Blog

Latest stories

15.04.16

EXI(S)T #5 Open Call

Eksibisi seni sekaligus pencarian talenta baru dari Dia.Lo.Gue artspace kembali lagi dengan episode kelimanya. EXI(S)T kembali menggali potensi seni anak bangsa pada sebuah program dimana bakat-bakat yang ada akan diajak untuk berpartisipasi dalam project kreatif dan diskusi kritis untuk melahirkan karya dan gagasan baru. Simak detail submisinya berikut: Dia.Lo.Gue Artspace kembali mengajak para perupa muda berbasis Jakarta untuk ikut dalam program tahunan EXI(S)T yang pertama kalinya diadakan di tahun 2012. Disini kami tertarik untuk menjadi semacam inkubator untuk berbagai potensi artistik, dimana dialog kritis antara partisipan dan mentor serta kurator menjadi proses utama. Exi(s)t #5 mendatang akan diselenggarakan di bulan November 2016. Kriteria calon peserta adalah : Bagi yang tertarik, kami mengundang anda untuk mengantar / mengirim portfolio anda ke Dia.lo.gue artspace, Jl. Kemang Selatan 99a, Jakarta 12730 (dengan mencantumkan EXI(S)T #5 atau melalui e-mail ke exist@dialogue-artspace.com Setelah melalui tahap seleksi oleh kurator, Dia.Lo.Gue akan mengundang peserta untuk mengikuti rangkaian program lokakarya yang akan berlangsung selama proses kuratorial.  

14.04.16

Tika & The Dissidents Menyuarakan Otoritas Tubuh

Seringkali luput dari kesadaran kita, otoritas telah menjadi bagian dari tiap manusia, baik sebagai sang subjek bahkan kadang sebagai sang objek. Otoritas pun dapat hadir dengan kekuatan yang menyalahi tataran kemanusiaan layaknnya sebuah interupsi. Hal ini yang disampaikan oleh Kartika Jahja dengan bandnya Tika & The Dissidents dalam menggubah lagu di album terbarunya “Merah.” Tika yang giat menyuarakan hak perempuan, menulis lagu berjudul “Tubuhku Otoritasku” beberapa tahun lalu yang mengangkat cerita di balik tubuh perempuan dan pengalaman kekerasan yang ia alami. Inspirasi dibalik lagu ini didapat dari tubuh yang lambat laun berubah secara alami atau modifikasi dengan atribut dan dipandang berdasarkan tata karma yang seringkali mengikat layaknya, otoritas tak kasat mata. Bersama kawan-kawannya, Tika membuat sebuah kolektif, Mari Jeung Rebut Kembali (Ika Vantiani, Teraya Paramehta, Savina Hutadjulu dan Shera Rindra) yang menggalakkan hak perempuan melalui medium persuasif, seperti musik. Beragam latar belakang, mulai dari musisi, dosen, anggota NGO hingga seniman yang tergabung dalam kolektif ini memberikan warna dan sudut pandang dalam mengatasi isu yang diangkat Tika. Melalui lagu “Tubuhku Otoritasku” kolektif ini menyerukan ajakan kepada semua orang, tak hanya perempuan, untuk menghargai tubuh tiap perempuan yang memilih untuk terlihat atau terlahir berbeda. Lirik tajam dan penuh emosi terjalin dengan aransemen yang menggambarkan semangat para perempuan yang pernah dipandang sebelah mata karena cara berpakaian, keriput yang menumpuk dimakan zaman, lemak berlebih serta profesi eksentrik. Dalam selebrasi ini, sebuah video musik dibuat berisi cerita dari 30 perempuan berpenampilan beragam. Tiap orang hadir dengan cerita menyentuh melalui ekspresi wajah, gestur dan tulisan seruan akan hak mereka yang telah direbut di anggota tubuhnya.  Video sederhana ini tampil dengan keluwesan para dalam merayakan tubuh mereka. Tika menyampaikan isu ini tanpa basa basi atau metafora berbelit dalam lirik dan video untuk menonjolkan bahwa otoritas kini telah menjamah bagian paling personal dalam diri perempuan, dengan harapan orang mulai mengetahui makna dan batasan otoritas. Dengan pemahaman cukup, sekat akan tercipta untuk membela diri dari celaan berasaskan penilaian masyarakat. Tika mengajak semua orang untuk mengenal wilayah antara subjek dan objek untuk menemukan kesetaraan yang ada di masyarakat, karena tubuhku adalah otoritasku. Sekali lagi, musik berperan penting dalam menginjeksikan sebuah spirit dan Tika & The Dissidents hadir sebagai perantaranya.

13.04.16

Kompetisi Karya Trimatra 2016

Komunitas Salihara sebagai salah satu di Jakarta yang menghadirkan elemen penting di dunia seni kini kembali mengadakan Kompetisi Karya Trimatra yang mengajak para seniman muda untuk berpartisipasi. Mengikuti kesuksesan kompetisi sebelumnya pada tahun 2013 yang membebaskan semua submisi dengan tema personal, Salihara kini menyematkan tema yang terkait dengan perubahan lingkungan yang kian kompleks namun luput dari perhatian masyarakat. Dengan menyediakan dewan juri yang terdiri dari beberpa pihak yang memiliki andil dalam dunia seni Indonesia, mulai dari pematung Anusapati, kurator Asikin Hasan, arsitek Eko Prawoto, pemerhati seni rupa Natasha Sidharta serta penata panggung Jay Subyakto, Salihara berniat untuk menyeleksi pemenang berdasarkan tingkat fleksibilitas tiap karya. Peserta diharapkan berhasil mengimplementasikan kriteria dari dewan juri yang merepresentasikan nilai estetika, gagasan cerita yang jernih, teknik pembuatan serta presentasi final yang melampaui kaidah umum, namun padu dengan nilai ekologi dan kebudayaan dalam masyarakat. Kalian bisa mengajukan rancangan karya beserta ide atau penjelasan gagasan karya sesuai persyaratan Komunitas Salihara sebelum tenggat waktu pada 31 Mei 2016. Proses penjurian akan terjadi dalam dua gelombang, pertama pada bulan Juni yang akan menyeleksi 50 rancangan. Lalu, mereka yang terpilih akan diminta mengirim karya final sebelum 30 September 2016 untuk kembali melewati tahap seleksi top 25 finalis di bulan Oktober untuk kemudian dipilih menjadi pemenang I, II dan III. Kompetisi berjangka panjang ini nantinya akan memamerkan 25 karya finalis—termasuk pemenang I, II dan III—akan dipamerkan di Galeri Salihara pada akhir November 2016. Kunjungi http://www.salihara.org/programs/visual-arts/exhibition/detail/kompetisi-karya-trimatra-salihara-2016 untuk informasi selengkapnya dan selamat berkompetisi! Teks: Febrina Anindita Foto doc. Komunitas Salihara

12.04.16

Esensi Rumah dalam Pameran Bertajuk “Rumah” oleh Anton Ismael

Seiring tumbuh kembang individu, keberadaan rumah, tak hanya menjadi kebutuhan primer, tapi juga sebagai tempat untuk mencari kenyamanan setelah lama menempuh waktu di jalan atau berpikir keras di kantor. Rumah seringkali dikaitkan dengan keluarga inti yang menemani seseorang dalam mengekplorasi jati diri dan kemampuan yang ada. Aktivitas yang terjadi di dalam rumah cenderung bersifat spontan namun memiliki tata karma yang dibuat serta diturunkan dari keluarga besar. Menggunakan gagasan rumah beserta memori yang tertangkap dan tercipta di dalamnya, Anton Ismael menyampaikan kekuatan rasa akrab dari rumah dalam pameran tunggal berisi macam bentuk karya menggunakan berbagai medium. Anton bersama dengan Ade Darmawan sebagai kurator, menonjolkan kekuatan rumah dalam mempengaruhi imaji seseorang. Sisi lembut tiap orang yang berkunjung ke pameran ini akan tersentuh oleh relevansi cerita di balik tiap karya yang tersaji. Sebuah ruang dan kuas, cat, serta kertas disediakan Anton untuk menggambarkan ‘bentuk’ rumah yang hadir di angan pengunjung. Tentunya sebagai seniman maupun fasilitator, Anton dan Ade tak luput menyampaikan cerita dengan alur emosional yang mengingatkan kita dengan rumah. -- Pameran: 1 April – 15 Mei 2016 Selasa-Minggu jam 11:00-19:00 di RUCI Art Space Jl. Suryo No. 49, Kebayoran Baru Jakarta Foto: doc. RUCI Art Space

14.03.16

Film Musik Makan 2016

Awal April 2016, Film Musik Makan kembali dengan rangkaian acaranya yang ketiga. Acara yang dimulai pada tahun 2014 selalu menampilkan karya film menarik dari berbagai sutradara seperti Anggun Priambodo, Lucky Kuswandi, dan Yosep Anggi Noen. Kali ini, acara Film Musik Makan akan berlangsung selama 2 hari di Goethe Institut dan akan menampilkan 4 film panjang dan 10 film pendek. Dengan nama Film Musik Makan, tentunya acara ini tidak hanya menampilkan film. Akan ada musik dari Irama Nusantara dan MMS yang selalu memainkan lagu-lagu yang menarik. Hidangan lezat tentu juga akan tersedia di acara ini. Silahkan melihat informasi mengenai Film Musik Makan pada post ini, dan jangan lupa menghadiri acaranya! -- Film Musik Makan 2016 02/04/2016 - 03/04/2016 Goethe Haus Jalan Dr. Sam Ratulangi No. 9-15 Menteng, Jakarta 10350 Pemutaran Perdana: Potongan oleh Chairun Nissa White Shoes & the Couples Company in Cikini oleh Henry Foundation Film Panjang: How to Win at Checkers (Every Time) oleh Josh Kim Alvin's Harmonious World of Opposites oleh Platon Theodoris Film Pendek: Serpong oleh Lucky Kuswandi Rumah oleh Yosep Anggi Noen The Floating Chopin oleh Wregas Bhanuteja Worked Club oleh Tunggul Banjaransari Kunjungan Spesial oleh Zen Al-Ansory Kitorang Basudara oleh Ninndi Raras Semalam Anak Kita Pulang oleh Adi Marsono Amarta (Gadis dan Air) oleh Bambang 'Ipoenk' KM Natalan oleh Sidharta Tata Simbiosis oleh Wiranata Tanjaya Musik: Irama Nusantara MMS

29.02.16

The 6th Music Gallery

If you are looking for a music festival in the city of Jakarta then look no further. Music Gallery returns in 2016. Organized yearly by students of Universitas Indonesia's school of business and economics, this year's Music Gallery will be its 6th, and will feature exciting upcoming acts such as Kelompok Penerbang Roket, seasoned Indonesian musicians such as Float, as well as two international acts, this year being Panama and Last Dinosaurs. Check out the line up below, and if it is an event you want to attend be sure to purchase your tickets early by contacting the organizers (information below). Find out more about the 6th Music Gallery by visiting their website. The 6th Music Gallery Saturday, 12th of March 2016 Kuningan City Ballroom Tickets are now available for 110K on Music Gallery's website, through @gotixindonesia, @goersapp , @_bobobobo_ or contact Alin (+6281289801570) for more info. -- From the Music Gallery Website Line Up: Last Dinosaurs Heading on the road from Brisbane, Australia to The 6th Music Gallery is LAST DINOSAURS! Delivering the band's pop sensibilities with youthful vigor and endearing eccentricity, their new album, "Wellness" will spoil you with the band's most distinguished and proud body of work. Having scored heavy rotation on Triple J and a Top 10 spot on the ARIA charts with their 2012 breakthrough album In A Million Years, the band then toured extensively throughout Europe, Asia, Africa and Australia for three years. They accumulated a wealth of knowledge and memories locked away in their mental vaults, before stepping back into the studio to record their sophomore effort Wellness. Panama Winning hearts with their trademark "electronic power ballads" to the 6th Music Gallery stage are PANAMA Marrying the timeless power of a good song with an eye to the future, Panama are winning hearts with their trademark “electronic power ballads”. Signing to Future Classic, the release of the Always EP saw Panama top the Hype Machine charts with the title track with more than 3 million Soundcloud plays. To support their debut Northern Hemisphere tour, the band released ‘Stay Forever’ a powerfully emotive summer pop release which evokes feelings of balmy, care-free night drives, flanked by an emotional piano-heavy intro and trademark Panama crescendos. Tigapagi Started from the album entitled Roekmana’s Repertoire and reliving an ambience during 1965 symbolises their style of monochromatic music. Roekmana needed an idea to brighten and colour their music. From here, the existence of three men were acknowledged, their names are Sigit Agung Pramudita, Eko Sakti Oktavianto, and Primadian Febrianto. The collaboration of these men, not to mention that two of them; Prima and Eko were siblings, reincarnated Roekmana’s Repertoire through their band Kelompok Penerbang Roket Kelompok Penerbang Roket was able to chart in their music through rock music with local influences from the 70’s era such as Duo Kribo, AKA and Panbers. This revolutionary band comprises of three spectacular dudes with a brilliant and common approach on rock music and they go by the name of John Paul Patton (Coki), Rey Marshall, and Viki Vikranta. With their first album being launched entitled Teriakan Bocah, Kelompok Penerbang Roket was able to captivate a lot of rock enthusiasts and other audiences as they are unique with their own music. Elephant Kind Elephant Kind started in the midst of 2013 by Bam Mastro, when he was still gaining his bachelor degree in Australia. Bam roughly started out his music career by writing songs, and produced it as well for his sister, known as, Neonomora. This move makes a jump start in his career, when 3 of his future bandmates met him and join the band. Bam Mastro, Dewa Pratama, Bayu Adisapoetra and John Paul Patton are the ones responsible for the success of this band. Float Float was established in the late 2004’s and now comprised of three young men, Hotma "Meng" Roni Simamora, David Q Lintang, Timur, Arman Benyamin, and Raymond Agus Saputra, Float became very distinct through their lyrics expressed in beautiful metaphors and rhythms to put you into sways. With their famous single “Tiga Hari Untuk Selamanya”featured in a movie with the given title, Float rocketed as Best Soundtrack in Jakarta Film Festival. Mocca Established in 1997 and originated from Bandung, Mocca has been reliving delicious tastes of the 70’s with fusions of Retro, Swing, Bossanova, Swedish Pop and Jazz. Comprised of Arina Ephipania Simangunsong, Riko Prayitno, Achmad ("Toma") Pratama, and Indra Massad as the core of the band. With the release of their album “My Diary” they have placed as “150 Greatest Indonesian Albums of All Time” by Rolling Stones Indonesia. Silampukau Originated from Surabaya under a unique name, Silampukau, this revolutionary band was formed expressively as it depicts the conflicts and voices of the community of their origin.With their recently released album, Dosa, Kota dan Kenangan, Silampukau has shaped a vivid ad lyrical perception of the tragedy in Tambak Bayan. Enjoy an expressive yet serene ride with Silampukau at The 6th Music Gallery! Dried Cassava Four minds integrated as one producing alternative sounds behind the tasty Dried Cassava. Established in 2005, the band has released two albums offering salty pleasure amidst the complexity of human life. With their first album entitled “Mind Thieves”, Dried Cassava reached a peak season through their hit single “Paradox”. Until now, they are enliven their legacy through their latest album “Sensitive Explosive”. Sentimental Moods Sentimental Moods! Comprised of Beni Adhiantoro (drum), Daniel Sukotjo (bariton saxophone), Dharmo Soedirman (kibor), Pardiffa Effrido (bass), Ranando Arliccan (perkusi), Taufiq Alkatiri (terompet), Wirastomo H.W (gitar), and Yurie Fachran (tenor saxophone), Sentimental Moods is very well known for its ska jazz music. Danilla x Mondo Gascaro A combination of one talented woman with an exceptional and soothing voice and a talented man who has a strong sense in music composing melodic tunes represents a mind blowing work of art. This new collaboration of Danilla and Mondo Gascaro becomes a favor to many music enthusiasts as it offers an experimental flair to the innovating music industry! Maliq & d'Essentials Adorned with lyrics recited to common emotions, Maliq and D Essentials brought sensation to many listeners. Ever since their release of debut album in 2004, they have reached the fascination of various music enthusiast. As they started joining Organic Records, they have brought a fresher new vibe that still pleases ears of many. Ease your day with their mesmerizing jazzy tunes, and get infatuated with this band's mellifluous voice as they perform their new and classic songs. The Addams Starting from the name of Lonely Band to The Adams, this indie power pop band was formed in 2001 and comprised of Ario Hendarwan, Saleh Bin Husein, Arfan, Kaka , Gigih. The Adams have recorded various tracks which became soundtracks of nostalgic movies such as Janji Joni and Quickee Express which marks the popularity of their vintage tunes to the youth. They have titled as Best Indie Music Video by Anugerah Video Music.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.