Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Menjelang akhir tahun 2015, Anoa Records bersiap merilis album mini dari sebuah band Bandung yang ajaib. Begitu ajaibnya karena band ini dihuni oleh orang-orang yang bisa dibilang pernah tampil di beberapa band penting di Bandung seperti Cherry Bombshell, Themilo, Lass, hingga Puppen. Dan band bernama Silverglaze ini tak pernah sekalipun manggung meski sempat memamerkan dua lagu di laman Myspace. Itu pun tanpa woro-woro tentang siapa sebenarnya penghuni Silverglaze. Silverglaze terdiri dari Ajie Gergaji (Cherry Bombshell, Themilo), Widi (Cherry Bombshell, Lass) dan Ajo (Cherry Bombshell, Puppen). Masa lalu mereka memang saling terkait dengan Cherry Bombshell dimana ketiganya hadir di dua album penuh Waktu Hijau Dulu & Luka Yang Dalam. Kini mereka telah ‘reuni’ dalam wajah yang berbeda dan lebih segar. Bersama Anoa Records, Silverglaze akan meluncurkan EP bertitel Essay di awal Desember 2015, dengan single utama berjudul ‘We Can Do It Now Together’. Bersama Rollingstones.co.id, Silverglaze akan melepaskan single tersebut dalam format bebas unduh. Single utama ini mewakili corak musik Silverglaze yang indie pop/rock. Sebagai jebolan penikmat band-band alternatif 90an, tak akan susah mengendus karakter musik mereka, yang telah dirintis oleh band-band seperti Belly, Lush, Madder Rose, Velocity Girl, dan Juliana Hatfield. Dan sebenarnya, tak akan ada Cherry Bombshell tanpa kehadiran beberapa band-band diatas. We Can Do It Now Together adalah awal mula yang sempat tertunda di masa lalu. Kembalinya Widi & Ajo ke dunia yang sempat mereka tinggalkan setelah memutuskan untuk berkeluarga. Dan Aji melengkapi Silverglaze, bersama-sama, sebagai sahabat lama yang tak melupakan passion mereka dalam sebuah band. They can do it now together.
Meskipun tema yang diangkat oleh Jakarta Biennale tahun 2015 ini mengingatkan pada salah satu judul film Warkop yang dirilis tahun 1983, ternyata komedi sedikit berjarak dengan misi yang ingin dicapai pada gelaran ini. Konsepsi yang skala dan dampaknya cukup besar menjadi dorongan utama eksibisi dua tahunan ini. Dengan perhatian pada lingkungan, terutamanya terhadap area kota yang ditempatkan pada sorotan utama, sejatinya Biennale ini adalah rupa rekaan seniman mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka. Ini juga sekaligus merupakan sebuah seruan untuk mengambil langkah untuk maju sekarang, supaya tak terjebak di masa lalu, juga tak tersesat pada utopia masa depan. Besarnya konsepsi juga bisa dirasakan pada bagaimana Jakarta Biennale 2015 memetakan rangkaian acara. Secara kuratorial, Yayasan Jakarta Biennale sebagai pelaksana pameran mengembangkan Curators Lab, sebuah program pembelajaran dan kolaborasi antara kurator muda dengan kurator profesional untuk mengembangkan konsep yang lebih relevan kepada permasalahan yang ada di sekitar. Tim kurator yang besar, berisi kombinasi 7 kurator muda dan senior, termasuk di dalamnya pegiat seni yang didatangkan dari penjuru negeri, dari Aceh, Surabaya, hingga Makassar, menunjukkan lebarnya skala yang dijangkau oleh pameran ini. Selain juga keterlibatan seniman dari berbagai suku bangsa yang diajak untuk menterjemahkan pemahaman mereka masing-masing terhadap tema utama. Kunjungi Gudang Sarinah untuk melihat dan merasakan bagaimana para seniman memaknai isu-isu perkotaan, sekaligus untuk memahami tindakan apa yang bisa diambil untuk bisa melangkah maju ke depan. Jakarta Biennale Website Jakarta Biennale Facebook Jakarta Biennale Twitter Jakarta Biennale Twitter
(pesan split tape bedchamber dan Cotswolds) Sejak merilis debut EP masing-masing pada 2014 dan 2013 lalu, baik bedchamber dan Cotswolds belum pernah merilis apapun setelahnya. Namun lewat kedua debut EP mereka tersebut, keduanya berhasil menawarkan warna musik berbeda yang dengan sangat kuat menandai mereka sebagai dua unit muda dengan karakter yang khas pada musiknya masing-masing: bedchamber yang indiepop dengan segala keriangannya serta Cotswolds yang kental akan gelap post-punk dengan segala kemuramannya. Pun ternyata, keduanya kemudian juga berhasil diterima dengan sangat baik atas apa yang mereka mainkan tersebut Namun dalam PORTSIDE: a split tape by bedchamber & Cotwolds, kali ini mereka menampilkan sisi-sisi lain dari mereka yang mungkin akan terdengar bertolak belakang dari bagaimana musik mereka dikenal. bedchamber bermain dengan pola drum post-punk dalam nuansa yang lebih gelap? Atau entah apa yang membuat Cotswolds menjadi terdengar lebih riang lewat permainan gitar yang kental akan pop? PORTSIDE mempertemukan dan mengabadikan transisi-transisi itu dengan baik. Sebagai single pertama bedchamber memilih "Frowning" sementara Cotswolds menawarkan "Marra". bedchamber menuturkan tentang "Frowning" yang menurut mereka adalah sebuah teka-teki akan sifat dan keadaan psikologis seseorang yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepada orang lain dan memilih untuk melalukan segala hal seorang diri sehingga apakah ia merasa kesepian atau tidak menjadi hal yang sulit diketahui. Sedangkan "Marra" menurut Cotswolds adalah momen terungkapnya kepribadian gelap dan tersembunyi dari seorang wanita periang pengidap bipolar yang tidak pernah diketahui sebelumnya. PORTSIDE akan dirilis dalam format kaset oleh Nanaba Records serta digital stream lewat Kolibri Rekords pada 5 Desember 2015. Rilisan ini merupakan kolaborasi pertama di antara kedua label tersebut, juga sekaligus menjadi penghubung menuju album perdana dari masing-masing band. Showcase istimewa untuk rilisan ini juga akan dilaksanakan di Surabaya, Malang, Bandung, dan Jakarta dalam waktu dekat. -- bedchamber - Frowing | Cotswolds - Marra from split album 'Portside' Out 5 Des 2015 on cassette via Nanaba Records & digital stream via Kolibri Rekords
Semenjak menyeruak diantara tren musik chillwave pada tahun 2009 melalui debut album Psychic Chasms yang meraih banyak pujian, Neon Indian muncul sebagai nama penting dalam scene ini. Pendekatannya yang cukup ekletik dalam musiknya membuka dimensi baru pada genre ini. Menggabungkan aroma psikedelia ringan dengan nostalgia, dan pancingan untuk dansa, Neon Indian kemudian tumbuh menjadi salah satu ikon sekaligus representasi movement musik ini. Kemauannya untuk terus berkembang pada setiap karyanya juga menjadi penanda bahwa Alan Palomo, otak dibalik nama Neon Indian memiliki dedikasi lebih dalam bermusik. Hal tersebut juga bisa dirasakan pada kualitas yang juga terus terjaga pada tiap rilisannya, termasuk dalam split albumnya bersama Flaming Lips yang dirilis pada tahun 2011. Kejutan muncul ketika Neon Indian mengumumkan VEGA INTL. Night School, full album-nya yang di rilis di penghujung tahun 2015 ini. Aspek dancey semakin menonjol pada musiknya yang semakin ekletik dan funk-y. Ada pula cuplikan rasa reggae yang menambah nuansa tropis pada musik Neon Indian. Dengan dirilisnya album VEGA INL ini, Neon Indian kini tak lagi menjadi perwakilan bagi scene chillwave, namun juga mampu tampil sebagai penghibur dengan kepekaan musik synth-pop, disco, funk, hingga R&B. Pengalaman musik yang demikian akan menjadi suguhan utama pada event Play Loud Session: Neon Indian Live in Jakarta. Digelar pada 24 November 2015, ini adalah kali pertama Alan Palomo bermain di Indonesia. Dibuka oleh Future Collective, acara ini akan bertempat di Rolling Stone Cafe, Ampera Jakarta Selatan. Kunjungi prasvana untuk info lebih lanjut mengenai acara ini.
Dimulai pada tahun 1986 oleh National Arts Council, Singapore Writers Festival yang diadakan setahun sekali, telah menjadi ajang bagi penulis, publisher dan juga pelaku industri lainnya untuk memperkenalkan kondisi dunia literatur di Asia Tenggara, sekaligus juga menampilkan karya kontemporer yang berhubungan. Sebagai medium berekspresi, alktivitas menulis adalah medium yang tepat untuk membahas berbagai macam topik menggunakan bermacam gaya, juga kemungkinan untuk kolaborasi dengan medium ekspresi lainnya - di Singapore Writers Festival, elastisitas tersebut mendapat platform melalui seni pertunjukan, lecture, eksibisi, workshop, dan lain-lain. Tahun ini, Singapore Writers Festival bertema "Island of Dreams", sebuah perayaan seni literatur sekaligus titik refleksi akan harapan dan impian negara Singapura. Kali ini, Indonesia menjadi negara yang diundang sebagai "Country Focus", dimana beberapa penulis, musisi dan seniman Indonesia diundang untuk memberi gambaran tradisi dan kondisi seni di Indonesia. Nama-nama yang menjadi fokus festival ini termasuk Goenawan Muhammad, Agustinus Wibowo, Ayu Utami, dan Kroncong Tenggara, yang akan menampilkan literatur Indonesia dari berbagai macam sudut pandang. Whiteboard Journal menjadi salah satu tamu undangan untuk menyaksikan penutupan acara Singapore Writers Festival. Kami akan menyaksikan dan berpartisipasi dalam berbagai aktifitas termasuk 'Don Quixote', pentas multimedia oleh Goenawan Muhammad yang merayakan karya Cervantes, pertunjukan musik Island of Dreams oleh I am David Sparkle dan In Each Hand a Cutlass, dan Words Over Water, pembacaan berbagai teks di atas kapal yang akan melingkari Singapura. Untuk mengikuti pengalaman kami yang tentunya akan menarik, dimulai hari Jumat ini (6 November 2015) ikuti social media kami, dan tentunya nantikan artikel-artikel liputan kami. Media Sosial Whiteboard Journal: Instagram Whiteboard Journal Facebook Whiteboard Journal Twitter Whiteboard Journal Situs Singapore Writers Festival Facebook Singapore Writers Festival Instagram Singapore Writers Festival Twitter Singapore Writers Festival
Pada tahun 2014, band Vague, yang terdiri dari Yudhis Tira, Januar Kristianto, dan Gary Hostage, dengan cepat menjadi unit band yang dikenal oleh penggemar musik independen melalui rilisan album pertamanya, Footsteps. Kombinasi musik mereka yang energetic dan lirik-lirik personal yang meratap dikemas di dalam rilisan yang berkualitas baik secara lagu individual ataupun album. Berkolaborasi dengan Kulturo, sebuah kolektif filmmaker yang terdiri dari Riar Rizaldi dan Adythia Utama, "A Giant Blur" dari album Footsteps sekarang memiliki tampilan visual. Narasi "A Giant Blur" dimulai dengan seorang pria paruh baya yang membaca sebuah surat dari rumah sakit. Kita tidak bisa melihat apakah isi surat itu, dan apakah atau tidak surat itu berisi berita baik atau buruk, pria ini berikutnya menyetir mobilnya di kota Jakarta tampaknya tanpa tujuan. Kadang berhenti di McDonald, dan merokok di sebuah lapangan parkir, ekspresi muka pria ini seperti sedang berkontemplasi mengenai konsekuensi isi surat dari rumah sakit. Visual yang menemani naratif pria ini pun bernuansa kontemplatif, dengan gambar yang semakin lama semakin samar. Video musik "A Giant Blur" di sutradarai dan edit oleh Riar Rizaldi. Berikut adalah esai oleh Dwiputri Pertiwi mengenai "A Giant Blur", dan untuk mengenal band Vague lebih baik silahkan ke Facebook page-nya. A Giant Blur - by Dwiputri Pertiwi
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.