In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
Pada esai open column-nya, Fadia Alaidrus menuliskan tentang dinamika dalam keseharian penulis. Perjuangan untuk hidup sebagai penulis, kebuntuan ide, hingga tekanan dari kiri dan kanan.
Dalam submisinya di open column, Aditya Septian Pamungkas menuliskan budaya dalam sebuah budaya. Tentang bagaimana sebuah skena berjalan hidup di antara kehidupan di sekitarnya. Adit dalam hal ini mengajak kita untuk melihat apa yang terjadi dalam skena puisi.
Dikirim melalui submisi open column, esai dari Fathurrozak mendiskusikan tentang pasar sebagai salah satu tempat dimana tak hanya terjadi pertukaran uang, tetapi juga dibangunnnya hubungan antar manusia.
Kecintaan Anindita Salsabila terhadap salah satu film Wong Kar-wai membuat dirinya menapaki Hong Kong dan merenungi kehidupan sembari menikmati gedung-gedung monumental yang dijadikan setting dalam film "Chungking Express".
In her entry for open column, Amaryllis shares her view regarding the rising trend of art in public. She writes about how art became a closer subject for the masses, and how it generates new topic for discussions: about how the art scene should educate the new public about how they should appreciate art objects, rather than just making it an object for selfie purpose only.