Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Jika biasanya saat bertemu seorang DJ atau Music Director, pertanyaan yang disiapkan adalah tentang referensi lagu, kali ini bersama Glen Nanlohy ada baiknya kami menanyakan soal makanan. Alasannya sederhana - setidaknya bagi mereka yang mengenalnya lebih jauh - karena Glen suka sekali mencoba dan mencari makanan terbaik, namun tidak harus mahal. Baginya, makanan yang nikmat adalah makanan yang bisa dibilang underrated dan apa adanya. Berikut adalah 5 spot kuliner alias “happy 5” versi Glen yang tersebar dari Tokyo hingga Glodok. Tapi maaf tidak ada visual makanannya, jadi silahkan dibayangkan dari komentar Glen yang bisa dipercaya. Ini enak banget sih hahahahah. Mau bilang apa ya, saja: E N A K ! Lokasinya agak di , yakni Otsuka area, dekat Stasiun Otsuka. Karena ada di area, jadi agak carinya sih dan di dalamnya cuma muat mungkin 10 orang aja. Jadi, di luar antrenya panjang banget (tertawa). Alamat: 2-34-4 Minami Otsuka | SKY Minamiotsuka, Toshima Ini juga enak banget. Sebenarnya saya lebih suka ini daripada Nakiryu. Cuma ini susah sekali mencarinya (tertawa). Ini Black Sesame Ramen yang pernah saya coba. Alamat: 1-17-12 Chuo-cho, Meguro-ku, Tokyo 152-0001 Ini bebeknya enak banget. Kalo ke sini pesannya Roasted Goose + barbecue pork on top. Jadi bentuknya seperti bebek, lagi ditomprok sapi (kaki pendek) (tertawa). Alamat: 32-40 Wellington St, Central Hong Kong Dagingnya bersih semua, seporsinya banyak banget isinya, dan jangan lupa minta ekstra sum sum (bagi yang suka). Tempatnya banget, jadi yang madam-madam pakai sepatu hak tinggi, lebih baik tidak usah ke sini deh. Alamat: Jl. Pancoran, Gang Gloria No.12A, Glodok,, Tamansari, Jakarta Cuma lokasinya di Sanur, bukan di keramaian Seminyak dan sekitarnya (which makes it good). Makanannya sederhana tapi enak semua. Antrean buka dari jam 8 pagi, jadi, kalau kesiangan ya aja. Jangan lupa minta ekstra kulit ayam! Alamat: Jl. Segara Ayu, Sanur, Denpasar Sel., Kota Denpasar, Bali 80227
Bagi penyuka hiburan layar lebar yang memicu sensasi pembuat jantung berdebar kencang alias thriller, mungkin judul yang satu ini bisa ditambahkan ke dalam daftar tontonan tahun ini. Video trailer pertama dari film thriller, horror dan misteri arahan Tomas Alfredson ini akhirnya rilis, yang menampilkan potongan-potongan adegan pertama dari kisah pembunuh berantai yang berasal dari novel ternama karya Jo Nesbo ini. Menampilkan sederet talenta yang tidak kalah ternama seperti Michael Fassbender, Rebecca Ferguson, J. K. Simmons, dan beberapa nama lainnya dan akan dirilis pada 13 Oktober mendatang, barangkali yang terbaru dari Alfredson ini bisa diantisipasikan sebagai thriller dengan sinopsis yang walaupun bisa disebut klise, mungkin akan menampilkan angle dan perspektif baru yang segar dan layak untuk dinantikan, khususnya bagi yang selalu merasa membutuhkan ‘cemilan’ baru untuk memuaskan kebutuhannya akan hiburan yang memicu adrenalin.
Ialah seorang arsitek lokal dengan nama Budi Pradono yang menghiasi sebuah bukit di Lombok dengan kontainer melayangnya di atas sebuah rumah mewah. Disebut sebagai Clay House atau juga sebagai Seven Havens Residence, kreasi Budi memang dapat dipandang sebagai sebuah pencakar langit yang justru tidak berkonotasi negatif selayaknya sebuah pengganggu pemandangan, melainkan sebagai sebuah perwujudan seni yang menjadi sebuah penarik perhatian di antara lahan hijau sekitarnya. Dengan harapan akan memembantu menonjolkan daerah sekitarnya yang masih berkembang, ikonisasi dari Seven Havens Residence memang perlu digarisbawahi usahanya, mulai dari penggunaan kontainer barang setinggi 2.2 meter yang berasal dari pelabuhan pulau tetangga, tanah liat pada dinding yang diambil hanya 20 km dari lokasi dan diolah dengan keterampilan tenaga lokal, serta bambu yang telah dipreservasi sedemikian baiknya untuk menghias interiornya. Masih banyak lagi material lainnya yang menghiasi tiap sudut rumah, yang jika diusut satu per satu asal dan tujuannya mungkin hanya akan membuat terkesima akan kemampuannya menyempurnakan Seven Havens Residence yang arsitekturnya mendekati kata “sempurna.” Sebuah ikon yang memang berupaya untuk mengikutsertakan unsur lokal sekitarnya dalam aktualisasinya menjadi sebuah penarik perhatian yang lagi-lagi demi menyorot daerah sekitarnya. Kreasi terkini Budi memang tidak sembarangan dalam menjunjung tinggi nilai lokal.
Sepuluh tahun terakhir, ada perkembangan menyenangkan di dunia desain lokal. Di kampus-kampus, Desain Komunikasi Visual menjadi jurusan favorit, semakin banyak pula gagasan-gagasan baru dari ranah desain yang membuka pintu baru di industri kreatif Indonesia. Buktinya bisa dilihat pada eksibisi “Seek A Seek” yang memamerkan potensi desain lokal, juga bermunculannya studio desain yang tersebar di penjuru bangsa, masing-masing dengan karakter tersendirinya. Nusae adalah salah satu bagian dari movement ini. Melalui karyanya, Andi Rahmat dan kawan-kawan telah mewarnai perkembangan praktek desain di Indonesia. “Saturasi” adalah karya terbaru dari Nusae yang bertujuan untuk memicu diskusi sekaligus mengembangkan kajian desain lokal. Datang dalam bentuk publikasi zine yang terbit 4 bulanan, Saturasi berupaya untuk menghadirkan wacana dan gagasan yang memperkaya khasanah visual lokal. Di edisi pertamanya, Saturasi berbicara tentang “Ruang” dalam bentuk esai pendek tentang fundamental desain dari Josef Muller-Brockmann, ruang alternatif dari Hiroshi Fujiwara hingga interview bersama Aswin Sadha - inisiator Thinking Form. Saturasi edisi pertama dibagikan secara gratis dan bisa didapatkan di beberapa tempat berikut: Dia.Lo.Gue Artspace, Sunset Limited, Footurama, dan Kopi Manyar. Ikuti Saturasi untuk mendapat info terkini mengenai kajian desain.
Jika sempat menungjungi Art Jog kemarin, ada sebuah karya interaktif yang mengajak pengunjung untuk merangkak ke dalam ruangan dengan instalasi sawah dan bulan berpendar. Itulah karya dari Kamila Andini bersama Ifa Isfansyah yang mengambil salah satu dari film terbarunya, “The Seen and Unseen.” Bukan hanya itu saja kejutan yang datang dari Andini, tapi ia kembali menorehkan cerita baru, dan kali ini tidak hanya pada dunia film lokal, tapi juga internasional - tepatnya Toronto, sebab film tersebut menjadi satu-satunya film dari Asia yang akan tayang perdana dan berkompetisi dengan 11 film lainnya di dalam sesi Platform di Toronto International Film Festival 2017 (TIFF). Adapun yang membuatnya spesial adalah sesi Platform yang merupakan sesi kompetisi paling prestisius di ajang festival tersebut. Pada film panjang keduanya ini, Andini membahas isu perempuan yang dikemas dengan cerita antara Tantri dan Tantra dalam pengalaman spiritual mereka yang sarat dengan kearifan lokal, mitos, cerita rakyat, tradisi, serta budaya Bali. Hadir dengan banyak elemen yang menempel pada isunya serta atmoster lokal, wajar jika Platform meloloskan film ini di antara jaajran film kelas dunia lainnya dari Eropa, Inggris, dan Amerika. Diproduksi oleh Treewater Productions dan Fourcolours Films serta diproduseri oleh Gita Fara dan Ifa Isfansyah, “The Seen and Unseen” menjalani proses produksi selama 5 tahun dan mendapatkan berbagai dukungan, antara lain dari Hubert Bals Fund (Belanda), Asia Pacific Screen Awards Children’s Film Fund (Australia), dan Cinefondation La Residence (Perancis) dalam proses pengembangan. Selain TIFF, film ini juga berkesempatan dipresentasikan dalam Hong Kong Asia Film Financing Forum, Filmex Talents Tokyo dan Venice Production Bridge. Pada pemutarannya di TIFF kali, Andini akan menghadapi juri handal - Chen Kaige, Malgorzata Szumowska, dan Wim Wenders - yang akan mengumumkan pemenang pada seremoni penghargaan tanggal 17 September 2017. Pemain dan Kru Produksi: Pemain: Thaly Titi Kasih, Gus Sena, Ayu Laksmi, I Ketut Rina, Happy Salma Penulis Skenario: Kamila Andini Penata Kamera: Anggi Frisca Penata Artistik: Vida Sylvia Editor: Dinda Amanda, Dwi Agus Sound: Yasuhiro Morinaga, Hadrianus Eko Musik: Yasuhiro Morinaga
Semenjak merilis manga “Tephlon Funk” pada tahun 2015, Stephane Metayer, sang pembuat manga, telah berhasil menarik perhatian Willow Smith dan rapper Nas. Komik ini sendiri terinspirasi oleh Nas, di mana latarnya menggunakan kampung halamannya, yaitu Queensbridge. Setelah melihat kesuksesan manganya, Metayer ingin membawa karyanya ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu menjadikannya menjadi sebuah anime. Metayer pun bekerja sama dengan D’Art Shtajio untuk membuat sebuah animasi Animasi 50 detik itu diharapkan akan mendapatkan perhatian studio-studio besar yang mau menjadikannya sebuah anime Jika Metayer berhasil, “Tephlon Funk” akan menjadi anime pertama yang berlatar belakang di kota New York, dan juga yang pertama di mana karakter utamanya adalah orang kulit hitam. ini sendiri kurang lebih hanya mengenalkan empat karakter utamanya, yaitu Gabriel, Cameron, Giselle, dan Inez. Keempat karakter tersebut dipamerkan melewati adegan-adegan aksi seperti membawa pedang, pistol, dan kehebohan lainnya. Karena berlatar belakang di Queensbridge, manga ini menyentuh tema-tema kehidupan urban dan tentunya hip hop, maka tidak heran jika banyak penggemarnya yang membandingkan tersebut kepada “Samurai Champloo”dan “Cowboy Bepop”.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.