Blog

Latest stories

05.12.16

Konser Tunggal Perdana Senyawa di Tanah Air

Duo eksperimental asal Yogyakarta; Rully Shabara dan Wukir Suryadi, yang dikenal dengan Senyawa akan menggelar konser tunggal pertamanya di Indonesia. Dikenal berkat format musik yang tiada duanya, mereka berhasil membawa elemen dan semangat musik tradisional dalam kerangka musik modern ke dunia internasional. Berkat instrumen musik yang dibuat sendiri oleh Wukir, bebunyian yang hadir untuk mengiringi ragam frekuensi dari vokal Rully pun memiliki karakter kuat, sehingga mampu membedakan Senyawa dengan musisi lain dari seluruh dunia. Adanya komposisi unik yang mereka hasilkan, membuat unit ini mampu berbagi panggung dan berkolaborasi dengan sejumlah nama penting seperti Damo Suzuki, Keiji Haino, Oren Ambarchi, Sun Ra Arkestra, Melt Banana, Death Grips, Trevor Dunn, Swans, hingga Bon Iver. Kristi Monfries selaku manajer Senyawa mengatakan, “Kini, akhirnya Senyawa akan menggelar konser tunggal untuk pertama kalinya di tanah air, membawakan repertoar penuh yang mencerminkan progresi musik mereka selama ini dengan layak.” Mengambil dua judul lagu Senyawa, “Tanah" dan "Air,” konser yang diadakan oleh G Production ini, akan digelar di Gedung Kesenian Jakarta. Gedung ini dipilih berkat kualitas akustik yang besar sehingga Senyawa dapat mempresentasikan sejarah musik mereka dan mengajak penonton ke dalam perjalanan bunyi melalui perkembangan mereka sebagai unit musik. Dengan tata lampu minimalis serta gagasan menarik untuk menampilkan nomor-nomor dari Senyawa, konser ini akan menjadi penutup tahun yang berbeda. - Kamis, 22 Desember 2016 19:00 Gedung Kesenian Jakarta Tiket: Early bird Rp. 125.000 (berlaku sampai 21 Desember 2016) di Ruru Shop dan Omuniuum On the spot Rp. 175.000 Informasi lengkap, silakan ke www.gproduction.co.id/senyawa

01.12.16

Mencari Anomali dari Musik Populer Bersama Dekadenz

Seolah tak pernah puas, muda-mudi yang bergelut di Indonesia terus mencari warna baru di lantai dansa. Setelah sekian banyak kolektif yang bermunculan dengan karakter masing-masing, sebuah inisiatif muncul dari 3 orang musisi dan asal Jakarta, untuk membuat Dekadenz - wadah bagi band dan DJ untuk berkesperimen dalam mengolah musik dengan Adalah Jonathan “Ojon” Kusuma, Aditya Permana dan Ridwan Susanto yang bergerak bersama atas nama kolektif Dekadenz ini. Dalam eksekusinya, acara yang mereka gelar selalu hadir dengan nuansa ala yang disinari cahaya merah. Walau berlandaskan Electronic Body Music (EBM), nomor-nomor industrial, DIY dan turut mewarnai episode Dekadenz. Kami berkesempatan untuk mengobrol dan menanyakan dekadensi yang mereka tawarkan untuk dance di Indonesia. Kesamaan visi dalam musik. -nya musik. Genre musik yang disukai kami banyak yang sama dan bisa dieksplorasi untuk dijadikan kolektif di Jakarta. Musik-musik dansa selama 30 tahun terakhir yang tidak populer, terasa absurd karena ritma etniknya yang terus berganti dan akhirnya bisa dimainkan oleh kita, orang Indonesia. Dan cara kami menyuarakan musik yang mencerminkan hidup sehari-hari di Jakarta. dan warna sendiri. Apa yang membedakan Dekadenz dengan kolektif yang lain? Tiap kolektif punya warna musik yang berbeda-beda dan semua punya prinsip musik masing-masing. Dekadenz menyukai unsur musik gelap dan suara kasar dari analog atau synth dengan paduan unsur perkusi tropikal. Yang membedakan kami dengan yang lainnya mungkin adalah kombinasi dari latar belakang kita masing-masing. Tapi secara lagu-lagu yang kami mainkan cenderung lebih bernuansa setidaknya menurut saya. Selain dari musik, kami juga berusaha kolaborasi dengan musisi dan yang sejalan dengan konsep kami. dalam musik dan acara yang kalian buat. Konsep apa yang kalian ingin berikan dalam tiap Dekadenz? kalau kata Ridwan (tertawa). Dan suasana di ruangan gelap bercahaya merah yang seru! Konsep kolaborasi setiap Dekadenz lebih enak kalau ada hal-hal tersebut. Adit paling bisa jelasin nih (tertawa). Semangat untuk memainkan musik yang lebih baru dan aneh (tertawa). Musik-musik yang lebih susah diterima oleh anak muda mungkin? Kiri yang dimaksud adalah genre generalisasi di musik yang lebih komposisinya lebih eksperimental. atau dari talenta lokal. Apakah dengan banyaknya variasi dalam kalian kesulitan dalam mengkurasi bakat-bakat yang sejalan dengan Dekadenz? tapi sebisa mungkin kami kurasi dengan baik, dengan harapan, adanya Dekadenz bisa menjadi medium atau inspirasi ke yang lain. Kami berharap akan lebih banyak lagi menemukan talenta-talenta muda lokal yang bisa kami ajak kerja sama. Bertukar pikiran dalam membuat suatu karya adalah hal yang seru. Podcast yang mengundang band atau produser lokal untuk memainkan lagu yang ‘Dekadenz’ menurut versi mereka. Juga mengeluarkan banyak Dekadenz edit. https://www.mixcloud.com/dekadenz/

25.11.16

Mutiara Indonesia di Album Mondo Gascaro – Raja Kelana

Indonesia beruntung memiliki sosok seperti Ramondo Gascaro. Telah lahir karya-karya indah dari tangannya, sejak berkarya bersama Sore, ada "Centralismo" hingga "Ports of Lima" yang paripurna kualitasnya dan telah menjadi bagian dari daftar album terbaik lokal di berbagai media. Kualitas kembali datang di album pertama yang dikeluarkan dengan nama pribadinya. Kali ini kualitas itu datang pada sepuluh lagu yang dirangkum dalam judul "Raja Kelana". Pada setiap lagunya, dikandung desir indah instrumentasi yang kaya, namun jauh dari berlebihan karena saling mengisi dan penting - sebuah keahlian dan kemahiran yang mungkin hanya dimiliki oleh Ramondo Gascaro semata. Album elok ini akan dengan mudah menjadi album klasik dalam sejarah musik lokal. Jika ada yang bilang kalau musik era modern tak seindah album era lama, Ramondo Gascaro sang Raja Kelana adalah antitesisnya. Kalau butuh pengingat tentang moleknya Indonesia, album ini, sejak lagu pertamanya akan membawa kita kesana. Album ini bisa dinikmati di portal layanan musik digital mulai hari ini dan akan segera dirilis bentuk fisiknya dalam waktu dekat. Spotify: https://open.spotify.com/album/4jfh6jK2wtxj2oOLC9u1uo iTunes: https://itunes.apple.com/id/album/rajakelana/id1177402373

19.11.16

Kero Kero Bonito: Musik Yang Cerah Untuk Era Yang Sepi

“I think our music is some kind of sweet rebellion, there is too much negativity in our lives. We live in a super weird time. I don’t know how things work here in Indonesia, but the west is depressed. Everyone feels like shit. With Kero Kero Bonito we would like to remind people about how there’s always hope for people.” Gus Lobban menjelaskan posisi musik Kero Kero Bonito yang sangat positif di era yang kurang menyenangkan ini. Ini bukan omong kosong. Melalui EP “Intro Bonito” yang dirilis pada tahun 2014, dan album penuh, “Bonito Generation” yang dirilis pada tahun 2016, trio pop eletronik ini menjadi warna cerah di tahun yang muram ini. Terbentuk dengan cara yang lumayan ajaib, Gus Lobban dan Jamie Lubbed dua orang produser dari unit ini memasang iklan di internet dan dari situ mereka menemukan Sarah Midori Perry, sang vokalis yang mempertebal warna-warni musik mereka dengan rap bilingual Inggris-Jepang, adalah salah satu bukti bahwa generasi internet memiliki potensi. Yang membuat unit ini spesial, adalah fakta bahwa musik dan lirik mereka tak hanya mengkampanyekan positivisme yang utopis, dibalik lagu-lagunya yang ceria, Sarah sering menyelipkan pesan-pesan menarik mengenai kesetaraan gender. Dimana pada sebuah lagu, Sarah menyanyi, “It's often said, I should get some girly hobbies instead/But that thought fills me with dread/I'm not into sewing, baking, dressmaking, not eating, bitching, submitting.” Diiringi dengan musik yang playful dan ceria, feminisme menjadi sebuah gula-gula pop yang bisa dicerna oleh semua, tanpa harus terdengar menggurui. Sebuah hal yang menurutnya bukan hal istimewa, “To me, my main concern is about how we all treated equally, no matter what our gender is.” Di Rossi Musik Fatmawati, hari Sabtu 19 November 2016, Kero Kero Bonito akan memperkenalkan pesan dan warna-warni mereka pada scene musik Indonesia. Ini sebuah arena yang menarik bagi mereka, dimana pada sebuah wawancara mereka memuji Isyana Saraswati dan The Upstairs sebagai musisi yang sangat menarik. “I see everybody here always have guitar and play their song, it’s a special thing, we don’t see that much of enthusiasm in the west, you shouldn’t take this for granted,” ujar Jamie Bulled.

17.11.16

La Fête Noire

Yang paling diingat dari panggung bikinan We Hum Collective adalah pilihan bandnya yang selalu segar dan menarik. Radar mereka selalu tajam dalam mencium talenta baru yang sering luput dari pandangan. Di edisi terbarunya, mereka mempersiapkan sebuah konsep yang menarik, mencampurkan berbagai genre dalam satu gelaran. Mulai dari elektronik, hip-hop hingga black metal menjadi satu. Dan, untuk mewujudkan itu mereka mengundang Future Collective, rekah, Orestes, Wils dan Matter (proyek musik rap dari Fadil McGee eks Forever/Always). Dengan line-up yang demikian, malelui La Fête Noire, We Hum Collective sekali lagi membuktikan bahwa mereka memiliki visi yang menarik dalam setiap acaranya. -- Future Collective, Rekah, Orestes, Proceus, Matter, dan Wils Siap Tampil di La Fête Noire La Fête Noiremerupakan suatu perayaan teranyargarapan label rekaman pendatang baru Caged Choir Conjoint yang bekerjasama dengan kelompok penggerak kancah musik arus pinggir we.hum collective. Dalam perhelatan perdana yang bakal diselenggarakan di Xabi Space Studio, Jakarta Selatan pada Sabtu, 19 November2016 mendatang, La Fête Noireakan dimeriahkan oleh beberapa penampil lintas genre, yaitu Future Collective, Rekah, Orestes, Proceus, Matter, serta Wils. Alasan pihak penyelenggara mengurasi para penampil La Fête Noire dari berbagai genre adalah untuk membuat pentas ini bisa memercikkan keberagaman bermusik dalam satu atap sekaligus meminimalisir dikotomi dan homogenitas yang seringkali terjadi di pergelaran-pergelaran musik Tanah Air. Pemilihan nama-nama di atas pun awalnya berangkat dari sebuah pertanyaan, “Bagaimana jika lantunan musik elektronik bisa berserikat harmonis dengan hardikan komposisi-komposisi padat ala death metal, black metal, post-hardcore, indie rock, hingga hip hop?”Untuk menjawab hal tersebut, Caged Choir Conjoint dan we.hum collective lantas mencoba memadukan penampilan duo elektronik Future Collective dengan ketangkasan rap Fadil McGee alias Matter,keresahan kuintetpost-hardcore/black metal Rekah, kebengsisan band death metal/black metal Orestes, kegeraman unit black metal Proceus, serta intensitas riuh trio indie rock/post-hardcore Wils. Jika berjalan sesuai rencana, Caged Choir Conjoint dan we.hum collective siap menjadikan La Fête Noire sebagai perayaan rutin yang bertujuan untuk memberikan ruang lebih banyak lagi kepada mereka yang memiliki hasrat besar dalam menikmati perayaan musik dengan konsep intim, seru, hangat, serta berkualitas. “La Fête Noire” Xabi Space Jalan Karang Tengah Raya, RT.13/RW.3, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12440 Peta: http://bit.ly/XabiSpace Sabtu, 19 November 2016 19.00 –23.30 WIB HTM: Donasi

15.11.16

Kero Kero Bonito di Studiorama Live #6

Setelah masa rehat yang cukup lama, kolektif Studiorama akhirnya kembali dengan salah satu program utama mereka, Studiorama Live. Menciptakan panggung bagi musisi terbaik dan menyandingkannya dengan videografer handal untuk sajian audio visual yang memukau, Studiorama Live adalah agenda penting yang selalu ditunggu setiap tahunnya. Untuk gelaran keenamnya, Studiorama telah mempersiapkan edisi spesial, dimana mereka akan menampilkan line-up internasional untuk pertama kalinya dalam sejarah acara ini. Dan tamu pilihan mereka pun tak sembarangan, Kero Kero Bonito grup elektro pop dari Inggris didatangkan untuk sebagai awal sejarah baru mereka ini. Dikenal sejak muncul pada tahun 2014 dengan EP Intro Bonito yang menarik melalui campuran Bahasa Inggris dan Jepang dari vokalis Sarah Bonito di atas musik elektronik pop minimalis yang dan kekanakan. Ditambah dengan konsep visual yang warna-warni, Kero Kero Bonito menjadi salah satu penyegaran yang datang dari scene musik Inggris. Bersama Kero Kero Bonito, akan tampil pula Heals unit nu-gaze asal Bandung, Circarama dengan psikedelia ringan khas mereka, juga Ikkubaru yang dikenal sebagai pengusung city pop ala lokal. Musik keempatnya akan direspon oleh empat seniman visual, Anggun Priambodo bekerjasama dengan Ikkubaru, Rimbawan Gerilya dengan Kero Kero Bonito, Ramaputratantra bersama Heals dan Rafaela Lisa untuk bekerja sama dengan Circarama. Sebagai perayaan kerja sama kreatif ini, akan digelar panggung Studiorama Live #6 yang akan berlangsung pada 19 November 2016 di Rossi Musik. Dengan tiket masuk seharga 50 ribu rupiah, pengunjung akan disambut dengan penampilan musisi di atas, ditambah dengan musik dari DJ Django, Gerhan dan W_Music. -- Untuk menghadiri acara ini, tiket presale seharga Rp 50 ribu (FDC) bisa didapatkan secara eksklusif melalui GO-TIX.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.