Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Konferensi-festival desain yang diselenggarakan secara tahunan di Surabaya sejak 2011 kini kembali untuk kelima kalinya. Tahun ini, DIYSUB melibatkan lebih dari 45 desainer dan seniman dari Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Singapura, Surakarta, Pekanbaru, Hong Kong, Malaysia, Australia, dan Belanda. Menggandeng Kebun Binatang Surabaya sebagai mitra dan lokasi utama, DIYSUB kali ini mengambil tema “networks” untuk mengeksplorasi gagasan desain sebagai proses yang saling terhubung dalam ekosistem jaringan, antara manusia dan bukan manusia, makhluk hidup dan benda mati. Selama 19 – 25 Oktober 2015, nikmati lebih dari 20 program interaktif yang mengeksplorasi desain dan tema networks, antara lain melalui diskusi santai, lokakarya, pameran, pentas storytelling dengan lampion, pasar Design Faire, tur blusukan jalan kaki, dan Open Lab. ACARA UTAMA 24 - 25 Oktober 2015 Lokasi: Kebun Binatang Surabaya (KBS) ACARA SATELIT (PRA-ACARA) 15 - 23 Oktober 2015 Lokasi: 1) Pusat Kebudayaan Prancis (IFI) Surabaya 2) Institut Teknologi Sepuluh Nopember 3) C2O library & collabtive, Jl. Dr. Cipto 22 TIKET Selain workshop, semua acara DIYSUB gratis dan terbuka untuk umum. Namun, Anda perlu memesan dulu (pre-order) tiket DIYSUB untuk reservasi. Tiket DIYSUB memberi Anda akses gratis masuk ke KBS selama 24 – 25 Oktober 2015. Dapatkan tiket DIYSUB di www.diysub.com atau hubungi tiket@diysub.com, SMS/WA: 0816 1522 1216. Untuk informasi lanjut silahkan ke www.diysub.com Saturday, 24 October 2015 10.00 - 17.30 Surabaya ZooTower Ground Level Design Faire Free & open to public 11.00 - 17.30 Surabaya ZooTower Level 2 Open Lab Free & open to public 13.00 - 16.00 Surabaya Zoo Library Handmade Bookbinding with @Vitarlenology IDR 250,000/person, limited to 20 persons (register) 14.00 - 16.00 Surabaya Zoo Stage Area Casual Talk with Mark Low IDR 100,000/person, limited to 40 persons 16.00 - 17.30 Surabaya Zoo Tower Level 2 Watercolour Lettering with with @BBBani (@SUB.letter) IDR 200,000/person, limited to 15 persons 10.00 - 10.10 Surabaya Zoo Tower Level 3 Welcome address & introduction to DIYSUB by DIYSUB Project Director 10.10 - 11.00 Surabaya Zoo Tower Level 3 Lightning talk: 5 minute intro for 10 speakers 11.00 - 12.30 Surabaya Zoo Tower Level 3 Panel 1: Sustainable Local Living: Food, Architecture, Technology Hayu Dyah (Mantasa), Yu Sing (Studio Akanoma), Haryadi (TETEG, Yogyakarta) Moderator: Erlin Goentoro (Holopis) 12.30 - 13.30 Surabaya Zoo Stage Area Networking Lunch For conference speakers & invited guests only 13.30 - 15.00 Surabaya Zoo Tower Level 3 Panel 2: Community-based design, science and technology Lifepatch, Paulista Surjadi (Kotakita), Gerdhu Moderator: Debrina Tedjawidjaja (WAFT-LAB) 15.00 - 15.30 Guided tour to DIYSUB market, workshop, etc. 15.30 - 16.00 Surabaya Zoo Stage Area Coffee break For conference speakers & invited guests only 16.00 - 17.30 Surabaya Zoo Tower Level 3 Panel 3: Eventful spaces: Festival and market organising Tarlen Handayani (Crafty Days), Nastasha Abigail (RRREC Fest), Adil Alba (Soledad & the Sisters Co.) Moderator: Anitha Silvia (Indonesia Netaudio Festival) 10.00 - 17.30 Surabaya Zoo Tower Ground Level Design Faire Free & open to public 11.30 - 17.30 Surabaya Zoo Tower Level 2 Open Lab Free & open to public 18.30 - 20.00 Surabaya Zoo Elephant Ride Area Lantern storytelling 11.30 - 15.30 Surabaya Zoo Tower Level 4 & Plaza Design Thinking Workshop with Make.Do.Nia 14.00 - 15.30 Surabaya Zoo Library Brush Pen Lettering with @alvianthelmi (@SUB.Letter) IDR 150,000/person, limited to 15 persons (register) 14.00 - 17.30 Surabaya Zoo Stage Area Tie dye by @Ikatcraft IDR 250,000/person, limited to 20 persons 14.30 - 16.00 Surabaya ZooLibrary Woodcarving by @Serbuk_Kayu IDR 120,000/person, limited to 15 persons Conference 09.00 - 09.30 Surabaya ZooTower Level 3 Honorary speech 09.30 - 11.00 Surabaya ZooTower Level 3 Panel 4: Design Thinking and Place-Making for Public Spaces Aschta Nita Boestani Tajudin (Surabaya Zoo), Agus Imam Sonhaji (Surabaya City Development Planning Agency), RA Retno Hastijanti (Universitas 17 Agustus 1945) Moderator: Paulista Surjadi (Kotakita) 11.00 - 11.30 Surabaya ZooStage Area Coffee break For conference speakers & invited guests only 11.30 - 13.00 Surabaya ZooTower Level 3 Panel 5: Internet, media, meaning-making Agung Iskandar (MakNews), Ken Jenie (Whiteboardjournal), Ricky Pradipta (Event Surabaya), Nadia Maya Ardiani (Merdeka FM) Moderator: kathleen azali (Ayorek!) 13.00 - 14.00 Surabaya ZooStage Area Networking Lunch For conference speakers & invited guests only 14.00 - 15.30 Surabaya ZooTower Level 3 Panel 6: Connected/ing learning & urban sustainability Zamroni (Kampung Sinau), Paulista Surjadi (Kotakita) Moderator: Ari Kurniawan (Anak Bertanya & Ayorek!) 15.30 - 16.00 Surabaya ZooStage Area Coffee break For conference speakers & invited guests only 16.00 - 17.30 Surabaya ZooTower Level 3 Wrap-up discussion: Sustainable networks, beyond green design 17.30 - 17.45 Surabaya ZooTower Level 3 Closing
We.Hum Collective presents “Humming Mad #10: Yuk!” Sarang Kucing Jl. Perdatam Terusan no. 3B, Ulujami, Pesanggrahan Jakarta Selatan 12250 Peta: http://bit.ly/SarangKucing Kontak: +628118161475 (Tomo) Sabtu, 7 November 2015 19.00 – 23.00 WIB Free entry Sudah satu tahun berlalu sejak kami menyatakan rehat. Skena berjalan seperti biasa: band datang dan pergi. Namun, masalah yang dihadapi tetap sama: band-band baru masih kesulitan mendapatkan panggung—terutama mereka yang tidak mengenal siapapun di skena dan venue-venue yang berguguran satu demi satu. Problema pertama adalah masalah klasik dalam tiap skena di kota mana pun. Masalah kedua adalah hal baru yang seharusnya sudah dapat diprediksi melihat apa yang akan terjadi dengan rencana pembangunan Jakarta sebagai sebuah megapolitan: harga tanah yang melambung naik, sebuah fenomena yang juga melatarbelakangi peningkatan harga sewa ruko yang selama ini diandalkan para pemilik venue dan para pelaku skena musik arus non-arus utama, terutama yang beroperasi secara independen. KENAPA “YUK!”? “Yuk!” adalah sesederhana sebuah ajakan untuk terus berkesenian dengan independen. Kami melihat sebuah urgensi untuk mencari alternatif dari venue-venue konvensional jika ingin skena ini bisa tetap berjalan dengan independen dan menyenangkan. Sebuah urgensi yang akhirnya menyeret kami untuk kembali aktif dengan alternatif yang agak radikal: sebuah house gig. Sampai di poin ini mungkin sebagian dari kalian akan menyerngitkan dahi karena sebuah house gig jarang sekali digelar di Jakarta. Belum lagi, masalah yang biasanya muncul seperti komplain dari warga dan akses yang sulit. Namun, kami melihat bahwa masalahnya selama ini terjadi karena house gig gagal dalam menjawab pertanyaan fundamental: apa kontribusi positif yang dapat diberikan acara ini kepada warga sekitar? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami pun memutuskan untuk menjadikan sesi Humming Mad kali ini sebagai sebuah pilot project. Kami mengajak warga-warga sekitar rumah untuk berjualan makanan dan minuman di sekitar venue untuk menggerakkan perekonomian di daerah sekitar rumah agar warga juga turut diuntungkan dengan adanya keriaan ini. Jika respon warga terhadap acara ini bagus, bukan tidak mungkin kami akan mengadakannya dengan rutin. Untuk mencapai lokasi venue kalian dapat mengikuti peta yang tercantum pada tautan berikut: http://bit.ly/SarangKucing Pada sesi Humming Mad kali ini dan seterusnya, kami memutuskan untuk lebih memfokuskan diri pada skena lokal. Bisa dibilang, ini adalah sesi Humming Mad pertama yang tidak menampilkan musisi mancanegara. Pada sesi kali ini, kami ingin menyorot skena emo Malang yang mulai berdenyut. Berikut adalah para penampil yang kami undang untuk merayakan kembalinya sesi Humming Mad dengan konsep baru: 01. Much Much adalah kontribusi Malang untuk turut meriuhkan skena pop-punk bernafaskan indie-pop/indie-rock yang sedang ramai belakangan ini, terutama di UK. Mereka adalah band yang patut kamu simak jika kamu menyukai Lemuria, Personal Best, dan Colour Me Wednesday. 02. Shewn Masih dari Malang. Mendengarkan Shewn membuat kami berandai-andai apabila Pianos Become The Teeth era “Keep You” yang lebih tenang bertemu dengan diri mereka era “The Lack Long After” yang lebih agresif. Kami sangat merekomendasikan mereka apabila kamu menyukai skramz/post-hardcore ala The Wave. 03. Saturday Night Karaoke Ah, rasanya kami sudah tak perlu lagi memperkenalkan grup pop-punk asal Bandung ini. Mereka baru saja merilis sebuah album bertajuk “Slurp!” di bawah SP Records yang berbasis di Jepang jadi anggap saja ini sebagai bagian dari tur album mereka untuk bagian Jakarta. 04. Fuzzy, I Berhentilah berandai-andai Kim Gordon dan Thurston Moore akan berbaikan dan mengembalikan Sonic Youth ke era kejayaannya. Bandung sudah punya alternatif baru yang lebih segar untuk kalian: Fuzzy, I. 05. Barefood Barefood juga rasanya adalah band yang tak perlu kami perkenalkan lagi. Kalian sudah tahu siapa mereka. Yang mungkin kalian belum tahu adalah bahwa mereka akan merilis ulang materi-materi demo mereka dan EP “Sullen” ke dalam satu album di bawah label asal Jepang, THISTIME Records. 06. Laguna Bang Bang Laguna Bang Bang adalah semacam tamu misterius untuk kalian dari kami karena satu-satunya yang bisa kalian dengar dari laman Soundcloud-nya hanyalah satu track instrumental berbau surf punk yang direkam secara lo-fi. Penasaran? Tunggu saja aksi mereka di Humming Mad #10!
Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, dibulan Oktober 15 tahun lalu di sebuah acara tahunan anak-anak seni rupa IKJ (Institut Kesenian Jakarta) yang bernama “Oktaria” band ini lahir karena keempat orang ini tertinggal rombongan kloter awal, Ary Buy harus mengurus perpindahan jurusan dari Desain Interior ke Desain Grafis, Ritchie & Rege “literally” ga kebagian tempat duduk dan ketinggalan truk tronton, Sastro sibuk dengan kegiatannya di studio grafis murni. Dalam hitungan 2 hari lagu “Lari 100”, “Kaktus” dan “Penyair” menjadi 3 lagu pertama yang dibawakan live diatas panggung, waktu itu studio Armada di bilangan Senen jadi saksi bisunya. Perlu waktu 5 tahun sampai akhirnya band ini merilis album pertamanya, selain EP dan Single kecil dengan kuantiti sangat sedikit dan dijual hand-to-hand. The Sastro akhirnya merilis album Vol. 1 setelah kerja keras 3 tahun di studio kamarnya Angga (Frontman Ramayana Soul, Gitaris Pestol Aer, Additional Player The Sastro) dan album ini adalah rilisan pertama dari Kenanga Records, sebuah label indie yang berhasil mengarsipkan scene musik Jakarta era Parc melalui album kompilasi “Thusrday Riot”. Album Vol. 1 ini dirilis dibulan April 2005 dengan menggelar konser di Parc. Desember 2014, Agus dari Majemuk Records mengontak kami karena ingin merilis ulang album ini dalam format piringan hitam, tujuannya adalah untuk merayakan 10 tahun album vol. 1 tepat di bulan April berbarengan dengan acara Record Store Day. Dilihat dari timeline sangat memungkinkan sekali, tetapi takdir berkata lain, paket yang dikirimkan bersama piringan hitam The Milo dari Perancis tempat kami mereplikasi piringan hitam ini nyasar ke India, entah kenapa hanya paket piringan hitam kami yang hinggap ke India, perlu waktu 1 bulanan untuk jasa logistik kami bisa menemukan keberadaan paket kami tersebut, lalu paket piringan hitam tersebut sampai di Jakarta 2 bulan setelah acara Record Store Day, dan acara konser ini pun kami buat. Piringan Hitam The Sastro album Vol. 1 rencananya akan dijual terbatas sebanyak 200pcs dengan harga Rp. 350.000,-. Jumlah piringan hitam ini direncanakan dirilis sebanyak 300pcs, kami mendapatkan sekitar 100-an pcs melengkung/rusak karena menurut laporan logistik paket ini tidak mendapatkan perawatan yang layak selama terdampar di India. Acara ini akan diramaikan oleh teman-teman dekat kami seperti, Ramayana Soul, Band ini adalah bandnya Angga, dia adalah salah satu orang yang berjasa The Sastro bisa merampungkan album Vol. 1. Seaside, Andi Hans membuat band ini dan merilis albumnya bersama Anoa Records label yang di co-founding oleh Ritchie salah satu personil The Sastro. Davkillz a.k.a David Tarigan, dia adalah founder dari Iramanusantara.org, penggerak scene musik Jakarta dan David yang mengajak kami bisa ikutan di album kompilasi bersejarah dari Aksara Records, JKT:SKRG. BolsQ, Skater pro lokal teman nongkrong di IKJ, selalu jadi MC untuk meramaikan suasana dipercaya number one fans The Sastro se-Jakarta, Peterlovefuzz a.k.a Peter Walandouw dan Aruca a.k.a Andri K Rahadi, duo co-founder Anoa Records yang membuat rilisan digital The Sastro Vol. 1 dalam format Kartu Download Digital (akan dijual saat acara juga). Berlokasi di Yesterday Lounge, sebuah tempat menyenangkan di Antasari, Jakarta Selatan, Acara ini diadakan pada tanggal 11 Oktober 2015, dan direncanakan tiket box dibuka pukul 6 sore berbarengan dengan dibukanya booth penjualan piringan hitam Vol. 1 dan Merchandise, signing session akan dilakukan sebelum konser dimulai. Untuk mensupport acara ini diharapkan teman-teman bisa membeli tiket FDC seharga Rp. 50.000,- atau cukup membeli salah satu produk dari The Sastro yang akan dijual seperti; piringan hitam, t-shirt dan DDV (kartu download digital). See you soon! Cheers, Ritchie Ned Hansel On behalf of The Sastro
Pada hari Minggu, 04 Oktober 2015, whiteboardjournal.com bekerja sama dengan Komunitas Salihara menggelar diskusi Lost in Translation di Serambi Salihara. Sebagai bagian dari gelaran Bienal Sastra 2015, diskusi ini merupakan upaya untuk melihat lebih jauh proses dan intensi pada aktivitas alih bahasa. Pilihan topik tersebut merupakan respon terhadap Indonesia yang menjadi Guest of Honor di Frankfurt Book Fair 2015, sekaligus untuk membahas posisi sastra Indonesia di pasar internasional. Yusi Avianto Pareanom dan Rain Chudori adalah dua pembicara pada diskusi ini. Keduanya dipilih dengan pertimbangan bahwa background masing-masing bisa menjadi representasi yang ideal mengenai dunia penerbitan, aktivitas translasi, hingga tren di anak muda mengenai dunia penulisan. Diskusi berjalan cukup menarik dengan jawaban dari Yusi dan Rain yang cukup sering menggelitik dan membuka wawasan baru. Pembahasan mengalir dari pembicaraan mengenai esensi pasar internasional, berbagai kendala yang dihadapi dalam proses alih bahasa serta hubungannya dengan bagaimana proses bagi penulis untuk memasuki pasar global, hingga kemungkinan-kemungkinan baru yang terbuka dengan jalur-jalur penerbitan dan promosi alternatif yang kini dimungkinkan oleh teknologi dan internet. Berbagai pertanyaan dan tanggapan dari penonton juga semakin melengkapi cakupan bahasan diskusi ini.
TNGR mempersembahkan Frau Konser Tentang Rasa dibuka oleh: Tik! Tok! Sisir Tanah Kamis, 29 Okt 2015 - 19:30 WIB Jumat 30 Okt 2015 - 19:30 WIB Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta Tiket Mahasiswa:35,000 Umum: 50,000 Tiket mulai dijual 19 Oktober di Gedung Societet. info & kontak p: +62 823-2348-5121 e: konsertentangrasa@gmail.com f: leilaniFrau t: @kongsi_Jahat -- Dari penyelenggara: Musik memiliki beragam dimensi yang dapat dicecap oleh berbagai indera, tidak hanya dimonopoli oleh telinga dan mata. Eksplorasi dalam menikmati musik inilah yang ditawarkan oleh Frau dalam konser terbarunya di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, pada 29-30 Oktober 2015 mendatang. Bertajuk “Konser Tentang Rasa”, sajian musik dari Frau ini mencoba menghadirkan pengalaman baru yang lebih menyeluruh dalam menikmati musik. Kesan lintas indera itu membuat penonton dapat terlibat secara aktif untuk merangkai impresi rasanya sendiri, bisa berupa senang, sedih, bosan, hingga kantuk. Dalam konser ini penonton juga diajak untuk berbagi narasi, ilustrasi, ataupun keluh kesah atas rasa yang muncul ketika mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Leilani Hermiasih (Lani) dan pianonya, Oskar. Soal pengalaman “mengalami musik”, Lani mempunyai cerita sendiri. Pada suatu kesempatan, Ia menceritakan bagaimana dirinya bisa menangis tersedu-sedu tanpa alasan ketika mendengarkan lagu “La Même Histoire” dari singer-songwriter Kanada, Feist, berulang-ulang kali. Meski sama sekali tidak mengerti apa dinyanyikan, tapi air matanya tetap mengalir deras. Tubuh yang berbaring pada pegas-pegas springbed lawas di kamarnya itu pun sesenggukan. Pasrah begitu saja ketika satu dua tetes air mata asin mengalir ke mulutnya. “Saya tidak sedih, tapi mungkin terharu karena bisa menikmati mewahnya pengalaman musikal seperti itu,” Ucap Lani mengenang. Dalam konser ini, Frau akan membawakan 16 lagu dari album Starlit Carousel dan Happy Coda serta beberapa materi lagu baru. Materi baru tersebut akan menjadi rujukan untuk album berikutnya. Sebelum di Yogyakarta, konser dengan tema yang sama telah berlangsung di Bandung 22 Mei Silam sebagai rangkaian program Printemp Francais atau Musim Semi Perancis 2015. Mengenai gagasan pertunjukan, Lani menjelaskan Konser Tentang Rasa disajikan bukan sebagai sebuah pernyataan, melainkan pertanyaan yang akan dijawab bersama di akhir pertunjukan nanti. Konser Tentang Rasa ini terbuka untuk umum. Tiket untuk mahasiswa/pelajar dijual seharga Rp 35.000,00, dan untuk umum seharga Rp 50.000,00. terbatas hanya 300 tiket. Tiket mulai diual pada 19 Oktober 2015 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta jam 15.00 Wib. kami tidak menjual pembelian tiket melalui online. informasi perihal konser tentang rasa bisa menghubungi saudara Yudis +62 823 2348 5121 atau melalui email : konsertentangrasa@gmail.com
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah proyek seni sering muncul dalam berbagai diskusi dan tulisan seni rupa di Indonesia. Seni sebagai sebuah proyek—di mana di dalamnya terdapat berbagai kemungkinan pengembangan ide, baik secara kolaborasi dan individu—memang tidak terlalu dekat dengan sejarah seni rupa kita. Namun, jika merujuk pada sejarah, yang telah dilakukan oleh para founding fathers seni rupa modern kita sebenarnya ada yang sudah mengarah pada bentuk proyek seni seperti yang kita terjemahkan saat ini. Lihat saja proyek poster revolusi pascakemerdekaan Indonesia yang digagas oleh S. Sudjojono dan Affandi bersama Seniman Indonesia Muda (SIM). Ia tidak hanya meletakkan seni sebagai kegiatan mendedah estetika rupa, namun menjadi alat perjuangan yang berkolaborasi dengan para penulis pada masa itu, seperti Chairil Anwar. Seni rupa sebagai sebuah proyek seni memang tidak berkembang di Indonesia karena kecenderungan subjektivitas seniman dan orientasi untuk memproduksi kebendaan berupa 'karya' sebagai hasil akhir. Sebuah proyek seni menuntut keterbukaan dalam mengembangkan ide sebagai proses kerja. Keterbukaan itu bisa jadi berkolaborasi dengan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan kesenian. Mulai tahun 2015, Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta menginisiasi proyek seni seniman perempuan: Wani Ditata Project. Proyek seni ini adalah tanggapan Komite SR-DKJ terhadap perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, bahwa kegiatan seni yang mengarah pada riset dan fokus pada isu tertentu menjadi sangat relevan saat ini. Relevansi proyek seni ini adalah bagaimana pengembangan kegiatan kesenian dengan durasi tertentu dan mendalami satu subjek wacana akan sangat berdampak pada perkembangan seni rupa kontemporer—di mana dalam proses kerja sebuah proyek seni terdapat produksi ilmu pengetahuan yang akan didistribusikan di akhir proyek. Wani Ditata Project dengan sengaja mengundang delapan seniman perempuan dari Jakarta dan kurator muda Angga Wijaya sebagai fasilitator dalam mengembangkan proyek seni ini. Tujuan mengundang seniman perempuan adalah untuk membaca perkembangan seni rupa kontemporer di Jakarta, di mana seniman perempuan juga menjadi pemain utama saat ini. Sejak berdiri, Komite SR-DKJ belum pernah secara khusus meletakkan isu perempuan ini dalam program-programnya. Untuk itulah Komite SR-DKJ merasa perlu secara khusus mengembangkan proyek seniman perempuan, sekaligus untuk merangkum wacana sosial-politik kebudayaan yang dibaca melalui seniman-seniman perempuan. Semoga saja proyek seni ini dapat berkembang dan berkontribusi bagi perkembangan seni rupa kontemporer kita. Salam, Hafiz Rancajale Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta 2013 - 2015 -- Dewan Kesenian Jakarta mempersembahkan: Proyek Seni Perupa Perempuan Dewan Kesenian Jakarta: WANI DITATA PROJECT Aprilia Apsari, Julia Sarisetiati, Kartika Jahja, Keke Tumbuan, Marishka Soekarna, Otty Widasari, Tita Salina, Yaya Sung Kurator: Angga Wijaya Pembukaan: Sabtu, 3 Oktober 2015 | 19.00 – 22.00 WIB Dimeriahkan oleh: Disrobot Radio Irama Nusantara Pameran: 4 – 19 Oktober 2015 11.00 – 20.00 WIB Diskusi “Citra Dharma Wanita dalam Konstruksi Sosial”: Selasa, 6 Oktober 2015 | 15.00 – 17.00 WIB Pembicara: Julia Suryakusuma & Manneke Budiman Moderator: Maulida Raviola di Galeri Cipta II Jl. Cikini Raya No.73 Taman Ismail Marzuki Menteng, Jakarta Pusat 10330 Gratis!
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.