Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Label independen muda asal Jakarta, Kolibri Rekords akan menggelar pertamanya di dua kota besar yaitu Jakarta dan Bandung pada tanggal 28 & 29 Januari mendatang. Pada -nya, Kolibri Rekords akan menyajikan penampilan dari band-band yang sudah dirilis seperti bedchamber, Gizpel, Kaveh Kanes, dan Lowpink, sekaligus memperkenalkan jagoan barunya yakni dua band asal Yogyakarta, Grrrl Gang dan Seahoarse. Dengan dirilisnya pertama bertajuk "Bathroom", sekumpulan pelajar yang memainkan musik indiepop/garagepop dan memperkenalkan diri sebagai Grrrl Gang ini resmi bergabung dengan Kolibri Rekords bulan Desember lalu dan sedang mempersiapkan rilisan mini berisikan tiga lagu. Tidak lama setelahnya, di bulan Januari, Seahoarse kemudian juga resmi bergabung dengan Kolibri Rekords, dan tengah menyiapkan album perdananya yang dijadwalkan akan dirilis dalam waktu dekat. Seahoarse merupakan kuartet dreampop kawakan berisikan nama-nama yang sudah tidak asing di skena independen lokal Yogyakarta. ini akan menjadi penampilan perdana Seahoarse dan Grrrl Gang di Bandung, dan yang kedua kalinya di Jakarta. Selain itu, selama dua hari ini, Kolibri Rekords berkolaborasi bersama Norrm dengan menjadi edisi ketiga gelaran rutinnya pada “Spasial Edition” dan bersama salah satu Toko Misteri. Yang menarik lainnya, bagi 25 penonton pertama di masing-masing kota akan mendapatkan satu CD kompilasi yang dicetak terbatas dan tidak dijual. Informasi lengkap pembelian tiket, peta lokasi acara, lagu keenam band, dan sebagainya dapat diakses melalui: kolibrirekords.com/birdsout. - WHO LET THE BIRDS OUT? kolibri rekords bedchamber / Gizpel / Grrrl Gang Kaveh Kanes / Low Pink / Seahoarse Saturday, 28 Jan 2017 Spasial - Jl. Gudang Selatan 22, Bandung 3PM IDR 50,000 Sunday, 29 Jan 2017 Toko Misteri - Jl Falatehan 68 Melawai, Jakarta Selatan 3PM IDR 40,000 / IDR 100,000 3
Tahun 2016 adalah tahun yang menyenangkan, banyak musik bagus yang muncul di tahun tersebut. Dan, rasa-rasanya tren positif ini akan terus berlanjut di tahun 2017 ini. Pertandanya bisa dilihat pada bagaimana di bulan Januari ini telah muncul beberapa rilisan (dan teaser) yang berkualitas. Mulai dari rilisan dari unit baru yang potensial, hingga album comeback yang telah ditunggu kemunculannya sejak tahun-tahun yang telah lalu. Berikut adalah beberapa diantaranya: Hurt ‘Em - Condolence (Lawless Records) Begini seharusnya hardcore yang muncul dari Jakarta, keras, mentah dan tajam di saat yang bersamaan. Lawless membuktikan kejeliannya dalam merekrut roster melalui rilisan ini. Piston - Titik Nol (Lawless Records x Sepsis Records) Blog wastedrockers memuji pergerakan Piston sebagai band muda yang giat dalam menggerilyakan musiknya, album ini adalah salah satu kulminasinya. Direkomendasikan jika doyan Motorhead. Skandal - Sugar (Yellow Records) Susah untuk tidak jatuh cinta dengan “Superfine”, single dari unit indie-rock asal Jogja/Jakarta, Skandal. Empat lagu lain di EP ini memiliki kualitas yang kurang lebih sama. Kabarnya Skandal juga sedang menjalani tur promo album bersama Nervous menuju beberapa kota di Pulau Jawa. Fernie Sue - Detached (Winona Tapes) Selalu menyenangkan saat mendengar kemunculan label lokal baru. Kali ini kabar baik ini datang dari Winona Tapes asal Jakarta yang memperkenalkan diri dengan album dari unit alternative/indie-rock potensial asal Jakarta, Fernie Sue. Barefood - Milkbox (Anoa Records) Sudah terlalu lama sejak unit indie-rock favorit semua kalangan, Barefood merilis materi baru. Dan di awal tahun 2017 ini akhirnya follow-up dari EP “Sullen” lahir. Rencananya album ini akan berisi 9-10 lagu baru. Kabarnya saat rekaman Ditto dan Mamet bereksperimen dengan memasukkan instrumen terompet, sebuah langkah menarik yang patut ditunggu hasil akhirnya. Write The Future - TBC Di tangan Write The Future (dan Saturday Night Karaoke), tampaknya masa depan genre pop punk lokal akan baik-baik saja. Setelah EP yang mengesankan pada tahun 2014, unit asal Malang ini akan kembali dengan album penuh yang dijanjikan akan keluar di bulan Januari 2017 ini. Much - TBC Masih dari Malang, unit indie-rock favorit kami, Much juga akan kembali dengan album penuh di tahun 2017. Secara musikal, ada perkembangan yang menarik pada single pertama yang dirilis dalam bentuk video-klip a la karaoke, ini membuat penantian menuju LP pertama Much terasa semakin memburu. 70Osc - Single (Corduroy Groove Records) Jika Naif memutuskan untuk meninggalkan konsep retro/vintage dalam konsep terbarunya, 70sOC (dulu 70’s Orgasm Club) justru merayakannya dalam comebacknya ini. Jika ada yang kangen kentalnya nuansa musik funk di lagu lokal, Anto Arief bersama rekan-rekannya akan membawa Anda bernostalgia kesana. Logic Lost - If I Trust You (Dead Records) Setelah album “Runaway” (Orange Cliff Records) yang penuh dengan warna-warni menarik dari sisi tak populer musik elektrobik, Logic Lost akan datang lagi dengan EP berjudul “If I Trust You” yang menandai bergabungnya Dylan Amirio pada label baru Dead Records. Selain tiga lagu baru, EP ini akan berisi tiga intepretasi lagu Logic Lost oleh Ali Bomaye, Calippso, Dickaz123 yang merupakan rekan selabelnya. Texpack - Courageous (Tromagnon Records x Hujan Records) Siapa bilang kualitas musik indie-rock lokal hanya ditentukan oleh Kota Jakarta dan Bandung? Nyatanya salah satu titisan Pavement yang paling berkualitas datang dari Bogor. Jika perbandingan Texpack terhadap Pavement dirasa berlebihan, maka mungkin Texpack adalah perumpamaan yang menarik bila Parquet Courts tiba-tiba memilih untuk pindah domisili ke Kota Hujan. Vague - TBC Sudah terlalu lama sejak Jan, Gary dan Yudhis tak merilis musik baru. Untungnya, deadline album split dengan band Malaysia, Killeur Calculateur, mampu membuat tiga kepala yang membentuk musik Vageu tersebut kembali ke studio rekaman. Dari satu lagu yang sempat “dibocorkan”, ada kejutan menarik dimana Yudhis minggir sejenak dari kewajibannya sebagai vokalis, dan mempersilahkan Gary untuk menyanyi dalam Bahasa Indonesia. Hasilnya cukup menarik, hampir terasa seperti Efek Rumah Kaca yang tiba-tiba mendengarkan Fugazi!
Berkat karakternya yang kuat dan ketertarikannya pada tema horor dan fantasi, Natasha Gabriella Tontey (NGT) melahirkan sebuah toko fiksi sebagai karya residensi di Koganecho Bazaar Yokohama, Japan pada tahun 2015. Menggunakan gedung yang dulunya berupa ia menawarkan dunia alternatif sembari mengkurasi berbagai hal terkait ketakukan dan cerita-cerita horor warga setempat untuk dijual pada sebuah toko fiksi yang dinamai “Little Shop of Horrors” Masih dengan palet warna khas neon dan pink yang menjadi identitas karyanya, kali ini NGT kembali menghadirkan “Little Shop of Horrors” untuk diperkenalkan di Jakarta. Konsep yang diangkat sama yaitu toko fiksi, namun pada kesempatan ini barang-barang yang akan dijual berupa bentuk kolaborasi bersama Footurama Freeform Fabrication, yakni koleksi spesial yang mengeksplorasi Jika sebelumnya Sonotanotanpenz diajak oleh NGT untuk merespon ide dan tulisan NGT, kali ini Ken Jenie dan Dipha Barus diajak untuk meresponnya dalam format kaset berisi lagu-lagu yang menghadirkan nuansa horror. Pada malam pembukaan akan dimeriahkan pula dengan penampilan spesial dari Ken Jenie & Krazy Kosmic Kid, serta musik dari Baldi, Bergas, Mar, dan Moustapha Spliff - Tidak hanya itu, “Little Shop of Horrors” juga akan disertai dengan bertajuk ‘‘FRESH FLESH FEAST’ atau ‘Makan Mayit’. Lewat proyek ini, NGT bersama Chandra Drews dan Elia Nurvista mencoba untuk memberikan pengalaman kepada orang-orang untuk menjadi kanibal, dengan mencicipi hidangan-hidangan pilihan, yang mana menurut NGT, hasrat kanibalisme sebetulnya memang sudah dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Gala ini hanya terbatas untuk 13 partisipan, dengan membeli tiket seharga Rp. 295.000,- sebelum acara, dan Rp. 350.000,- saat acara, yakni pada hari Sabtu, 28 Januari 2017, jam 19:00. - 21 Januari 2017 17:00 Footurama COMO Park Jl. Kemang Timur Raya no. 998 Jakarta
Galeri biasanya memang dihiasi oleh karya-karya seniman yang telah disusun sehingga terlihat cantik dan apik. Tetapi berbeda dengan pameran “Envisions: The Envisionaires” yang digelar oleh kolektif Envisions asal Belanda di Playmouth College of Art. Kolektif yang anggotanya pernah bersekolah bersama di universitas yang sama ini memulai debutnya di Salone del Mobile di Milan pada tahun 2016. Mereka dikenal blak-blakan dengan gayanya yang lebih menaruh fokus pada proses yang mereka tempuh untuk menciptakan sebuah karya ketimbang hasil akhirnya. Maka dari itu, melalui kemampuan mereka mesiasati kekacauan, mereka menjadikan hasil mereka menjadi salah satu bagian dari karya yang mereka jadikan - seperti pemandangan yang sering ditemui di taman bermain. Banyak yang berpendapat keputusan memamerkan karya mereka di titik awal pertemuan mereka ini adalah tepat. Para seniman dari Envisions berkesempatan untuk mengunjungi kembali lorong waktu yang menyatukan mereka, sesuai dengan yang dinamakan - Buka sampai 27 Januari 2018 Plymouth College of Art Inggris
Every year is a good year for music. While releasing a brand new mixtape every Tuesday and Friday, the W_Music team has been listening and jamming to a bunch of new releases this year. From seasoned vets to exciting newcomers, 2016 has given us a whole lot of great music, so it is only right that our team share some of their favorites. From pop, rock, dance to hip hop, here are the W_Music team's favorite songs of 2016. Listen to the mixtape and read about why we enjoy the music below! 01. L.A. Salami - I Wear This Because Life Is War This London-based band has the attitude and energy of Black Lips playing blues with tinge of folk and lots of indie feel. 02. Weyes Blood - Generation Why Her vocal has that 70's quality that reminds you of Stevie Nicks living in the present day reflecting and longing for the bygone. 03. Princess Nokia - Tomboy Her roots as a female Afro-Nuyorican reflects on her strong lyrics supporting womanhood as well as various elements in her music and aesthetics. 01. Touché Amoré - Eight Seconds I will remember 2016 as a year where death took charge. From the death of sense in the Trump’s victory, the death of humanity in our country, to the passing of world’s finest people (RIP Carrie Fisher & Leonard Cohen). Touché Amoré’s “Eight Seconds” from their album Stage Four (great album BTW) is the perfect manifestation of this sense, it tells a story about how the vocalist, Jeremy Bolm dealt with the demise of his mother in a heartfelt melody and forthright lyrics. Damn you, 2016. 02. Julien Baker - Ballad of Big Nothing I never really into Elliot Smith’s murky songs, but this version of Julien Baker stole my attention right away on my first listen. There’s nothing really special about Julien Baker music, she plays a typical singer/songwriter song with dreamy electric guitar - a common format. But there’s something inside her that makes her every notes and word grope to your deepest thought. It’s her sincerity that makes her song resonates, and this song is the perfect example of it. 03. Collapse - Given This probably my most played songs (and album) in 2016. Dika’s guitar-driven springtime shoegaze with a '90s alt-rock sensibility fits with a lot of moment and deadline that I have to face this year. Certainly one of the best album in 2016. 01. Bullion - Never Is the Change (12" Take) Completely different style from Bullion's regular sound, fetching more of the 4x4 beats but not wandering too far from the complexity of Bullion's usual rhythm and sound.This sounded like CAN getting together with KRAFTWERK for that night at the dingy rave party. Bliss! 02. TCP - A Voice Across The Nile (Moscoman Rework) The DISCO HALAL wave of exotic middle eastern dance tunes getting a much deeper treatment from the new-comer MOSCOMAN. Bass, synth and far out vibraphone sounds made this track scream out among MOSCOMAN's other gems he dished out this year. 03. MOOD HUT- Better This is probably my best for 2016, fresh take on my favourite Gladys Knight and the Pip's - It's better than a good time by this Canadian native. Disco at it's glory with melodic euphoria all over this track. The injection of modern bass and synth creates a new form of summer tune! 01. Julian Lage - Persian Rug Julian Lage is one of my favorite guitarists alive today. His ability to maneuver around the fretboard is jaw-dropping, but what I love most about his playing is how accessible it is, and "Persian Rug" really highlights it. The quickest ditty from his latest album, "Archlight", Lage takes on a Telecaster and picks his way through a happy country-like tune. From the most simple phrases to the most complex, all of his melodies are memorable and makes you want to whistle along with it. 02. Big Thief - Vegas I was instantly hooked to "Vegas" by Big Thief when the guitar came in, and fell in love with it when Adrianne Lenker started singing. Introduced as a love song in one of their live performances, "Vegas" is a track that tugs at the heart strings without being overly dramatic, with lyrics that carries a nostalgia of one moment in a relationship. 03. Jeff Parker - Here Comes Ezra I don't really know how to explain why I enjoy this song so much. When I first heard Jeff Parker's latest album, "New Breed," this wasn't the first song I enjoyed. As a matter of fact, this was the 4th song that drew my attention, but it is the song that I keep coming back to. All instruments seem to focus on the rhythm, and the song sounds very simple and spacious before ending in a climax of horns. It's a song that I've repeatedly played on the car stereo after work this year. 01. Mall grab - I Just Wanna I've been pretty much hovering around dance-oriented music for the past 2-3 years and stumbled upon so many great acts and Mall Grab happens to be one of them. Still relatively young, full of energy & rawness. Straight up attacking hi-hat & soulful sample for house addicts. I just can't, stop, nodding my head. 02. Turnstile - Come Back for More I knew that once Nonstop Feeling hit the market, it will conquer the world. Turnstile has proven to be one of the hardest working contemporary hardcore bands today with relentless tour schedule & such. Through this brand new EP, they're not afraid to express their obsessive love for the 90s and it's shown blatantly in this song, of course in a solid & good way. Dance hard or die. 03. Danny brown - Really Doe (ft ab-soul, kendrick lamar & earl sweatshirt) Fuck me. This track off atrocity exhibition is a testament of Danny Brown's darker aesthetic. Combining a nostalgic bopping boom-bap beats over tight verses from familiar parties (ab-soul, kendrick lamar as well as earl sweatshirt), really doe takes us further into a bleak vision inside the mind of a bruiser brigade. 01. Danny Brown - Really Doe I’ll keep this one simple. The LA trio of K-Dot, Ab Soul and Earl Sweatshirt all trade verses with Mr. Brown on top of a post-apocalyptic boombap beat with an insane chime of mysterious origins going on in the background. Surely a winner. 02. Keita Sano - Explosion This 12” released on New York’s Mister Saturday Night is pure filth. Nearly 12 minutes of unadulterated funk and disco soaked house just seems to go on forever and I always have the urge to repeat it as soon as it ends. 03. Floating Points - Kuiper Sam Shepherd, the record label owner, DJ, producer and holder of a PhD in neuroscience released Kuiper to sort of complement his mind blowing full-length LP Eleania. His band goes through this 18-minute adventure by taking out everything in their arsenal: broken beat, leftfield jazz, krautrock, psych rock and shoegaze to name just five.
Sesaat sebelum Senyawa tampil di Konser Tanah Air, Rully Shabara dan Wukir Suryadi tampak sedikit tegang. Meski masih ada senyum saat bertukar sapa dengan teman dan tim produksi di belakang panggung, kecemasan itu sulit disembunyikan dari raut muka mereka. Ini sebuah reaksi yang cukup menarik, band sebesar Senyawa yang telah menjelajahi berbagai panggung besar di Jepang, Amerika hingga Eropa, dan telah tampil bersama musisi terbaik dunia tampak saat akan tampil di kampung halamannya. Di sisi lain, ini juga merupakan reaksi yang sangat bisa dimaklumi. Adalah wajar untuk merasakan tekanan lebih saat tampil di depan sosok-sosok terdekat. Layaknya seorang anak yang tiba-tiba kesulitan beraksi di panggung saat melihat orang tuanya di barisan penonton. Mungkin karena hawa dingin Gedung Kesenian Jakarta, mungkin akibat hangat sorot cahaya, cemas yang tadi menghiasi roman Rully dan Wukir lenyap tak berbekas saat keduanya menjadi dua raja di pertunjukan malam itu. Tegang yang tadi menghiasi muka, digantikan dengan tajam sorot mata dan permainan tanpa cela yang memukau semua pengunjungnya. Memainkan set yang cukup panjang, sekitar dua jam dengan satu kali jeda, Senyawa seakan datang layaknya jejaka terbaik desa yang pulang dari perantauan dengan cerita dan pengalaman yang membanggakan bagi semua. Tampil terakhir di Jakarta sekitar setahun yang lalu, malam itu mereka seolah mengingatkan kembali mengenai kualitas yang mereka miliki, serta kemungkinan-kemungkinan baru yang telah mereka jelajahi. Merinding datang sejak Wukir memainkan nada pertama dari bambunya. Set dimulai dengan Wukir dan Rully yang tampil dari belakang sebentang layar putih dengan sorotan lampu dari sisi belakang. Gerak-gerik mereka kemudian tampil dalam bayangan serupa wayang yang hidup melalui deru dan denting instrumen utama Senyawa: bambu wukir. Disini pengunjung diajak untuk tenggelam dalam suara dan tarian bayangan penuh disonan. Dan, melalui bayangan yang saling tumpang tindih itu, sosok Wukir dan Rully menyatu dalam satu imaji entitas yang tak bisa lebih akurat lagi daripada kata ini: “Senyawa”. John Doran dari The Quietus menyebut Senyawa sebagai dan melihat penampilan keduanya malam tadi, pernyataan John Doran tadi nyaris terasa sebagai Karena nyatanya Senyawa tak hanya bisa tampil gigantik dan meledak-ledak, kadang mereka bisa menjelma menjadi entitas yang liat dan menelusup relung dengan desir suara dari instrumen Wukir dan merdu suara Rully. Sebelum kemudian mereka merobohkannya dalam sekejap melalui suara perkusif dan racauan bernada rendah - juga teriakan - dari kerongkongan Rully. Secara teknis, kefasihan Rully untuk menyanyi dalam berbagai tangga nada dan gaya, serta kemampuan Wukir dalam memainkan pelbagai instrumen malam kemarin menjadi kejutan yang menyenangkan. Jika biasanya musisi eksperimental cenderung identik dengan bising melulu dan disonan yang tak jarang mengganggu (dan dengan begitu beberapa akan menganggapnya hanya asal berisik dan lantang), “Konser Tanah Air” adalah sebuah wacana yang bagus mengenai bagaimana musik eksperimental akan menemukan bentuk terbaiknya jika dimainkan oleh mereka yang paham betul dan menguasai instrumennya. Rully yang dulu dikenal merupakan sosok terdepan dalam eksplorasi vokal menunjukkan bagaimana ia tak henti berkembang. Saat berteriak, ia mampu menahan nada dan nafas panjang seolah ia merupakan vokalis band metal kawakan. Saat bernyanyi, ia bisa menembus nada rendah dan tinggi dengan mudahnya, seolah ia merupakan titisan diva pop kenamaan. Wukir pun setali tiga uang, selain takjub yang selalu muncul setiap kali ia menelurkan nada dari instrumen buatannya, ia juga menunjukkan bahwa merdu juga bisa muncul dari permainannya. Salah satu contoh sempurna dari kepiawaian keduanya muncul pada lagu dari Semenanjung Balkan yang mereka nyanyikan. Ada tiga instrumen yang dimainkan oleh Wukir malam itu. Ketiganya menjadi penanda tiga sesi yang Senyawa mainkan. Yang pertama adalah instrumen utama Senyawa, bambuwukir. Yang kedua adalah instrumen baru yang merupakan hasil modifikasi dari “Garu”, alat pembajak sawah yang biasa digunakan di pedesaan. Yang ketiga adalah “Suthil”, spatula dengan tambahan senar. Pada dasarnya prinsip kerja ketiga instrumen ini tak jauh berbeda, tapi suara yang dihasilkan sangat berwarna. Meski kalau disuruh memilih, Senyawa tetap tampil paling paripurna dengan instrumen aslinya, bambu wukir. Beberapa akan menyandingkan Senyawa dengan band eksperimental asal Jepang, beberapa akan teringat dengan musik raksasa post-rock Godspeed You! Black Emperor, ada pula yang akan membandingkan mereka dengan Swans, tapi yang jelas, Senyawa hari itu menjadi diri mereka sendiri, dan itu sangat-sangat cukup. -- Konser Tanah Air berlangsung tepat pada hari yang sama dimana hari ibu dirayakan, dan tiga jam menuju acara, diantara ketegangan di belakang panggung, Rully mengunggah sebuah doa yang mengharukan pada ibunya, “Ibu, malam ini anakmu akan konser tunggal di Ibukota Tanah Air, di yang membanggakan. Semoga Engkau merestui. Selamat Hari Ibu, ini kadoku untukmu!”. Dan, melalui dari seluruh pengunjung yang datang dari seluruh pengunjung, tegang dan doa Rully terbayarkan, jika bukan terlampaui berkali lipat. Karena dari muka puas semua pihak yang menjadi saksi, bangga jelas tak hanya akan datang di hati Ibu Rully Shabara, karena malam itu, Senyawa jelas merupakan salah satu hal terbaik yang pernah lahir dari bumi Indonesia, tanah air Wukir Suryadi dan Rully Shabara. -- Terima kasih kepada G Production beserta seluruh tim Konser Tanah Air yang telah mewujudkan sebuah konser penting dalam sejarah musik lokal. Di luar segala kejadian menyesakkan yang terjadi di tahun 2016, konser Sinestesia dari Efek Rumah Kaca yang membuka tahun, dan konser Tanah Air yang menutup tahun sejatinya merupakan bukti bahwa kita harusnya menyambut 2017 dengan harapan dan suka cita.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.