Blog

Latest stories

26.08.16

The Jadugar Kembali Untuk Memutarbalikkan Persepsi

Terakhir, videoklip karya The Jadugar muncul adalah pada akhir dekade pertama 2000’an. Sejak itu, Anggun Priambodo dan Henry “Betmen” Foundation masih terus berkarya, dan kreasi mereka masih selalu menyenangkan untuk dinikmati. Tapi ada sensasi tersendiri ketika dua nama tersebut melebur menjadi satu di The Jadugar. Perasaan yang muncul ketika menonton kereta mainan menelusuri jalanan di video Lain - Train Song itu belum bisa tergantikan. Di paruh akhir 2016, sensasi tersebut menyeruak kembali melalui videoklip Frigi Frigi yang berjudul “Kesalahan Persepsi di Era Megalithikum”. Dibuka dengan logo The Jadugar yang mengisi opening title, video lantas menampilkan personel Frigi Frigi menjelajahi halaman-halaman buku, sebuah kenakalan khas Anggun dan Betmen yang selalu mampu mempermainkan simbol keseharian menjadi hal baru yang kadang mengganggu, namun tak jarang lucu di saat yang sama. Sebuah visualisasi yang akurat untuk lagu yang mempernyatakan betapa kehidupan ini dapat diputar balikan hanya dengan persepsi-persepsi.

25.08.16

Teater Satu untuk SCOT Asia Directors’ Festival 2016

Bisa membawakan sebuah cerita secara langsung lengkap dengan setting tempat dan waktu yang deskriptif di atas panggung menjadi tantangan grup teater. Kejelian dan kegigihan mereka dalam mengolah produksi dan mengkomunikasikan bahasa tertulis agar dapat menggerakkan emosi penonton adalah misi utama penuh tuntutan. Teater Satu asal Lampung besutan sutradara, seniman dan penulis Iswadi Pratama ini menjadi salah satu grup teater yang mampu menyampaikan elemen tersebut dengan baik. Perjalanan mereka di skena kesenian inipun sudah tak perlu diperkenalkan secara panjang lebar. Iswadi yang juga menjadi pengajar kelas akting di salah satu komunitas seni di Jakarta pun sudah tidak diragukan lagi kompetensinya dalam mengarahkan pemain teater untuk mendalami peran sebuah cerita. Atas kepiawaian Iswadi, Teater Satu yang dikenal mampu menunjukkan kedalaman emosi di tiap performanya pun, mendapat kesempatan untuk terbang ke Jepang pada tanggal 27 Agustus – 5 September 2016, tepatnya guna berpartisipasi dalam SCOT Asia Directors’ Festival 2016. Festival yang akan digelar di desa Toga, Toyama ini akan dimeriahkan oleh ragam grup teater dari Indonesia, Korea, China, Taiwan, Rusia dan tuan rumah Jepang. untuk menampilkan lakon The Chairs (Kursi-Kursi) karya Eugene Ionesco. Berdasarkan pilihan Japan Foundation, Teater Satu menjadi lembar pertama bagi Indonesia untuk menorehkan cerita dalam festival tersebut. Lakon The Chairs yang bercerita tentang pencarian identitas sebuah masyarakat urban ini akan dikemas dalam bentuk kontemporer; lebih banyak menggunakan bentuk gerak tari, bela-diri, nyanyian, musik, dan imej-imej visual. Yang menarik pula, adalah adanya paduan unsur budaya Indonesia dan negara-negara Asia, mulai dari tradisional hingga urban untuk membentuk relasi terhadap penonton festival dari bangsa manapun. Teater Satu menjadi bukti bahwa kesenian masih menjadi motor terbaik untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia serta memperkuat karakter Indonesia sebagai bangsa multikultural.

12.08.16

Efek Rumah Kaca Mempertanyakan Merdeka

Minggu depan, Rabu, 17 Agustus 2016, Indonesia akan merayakan 71 tahun kemerdekaan bangsanya. Telah banyak sejarah tercipta dalam 7 dekade yang telah dijalani. Mulai dari kegagahan era Soekarno, "pembangunan" di era Soeharto hingga people power di era sekarang. Meski sebenarnya, jika berbicara mengenai konteks kemerdekaan, masih banyak yang bisa dipertanyakan mengenai status ini hidup di antara masyarakat kita. Bekerja sama dengan Anton Ismael, fotografer ternama yang juga aktif berbagi ilmu melalui platform ciptaannya, kelas pagi, Efek Rumah Kaca menyentil isu ini dalam video klip "Merdeka". Entah disengaja atau tidak, video klip yang menampilkan gambar-gambar yang diambil di Papua ini beririsan dengan isu rasialisme yang belakangan menghantui. Tapi, alih-alih membuatnya menjadi video klip politikal yang menggurui, Anton Ismael justru mengajak kita untuk sejenak "hidup" di ujung paling timur Indonesia dan merasakan sendiri, bahwa mereka, kita, sama adanya. Sebuah pesan yang juga disampaikan Efek Rumah Kaca melalui lagu ini. Lagu Merdeka sendiri sebenarnya merupakan materi lama dari tahun 2006 yang akhirnya diselesaikan pada awal 2016. Pertama dirilis dalam kolaborasi Efek Rumah Kaca dengan Inibudi, "Merdeka" menampilkan kombinasi format lama dengan pendekatan baru. Format lama dalam artian lagu ini dibuat dalam komposisi gaya lama Efek Rumah kaca, namun dengan pendekatan baru dimana Adrian menyanyikan seluruh bagian lagu diiringi instrumen tiup yang ditata lebih ke depan. Lagu "Merdeka" kini dapat diunduh di iTunes dan dapat didengar di Apple Music. Simak video Efek Rumah Kaca - Merdeka disini.

02.08.16

Monster in Disguise #2

Kadang graffiti dan street art terasa aneh jika dilepaskan dari konteksnya sebagai seni yang dipamerkan di jalanan. Namun tak jarang, ketika graffiti masuk ke galeri sebagai karya seni, ada tantangan baru juga ruang eksplorasi baru bagi seniman juga publik. Darbotz sebagai salah satu seniman graffiti mencoba untuk membawa graffiti keluar dari comfort zone beberapa kali dalam pameran kolektif hingga solo. Kali ini Darbotz kembali mempersembahkan pameran solo bersamaan dengan ulang tahun ke-8 viviyipartspace. Berjudul “Monster in Disguise #2,” pameran ini merupakan kelanjutan dari pamerannya pada tahun 2009 di Singapura. Perjalanan Darbotz dan viviyipartspace pun sudah dimulai sejak 2012 ketika pameran “The Boy Who Became A Monster” mengelaborasikan kesan yang tercipta dari tata letak sebuah karya. Kekuatan Darbotz untuk menciptakan konteks menjadi nilai utama dari karakter graffitinya yang kuat. Kali ini dalam “Monster in Disguise #2,” Darbotz akan kembali memposisikan street art dalam bentuk resin, wood cut, kanvas dan eksperimen medium lainnya. - Pembukaan pameran: 11 Agustus 2016, 18:00 Periode pameran: 11-28 Agustus 2016 Ex GAP Kids Pacific Place, Lantai 3

19.07.16

Ubud Writers & Readers Festival 2016

Buku menjadi salah satu pelengkap imajinasi dan mengarahkan pembacanya untuk menelaah realita yang tercetak di dalamnya. Kekuatan literatur dalam menstimulus pikiran pembaca menjalin hubungan yang lekat antara penulis dan pembaca melahirkan banyak komunitas atau kolektif tulisan yang produktif. Adapun untuk merayakan buku, cinta dan makna yang timbul dari tiap kata, sebuah Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) kembali hadir pada 26 – 30 Oktober mendatang di kota Ubud. Mengangkat tema Tat Tvam Asi, sebuah filosofi Hindu dari abad ke-6 yang berarti ‘Kita semua satu’, ajang melting pot ini ingin menekankan latar belakang identitas bangsa Indonesia yang kompleks dan kaya akan budaya di antara negara-negara di dunia. UWRF akan diisi oleh rangkaian acara selama lima hari yang berupa panel-panel diskusi, workshop, acara khusus menikmati hidangan bersama penulis, tur kuliner, adu puisi, pameran seni, pemutaran film, peluncuran buku, dan banyak lainnya. Adapun bintang yang akan mengisi acara tahun ini tak lepas dari Eka Kurniawan dan Seno Gumira Ajidarma yang akan berbagi pengalamannya di dunia sastra yang erat kaitannya dengan medium alternatif ketika fakta dalam media massa tak lagi bisa diungkap. Ratih Kumala dan Iswadi Pratama pun akan hadir untuk membahas bagaimana interpretasi dan saduran naskah tertulis dalam sebuah pentas teater. Selain itu, UWRF dengan bangga mengumumkan kehadiran penulis-penulis terbaik dunia yang telah memenangkan penghargaan, yaitu Charlotte Wood, pemenang Stella Prize 2016, Hanya Yanagihara, novelis asal Amerika yang sempat mendapatkan nominasi The Man Booker Prize in 2015, Juan Pablo Villalobos, penulis yang pernah memenangkan The Guardian First Book Award Mexican, dan dari negara tetangga, Amanda Lee Koe, pemenang 2016 Singaporean Book Award. Tema Tat Tvam Asi yang mengeksplorasi ketiadaan suatu batas di dunia ini juga turut dibahas oleh Suki Kim, jurnalis investigasi keturunan korea yang berasal dari Amerika yang akan menceritakan hidupnya dalam penyamaran di Korea Utara. Lalu Stan Grant, jurnalis dan koresponden mancanegara yang baru saja menyelesaikan bukunya “Talking to My Country” juga akan bicara tentang fakta yang dialami nenek moyangnya; suku Aborigin di Australia. Anastasia Lin, Miss Canada 2015 dan pegiat hak asasi manusia pun akan melengkapinya dengan sudut pandang mengenai batasan dalam suatu bangsa. - Informasi Tiket dan Acara: 26 – 30 Oktober 2016 Lokasi: Beberapa tempat di sekitar Ubud, Bali, dengan program-program utama yang dipusatkan di Jalan Raya Sanggingan. Tiket Early Bird bisa dibeli mulai tanggal 27 Juli 2016 di

19.07.16

Sugar, We’re Going Down Singing!

Tahun 2000an adalah tahun yang unik. Jika di Indonesia terjadi dinamika pasca reformasi, di luar sana juga terjadi berbagai hal menarik. Mulai dari perayaan milenium baru, pengangkatan George W. Bush sebagai presiden Amerika, pengeboman gedung WTC, terpilih kembalinya George W. Bush sebagai presiden, juga meledaknya sosial media myspace, beserta band-band emo/pop punk yang menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Melalui acara Sugar, We're Going Down Singing!, kolektif zine Sobat Indie bersama We Hum Collective mengajak kita mengunjungi kembali masa-masa itu dalam suasana karaoke bersama yang seru. Bertempat di Mondo by The Rooftop, di hari Sabtu, 23 Juli 2016 ini, mari bernyanyi bersama. -- “Being grown up isn’t half as fun as growing up. These are the best days of our lives.” (“In This Diary”, The Ataris, 2003) Untuk generasi kelahiran akhir 1980-an hingga awal 1990-an, emo adalah sebuah term yang sangat familiar di telinga kita. Emo bahkan adalah sebuah fase yang pernah dilewati oleh hampir seluruh remaja di generasi tersebut. Third wave emo muncul pada kami di momen yang tepat, momen di mana kami, para remaja yang belum dewasa, mencoba untuk dewasa dengan memahami dan mempertanyakan ketidak-dewasaan kami. Emo was our grunge, sadness was our manifesto and Carabba was our Cobain. Tidak bisa dipungkiri, Emo was a memorable phase, sebuah fase Myspace yang memalukan secara visual, menyedihkan, namun juga sebuah fase di mana kita pernah begitu memuja lirik yang cheesy, merasa cuma musik yang bisa mengerti apa yang kita rasakan, fase di mana kita menyanyi tulus dari hati karena simply “Lagu ini gue banget!” Lewat Sugar We’re Going Down Singing! kami hendak membawa sebuah generasi yang pernah merasakan fase yang sama untuk reminiscence back to the sad yet good old days. Melalui karaoke, sebuah aktivitas yang kami percaya begitu sederhana namun komunal, ijinkan kami membawa kalian kembali ke momen di mana kalian pertama kali merasakan sakit hati, jatuh cinta dan kehilangan. #SOBATHUMMING present SUGAR WE’RE GOING DOWN! An open mic karaoke night for early 2000’s emo and poppunk bands. with Yudhis Tira [Vague] and Ditto Pradwito [Barefood] as DJs Saturday, 23 July 2016, from 6 PM. At Mondo by the Rooftop, Rossi Musik, Jln. Fatmawati Raya no. 30, Jakarta Free entry for all! FB page: http://bit.ly/SobatHumming Twitter: @sobatindi3 @wehumcollective #SobatHumming #EmoNightJKT

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.