Blog

Latest stories

04.02.16

Tromarama menjadi Tamu Klip Klub Berikutnya!

Tromarama adalah sebuah kolektif animasi dengan karakter yang unik, dibangun dari gabungan gagasan tiga kepala, Bebi, Ebet, Ruddy, unit ini telah menciptakan karya-karya animasi yang tak hanya berkualitas, namun juga memiliki karakter tersendiri dengan pemilihan medium dan pendekatan yang berbeda dengan kebanyakan.Mengawali perjalanan karyanya dengan mengerjakan video musik, belakangan karya Tromarama mulai menjelajahi ranah seni, mengantarkan mereka pada beberapa eksibisi seni lokal dan internasional. Menemani Tromarama, akan dihadirkan pula karya Tandia Permadi, seorang fotografer lulusan ITB yang mengangkat gagasan-gagasan sosial melalui foto dari lensanya. Seusai pemutaran video akan diadakan obrolan bersama Tromarama dan Tandia tentang karya mereka serta proses kreatif mereka. Mengenai Klip Klub Untuk merayakan kembali karya video musik, Kinosaurus, Kolektif, dan Whiteboardjournal.com mempersembahkan, “Klip Klub” acara pemutaran video klip sekaligus diskusi bersama sutradara video klip musik pilihan. Dalam acara yang akan digelar setiap hari Rabu pukul 19:30 dari tanggal 20 Januari sampai 24 Februari 2015 yang bertempat di Kinosaurus ini, secara berkala akan mengajak sutradara videoklip pilihan untuk memutar karya-karyanya untuk kemudian didiskusikan bersama. Tak hanya itu kepada sutaradara yang telah dikenal, acara ini juga memberikan kesempatan bagi sutradara muda untuk berdiskusi sekaligus belajar secara langsung dengan sutradara senior. Setiap sutradara pilihan akan memilih sutradara lain untuk ikut menayangkan karyanya di acara ini sebagai perkenalan sekaligus pemicu jalannya regenerasi dalam budaya video klip musik lokal. -- Jadwal Pemutaran Klip Klub Sim F 20 Jan, 2016 19:30 WIB The Jadugar 27 Jan, 2016 19:30 WIB Cerahati 03 Feb, 2016 19:30 WIB Tromarama 10 Feb, 2016 19:30 WIB Gundala Pictures 17 Feb, 2016 19:30 WIB Sinema Pinggiran 24 Feb, 2016 19:30 WIB Alamat: Kinosaurus (Dalam Aksara Kemang) Jl. Kemang Raya No. 8 Jakarta 12730

02.02.16

Stars Live in Jakarta!

Bagi kalian yang menggemari musik indie pop, konser Stars di Jakarta pada tanggal 12 Februari adalah acara yang harus dihadiri. Band yang berasal dari negeri Kanada ini secara konsisten telah merilis musik yang dideskripsikan sebagai "Beautiful and Eloquent" sejak rekaman pertama mereka pada tahun 1999. Melalui 8 album full-length dan 6 EP, Stars sudah mendapatkan beberapa nominasi dari Juno dan Polaris Music Prizes (Grammy Awardsnya Kanada). Acara pentas di Jakarta termasuk tur Asia mereka (yang terakhir mereka lakukan pada tahun 2011). Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, silahkan membaca detil di post ini atau ke website Prasvana (event organizer mereka di Jakarta). opening act: Scaller 12 Feb 2016 Soehanna Hall The Energy Building SCBD Lot 11 A Jl. Jendral Sudirman Kav 52-53 Jakarta Untuk pembelian tiket, kunjungi Kiostix (click link). -- About Stars (via Prasvana): Setelah 15 tahun berkelana di dunia musik, band indie pop asal Kanada, STARS akhirnya akan hadir di Indonesia untuk menggelar konser perdananya. Acara ini akan dilangsungkan pada hari Jumat tanggal 12 Februari 2016 di Soehanna Hall, The Energy Building, SCBD Lot 11 A Jl. Jend Sudirman Kav 52-53 Jakarta 12190. STARS dibentuk oleh Torquil Campbell (vokalis), Christopher Seligman (keyboardist), Evan Cranley (bassist) dan Amy Millan (gitaris/vokalis) di Toronto. Drummer Patrick McGee bergabung ketika mereka pindah ke Montreal setelah merilis album pertama yang berjudul Nightsongs, Dengan formasi lengkap ini, rekaman berikutnya Heart diluncurkan pada tahun 2003, disambung dengan tur keliling Amerika Serikat dan Kanada bersama Broken Social Scene, di mana kolaborasi personel STARS dengan grup kolektif indie ternama tersebut dimulai. Popularitas STARS semakin melejit dengan dirilisnya Set Yourself On Fire yang menggabungkan unsur-unsur elektronik, shoegaze dan rock dengan melodi pop yang melebur sempurna dengan kisah pergolakan asmara dalam lirik lagu-lagunya. Album tersebut mendapatkan nominasi Juno Awards tahun 2005 untuk “Alternative Album of the Year”. Rekaman-rekaman susulannya, In Our Bedroom After the War (2007) dan The Five Ghosts (2010), juga berbuah nominasi Polaris Music Prize, salah satu penghargaan tertinggi di industri musik Kanada. Jika kedua album ini merupakan eksplorasi tema-tema yang lebih gelap dan serius, The North yang direkam tidak lama setelah kelahiran anak pertama Amy Millan dan Evan Cranley, membawa pencerahan yang optimis. Untuk rilisan ketujuhnya, No One Is Lost (2015), STARS membentuk atmosfir sendiri dengan membangun studio tersembunyi yang bebas dari tekanan eksternal, Pihak penyelenggara Prasvana, yang sebelumnya menghadirkan Mac DeMarco, The Jungle Giants dan Neon Indian di Jakarta, mengharapkan konser up, close and personal STARS di Jakarta ini akan memuaskan kerinduan penggemarnya di Jakarta. Harga tiket masuk dimulai dari Rp 562.000 (termasuk pajak) untuk early bird presale, yang hanya tersedia dalam jumlah terbatas mulai dari tanggal 11 Januari 2016. Setelah itu, tiket standard bisa didapatkan dengan harga Rp. 700.000 (termasuk pajak). Tiket tersedia melalui outlet-outlet dan situs KiOSTiX. Untuk informasi lebih lengkap kunjungi situs http://www.prasvana.com

28.01.16

Klip Klub Akan Memutar Karya Cerahati!

Nama Cerahati cukup sering menghiasi layar TV di era awal 2000an, dengan karya video musik mereka yang merajai channel MTV ketika itu. Muncul beriringan dengan mengemukanya scene kreatif di Bandung, Cerahati seperti menjadi tujuan utama bagi berbagai musisi. Latar belakang inisiatornya yang dekat dengan scene underground bisa dilihat pada bagaimana mereka selalu menerapkan pendekatan yang spesial di dalam pengerjaannya. Sebagai pembuka, akan diputar juga video dari sutradara Heytuta Masjhur, sutradara yang terakhir menerbitkan video stop motion unik untuk musisi indie-rock, BITE. Seusai pemutaran video akan diadakan obrolan bersama Cerahati dan Heytuta tentang karya mereka serta proses kreatif mereka dalam pembuatan video musik. -- Mengenai Klip Klub Untuk merayakan kembali karya video musik, Kinosaurus, Kolektif, dan Whiteboardjournal.com mempersembahkan, “Klip Klub” acara pemutaran video klip sekaligus diskusi bersama sutradara video klip musik pilihan. Dalam acara yang akan digelar setiap hari Rabu pukul 19:30 dari tanggal 20 Januari sampai 24 Februari 2015 yang bertempat di Kinosaurus ini, secara berkala akan mengajak sutradara videoklip pilihan untuk memutar karya-karyanya untuk kemudian didiskusikan bersama. Tak hanya itu kepada sutaradara yang telah dikenal, acara ini juga memberikan kesempatan bagi sutradara muda untuk berdiskusi sekaligus belajar secara langsung dengan sutradara senior. Setiap sutradara pilihan akan memilih sutradara lain untuk ikut menayangkan karyanya di acara ini sebagai perkenalan sekaligus pemicu jalannya regenerasi dalam budaya video klip musik lokal. Jadwal Pemutaran Klip Klub Sim F 20 Jan, 2016 19:30 WIB The Jadugar 27 Jan, 2016 19:30 WIB Cerahati 03 Feb, 2016 19:30 WIB Tromarama 10 Feb, 2016 19:30 WIB Gundala Pictures 17 Feb, 2016 19:30 WIB Sinema Pinggiran 24 Feb, 2016 19:30 WIB Alamat: Kinosaurus (Dalam Aksara Kemang) Jl. Kemang Raya No. 8 Jakarta 12730

26.01.16

Gareth Evans Pre Vis Action Short Film

Note: This video is unable to be embedded, so you can watch it on Youtube via this link (click here). Gareth Evans, the man who brought us The Raid and The Raid 2, has just published a short action sequence film on Youtube this Monday (25 Jan 2016). Featuring actors Hannah Al Rashid, Yayan Ruhian and Cecep Arif Rahman, Pre Vis Action is a samurai fighting piece taking place in the woods (shot in Wales). The black and white short film is action packed and full of dramatic moments akin to samurai films, but with choreography reminiscent current martial arts cinema. According to a tweet by Gareth Evans, the cast was visiting him in Wales and they decided to test out some choreography ideas he had. Is this a sign of what is coming next from Gareth Evans? We don't know, but it looks like it could be a promising endeavor.

21.01.16

Klip Klub: The Jadugar (Pemutaran Video Klip dan Diskusi bersama Sutradara)

The Jadugar adalah kolektif video duo yang dimotori oleh Henry Foundation dan Anggun Priambodo. Ruang Rupa mengantar Anggun bertemu Henry Foundation aka Betmen dalam sebuah proyek video yang menjadi titik awal terbentuknya The Jadugar. Dalam workshop itu, Anggun, Betmen, dan David Tarigan (Aksara Records) membuat videoklip The Jonis. Kolaborasi Anggun dan Betmen pun berlanjut hingga mereka membangun The Jadugar. Momen itulah Anggun memutuskan untuk serius menekuni dunia videoklip. Dari situ kemudian The Jadugar telah membuat berbagai video klip untuk musisi Indonesia dengan estetika yang setia kepada karakter musiknya, plus pendekatan yang selalu eksploratif dan eksentrik untuk karya video musik yang unik. Sebagai pembuka, akan diputar juga sebuah video dari arsip Kolibri Rekords, label muda asal Jakarta yang telah menjadi fenomena baru dengan karakter sound rosternya yang khas. Seusai pemutaran video akan diadakan obrolan bersama The Jadugar dan kolektif Kolibri Rekords tentang karya mereka serta proses kreatif mereka dalam pembuatan video musik. -- Untuk merayakan kembali karya video musik, Kinosaurus, Kolektif, dan Whiteboardjournal.com mempersembahkan, “Klip Klub” acara pemutaran video klip sekaligus diskusi bersama sutradara video klip musik pilihan. Dalam acara yang akan digelar setiap hari Rabu pukul 19:30 dari tanggal 20 Januari sampai 24 Februari 2015 yang bertempat di Kinosaurus ini, secara berkala akan mengajak sutradara videoklip pilihan untuk memutar karya-karyanya untuk kemudian didiskusikan bersama. Tak hanya itu kepada sutaradara yang telah dikenal, acara ini juga memberikan kesempatan bagi sutradara muda untuk berdiskusi sekaligus belajar secara langsung dengan sutradara senior. Setiap sutradara pilihan akan memilih sutradara lain untuk ikut menayangkan karyanya di acara ini sebagai perkenalan sekaligus pemicu jalannya regenerasi dalam budaya video klip musik lokal. Sim F 20 Jan, 2016 19:30 WIB The Jadugar 27 Jan, 2016 19:30 WIB Cerahati 03 Feb, 2016 19:30 WIB Tromarama 10 Feb, 2016 19:30 WIB Gundala Pictures 17 Feb, 2016 19:30 WIB Sinema Pinggiran 24 Feb, 2016 19:30 WIB Kinosaurus (Dalam Aksara Kemang) Jl. Kemang Raya No. 8 Jakarta 12730

14.01.16

Pukau Efek Rumah Kaca melalui Konser Sinestesia

Irockumentary Entah berapa puji tersampaikan pada Efek Rumah Kaca, Irwan Ahmett dan tim produksi Konser Sinestesia, Rabu malam 13 Januari 2016. Hampir semua unggahan sosial media dari tempat duduk di Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki menjadi bukti, sanjung dan pukau mendominasi timeline sosial media. Meski sebenarnya, 1.500 tiket yang terjual dalam masa satu minggu merupakan penanda bahwa konser Efek Rumah Kaca kali ini akan menjadi sebuah gelaran yang besar secara skala. Kabarnya pula, dari sekian pemegang tiket, masih ada sekitar 1000 nama di daftar tunggu yang bersiap untuk berburu kalau-kalau ada pembeli yang mendadak membatalkan pembeliannya. Akan tetapi ternyata masih ada kejut dari apa yang Efek Rumah Kaca bersama tim sajikan malam itu. Sejak di muka saja, tampilan Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki telah dengan gagah menyambut penonton. Dari segi pelaksanaan, tampaknya penyelenggara banyak belajar dari Konser Efek Rumah Kaca Bandung yang berlangsung beberapa bulan lalu. Dari segi teknis, mulai dari penukaran tiket, berjalan dengan cukup aman, meski ada satu dua double seating yang masih menyelip diantaranya, sebuah perbaikan dibanding konser Bandung yang menuai kritik karena kekacauan di antrian pintu panggung. Tata panggung dan tata artistik Konser Bandung yang agak terlalu berlebihan dan gimmicky, digantikan dengan tampilan yang lebih sederhana, namun berlipat daya magisnya. Irwan Ahmett yang ditunjuk menjadi kolaborator artistik menjadi salah satu penentu kesuksesan Konser Sinestesia. Sejak tirai panggung dibuka, penonton konser disambut dengan sebuah instalasi di panggung, ruangan kosong berwarna putih geometris minimalis dengan personil yang berjajar rapi di depan barisan orkestra pimpinan Alvin Witarsa. Mengambil inspirasi dari karya James Turrel, Irwan Ahmett lalu memproyeksikan warna-warni cahaya seiring musik yang dimainkan oleh Efek Rumah Kaca. Memang, ini bukan konsep yang sepenuhnya baru, bahkan videoklip seorang musisi internasional juga menggunakan pendekatan yang sama, namun Irwan Ahmett mampu mengolahnya sedemikian rupa sehingga karya tersebut melekat dengan musik Efek Rumah Kaca. Lebih dari itu, rona warna dan rupa yang terpancar di panggung tersebut mampu memberi kedalaman suasana pada setiap lagu yang dimainkan. Ada cemas yang lebih mencekat di lagu “Di Udara”, sepi terasa semakin perih pada “Melankolia”, juga hangat yang mendekat diantara waltz sendu “Laki-Laki Pemalu”. Efek Rumah Kaca sendiri tampil nyaris sempurna. Memainkan lagu-lagu dari album satu dan dua di paruh pertama Konser, Cholil, Akbar, Poppie, Ditto memainkan bagian masing-masing tanpa cela dan bersinergi dengan orkestra mini Alvin Witarsa yang tampak sangat menghayati setiap lagu di repertoarnya. Sesekali terdengar suara string section yang terlalu ke depan, menenggelamkan suara gitar Cholil dan Ditto, namun secara umum, konser paruh pertama tampil dengan apik. Improvisasi isian drum Akbar yang dilakukan pada beberapa part lagu juga memberi sensasi tersendiri. Pada bagian ini, terbukti posisi Efek Rumah Kaca sebagai salah satu band terbesar di Indonesia. Deras nyanyi penonton yang ikut melafalkan hampir setiap kata pada lirik lagu menjadi bukti bahwa lagu mereka telah menjadi milik publik, Cholil bahkan bisa beristirahat total dari tugasnya di depan microphone di lagu “Cinta Melulu”. Adrian yang bergabung di akhir sesi juga menambah nilai sekaligus kelengkapan pada setiap lagu. Adrian membuat unit Efek Rumah Kaca kembali utuh melalui nyanyinya yang selalu sepenuh hati. Pada paruh kedua, Efek Rumah Kaca langsung menggelegar dengan satir di lagu “Merah”. Permainan cahaya di panggung semakin meriah, Efek Rumah Kaca kali ini ditemani dengan Ricky Surya Virgana yang mengisi cello. Berseragam hitam-hitam, set kali ini sedikit mengingatkan pada visual Arcade Fire di album Neon Bible. Berturutan kemudian, dimainkan lagu-lagu dari album Sinestesia sesuai tracklist. Berjarak hanya sekian minggu dari rilis album, konser ini adalah upaya yang sempurna dalam menghidupkan dimensi-dimensi dari album tiga. Penonton seperti diajak untuk mengalami setiap cerita pada enam lagunya, tak hanya melalui telinga, juga mata dan seluruh sensori tubuh. Dua lagu terakhir menjadi puncak haru biru. Visual awan di bagian atas instalasi panggung pada lagu “Putih” memicu nyeri ketika memasuki bagian lirik tentang suasana hidup-mati. Juga bait terakhir lagu “Kuning”, yang menggambarkan suasana padang Mahsyar dengan begitu indahnya, menyentuh penonton pada titik terendahnya. Seolah memimpin koor manusia di akhir zaman untuk berbaris bernyanyi beriringan di hadapan Yang Esa. Agak sempit untuk menyimpulkan Konser Sinestesia sebagai sebuah hiburan yang berhasil. Karena nyatanya, acara ini berfungsi dan bakal melekat lebih dari itu. Kredit lebih tertuju pada penyelenggara dan tim produksi yang mampu menyajikan sebuah karya dengan level ini tanpa eksistensi sponsor. Dengan ini, Efek Rumah Kaca sekali lagi menghidupi dan memberi bukti bahwa pasar bisa diciptakan, dan cipta bisa dipasarkan dengan penuh kualitas. Konser Sinestesia menetapkan sebuah standar yang cukup tinggi di sejarah musik lokal, semoga ini menjadi penanda bagi tahun yang lebih baik lagi untuk dunia kreatif Indonesia.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.