Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Ada yang berbeda dari apa saja yang mencuat dari Jogja, selalu ada kejutan yang muncul dari buah karya warganya. Dan kejutan itu bisa muncul dalam berbagai macam bentuk, terutamanya dalam karya seni, bisa jadi visual, bisa jadi bunyi. Leftyfish menjadi salah satu kejutan baru yang timbul di akhir tahun 2015. Lahir dari nama-nama yang sebenarnya tak terlalu baru, ada Halim (Cranial Incisored, Udanwatu, Haphaetus) di gitar, Bono (Excausated) di drum, Andy (Soulsick) di keyboard, Bergas (Recycle Bicycle) di terumpet dan Ayu (Killed on Juarez) di vokal bisa dibilang merupakan line up dengan kualitas pada bidangnya. Membawakan lagu-lagu yang seperti meneruskan semangat Melt Banana dan John Zorn tapi dengat durasi yang lebih singkat dan lebih padat, Leftyfish dengan mudah menyeruak dan menarik perhatian. Karakter terkuat mereka muncul dari bagaimana Leftyfish menarik dan mengobrak-abrik komposisi melalui gitar yang menggerinda dan ketukan drum yang menderu sebelum kemudian mengulur dan menata kembali telinga dengan tiupan terumpet, dan tak lama kemudian, mereka menghancurkannya kembali. Dirilis oleh Hitam Kelam Records, album ini sangat layak untuk didengarkan bagi penggemar musik avant garde yang eksentrik.
A.P.A – Alternative Public Artspace – adalah sebuah proyek berupa pop-up space yang menjadi wadah kreatif bagi seniman muda yang didirikan oleh ArtDept_ID dan Future10 bertempat di The Good Space, Plaza Indonesia, Lantai 5 selama 6 bulan ke depan. Bersamaan dengan hadirnya Prost Beer sebagai sponsor utama dari proyek ini, A.P.A – Alternative Public Artspace – hadir untuk mengajak seniman muda nan aktif dan visioner untuk bergabung serta menunjukkan bakat mereka melalui program yang berisi karya seni, musik hingga film indie. Bekerja sama dengan Kolektif, sebuah inisiatif pendistribusian film yang berfokus pada kultur film yang lebih beragam yang telah menggelar beberapa workshop entrepreneurship (salah satunya acara Film, Musik, Makan), A.P.A akan mengadakan "DASDASDASDASJADUDAS" sebuah screening video klip dan artist talk bersama The Jadugar, duo music video maker yang beranggotakan Anggun Priambodo dan Henry Foundation. Pada acara yang akan dimulai pada pukul 19:00 di Plaza Indonesia ini, akan diputar beberapa video terbaik karya The Jadugar. Juga akan diadakan artist talk yang akan membahas mengenai sejarah duo ini, cerita dibalik proses pengerjaan video klip mereka, serta tentang perkembangan musik video di era sekarang. Artist talk sekaligus diskusi ini akan dimoderatori oleh M. Hilmi dari Whiteboardjournal.com. Di akhir acara, akan dimainkan musik dari Henry Foundation.
Griffin’s Holy Grove, grup musik bernuansa progressive rock asal bandung akan merilis debut album penuh mereka berjudul ‘Mala’ pada sebuah acara pesta rilis yang bertajuk ‘Mala Release Showcase’ di IFI Bandung, hari Jumat (11/12) pukul 18.30 WIB. Album ini sendiri dirilis melalui label rekaman asal bandung, Sorge Records. Dalam showcase ini, Griffin’s Holy Grove akan berkolaborasi dengan beberapa musisi lokal, seperti Aulia Fadil (eks personil Belakangka), dan juga Sarita Lahmi (Teman Sebangku). Selain penampilan dari Griffin’s Holy Grove, akan ada juga penampilan dari Avhath (kwartet blackened crust/black metal asal Jakarta) dan Lizzie (unit heavy-rock asal Bandung). Acara ini dibanderol dengan harga 20 ribu rupiah, sudah termasuk poster yang akan dibagikan di venue. Grup musik beranggotakan Mas Joko Jodi Satriya (Gitar, Vocal), Ferdi Adriansyah (Bass) dan Yusuf Zulkibri (Drum) memasukkan 8 lagu ke dalam album ‘Mala’, dengan total durasi 61 menit. Dua diantaranya adalah lagu ‘Hollow’ dan ‘Hitam Terang’ yang telah dirilis sebelumnya melalui kanal Soundcloud mereka. Menurut penuturan para personil, kata ‘Mala’ merujuk kepada Malapetaka. Lagu-lagu yang terdapat dalam album tersebut bercerita tentang problematika dalam masyarakat di segala bidang. Seperti kekeringan lahan, konflik tanah, masalah yang timbul karena cinta, dan sebagainya. Semuanya diambil dari perspektif para personil, dirangkum dan diberi garis merah yaitu beberapa hal yang menjadi malapetaka bagi manusia. Proses perilisan album ‘Mala’ ini terbagi ke dalam dua tahap. Yang pertama adalah perilisan format CD (Compact Disc), pada acara ‘Mala Release Showcase’, Jumat (11/12). Yang kedua adalah distribusi format digital melalui iTunes dan beberapa kanal distribusi digital lainnya pada tanggal 21 Desember nanti. Dari awal kemunculannya tahun 2008 dan setiap keterlibatan selanjutnya, mereka selalu memukau dengan musik cadas yang intens dan teknikal. Dalam lima tahun terakhir, Griffin’s Holy Grove secara perlahan mengubah arah musik mereka dan mulai bereksplorasi dengan pengaruh musik progressive rock yang lebih kental. Durasi lagu mulai memanjang. ‘Winter’s Calling’, single yang mereka rilis di tahun 2012, menandakan perubahan tersebut. Waktu itu, mereka masih mempertahankan sound metal yang kental. Simak lagu Griffin’s Holy Grove yang telah dirilis sebelumnya melalui kanal soundcloud mereka: https://soundcloud.com/griffinsholygrove Information: records@sorgemagz.com @sorgerecords @griffin’sholygrove
Kolibri Records kembali menunjukkan kualitas sebagai label muda yang tak hanya produktif, tetapi juga mampu menunjukkan kualitas melalui video klip dari salah satu roster mereka Gizpel. "Zittau" menjadi kandidat salah satu video klip lokal terbaik di tahun 2015 dengan pengambilan gambar yang cermat, arahan artistik yang mengingatkan pada kualitas video musik Jepang, serta pewarnaan yang akurat untuk memvisualisasikan musik Gizpel yang dingin, namun juga hangat yang sama. -- Zittau adalah sebuah kota di Jerman. Namun bagi Gizpel, trio dreampop muda asal Jakarta yang beranggotakan Fadilah Ananto (vokal, bass), Dika Raka Prayuga (synth, beats), dan Dimas A. Wibisono (gitar), Zittau adalah simbol dari kekakuan karena jarak yang terbentang dan agak sulit dilisankan. Bagi mereka Zittau adalah negeri jauh antah berantah yang dingin, kaku, pucat dan bukan tempat untuk memori terbaik. Memang ada beberapa hal yang sifatnya personal dan sentimentil di balik pemaknaan-pemaknaan tersebut. Sampai ketika mereka harus menterjemahkannya ke dalam visual dalam rupa video musik, Gizpel mencoba menarik diri untuk melihat lagu ini dari jauh hingga mereka menyimpulkan bahwa lagu ini sebenarnya adalah tentang menghargai kebersamaan. Dalam debut mini album mereka, Short Distance EP yang dirilis pada Agustus lalu, Gizpel memang banyak berbicara tentang dinamika-dinamika yang terjadi ketika jarak terlanjur hadir. Dan sebagai nomor pembuka, "Zittau" cukup banyak menyimpan analogi-analogi yang mewakili keseluruhan tema tersebut. Diarahkan oleh Vinny Asrita Rahma yang juga merupakan pengisi vokal pada lagu ini, video musik "Zittau" menampilkan penubuhan dari kata kunci-kata kunci seperti ruang, waktu, gerak, keberadaan, kebersamaan, kecanggungan, kegamangan, keintiman, keterhubungan, dan keterasingan. "Kata kunci-kata kunci tersebut jika dianalogikan ke dalam visual, bagi kami adalah seperti dua orang yang terlihat identik melakukan hal-hal yang mereka lakukan dalam video ini," terang Raka. Dimas melajutkan, "Kita mencoba untuk menunjukkan bahwa sedekat apapun keberadaan kita dengan sesuatu atau seseorang yang terasa penting, bahkan saat melakukan hal yang sama pun, kecanggungan dan kegamangan itu pasti tetap akan selalu ada. Jarak sesungguhnya itu ada dalam diri dan tidak dapat diukur. Sehingga jauh atau dekat seharusnya kita rayakan dan syukuri sama baiknya." Video musik ini juga sekaligus menjadi persembahan dari Gizpel untuk memulai turnya di lima kota memperkenalkan Short Distance EP dalam rangkaian Kolibri Rekords Tour 2015. Dalam pembuatannya, video musik Zittau juga dibantu oleh Dito Mohamad yang sebelumnya juga pernah mengerjakan video musik Gizpel untuk "Loner Train". Sementara gambar diambil oleh Daffa Andika, Ghina Nurvita, dan Vinny sendiri. Dua gadis kembar diperankan oleh Amelia Vindy dan Nitya Putrini. Directed by Vinny Asrita Camera by Daffa Andika, Ghina Nurvita, Vinny Asrita Edited by Vinny Asrita & Adyhtia Utama Twins are Amelia Vindy & Nitya Putrini
Berselang beberapa pekan dari rilis album pertama yang ditunggu-tunggu sejak CD-R demo mereka bagikan di salah satu edisi SUPERBAD! pada tahun 2011, Sigmun menggelar pesta rilis dari "Crimson Eyes" yang telah menerima ulasan positif dari berbagai media. Diadakan di Auditorium IFI Bandung, pada tanggal 12 Desember 2015, Sigmun, untuk pertama kalinya, akan membawakan rangkaian materi-materi baru dari album debut mereka secara live dan terkurasikan secara visual berdasarkan apa yang terpaparkan di dalam Crimson Eyes. Sigmun akan bermain selama kurang lebih dua jam, dimana selain membawakan materi-materi baru dalam gelaran ini, merekapun akan membawa pendengar-pendengar lama mereka untuk bernostalgia dengan materi-materi mereka yang terdahulu. Bertepatan dengan showcase ini pun, disamping beberapa merchandise t-shirt dan lainnya yang terbatas, Sigmun dengan Orange Cliff Records akan merilis ulang Crimson Eyes dalam format double cassette tape yang hanya akan tersedia di venue. Tiket yang dibanderol dengan harga 75 ribu rupiah ini sudah termasuk poster yang akan dibagikan saat registrasi di venue. Informasi mengenai prosedur pembelian tiket bisa diperoleh melalui akun-akun jejaring sosial Sigmun. Untuk informasi lebih lanjut: Twitter : @sigmuns Instagram : @sigmun_
Pilihan Prasvana untuk mengundang Neon Indian bermain di Jakarta adalah sebuah keputusan yang cukup menarik. Nama Neon Indian sebenarnya tak lagi terlalu didengar pasca album Era Extraña yang dirilis pada 2011. Baru pada separuh terakhir 2015, Neon Indian kembali menjadi topik perbincangan melalui album barunya yang dirilis pada bulan Oktober. Dimana tak lama setelah itu, Alan Palomo kembali dilihat lagi berkat VEGA INTL. Night School yang mendapat review positif pada berbagai situs musik. Kredit lebih patut disematkan pada tim Prasvana yang mampu membaca perkembangan dan lantas membawa Neon Indian untuk tampil di Jakarta ketika tren mengenainya masih hangat di kepala. Bertempat di Rolling Stone Cafe hari Selasa, 24 November 2015, acara dibuka oleh Future Collective yang hari itu dibantu oleh Wing Narada dari Maverick/Glovves pada keys dan Binsar dari Marsh Kids pada bass. Tak terlalu banyak bicara, Future Collective tampil sedikit kurang maksimal, dengan keluaran suara yang tak terlalu optimal. Mungkin, baru pada lagu terakhir sound terasa sedikit lebih nyaman. Menariknya di antara set, sempat diumumkan bahwa Future Collective sedang mempersiapkan materi baru untuk rilisan yang akan datang. Sebuah lagu dengan vokal yang dimainkan malam itu cukup membuat penasaran mengenai separti apa bentuk album mereka ke depan. Alan Palomo dan band pengiring menyusul tampil beberapa saat kemudian. Karisma flamboyan terasa cukup kuat dan dominan dari Alan cukup terasa pada set Neon Indian malam itu. Dengan tarikan vokalnya yang cukup terjaga diantara gerakan dansanya yang cukup provokatif dan sesekali isian synthesizer, menunjukkan bagaimana dia mampu membawa proyek solo ini menjadi salah satu nama penting dari scene chillwave/dance kekinian. Setlist malam itu didominasi oleh lagu dari album terbaru VEGA INTL. Night School yang merangkum arahan baru dalam musik Neon Indian. Aspek dance semakin kuat dalam musik yang lebih menonjolkan aroma funk dan disco 80’an. Ada pula secuil aroma reggae pada isian gitar dan R&B yang muncul tipis melalui falsetto pada vokal Alan Palomo. Sedikit mengingatkan kembali pada EP Well Known Pleasures dari VEGA side project Alan sekaligus cikal bakal Neon Indian yang dirilis pada 2009. Ramuan ini mampu membawa kembali aroma tropikal pada venue yang sempat basah oleh air hujan. Sebuah penampilan yang mengundang dansa pada barisan penonton, dari awal hingga akhir pentas Neon Indian. Meski durasi tak terlalu lama, band pengiring (termasuk Jorge Palomo adik alan yang bermain bass) yang tampil nyaris tanpa cela membuat senyum tak hanya terkembang pada muka Alan, tetapi juga pada muka para penonton.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.