Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Salah satu festival yang ditunggu-tunggu adalah Europe on Screen.Tahun ini Europe on Screen hadir kembali dengan 6 macam section film yang terdiri sekitar 60 judul film dari Jerman, Perancis, Denmark, Belanda hingga Polandia. Section film dalam festival dibuat untuk memperkenalkan film Eropa kepada masyarakat yang awam akan warna perfilman di sana serta menawarkan deretan film pilihan yang telah mendapatkan penghargaan di beberapa festival film dunia dikarenakan cerita filmnya yang tidak biasa. Sebuah festival yang dibuat untuk mempertemukan pecinta film, tak hanya Eropa tapi global di Indonesia. XTRA menjadi seksi yang terdiri dari 16 film box office, lalu untuk film-film unik bisa ditemui di DISCOVERY, seperti “A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence.” Selain itu DOCU masih jadi seksi sensasional dimana beberapa film seperti “Holy Cow” yang merupakan dokumenter teratas di Eropa. Untuk mereka yang cinta film retro bisa menemukan harta karun Georges Méliès di seksi RETRO. Pun jika ingin mencari film ringan yang bisa dinikmati bersama keluarga, seksi FAMILY bisa jadi pilihan dengan “The Little Prince” sebagai salah satu film yang terkenal. Terakhir adalah seksi OPEN AIR dimana beberapa film pilihan akan diadakan setiap malam di Erasmus Huis dan 5 malam di Mall Bintaro Exchange. Mengambil beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bali, Medan, Surabaya dan Yogyakarta sebagai titik pemutaran film, Europe on Screen menjadikan budaya screening kembali bergairah guna meningkatkan dialog dan referensi perfilman untuk perkembangan skena lokal. Semua film dapat ditonton tanpa dipungut biaya sehingga semua orang bisa menikmati film-film Eropa yang telah melalui proses kurasi. Untuk detail jadwal, cek http://europeonscreen.org/ dan Events Page Whiteboardjournal.com
Pulau Mentawai beberapa tahun lalu mungkin hanya diketahui sedikit orang, selama ini mungkin hanya Durga yang giat memperkenalkan tato tribal asal Mentawai. Ternyata pulau cantik ini hanya beberapa jam perjalanan dari kota asal ayah saya. Keinginan untuk berkunjung dan melihat keindahan tato serta perhiasan khas Mentawai tentu muncul cukup deras, tapi mengingat jalan yang harus ditempuh cukup berat, niat itu terpaksa ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Selain seni yang eksotis didukung dengan letak geografis menantang, Mentawai pun terkenal juga di antara para peselancar yang senang mengeksplorasi ombak ganas di sana. Banyaknya hal menarik yang bisa didapat dari Mentawai membuat segelintir orang tertarik untuk bermalam dan mendokumentasikan surga duniawi yang ditawarkan dengan foto, video ritual hingga tato. Tak sering hal tersebut membantu tapi juga mengganggu keberlangsungan suku di Mentawai. Bersadarkan hal tersebut, sebuah film independen yang dirilis tahun lalu, berjudul “As Worlds Divide” dibuat dengan konsep dokumenter dimana seorang lelaki asal Melbourne, Rob Henry memilih untuk meninggalkan pekerjaannya pada tahun 2008 dan berpetualang di Mentawai, tepatnya di sebuah kebun kelapa. Dari film ini, keintiman yang tak bisa ditunjukkan di acara televisi lokal yang pernah berkunjung ke Mentawai tertangkap dengan magis. Film yang direkam dengan rentang waktu hampir 8 tahun ini menghadirkan gambar-gambar vivid dari alam Mentawai yang masih asri dimana suku yang tinggal di dalamnya masih terbatas dari informasi modern layaknya sebuah oasis antah berantah. Rob pun berhasil membuat jembatan yang menunjukkan krisis dalam suku yang menggambarkan diskoneksi antara orang-orang lokal dengan identitas kultur dan tanah tinggal mereka yang terjadi seiring dengan waktu yang berjalan menuntut perubahan.
Dipertemukan di sebuah proyek residensi seni, hubungan antara seniman Natasha Gabriella Tontey dan Sonotanotanpenz berlanjut pada proyek videokilp lagu “Conga”. Dalam kunjungannya ke Jakarta seusai tampil di salah satu episode Superbad, Sonotanotanpenz bekerja sama dengan Tontey untuk membuat visual dari lagu dari mini album yang juga berjudul Conga ini. Berperan sebagai sutradara, Tontey menggabungkan nuansa lagu Conga yang playful dengan gaya khasnya yang selalu bermain-main dengan nuansa kekanakan dan surealisme diantaranya. Hitomi Itamura dan Hitomi Moriwaki, dua personil Sonotano diajak berkeliling pada beberapa tempat di Jakarta dengan iringan dua boneka kuda putih. Dalam mayoritas scene yang bertempat di taman hiburan, kita diajak untuk melihat sisi lain dari landscape yang biasanya cenderung identik dengan tawa. Sebuah visualisasi yang cukup akurat untuk menggambarkan musik Sonotano yang ceria namun quirky.
Buku, film dan cinta mungkin jadi tiga hal yang bisa membuat orang bahagia di dunia ini. Kadang hiburan datang dalam bentuk pasif yang membuat siapapun bisa mendapat kepuasan tanpa harus menyesuaikan diri. Melalui hal tersebut, kadang orang bisa menjadi kembali seperti anak kecil yang menemukan sebongkah permainan untuk dinikmati sendiri atau bersama teman. Sayangnnya anak-anak yang memang membutuhkan hiburan sarat makna dan pendidikan layak kini tak selalu bisa mendapatkannya. Beberapa daerah yang kurang terkena paparan informasi atau lokasi yang terisolasi lebih kini berinisiatif membuat sarana pembelajaran untuk anak-anak yang membutuhkan. Salah satunya adalah Sekolah Kita Rumpin, sebuah sekolah alternatif gratis yang berada di Kampung Cibitung, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor ini menanamkan nilai-nilai penting kepada anak-anak, berupa empati, kepercayaan diri, rasa ingin tahu, serta kreativitas yang didukung oleh riset dan pengajar sukarelawan dengan pendekatan profesional. Setelah aktif beroperasi sejak tahun 2012, Sekolah Kita Rumpin bekerja sama dengan Komunitas Salihara dan Buttonijo menyelenggarakan Pekan Gembira Rumpin tahun ini untuk memperingati hari ulang tahun Sekolah Kita Rumpin yang ke-4 sekaligus sebagai acara penggalangan dana bagi sekolah tersebut pada hari Minggu, 24 April di Komunitas Salihara. Menghadirkan beberapa hiburan berdonasi yang bisa menstimulus rasa ingin tahu dan kreativitas anak-anak, acara ini dilengkapi dengan kelas fotografi dan prakarya berupa melukis tote bag yang akan dibimbing oleh Muhammad Fadli dan Kitty Manu. Adapun Buttonijo sebagai partner acara hadir dengan pemutaran fim “Another Trip to The Moon” yang akan dilanjutkan dengan diskusi untuk mengajak anak-anak belajar melihat suatu hal lebih dalam. Stand komunitas Lemari Buku-Buku juga akan tersedia di area sekolah yang tak hanya membawa beberapa buku pilihan, tapi juga menyediakan kotak donasi untuk buku anak-anak. - Isi acara: - Kelas Fotografi dengan Muhammad Fadli (donasi IDR 150,000) - Kelas Prakarya Melukis Tote Bag dengan Kitty Manu (donasi IDR 150,000) - Pemutaran dan Diskusi Film "Another Trip to The Moon" (HTM IDR 50,000, HTM + Kelas IDR 175,000) Pendaftaran bisa langsung menghubungi pekangembirarumpin@gmail.com atau Mutia (0822 8154 2093) - Minggu, 24 April 2016 (13:00-18:00 Komunitas Salihara Jl. Salihara No. 16 Kebagusan, Pasar Minggu Jakarta
Bekerja sama dengan Kedutaan Norwegia dan Swedia, Kinosaurus, mikro sinema, menampilkan jadwal film untuk bulan April yang dibagi jadi beberapa jenis film, mulai dari “Scandinavian Popular Cinema” yang terdiri dari film asal Skandinavia yang mencapai Box Office dengan keuntungan puluhan juta dolar, “First Features” yang menampilkan film pertama dari sutradara pilihan seperti Josh Kim dan Andri Cung. “Young Norway” didaulat untuk memperkenalkan sutradara muda asal Norwegia yang berhasil membawa filmnya ke festival dengan mengangkat cerita dari novel. Sedangkan untuk sinema anak, Kinosaurus hadir dengan “Kinokids with Club Kembang” berisi film-film animasi yang menggambarkan perkembangan film di Norwegia dibalut dengan kultur dan nilai artistik khas Norwegia. Khusus untuk fokus sutradara bulan ini, Kinosaurus membuat “Spotlight on Mira Nair.” Seorang sutradara asal India berbasis di New York yang dikenal dengan isu ekonomi sosial dan budaya India dalam filmnya berjenis documenter hingga fitur, seperti Salaam Bombay! yang pernah dinominasikan sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Award di tahun 1989. Untuk melengkapi agenda, “Kinodocs” pun kali ini diisi dengan gabungan film dokumenter lokal seperti WSATCC di Cikini dan film Norwegia berdurasi 80 menit, The Snow Cave Man. Kunjungi website Kinosaurus untuk detail jadwalnya. - Kinosaurus Jl. Kemang Raya No.8B Mampang Prapatan Jakarta
Merantau tak selalu terjadi atas kemauan sendiri, kadang aksi itu terjadi karena keadaan yang menggiring posisi seseorang untuk berpindah ke tempat yang dipercaya lebih menguntungkan. Berawal dari dorongan untuk berpindah tersebut, tentunya menggasak rasa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan meninggalkan kampung halaman akan memberikan fase haru biru bahkan krisis. Cerita akan hal seperti itu tidaklah langka jika kita bayangkan keadaan yang dulu terjadi di Indonesia. Sebagai salah satu negara di dunia yang mengalami penjajahan tentu ada represi yang membuat orang-orang di zaman terjadinya okupasi harus mengambil sikap untuk bertahan hidup, tak hanya dari kondisi yang tak menguntungkan, tapi juga untuk mencari kedamaian. Belanda adalah Negara yang menjadi highlight dalam sejarah Indonesia hingga saat ini, bahasa maupun budaya keseharian cenderung terserap begitu dalam sampai batas yang dulu diciptakan sekian keras melebur sudah menjadi sekadar sejarah. Fenomena bisa disematkan dalam hubungan antara Indonesia dan Belanda yang terjalin sekian lama dalam bisnis, budaya dan lain lain. Melihat warga Negara Indonesia yang tak terhitung jumlahnya di Belanda setelah meraih kemerdekaan di tahun 1945 telah menciptakan macam ‘kewarganegaraan’ baru. Hal itu telah didokumentasikan dalam sebuah film pendek berjudul “Untuk Selalu” oleh Andrea van den Bos, Ambar Surastri dan Robbert Maruanaija. Mengangkat memori sebagai dasar cerita, film ini menyentuh kita sebagai warga negara Indonesia yang seringkali menyepelekan budaya nenek moyang dari orang tua. Terkesan klise memang, tapi melalui film ini terdapat empat orang berdarah Indonesia yang tinggal di Belanda merasakan kebanggaan tersendiri ketika memposisikan diri mereka di antara budaya Belanda. Adat, kebiasaan, kuliner, ritual hingga kepercayaan turunan menjadi celah dan warna dalam diri keempat orang yang mewakili para ‘indo’ (orang berdarah campuran – dalam hal ini adalah Belanda) dalam film yang dinominasikan sebagai Dokumenter Terbaik di Shortcutz Amsterdam tahun ini. Negara memang mencatat diri seseorang ke dalam sistem untuk terus bergerak dan berkembang, tapi tradisi keluarga dan kepercayaan nenek moyang lah yang selalu menentukan sikap seseorang dalam mengatasi situasi yang menimpanya. Teks: Febrina Anindita
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.