In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
With the subject of racism being a part of international news, Ken Jenie stumbled online upon activist Jane Elliot famous Blue Eyes-Brown Eyes experiment, and this is his first impression on the exercise.
Pada tulisannya kali ini, Muhammad Hilmi menjelajahi area baru yang belum pernah ia jelajahi, tulisan fiksi. Menceritakan fenomena kelas menengah, dilema personal keseharian, serta permasalahan dalam mewujudkan impian, cerita ini merupakan seri pertama dari seri tiga tulisan fiksi yang berjudul "What If There's No What If".
Pada esainya kali ini, Idhar Resmadi menuliskan tentang bagaimana musik memiliki sebuah dimensi yang cukup mendalam, yakni spiritualisme. Tak peduli apapun genre-nya spiritualisme merupakan salah satu sisi dari musik. Dengan mengkaji dari sejarah, juga secara filosofis, Idhar mendedah bentuk spiritualisme yang tersembunyi dalam alunan musik.
Pada esainya ini, Iman Fattah menanggapi tulisan Ferri Ahrial tentang kemacetan di Jakarta. Bahwa kadang keadaan yang paling tidak menyenangkan sekalipun bisa menjadi inspirasi untuk karya baru ketika dipahami dengan semangat untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan dan kesenian.
Pada essay-nya kali ini, Febrina Anindita mencoba untuk memahami hasrat pada perempuan yang seringkali terbentur akan nilai-nilai sosial yang menjadikan kepuasan atau kenikmatan menjadi momok. Ia merasa, relasi antarmanusia justru terbentuk atas relasi seksual yang mengharuskan manusia mencapai kenikmatan untuk keberlangsungan hidup.
Pada esainya kali ini, Ferri Ahrial menulis pendapatnya tentang fenomena di jalanan kota Jakarta yang kerap kali menyita perhatian orang. Pengalaman pribadi terhadap Jakarta telah melahirkan pandangan akan bisingnya penduduk serta budaya yang mengakomodasinya, membuat Ferri merasakan makna sebenarnya dari terminologi "chaos" yang menarik untuk ditelisik.