Blog

Latest stories

13.08.17

South of the River untuk London Selatan

Bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk persembahan sentimental bagi bagian selatan dari kota London, dari Tom Misch ini tidak saja menjadi sebuah tribut bagi tempat asalnya tersebut, namun juga sebuah kekayaan instrumental yang bernuansa sedikit disko. Diselingi dengan vokal Misch yang menghiasi tiap sudut dari sirkulasi khas yang mengalir dari awal hingga akhir, ikatan emosionalnya dengan sisi selatan London menjadi secara sembunyi-sembunyi terbingkai oleh liriknya. Mungkin bisa terlihat kerinduan kental akan London bagian selatan di sana. Instrumentasi yang terdengar begitu natural, dibumbui dengan aksen lokal Inggrisnya yang menjadikan tribut kerinduan akan sebuah kota ini semakin melebur dengan alaminya. Sebuah alunan lincah yang ringan, yang menjadi cukup untuk sensasi ingin berjoget ria tanpa instrumentasi yang terlalu memusingkan, South of the River menjadi sebuah sajian bagi musim liburan yang pas.

13.08.17

Instalasi 100,000 Judul Terlarang

Ialah sebuah instalasi di Kassel, Jerman berbentuk bangunan Parthenon yang berasal dari Athena, Yunani yang mengandung banyak ‘cerita’ di dalamnya. Pasalnya, instalasi karya seniman Marta Minujin dari Agrentina ini diselimuti oleh 100,000 buah buku yang pernah atau sedang dilarang di Jerman. Sebanyak lebih dari 170 judul karya yang mewarnai kerangka bangunan ini berasal dari donasi publik. Barangkali menjadi sebuah tribut terhadap liberasi dari penyensoran, instalasi ini bukan menjadi yang pertama bagi sang seniman, yang sebelumnya telah membuat instalasi serupa di Buenos Aires, Argentina. Lokasinya di Taman Friedrichsplatz yang pada tahun 1933 menjadi lokasi pembakaran buku-buku terlarang oleh simpatisan Nazi juga makin mengobarkan semangat liberasi melalaui instalasinya. Bahwasanya, kini segelintir karya-karya yang selama ini ditakuti akan menjadi racun pikiran dan bahkan harus dimusnahkan dari muka publik wujudnya, kini dengan bangganya terpampang tinggi pada dinding-dinding instalasi. Mungkin kini buah-buah pikiran terlarang yang dengan bangganya bersinggasana pada instalasi, menjadi sebuah pengingat sekaligus pencemoohan terhadap ketabuan kebebasan berpikir pada masanya.

13.08.17

Menara Bunga dari Laisne Roussel

Instalasi besar setinggi hampir 12 meter karya studio Laisne Roussel ini menjadi pemikat siapapun yang melihatnya di depan La Sucriere, Lyon, Prancis. Sebuah struktur yang mungkin pada kesan pertama nampak seperti sebuah penjara yang cantik dan berfungsi sebagai sebuah ini nyatanya boleh dimasuki oleh pengunjung yang mungkin penasaran akan pemandangan luar dari balik jerujinya. Mungkin jauh dari konvensionalitas pada umumnya, namun barangkali justru ini yang kian meroketkan daya tariknya. Pasalnya, taman vertikal yang hemat ruang ini tidak hanya memunculkan konsep baru dalam membentuk suatu vegetasi tidak kalah indah dengan keterbatasan ruang, namun juga mengundang keinginan untuk memasukinya dan melihat Lyon dari ketinggian diantara kemagisan dunia kecil yang diciptakan ‘penjara bunga’ ini.

12.08.17

Minimalis Elegan ala Muji

Mungkin sudah makin banyak yang menjadi familiar dengan Muji, toko ritel furnitur asal Jepang yang gerainya sudah sejak beberapa waktu lalu ditemukan di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta. Nuansa minimalis dan rapi namun tetap menyuguhkan kenyamanan, menjadi ciri khas dari perabot dengan label ternama ini, yang tidak pernah gagal memikat hati para pecinta perabot cantik serbaguna. Barangkali akan menjadi sebuah kabar baik pagi siapa saja yang selama ini tergiur dengan pesona perabot Muji, namun baru berkesempatan untuk menguji kenyamanannya di toko. Pasalnya, Muji berencana untuk membuka hotel pertamanya di Shenzhen, Tiongkok pada akhir tahun ini, dengan 79 kamar dilengkapi perabot khasnya demi menciptakan interior dari kayu daur ulang. Disusul dengan akan dibukanya hotel yang sama di Chuo City, Tokyo, Jepang pada 2019, tidak menutup kemungkinan bahwa kesempatan untuk mencicipi nuansa minimalis nan elegan dari Muji akan semakin meluas di belahan dunia lainnya.

12.08.17

Type Directors Club (TDC) 62

Setelah Type Directors Club (TDC) menginjakkan kakinya pertama kali di Jakarta, Indonesia pada tahun 2010 lalu dan mendapat respon besar, pada episode ke-62, TDC kembali berpameran di Jakarta mulai tanggal 14 Agusutus mendatang; dan sama seperti sebelumnya, menjadi ajang berisi karya terbaik dari desainer dunia yang dikurasi secara ketat lewat kompetisi TDC guna mempersembahkan pameran berkualitas. Adanya identitas kuat di tiap karya yang terpilih, membuat pameran ini kaya referensi dan menarik dalam menginterpretasikan secara progresif. Pada tahun 2010 sendiri, terdapat sekitar 1500 peserta yang mendaftarkan diri mengikuti kompetisi TDC dan tercatat ada 32 negara yang berpatisipasi, antara lain seperti Australia, Austria, Kanada, Cina, Inggris, Prancis, Jerman, India, Jepang, Korea Selatan, Macau, Belanda, New Zealand, Norwegia, Portugal, Slovenia, Spanyol, dan Switzerland. Tahun ini telah terpilih karya-karya kontemporer dari puluhan negara yang akan dipamerkan di IDDC, Jakarta dengan layout display yang memaksimalkan ruang, guna memberikan pengalaman baru dalam merespon desain grafis maupun menelaah makna maupun estetika di baliknya. Diurus langsung oleh Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) dengan bantuan John Kudos dari KUDOS.NYC, TDC62 tidak hanya akan menampilkan pameran, tapi juga seminar dengan para ahli desain grafis internasional yang secara eksklusif digelar saat pembukaan. Mengangkat tema-tema krusial dalam ranah desain disertai pendekatan menarik, seminar ini akan menjadi wadah diskusi bagi para praktisi maupun penikmat desain grafis secara umum. Adapun seminar ini akan dibagi menjadi 2 sesi, pertama dengan John Kudos yang akan membahas perkembangan bisnis desain saat ini dan bagaimana cara desainer lokal untuk tetap progresif ketika bersaing di medan internasional. Kedua akan ada sesi bersama Gumpita Rahayu dengan tema seluk beluk industri di Indonesia. Sebagai 2 orang desainer grafis yang hadir dengan karya inovatif dan mampu menembus pasar internasional, Kudos dan Gumpita menjadi sebagian contoh bagaimana desainer grafis dapat menciptakan karya yang terinkorporasi dengan segala disiplin dan ranah, mulai digital hingga - 14:20-15:00 John Kudos: ‘Shifting Design Business – How local designers compete in international setting’ 15:00-15:40 Gumpita Rahayu: ‘Seluk Beluk Industri Tipografi di Indonesia’ RSVP: bit.ly/TDC62JKT 14 Agustus - 6 September 2017 Senin-Jumat 10:00-17:00 IDDC Jl. Letjen S. Parman No.112 Jakarta

12.08.17

Pembebasan Lewat Pakaian

Proyek terbaru dari seorang desainer asal Inggris, Johanna-Maria Parv, menjadi sebuah pembuktian baru bahwa tidak selamanya pakaian memiliki fungsi untuk ‘membatasi’ sesuatu. Parv mencoba menyuguhkan sebuah bentuk baru dari konsep berpakaian; bahwasanya pakaian yang menyelimuti tubuh selayaknya bisa tetap memberikan ‘ruang gerak’, khususnya bagi perempuan. Dengan mengkombinasikan tren mode era akhir 1800-an hingga awal 1900-an dengan nuansa pakaian untuk bersepeda, mungkin butuh upaya sedikit lebih keras untuk memahami alterasi-alterasi potongan pakaian yang dibuat Parv untuk menyamankan pemakainya. Melalui sebuah karya yang memang memiliki keunikan dan karakternya tersendiri, Parv mencoba mengeksplorasi ide bahwa liberasi bisa dimulai semudah dari cara pakaian disuguhkan bagi perempuan. Mungkin keindahan yang ada dalam koleksi Parv terletak pada ekspresinya yang luar biasa. Terinspirasi dari feminisme dan fungsi sosial, peleburan potongan pakaian klasik dan aksesoris yang tidak lazim ini memang layak dilihat sebagai sebuah gerakan progresif terhadap persepsi akan keharusan berpakaian bagi perempuan. Bahwasanya seiring berjalannya waktu, mungkin sebuah kebiasaan harus bisa berjalan bersamanya.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.