Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Setelah dua tahun “Footstep” lahir, akhirnya trio emotive hardcore asal Jakarta Vague, mengeluarkan single terbarunya yang diperdengarkan lewat akun Soundcloud mereka (14/2). Jika biasa mendengarkan Yudhis menyanyikan lirik berbahasa Inggris, lewat lagu bertajuk “Sajak Pucat Pasi” Vague menawarkan pengalaman lain. Patut diingat pula bahwa lagu ini merupakan lagu pertama Vague dengan bahasa Indonesia. Walau bahasa Indonesia sering menjadi problema dalam penulisan lirik di antara para musisi lokal, lewat lagu ini, Vague mampu memperlihatkan kemampuannya dalam berbahasa. Dikabarkan juga, Vague akan merilis split EP dengan band post-hardcore Malaysia, Killeur Calculateur dengan track “Sajak Pucat Pasi” termasuk di dalamnya. Format album split EP ini akan dirilis dalam format vinyl 7” dan kaset sebagai bentuk kolaborasi antara Tandang Records (Malaysia) dan Alter Naive Production. Untuk itu, sambil menunggu rilisan tersebut, silahkan cek single terbaru Vague di sini. Foto diambil dari blog
Tiap zaman memiliki artefak yang diingat segelintir orang, dan salah satu yang membekas dari tahun 2000-an adalah skena musik alternatif yang diisi dengan unit musik serta semangat yang membuatnya Seiring munculnya panggung-panggung baru, beberapa nama kemudian mengisinya dengan musik variatif. Band seperti The Upstairs, White Shoes and the Couples Company, Goodnight Electric dan The Adams dengan giat mewarnai musik alternatif di Indonesia melalui lagu-lagu yang Namun, adanya antara beragam generasi, membuat hanya segelintir orang mengerti dan mengapresiasi musik yang telah mereka ciptakan. Berdasarkan hal tersebut, Pijaru - sebuah rumah produksi - membuat sebuah film dokumenter pendek yang merangkum budaya gig yang tercipta belasan tahun lalu. Video berdurasi kurang lebih 12 menit ini dipadati dengan jejak rekam dunia musik bawah tanah yang mulai pudar - mulai latar belakang lagu “Matraman” dari Jimi Multhazam hingga komentar para penggerak skena musik indie dari zaman itu. Dibantu dengan alunan lagu ikonik, ada rasa rindu yang tumbuh tiap melihat cuplikan foto gig di ibu kota - penuh peluh dan sesak oleh wajah-wajah familiar seperti Saleh Husein hingga Oomleo. Rasanya agak disayangkan ketika zaman bergerak maju dan keresahan untuk berkarya ikut terkubur. Tapi, walau beberapa pub seperti BB’s dan Parc; yang dulu menjadi rumah ibadah para penikmat musik indie, telah mati, semangat yang terlahir di sana selalu terekam untuk bekal generasi yang akan datang.
Entah bagaimana, Sisir Tanah menyeruak muncul ke permukaan. Nyaris tanpa promosi - hanya dengan modal post lagu di Soundcloud, ia lalu dikenal dan menjadi bagian dari pergerakan folk generasi baru. Musik bikinannya sederhana, gitar dipetik seperlunya mengiringi vokal yang dibiarkan jujur tanpa olahan, seolah hanya ingin menjadi medium cerita yang dinyanyikan. Tapi justru dengan kejujurannya tersebut ia menyentuh banyak jiwa, membuat nyanyiannya yang menarasikan sarkasme, optimisme, kekecewaan, kemarahan dan jatuh cinta terhadap apapun, termasuk pada berbagai masalah sosial terasa dekat dengan kalbu pendengarnya. Diawali pada 2010, proyek musik solo asal Bantul ini resmi dijalankan dan dinamai dengan salah satu jenis perkakas pertanian yang biasa digunakan untuk mengolah tanah. Tujuh tahun sudah Bagus Dwi Danto menyanyikan lirik-lirik bekas catatan-catatan personalnya, namun belum ada rilisan fisik yang merekam karya-karyanya. Baginya, salah satu cara untuk menyebarluaskan karya-karyanya adalah cukup dengan memperdengarkannya lewat setiap panggung yang dihinggapinya, ketimbang merangkumnya dalam sebuah album. Namun memang ada yang kurang rasanya jika tidak ada rilisan fisik yang bagi sebagian orang adalah sebuah bentuk eksistensi bagi setiap musisi. Akhirnya pada tahun 2016, Sisir Tanah memutuskan untuk membuat sebuah album, walaupun bagi Bagus album bukan sebuah tujuan akhir, melainkan sebuah langkah awal menunjukkan konsistensinya dalam bermusik dan harapannya untuk bisa berkembang menjadi lebih baik lagi. Pada penggarapannya, album perdananya Sisir Tanah akan diproduseri oleh LARAS - Studies of Music in Society. LARAS merupakan lembaga kajian musik asal Yogyakarta, yang berisikan nama-nama seperti Rizky Sasono (Risky Summerbee and the Honeythief), Leilani Hermiasih (Frau), Michael H. B. Raditya, Irfan R. Darajat (Jalan Pulang), serta Heditia S. Damanik. Berawal dari menyelenggarakan diskusi, penelitian dan penerbitan tulisan bertemakan musik dalam masyarakat, selanjutnya pada tahun 2017 LARAS, tertarik memperluas batasan kerjanya dengan memproduksi dan mendistribusikan karya-karya musik yang menyuarakan isu-isu kemasyarakatan. Pada album perdananya ini, Sisir Tanah kerap menggundang sejumlah musisi Yogyakarta untuk berkolaborasi, yaitu Ragipta Utama (Jati Raga), Nadya Hatta (Individual Life), Faizal Aditya Rachman (Answer Sheet), Indra Agung Hanifah (Jalan Pulang), Asrie Tresnady (Log Sanskrit), Yussan Ahmad Fauzi (Log Sanskrit), Erson Padapiran (Belkastrelka), Justitias Jelita Zulkarnain (Benzai Quartet), dan Jasmine Alvinia Savitr. Dengan arahan dari Doni Kurniawan (Alldint, Risky Summerbee and the Honeythief, Music For Everyone) pada awal Februari 2017, Sisir Tanah tengah mengaransemen dan merekam sebelas lagu. Dengan dibantu oleh sederatan nama-nama tersebut, diharapkan aransemen-aransemen barunya dapat memaksimalkan potensi artistik lagu-lagu Sisir Tanah dalam menyampaikan gagasan-gagasan kemanusiaan versi Bagus Dwi Danto, seperti pada lagu “Kita Mungkin”, “Lagu Hidup” dan “Konservasi Konflik”. Sembari menunggu album ini dirilis, mari mendengarkan lagu-lagu Sisir Tanah di bawah ini.
IROCKUMENTARY.CLUB adalah sebuah situs yang digagas oleh kolektif fotografi yang sudah hampir 9 tahun menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa penting dan perkembangan musik Tanah Air. Selain mengkhususkan diri pada dokumentasi musik, IROCKUMENTARY.CLUB juga bertujuan untuk mempromosikan dan memperlihatkan bagaimana deretan hasil karya fotografi dari para fotografer berbakat. Tidak hanya sebagai situs fotografi saja, IROCKUMENTARY.CLUB juga berencana untuk menciptakan sebuah karya kolektif yaitu phodiography (yang merupakan bentuk interpretasi fotografer mengenai sebuah lagu), zine, lokakarya dan pameran. Setelah acara pertamanya yakni diskusi belajar membaca buku foto yang berkolaborasi dengan The Photobook Club Jakarta, IROCKUMENTARY.CLUB kembali mengadakan sebuah diskusi fotografi bertema dokumenter musik. Bersama dengan Perguruan Menengah Omni, IROCKUMENTARY.CLUB juga akan melakukan sebuah lokakarya yang melibatkan para pesertanya untuk ikut serta mengabadikan momen-momen penting dalam perhelatan musik Syarikat Dagang Edisi Bandung: Bottlesmoker X Stars And Rabbit yang digagas oleh Omuniuum dan Ruru Shop. Para peserta lokakarya diberikan kesempatan untuk menjadi fotografer resmi yang kemudian karyanya akan dipublikasikan pada situs IROCKUMENTARY.CLUB. Lokakarya ini terbatas untuk 5 orang, dengan biaya pendaftaran sebesar Rp. 150.000,-. Sedangkan diskusi fotografi dokumenter musik tidak dipungut biaya dan terbuka untuk umum. Kedua acara ini akan berlokasi ditempat yang sama yakni di Omnispace, Bandung, dan akan diadakan pada tanggal 4-5 Febuari 2016. Oleh Agung Hartamurti & Haviz Maulana Bersama Rony Ariyanto Nugroho (Pewarta Foto Harian Kompas) Sabtu, 4 Februari 2017 Pukul 19.00 - selesai Omnispace, Omuniuum Building, Level 3, Jl. Ciumbuleuit No. 151B, Bandung 40141 Diskusi ini gratis dan terbuka untuk umum Pemateri: Agung Hartamurti & Haviz Maulana Minggu, 5 Februari 2017 Pukul 10.00 - selesai Omnispace, Omuniuum Building, Level 3, Jl. Ciumbuleuit No. 151B, Bandung 40141 Terbatas untuk lima peserta Biaya: Rp 150.000,-
Rabu (11/1) lalu negara Norwegia resmi menutup gelombang radio FM dan memutuskan untuk beralih menggunakan radio jenis Digital Audio Broadcasting (DAB) atau biasa disebut radio digital. Mengutip wawancara Menteri Budaya Norwegia, Thorhild Widvey, alasan Norwegia menutup gelombang FM adalah karena menganggap siaran berbasis FM sudah tidak menguntungkan. Menurutnya, siaran radio FM membutuhkan biaya operasional yang tinggi, namun kualitas suaranya lebih rendah dibanding siaran digital, termasuk dengan fitur dan dukungan. Hal tersebut menjadikan Norwegia sebagai negara pertama yang mematikan radio FM. Berita ini menimbulkan pro dan kontra bagi para warga Norwegia karena terkesan terburu-buru. Walaupun demikian, perpindahan media konvensional ke media digital sesungguhnya adalah sebuah isu yang sudah lama diperbincangkan dan menjadi kondisi yang cukup diperhatikan. Sekarang ini, siaran radio tidak cukup populer seperti dulu, jarang ada yang sengaja menyalakan radio selain di mobil untuk mendengarkan lagu atau menantikan acara dari para penyiar idola. Semenjak kehadiran internet, kebutuhan-kebutuhan seperti mendengarkan lagu contohnya, bisa terpenuhi tanpa harus mendengarkan radio. Dikutip dari berbagai sumber, radio digital berbeda dengan radio online. Radio digital tidak menggunakan jaringan internet. Sama halnya seperti radio FM/AM, radio digital membutuhkan kotak radio khusus. Selain itu, gelombang penerimanya pun berbeda. Kotak radio khusus ini nantinya diperlukan untuk menerima suara berbasis digital, karena proses produksi hingga penyiarannya juga menggunakan teknologi digital. Cara kerja Digital Audio Broadcasting (DAB) sendiri adalah dengan menggabungkan sejumlah data atau audio ke dalam satu kanal yang sudah melewati sistem kompresi suara dengan algoritma tertentu sehingga suara yang dihasilkan lebih jernih dibandingan FM dan nyaris mendekati kualitas Compact Disk (CD). Sementara itu, ternyata ada yang sudah lebih dulu, secara perlahan memberikan pengalaman berbeda dalam mendengarkan radio, sebut saja RURUradio, DeMajors Radio dan radio-radio yang menggunakan jaringan internet lainnya. Walaupun tidak menggunakan sistem DAB, radio-radio tersebut cukup mencuri perhatian banyak khalayak. Dengan berbagai konsep dan segmen yang menarik, radio-radio ini mampu bersaing dengan radio konvensional dan memiliki banyak pendengar setia. Secara jumlah, memang pendengarnya tidak semasif itu, namun secara eksistensi sudah diakui. Memang jika ditelusuri kembali, setiap sistem memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dengan teknologi yang terus berkembang, cepat atau lambat, pasti akan dihadapkan dengan beragam bentuk perubahan, contohnya seperti kasus d iatas. Sehingga mau tidak mau, harus mengantisipasi segala bentuk kemungkinan, dalam konteks ini, bisa dimulai dari mencari alternatif lain untuk mendengarkan radio seperti melalui radio atau media seperti
Mella Jaarsma adalah seorang seniman berdomisili Yogyakarta. Merupakan salah satu pendiri Cemeti Art House ini, Mella Jaarsma memulai perjalanannya sebagai seniman kontemporer Tanah Air semenjak meninggalkan Belanda pada tahun 1984 untuk menjalani pendidikannya di Institut Kesenian Jakarta dan Indonesia Institute of the Arts, dan akhirnya memutuskan untuk menetap di Yogyakarta hingga sekarang. Di tahun 2017, Mella tengah mempersiapkan sebuah projek seni bertemakan “Pusar - Selfie”. Pada projeknya, Mella membutuhkan 500 foto pusar dan mengajak teman-teman dari Sabang hingga Marauke untuk mengirimkan selfie - pusar tersebut. Pada projek ini, ada beberapa instruksi yang harus diperhatikan, yaitu: 1. Ambil foto pusar anda menggunakan kamera handphone dengan jarak 10-15 cm (satu jengkal) dengan kondisi pencahayaan siang hari 2. Tidak perlu identitas, hanya cukup dengan mencantumkan kota/kabupaten, provinsi tempat anda berasal. 3. Kemudian kirimkan foto pusar anda melalui Whatsapp: 081327626117 atau Email: pusarproject@gmail.com “Mungkin pusar sesuatu yang privat, tetapi kita semua sama dan memiliki itu.” - Mella Jaarsma
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.