelian tiket, kunjungi Kiostix (click link). -- I think, in the absence of any transparency from the record labels, that digital streaming in particular, could prove the death of the small musician. We make next to no money off streaming. It's abysmal. And unless this changes, many bands our size will no longer be able to operate. If it was up to me, all our music would be pulled off streaming services until a fair deal is worked out. But it isn't up to me unfortunately. It just happened to be the bar below our jam space. We work in a place called Mount Zoomer, where Arcade Fire, Wolf Parade, Wintersleep and many others have worked. It's been a jam space for years. But definitely the beats we heard coming up through the floor were very inspiring in encouraging us to up the dance quotient a little in our music. We have always been a dance band, but we tried hard to make at least some of the songs on the last album something you could play in a club. I know people think this record is more electronic, but in fact we have always been an electronic band. The process of songwriting has very much been a continuum for us. We get together in a room, we work as a group and develop things slowly. For all these years, that process has just gotten more focused, but it hasn't changed that much. I hate the term indie; it's a lie. Even the most "independent" bands now have connections ot massive corporations; and it also denotes a kind of preciousness and sexlessness that I don't like in music. I know we sound "indie" but to me, we are a soul band, and that idea, of playing music for people to have in their daily lives, is what matters most to us. None of us have lived in Toronto in years, we've been in Montreal. But I did grow up there and I can tell you personally...i hated it! It was cold and grey and unfriendly and when I was a kid there were just a bunch of bar bands really. A few good hip-hop acts like dream warriors, but other than that it was pretty barren. Music for me was an escape from the mundanity of Toronto. Now, it's a much more diverse and sophisticated city than it was when I lived there; and it's too big a place now to claim that there is one specific sound. What I will say for Toronto is that the people who live there are big supporters of arts and culture and there is a really rich artistic scene. Not just in music, but in theatre, writing, visual art, everything. it's a good place to be an artist. Except for those winters!!! Alvvays, faith healer, Laser, junior boys, jason colette, lowell...so many...too many to name. We are kitchen sink music. If you’re driving to your mom's funeral or doing the dishes or breaking up with someone, we want to be there. Life is alternately incredibly dull and incredibly romantic and exciting. We want to capture that idea I guess. Simply put, we want to be there for you, through the good and bad, through the melodrama and the fun; we're a band that wants to be useful. Nothing more complex than fun, really; it's cool to work on other people's songs because it teaches you a lot about songwriting and what makes a song work. As for what kind of songs...we have a loooong list! And we just argue about it until somebody wins! But generally I think we are looking for songs with strong melodies and songs that suit both male and female voices together, you know? Cuz that's what we do. We are already working on a new album, there will be more covers, and just basically, more art! We love what we do a lot; it has taken us all over the world to places we never thought we would have the chance to see; like Jakarta! And that is an incredible blessing. We feel very lucky to have the kind of listeners we do; so loyal and open minded. And so we just want to keep going for as long as people will listen! Thank you so much! See you soon!

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.