Latest stories

Column
05.10.17

Jodoh dan Ironi

Pada submisi open column-nya, Arlandy Ghiffari menuliskan tentang bagaimana ia memaknai jodoh, pertemuan dan kemungkinan.

04.10.17

25 Tahun Whiteread

Rachel Whiteread dan pahatan-pahatannya mempunyai pengaruh yang besar dalam budaya Inggris. Whiteread awalnya hanya seorang seniman yang terganggu saat sedang melakukan rutinitas pagi biasa, berubah total saat ia memutuskan untuk membuat pahatan mahakarya “House,” sebuah cor beton dalam rumah asli dengan tiga lantai. Karya tersebut menghebohkan seluruh Inggris pada tahun 1993 dan menyulut kontroversi. Selama 11 minggu “House” berdiri hingga akhirnya disetujui oleh dewan setempan bahwa karya ini harus dirobohkan, di mana di hari yang mengerikan itu Whitread sedang menerima Turner Prize. Cerita pendek itu adalah alasan kenapa Whiteread sangat dijunjung tinggi di skena seni kontemporer Inggris. Merayakan 25 tahun karya sang seniman, sebuah pameran akan diadakan di galeri Tate Britain yang menampilkan karya-karya legendarisnya serta yang belum pernah ditunjukkan. Beberapa dari kreasinya yang langsung menarik perhatian adalah sebuah cor beton berbentuk kandang ayam dan tangga. dalam pameran ini, Whiteread's Untitled (One Hundred Spaces), adalah sebuah instalasi yang sebenarnya sudah dibuat oleh sang seniman dari tahun 1995. Karya ini terdiri dari 100 cor resin berwarna bagian bawah sebuah kursi yang di bariskan dengan rapih di bagian selatan galeri.

04.10.17

Kata Sederhana bersama Joko Pinurbo

Joko Pinurbo digandrungi bukan hanya karena puisi yang ia tulis, melainkan makna yang tertanam di balik kesederhanaan yang ia ceritakan. Bekerja sama dengan Ubud Writers & Readers Festival, kami berkesempatan untuk menemui beliau ketika berkunjung ke Jakarta untuk berbicara tentang menertawakan keseharian hingga pengaruh Alkitab dalam karyanya.

03.10.17

Belladonna dari BAP.

Kareem Soenharjo adalah salah satu nama panas di skena musik hip hop Selain dikenal dengan banyak alias, ia juda salah satu penggerak utama kolektif hip hop Cul De Sac yang sedang ramai di skena lokal. Eksistensi Kareem selama ini memang terbukti lewat talentanya dalam memproduksi lagu dengan nama Yosugi yang sudah menarik perhatian banyak. Tetapi kali ini persona -nya - BAP. - baru saja menunjukkan giginya dengan merilis EP perdana yang berjudul “Belladonna.” BAP. seperti benar-benar meluapkan semua perasaan dan pikiran yang dipendam selama ini dalam “Belladonna.” Emosional dan intim, EP ini membuka sedikit celah ke dalam hidup seorang Kareem Soenharjo dan mempersilahkan siapapun untuk mengintip. Selain liriknya yang kuat, produksi musik yang baik juga memberikan kesegaran tersendiri. Ia terdengar lebih berjelajah di album ini lewat eksplorasi unsur-unsur trap, boom bap, jazz, funk, dan eksperimental. Trek yang paling bersinar dari album ini adalah “Heed,” dengan ala musik soul 70-an dan lirik yang halus tetapi juga tajam. BAP. mengawali lagu ini dengan paksaan untuk menyimak dirinya, secara instan menyadarkan pendengar dari alunan yang hipnotis. Seperti pada trek pembuka berjudul “Belladonna,” penyampaian dan BAP. yang mulus mengingatkan kepada Earl Sweatshirt dan Tyler, The Creator. Nadanya yang nestapa dibalut dengan dentuman hip hop inovatif terdengar segar dan tentu berhasil memberi kesan yang baik melalui EP perdananya. Namun, walau tidak sempurna, “Belladonna” bisa dihargai sebagai hal yang lebih dari sekadar EP perdana seorang Album ini merupakan curhatan terdalam seorang pemuda kepada hal yang paling dia pedulikan, yaitu musik. “Belladonna” sudah bisa di dengarkan secara online di Spotify dan Soundcloud, serta bisa dibeli di halaman Bandcamp BAP.

03.10.17

Archipelago Festival

Setiap hari bisa dibilang semakin banyak musisi dengan talenta yang berpotensial muncul ke permukaan, dan itu semua terdukung oleh betapa mudahnya mendapatkan informasipada saat ini. Tetapi kenyataannya, berhasil muncul di permukaan masih awal dari perjalanan para Lalu apa yang dibutuhkan untuk menjamin kesuksesan karir mereka? “Archipelago Festival” pun hadir untuk berusaha menjawab pertanyaan itu. Berlangsung selama dua hari, pada tanggal 14-15 Oktober 2017 di Soehanna Hall, festival ini adalah sebuah dan festival yang mempunyai tujuan mulia sebagai wadah akselerasi musik lokal, juga ruang memperkenalkan musik-musik baru yang patut diberikan perhatian lebih. Acara ini digagas oleh dua kolektif asal Indonesia, Studiorama dan Sounds From The Corner (SFTC), yang akan membawa 15 topik pembahasan seputar infrastruktur musik di Indonesia. Pada tahun pertamanya, “Archipelago Festival” menawarkan topik bahasan yang mengulas sisi-sisi industri yang jarang diperbincangkan, mulai dari merchandise, fans, musik, hingga label rekaman. Festival ini juga menawarkan tiga panel istimewa, yakni Band & Brands, Indie Pioneers, dan Indonesian Pop Music. Pembicara yang hadir juga tidak main-main, dengan Guruh Soekarno Putra, Yockie Suryo Prayogo, Arian13, Andien Dipha Barus, dan puluhan lainnya. Assosiate Editor kami, Muhammad Hilmi pun ikut mengambil peran dalam salah satu panel diskusi yang membahas 3 venue musik dari beragam level di Jakarta. Selain itu akan ada juga penampilan dari artis-artis baru terbaik dari dalam dan luar negeri, seperti rapper grime asal Inggris Afrikan Boy, produser elektronik muda Chloe Martini dari Polandia, unit hip hop lokal terpanas, Onar, dan band psychedelic kebanggaan Negeri Jiran, Ramayan. Lewat acara ini, Studiorama dan SFTC lagi-lagi menunjukan bahwa mereka serius dalam mendukung artis-artis baru ranah lokal yang bertalenta, dan festival ini bisa dibilang usaha paling ambisius bagi kedua kolektif. Tapi tentu saja siapa yang mau kehilangan kesempatan untuk belajar langsung dari Sukarno Putra dan Yockie Suryo Prayogo? Kita hanya bisa berharap bahwa “Archipelago Festival” akan membawa pengaruh yang besar dalam lingkup musik Indonesia, serta semakin mendorong kemunculan bakat-bakat yang masih mencari pijakannya dalam industri musik lokal. Belum terbayang akan seberapa kaya obrolan serta perspektif yang akan ditampilkan di festival ini? Berikut adalah video yang dibuat oleh SFTC bersama Guruh Soekarno Putra dan Yockie Suryo Prayogo. - 14-15 Oktober 2017 Soehanna Hall The Energy Building SCBD, Lot 11A Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53

Selected
03.10.17

Reno Nismara

If I had to give this mix a title, then it would be Repetition is Change; simply because of the repetitive edge from the songs in it. I’m fond of repetition in sounds, whether it’s a Buddhism mantra, Kecak chants, or the motorik beat of Klaus Dinger. For this mix, I handpicked fifteen songs that are on the top of my mind when I think about repetitions in rock & roll (at least when I was putting this mix together). So I present to you all: Repetition is Change. 1. Moon Duo - Mirror’s Edge 2. The Advisory Circle - Mind How You Go Now 3. Can - One More Night 4. Dead Skeletons - Psychodead 5. Fat White Family - Whitest Boy on the Beach 6. The Vacant Lots - Mad Mary Jones 7. The Horrors - Monica Gems (Daniel Avery Remix) 8. Klaus Johann Grobe - Geschichten aus erster Hand 9. Broadcast - Pendulum 10. The Brian Jonestown Massacre - La Façon Dont La Machine Vers l'Arriere 11. Les Big Byrd - Stockholm Death Star 12. Primal Scream - Autobahn 66 13. Cavern of Anti-Matter - Phototones 14. Dungen - Achmed flyger 15. Spectrum - Take Your Time

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.