Blog

Latest stories

16.09.16

DEKADENZ

Setelah sebelumnya tertunda oleh cuaca, DEKADENZ dipastikan kembali hadir akhir bulan September ini. Dalam waktu singkat, kolektif yang terbentuk atas inisiatif beberapa musisi dan ini telah berkembang dan terkenal sebagai sebuah acara musik yang mewadahi band dan DJ untuk berkesperimen dalam mengolah musik dengan . Bulan ini, DEKADENZ kembali membawa mix EBM padat dari Jonathan “Ojon” Kusuma yang dikenal sebagai DJ, musisi hingga produser yang telah masuk dalam beberapa dunia, seperti I'm a Cliche (Paris), Cocktail D’Amore (Berlin), Ene (Japan), Correspondant (Paris) dan Neine Records (UK). Lalu ada Aditya Permana produser unit Agrikulture yang kini dikenal sebagai Music Director dan resident DJ di Lucy In The Sky dan Bauhaus 1933. Menemani kedua orang tersebut, ada Ridwan Susanto, salah satu penemu kolektif musik Quirk it! yang tergabung dalam label Electrogusto Music di California. Selain mereka bertiga yang merupakan garda utama dalam skena musik house dan elektronik di Jakarta, Sunmantra didaulat menjadi tamu istimewa. Unit berisi dua orang ini berani merepresentasikan musik techno dengan bebunyian sehingga membuat single pertamanya, “Silver Ray” diyakini akan membuat orang-orang bergoyang di DEKADENZ. - Sabtu, 24 September 2016 21:00 - 04:00 FJ on 7 / Gedung The Colony Kemang Detail: dekadenznow@gmail.com

16.09.16

Donasi Untuk Aca Straight Answer

Fadhila Jayamahendra alias Aca, vokalis dari band hardcore veteran Jakarta, Straight Answer mendapat musibah pecah pembuluh darah di kepala dan harus menjalani serangkaian operasi di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan. Diberitakan bahwa operasi pertama telah dijalani dengan lancar, namun Aca masih harus menjalani operasi lanjutan untuk membantunya menjalani recovery, dan untuk itu Aca bersama keluarga membutuhkan dana yang cukup besar. Inisiatif penggalangan danna kemudian bermunculan, mulai dari Jakarta, Malaysia, Thailand hingga Jepang. Untuk Indonesia sendiri, sumbangan bisa dikirimkan melalui nomor rekening BCA 0060451010 atas nama Tino Hunaedi. Donasi juga bisa dikirimkan melalui Paypal (gagapundik@gmail.com) dengan mengonfirmasi kepada Widi dengan nomor +62 896 522 770 52 atau ke alamat surat elektronik setthefirerec@yahoo.com. Untuk menggalang dana tambahan, teman dan sahabat Aca menggelar acara donasi yang bertajuk 'Charity Sale - Donasi Untuk Aca' yang akan dilakukan pada Sabtu (17/9) di Rossi Fatmawati, Jakarta Selatan. Acara yang dikemas dalam bentuk garage sale ini diselenggarakan atas inisiatif teman, sahabat dan kerabat Aca. Nantinya akan ada sekitar 50 lapak yang akan menjual CD, vinyl, merchandise musik dan berbagai barang lainnya. Selain itu akan ada acara pelelangan. Semua keuntungan dalam acara ini akan didonasikan untuk dana penyembuhan Aca. Untuk info yang berkaitan dengan acara donasi ini, dapat menghubungi Bgenk - +6281286760453. Teriring doa kesembuhan untuk Aca, dan kesabaran serta kekuatan untuk keluarga.

07.09.16

Collapse – Grief EP

Sejak awal muncul di sekitaran akhir tahun 2015, Collapse langsung mencuri perhatian kami. Digawangi oleh Andika yang dikenal melalui permainan gitarnya di unit chaotic hardcore, ALICE, Collapse mengingatkan kami pada fenomena metalheads-turns-indie yang juga sedang populer di luar sana. Inilah salah satu alasan Collapse menjadi salah satu nama yang terselip di artikel 6 Musisi yang Layak Tunggu di 2016 yang kami tulis pada awal tahun ini. Akhirnya, di bulan September ini, Collapse dijadwalkan akan merilis 5 lagu dengan nuansa indie-rock/alternative yang akan dikumpulkan dalam EP yang berjudul “Grief”. Di salah satu lagunya, diundang Alyuadi dari Heals untuk mengisi gitar. Dari preview videonya, terasa bahwa Collapse mengambil referensi dari rilisan Run for Cover Records. Jumat, 9 September 2016, akan dirilis single melalui youtube, dan pada 8 Oktober 2016, EP ini akan dirilis oleh Royal Yawns Records.

05.09.16

Tiba-Tiba Suddenly Konser: ERK

Tidak perlu berpikir panjang untuk mengingat kapan terakhir kali menonton Efek Rumah Kaca (ERK) dengan formasi lengkap. Sekitar bulan Februari atau Maret 2016, malam itu Jaya Pub penuh sesak dengan lautan manusia yang datang dari beragam kelas untuk menyaksikan ERK dengan materi dari album baru dan nomor-nomor lawas mereka. Sejak sang vokalis, Cholil Mahmud, memutuskan untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di negeri seberang, sosoknya yang selalu bergairah untuk menyampaikan pesan lewat lirik kuat, semakin dirindukan oleh penggemar setianya. Setelah menunggu tanpa tanggal pasti kapan Cholil akan berpulang ke Jakarta, kabar baik yang mendebarkan datang ketika mendengar berita bahwa ia pulang untuk tampil bersama ERK di festival musik Indonesia terbesar di Pulau Dewata beberapa hari lalu. Melihat momen langka ini, RURUradio berinisiatif untuk mengelar sebuah konser mendadak yang dibuat khusus untuk menyambut kedatangan Cholil kepada para penggemar yang tidak sempat menyaksikan mereka di Bali. Memang sesuatu yang patut dirayakan mengingat vokal dan presensi Cholil bersama ERK yang selalu membius semua orang. Mengingat ini merupakan penampilan terakhirnya sebelum berangkat kembali ke Amerika Serikat esok hari, nampaknya jika melewatkan konser ini, kita harus kembali menjalani hubungan platonis dengan unit ini dan hanya bisa menunggu dalam ketidak pastian akan kepulangan Cholil, selama entah berapa lama. Senin, 5 September 20:00 Gudang Sarinah Pancoran, Jakarta Tiket masuk RP 50.000 mulai dapat dibeli dari pukul 19.00.

02.09.16

Utopia di Partisipasi Indonesia pada London Design Biennale 2016

Dalam press conference yang diadakan di Dia.Lo.Gue Artspace, pada Kamis, 1 September 2016, Hafiz Rancajale, salah satu kurator di project ini berkata, “Banyak hal bagus berawal dari utopia, termasuk juga berbagai aspek pada kemajuan zaman. Termasuk satunya adalah perdamaian. Jadi harusnya kita percaya dengan utopia kita.” Pemikiran inilah yang kemudian mendasari konsep karya Indonesia di London Design Biennale yang akan berlangsung di ibukota Inggris pada tanggal 7-27 September 2016. Merespon tema “Utopia by Design” yang diangkat oleh tim London Design Biennale, kurator Danny Wicaksono, Diana Nazir, Hafiz Rancajale, dan Hermawan Tanzil mengangkat peristiwa Konferensi Asia Afrika yang terjadi pada 1955 di Kota Bandung sebagai titik mula pendedahan framework karya. Konferensi ini dianggap sebuah pencapaian tersendiri, dimana Indonesia, sepuluh tahun sejak kemerdekaannya, mampu menjadi inisiator sebuah konferensi internasional yang mengemukakan konsep perdamaian ketika dua kubu besar dunia sedang bergerak menuju perang dunia. Konsep ini lantas di terjemahkan melalui tangan dan pikiran Adi Purnomo, Bagus Pandega dan Irwan Ahmett yang berperan sebagai seniman untuk mewujudkan karya di paviliun yang lahir dari inisiatif Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) ini. Dilibatkan pula seniman serta desainer, Agra Satria, Fandy Susanto, Max Suriaganda, Savina Lavinia, Suyenni dan Yola Yulifianti untuk mewujudkan kerja kolektif. Dimana sosok-sosok terpilih ini bekerja dalam sistem yang terintegrasi untuk menghasilkan output yang optimal. Lantas, lahirlah “Freedome”, sebuah utopia yang berdasar pada poin-poin dasasila Bandung mengenai perdamaian yang lahir setelah Konferensi Asia Afrika. Dimana, salah satu poinnya adalah diluncurkannya satelit informasi bernama “Berdikari” yang memiliki hanya satu misi mulia yang hadir tanpa pretensi: perdamaian dan kesejahteraan bagi semua. “Konferensi Asia-Afrika adalah sebuah kejadian besar. Dasasila Bandung yang lahir di konferensi tersebut bahkan menjadi pemicu kemerdekaan beberapa negara, jadi cukup jelas seberapa besar kapasitas dari konferensi tersebut. Freedome adalah utopia yang kami ciptakan untuk mengkhayalkan bagaimana jadinya kalau konsep tersebut terus hidup dan ada.” jelas Irwan Ahmett. Wujudnya adalah instalasi satelit yang terlevitasi dengan susunan sabut kelapa dan kuningan di bawahnya, didatangkan juga penari yang mensimulasikan kemeriahan Konferensi Asia Afrika. Ditampilkan pula berbagai informasi fiktif yang menguatkan kesan utopia di karya ini. Mengambil sebuah ruang di Sommerset House yang bernuansa kolonial, nuansa era 50an di Paviliun Indonesia akan semakin hidup. Ikuti jalannya London Design Biennale di situs http://www.londondesignbiennale.com/ dan buka http://freedome.id/ untuk tahu bagaimana utopia Indonesia dinikmati oleh dunia.

26.08.16

Mengenal Sunmantra

Sebuah band berisi dua orang; Bernardus Fritz Adinugroho dan Jonathan Pardede, yang memiliki ketertarikan dalam musik elektronik ini sudah menjajal beberapa panggung di ibu kota. Melihat gerak geriknya yang , bukan berarti performa Sunmantra patut dipertanyakan. Melayangkan kekaguman atas aransemen yang mereka buat, bisa jadi salah satu bentuk apresiasi musik, namun rasanya menggerakkan tubuh sembari menikmati alunan dentum dansa menjadi pilihan terbaik. Kami mendapat kesempatan untuk mengetahui latar belakang atas berdirinya Sunmantra dengan berbincang bersama Bernardus Fritz Adinugroho. Intinya karena kami mau buat sesuatu yang belum pernah dilakukan. Dulu, kami tergabung dalam Black Mustangs yang notabene band. Setelah vakum, akhirnya saya dan Jojo memutuskan untuk buat sesuatu yang , itulah yang membuat kami memilih jenis musik ini, selain memang kami berdua lagi mengulik musik elektronik. Sebenarnya Sunmantra itu sampai sekarang adalah duo, cuma lebih . Ke depannya, kami tidak menutup kemungkinan juga untuk berkembang ke area yang lebih kolektif, karena kami selalu ingin buat sesuatu yang untuk membantu proses kreatif kami. dalam musik kalian, dari mana pengaruh musik yang didapat ketika meracik karakter Sunmantra? Banyak hal yang mempengaruhi kami, karena kami banyak medengarkan musik techno, acid house dan deep house. Nah, dari ketiga genre itu, kami campur terus dan jadilah musik Sunmantra, dan juga belakangan ini kami lagi banyak menonton film sci-fi dan giallo, lagunya kami ambil dari genre tersebut. EP selanjutnya, kami akan lebih instrumental. Karena tanpa vokal, yang kami mau adalah atau dari karakter instrumen yang kami pakai. Sebenarnya kami lebih eksperimen ke arah . Kami lagi banyak merekam ulang aransemen yang sudah jadi, agar karakter suaranya sesuai dengan apa yang kami inginkan.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.