Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Proses dan Intensi Alih Bahasa Bersama : Yusi Avianto Pareanom Rain Chudori 04/10/15 15:00 - 17:00 Serambi Salihara Jl. Salihara No. 16 Kebagusan Pasar Minggu Jakarta Pembahasan mengenai konteks global-lokal selalu menjadi topik telaah yang menarik. Meski terbentang luas dan terdiri dari ribuan pulau, posisi Indonesia sebagai negara berkembang membuat uraian mengenai tarik-menarik diantara konsep nasional-internasional menjadi sebuah subjek yang acapkali mengusik. Konsep global lantas sering dijadikan sebagai visi yang kemudian mendasari berbagai pola aktivitas publik. Ada beberapa yang lalu mampu mewujudkannya dalam bentuk nyata, namun banyak pula yang tersesat di tengah jalan. Dalam kerangka sastra, isu globalitas ini juga muncul ketika gagasan mengenai posisi karya lokal di konteks internasional dipertanyakan. Kegiatan translasi kemudian menjadi salah satu daya yang diupayakan untuk publisitas sastra nasional. Berbagai karya sastra lokal pilihan diterjemahkan demi siarnya buah pikir anak bangsa. Melalui Lost in Translation, kami mengajak Anda untuk melihat lebih jauh ke dalam proses dan intensi dibalik aktivitas alih bahasa. Ada berbagai aspek yang harus ditafsirkan dalam proses translasi disamping sekedar terjemah literal kalimat per kalimat dari sebuah karya sastra. Kemungkinan distorsi pada dimensi linguistik, konteks budaya, hingga gaya bahasa adalah poin yang cukup menarik untuk menjadi wacana bersama dengan irisannya pada bagaimana sebenarnya esensi penerjemahan karya sastra bagi perkembangan literatur nasional. Pembicara: Penulis, Publisher Dikenal melalui kumpulan cerpen berjudul “Rumah Kopi Singa Tertawa”, karakter penulisan Yusi yang kental dengan percampuran yang menarik antara komedi, budaya populer menunjukkan kejelian beliau untuk memberikan dimensi baru pada berbagai kejadian sederhana yang akan dengan mudah terabaikan oleh awam. Juga merupakan sosok dibalik Penerbit Banana yang menawarkan alternatif penerbitan bagi tulisan-tulisan menarik yang lolos dari radar publisher besar. Penulis Pada usianya yang masih sangat belia, Rain Chudori telah mencatat namanya sebagai salah satu penulis muda potensial. Karya dan ceritanya telah diterbitkan pada berbagai media seperti The Jakarta Post, Majalah Tempo, Jakarta Globe hingga Whiteboardjournal.com. Kecintaannya pada dunia sastra juga membawanya pada inisiasi kolektif sastra muda, The Murmur House. Belakangan juga mulai berkarya dalam seni peran dengan keterlibatannya dalam film Rocket Rain. Moderator Seorang penulis dan jurnalis di Whiteboardjournal.com, hasrat Muhammad Hilmi untuk menulis dan ketertarikannya dengan dunia seni adalah kualitas terbaik di dalam karirnya. Sebagai individu yang aktif dalam aktivitas pada dunia musik, seni rupa, dan desain sebagai partisipan dan penikmat, pengetahuannya tercermin melalui esai-esainya yang telah diterbitkan di berbagai media seperti JakartaBeat, Yahoo!, dan Whiteboardjournal.com.
So if you have followed Whiteboard Journal these past two weeks, then you might have watched Theoretical Physicist Michio Kaku explain the universe via his video lecture on Big Think titled "The Universe in a Nutshell." Now that you are familiar with some of the concepts that go into constructing our reality, it's time to delve deeper into the subject through The Fabric of the Cosmos, a series of documentaries detailing 4 main concepts that are prevalent in explaining how the universe works today. The documentaries are hosted by Theoretical Physicist Brian Greene, an expert on string theory and a best-selling author whose books are known to explain the theories in a smart and accessible way (including these documentaries, which are based on his book with the same name). The Fabric of the Cosmos is divided into 4 parts: Space, Time, Quantum Physics, and the universe/multiverse. Each documentary is about one-hour in length, and explains concepts that seem bizarre with computer animation that makes them a whole lot easier to digest. As I watched these documentaries, it dawned on me at how bizarre some of the things in our universe can be. Some of the concepts that are explained are stranger than science fiction. As we learn more about our universe, we find things are familiar and elementary to simply be a matter of perception, and that reality perhaps holds more possibilities than we are accustomed to - that is what makes the gigantic universe we live in such a wonderful place to live in! Watch the trailer above, and enjoy the full documentaries below.
Sadar Akan Keadaan. Entah kenapa, setiap mendengar nama Polka Wars, yang terbayang pada benak saya justru mengenai segala aktivitas sosial personilnya. Aspek musik mereka baru muncul belakangan. Mungkin, perspektif saya ini cukup cetek, tapi memang begitu adanya. Tapi, saya akan berusaha untuk lebih optimis dalam menulis ulasan ini: segala aktivitas sosial dan luasnya jaringan Polka Wars sebenarnya di sisi lain juga menunjukkan etos mereka yang cukup professional. Bahwa mereka mampu membedakan persona di atas dan di luar panggung. Sewaktu saya mewawancarai keempat personilnya, Aeng, Deva, Billy dan Dega sama sekali tak terasa sebagai selebriti, padahal beberapa bulan setelah hari itu, mereka tampak dengan mudah menjual habis tiket konser tunggal yang mereka laksanakan di Institut Francais Indonesia. Hal inilah yang semakin terasa pada saat saya keluar dari gedung IFI pada hari Sabtu itu. Secara pribadi, saya sangat puas dengan konser perdana Polka Wars dalam artian, saya tidak menyangka hasilnya akan seperti itu. Sekeluarnya saya dari gedung, saya lantas menyampaikan kepuasan saya ke masing-masing anggota, dan ucapan tersebut jelas bukan basa-basi semata. Konser dibuka oleh Bedchamber. ‘Milenial’ adalah kata yang pas untuk mendeskripsikan karakter mereka, namun di saat yang sama, term tersebut cukup mengalihkan perhatian dari musik mereka sendiri yang sebenarnya cukup apik terlepas dari segala influence yang mempengaruhi mereka. Penampilan mereka cukup menyenangkan. Walau kalau boleh jujur, saya tidak terlalu ingat secara detil musik mereka sehabis turun panggung. Mungkin, saat itu ada yang mengajak saya ngobrol. Sudah berulang kali saya putar Axis Mundi, album perdana Polka Wars. Kurang lebih saya tahu arah dan alur dari lagu-lagunya. Namun saat konser dibuka dengan segue antara “Horse’s Hooves” dan “Coraline”, saya sangat terkesan dengan sequencing dan keseluruhan setlist mereka. Dari awal pula, aransemen Polka Wars terdengar lebih ketat; lebih sadar panggung, dan mereka mampu melakukannya pada panggung solo perdana. Instrumen-instrumen ditambahkan, (saksofon, tehiyan) dan semuanya bukan malah menjadi novelti, namun penyegar bagi lagu-lagu Polka Wars. Nomor-nomor favorit saya adalah ketika Aeng, di paruh kedua konser (setelah penayangan dokumenter yang sayang sekali saya lewati bagian awalnya), menyanyikan lagu “Mad World” dan Deva menyanyikan nomor “Lovers”. Saya juga tidak menyangka “This Providence”, “Mokéle” dan “Tall Stories” akan terdengar serapi itu pada konser ini. Polka Wars suka meloncat-loncat: Deva bisa tiba-tiba menyanyi, bisa tiba-tiba memegang bas, lalu kembali lagi ke drum. Aeng juga memainkan piano. Seperti di Axis Mundi, saya cukup senang dengan nirformat ini—saya juga menyebut konsep ini sebagai format band yang egaliter di Koran The Jakarta Post—karena hal tersebut menunjukan bahwa prioritas Polka Wars lebih ke aransemen lagu daripada siapa memegang instrumen apa. Siapapun yang cocok di lagu/instrumen, maka dia yang akan memainkannya. Lagu terbaik di Axis Mundi, pasnya, dimainkan di akhir konser: “Piano Song.” Setelah melewati stand-up comedy dari Aeng, dokumenter pendek soal karir, dan tentu saja penampilan lagu-lagu dari album Axis Mundi (serta lagu “Obese Elves” yang di rekam di New York), “Piano Song” membungkus konser ini dengan mantap dan apik. Saya tidak menyangka bahwa mereka bisa mengeksekusinya seeksploratif di luar kenyamanan studio rekaman. Layaknya limbah pabrik, musik pun memiliki faktor eksternalitas tersendiri: imej dan kawan-kawannya. Bedanya dengan limbah, dalam konteks musik, faktor tersebut tidak begitu menjadi masalah. Begitu pula dengan Polka Wars, apalagi kalau kualitas penampilan mereka se-prima hari itu. Dan di hari itu, mereka telah mencapai banyak prestasi: konser perdana, konser tunggal, tiket laku, dan lain-lain. Kedepannya? Saya belum berani menjamin. Namun, saya berani menjamin satu hal: jika ada yang bertanya mengenai pendapat saya mengenai Polka Wars, maka ada hal baru yang saya akan katakan kepada dia. teks oleh: Stanley Widianto foto oleh: Omar Annas
The physics binge continues. For centuries physicists have worked on understanding how our universe works, and opening a textbook to understand the concepts and mathematics can be a daunting task for a layperson. Well if, like me, you would like to understand what phycisists are working on, particularly in trying to find a unifying theory for our universe (an exciting quest into finding a theory of everything), then this animated presentation on Big Think by City University of New York Professor of Theoretical Physics Michio Kaku is a good place to begin. Professor Michio Kaku explains the progress of discovering the workings of our universe from the very beginning. From Aristotle, Newton, to Faraday and Einstein, Big Bang, gravity, energy to string theory, every basic idea leading up to current theories are presented in the video. Kaku presents the content in a manner that is very easy to understand and the production by Jonathan Fowler, Kathleen Russell, and Elizabeth Rodd brings the history, theories and equations to life through pictures, videos and animation. The length of 42 minutes can perhaps be intimidating, but it's pretty short considering the centuries of work being summarized. Why should you watch it? Because it is interesting. We as humans have asked repeatedly how our universe and life came to be, and science is getting closer and closer to discovering the answer to this question. Through this video, you can learn about the building blocks that have aided our progress not only towards finding this answer, but to our modern civilization as well. The technology around us; the television we watch, the smartphones we own, the world wide web you are reading this article from; all wouldn't have existed without the contributions of physics, and it may be surprising to know that all of the technologies we use today are based on works of physicists trying to understand our universe. Enjoy the presentation!
“Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam sendiri.” - Multatuli, Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company Dalam beberapa tahun terakhir, berkembang tendensi dimana sebuah produk dimaknai tak hanya dari hasil akhirnya, melainkan dilihat secara menyeluruh. Mulai dari awal mula barang mentah, kandungan, proses mengolah hingga presentasi penyajiannya. Semua dinilai setara esensinya. Budaya ini mengajak konsumen untuk memiliki pengetahuan yang lebih dalam proses konsumsi, tak hanya sekedar sistem menghabsikan nilai guna sebuah barang. Produk yang dikonsumsi diapresiasi pada setiap tataran dan tahapannya. Meja Makan #1: Saidjah & Adinda berada garis terdepan sebagai bagian dari budaya apresiasi ini. Diinisiasi oleh Kushandari Arfandewi dari Kelinci Tertidur, seri pertama Meja Makan adalah sebuah acara yang mengkombinasikan khasanah penganan nasional dengan elemen-elemen yang sebelumnya belum pernah dipertemukan sebelumnya dalam sebuah gelaran. Di dalamnya, digabungkan elemen desain dan seni yang kemudian dijalin rapi di atas tema sastrawi yang menjadi garis merah acara. Dengan bantuan dari Ruth Marbun dan Eugenio Hendro yang masing –masing mengerjakan aspek seni dan produk desain dari acara, kisah Saidjah & Adinda yang diambil dari potongan tulisan Max Havelaar dihidupkan kembali. Karya dari Ruth Marbun yang mengambil nukilan dari tulisan Max Havelaar menghiasi dinding dengan penataan tableware dan furniture oleh Eugenio Hendro. Tiga sesi menu yang disajikan mengambil inspirasi dari potongan narasi dari kisah hidup pasangan Saidjah & Adinda. Yang menarik, setiap menu diolah sedemikian rupa dari menu tradisional dengan twist yang membuat setiap hidangan menjadi semakin menarik. Penggunaan bahan baku yang secara spesial dipilih khusus dan diperkenalkan pada setiap tamu menambah kualitas tiga sesi sajian a la Kelinci Tertidur. Suasana Coworkinc sebagai setting tempat yang akrab dan hangat menjadi elemen tersendiri yang membuat spirit acara ini hidup. Ditambah dengan seleksi musik Indonesiana dari Mar Galo dan Udasjam, Meja Makan jelas sebuah acara yang akan ditunggu kelanjutannya.
After the success of last year's RRREC Fest in the Valley, the nature weekend festival returns this year with a new lineup of musicians (curated by The Secret Agents and Pasangan Baru), workshops, and discussions. This time, the organizers are working closely with Ensemble Asia/Asian Music Network a music project that is dedicated of creating a network between musicians all across Asia. If this year's RRREC Fest in the Valley is anything like last year's, then expect a laid back 3-days in the company of musicians, artists, festival-goers, and the beautiful natural surroundings of Tanakita camping grounds. We will definitely be there, and we hope to see you at RRREC Fest in the Valley! Learn more about RRREC Fest in the Valley through this link. -- RRREC Fest in the Valley 2015 Performers: Tenniscoats Orkes Moral Pengantar Minum Racun Efek Rumah Kaca Stars and Rabbit Polka Wars Silampukau Sigmun DJ Sniff Bin Idris Jimbot Kok Siew Wai Yui-Saowakhon Muangkruan Jogja Noise Bombing Pemandangan W_Music Oomleo Berkaraoke Discussion Workshops: Organizing Music Festivals/Program South East Asia Music Festival/Program Network Creative Process of Writing Lyrics Artist Residency Workshop: Lifepatch Moch. Hasrul Indrabakti Muhammad Fatchurofi RRREC Fest in The Valley Package Deals: Package A Rp 1,700,000,- / person Facilities: - Exclusive tent in Tanakita campsite (max. for 4 people – sleeping bags – pillows – electrical plugs – rubber flooring mats – mattresses) - Communal bathrooms with shower cubicles (hot water) - Buffet breakfast – lunch – dinner - Bottomless cup of coffee and tea - Festival kit Package B Rp 1,000,000,- / person (Tent at the festival venue not included) Facilities: - Camping location in Arben campsite (next to Tanakita campsite) - Standard communal bathroom - Buffet breakfast – lunch – dinner - Bottomless cup of coffee and tea - Festival kit Package C Rp 5,200,000,- / tent (max. 4 people) Facilities: - Exclusive tent in Tanakita campsite (max. for 4 people – sleeping bags – pillows – electrical plugs – rubber flooring mats – mattresses) - Communal bathrooms with shower cubicles (hot water) - Buffet breakfast – lunch – dinner - Bottomless cup of coffee and tea - Festival kit We will provide tents and transportation Jakarta – Tanakita (return) with additional cost. All packages do not including transportation to Tanakita (return) Only 500 tickets available!! Infants under 3 years of age will be free of charge if they sleep with their parents. Registration: http://rrrec.ruangrupa.org/2015/registration/ info.rrrecfest@gmail.com Supporting partners: RURU Radio, RURU Shop, Asian Music Network, Japan Foundation, Ford Foundation, Sampoerna Go Ahead, Omuniuum, The Wknd, Bobobobo, C2o, Houtenhand More information and updates: http://rrrec.ruangrupa.org/ Facebook: RRRec Fest Twitter: @RRREC_Fest Instagram: @RRREC_Fest Hotline: 0897 9820 820
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.