Blog

Latest stories

18.04.17

ECLIPSED by Parahyangan Fair 2017

Gelaran tahunan dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) kembali hadir dan kali ini mengusung tema Eclipsed. Masih mengangkat kolaborasi sebagai aksi utama di balik acara ini, Parahyangan Fair mengajak seluruh komposer dan penampil dari segala jurusan di UNPAR. Namun, kali ini Parahyangan Fair tidak hanya fokus pada subkultur Bandung, tapi juga membuka pintu kepada sosok kreatif di Jakarta untuk berkontribusi. Hadir dengan konsep wadah kreatif, acara ini menghadirkan deretan hiburan mulai dari visual art, fotografi, film dan tentunya musik - dengan penampil antara lain, Maliq & the Essentials hingga Elephant Kind. Untuk mengangkat subkultur film, Gianni Fajri pun didaulat sebagai bintang tamu. Akan ada yang akan memutar film-film karya mahasiswa UNPAR serta para kontributor. Lalu ada pula penampilan kolaboratif antara mahasiswa dan musisi lokal sebagai bentuk kreasi baru yang ditampilkan hanya pada acara ini. Adanya yang besar mengizinkan pengunjung untuk berkarya langsung di tempat, layaknya melukis di kanvas bekas. Adapun yang akan tersebar di area Bumi Sangkuriang selaku , akan menyediakan alat-alat berkarya yang bisa digunakan pengunjung untuk membuat sesuatu dan di bawa pulang sebagai memento. - Senin, 24 April 2017 15:00 - selesai Bumi Sangkuriang, Bandung Tiket bisa dibeli online di https://goo.gl/forms/AnHqf1dVTgXSEAHu1 atau http://goers.co/eclipsed-parahyanganfair

17.04.17

Emansipasi Visual Perempuan

Dari, untuk, oleh, dan soal perempuan. Begitulah kira-kira menjelaskan buku Girl on Girl: Art and Photography in the Age of Female Gaze karya jurnalis seni, Charlotte Jansen. Buku yang berisikan wawancara dengan 40 fotografer perempuan di 17 negara ini dibuat untuk merespon tumbuh pesatnya jumlah fotografer perempuan di dunia selama lima tahun terakhir. Jansen menjelaskan bahwa foto yang dibuat oleh perempuan bukan sekadar narasi visual pembanding dari yang sudah dikonstruksi sebelumnya oleh kaum Adam. Akan tetapi buku ini juga dibuat untuk memperkaya ide mengenai ragam bentuk perempuan dan menumbuhkan empati akan kesetaraan gender. Isu yang dibawa beragam. Mulai dari eksotifikasi tubuh perempuan di Brazil Utara oleh para kolonial barat karya fotografer Turki Pinar Yolacan, kritik akan pandangan orientalis para pelukis Eropa terhadap perempuan Arab karya Lalla Essaydi, kritik terhadap kapitalisme barat yang berusaha menyamaratakan identitas perempuan karya Yvonne Todd, sampai bagaimana fotografer perempuan sering kali tidak dianggap serius oleh klien seperti yang dialami fotografer Jepang Monika Mogi. Jansen pun menyatakan bahwa usaha pemberdayaan perempuan oleh para fotografer dalam bukunya ini, tidak hanya dilakukan melalui pesan visual di depan lensa, namun juga melalui pendekatan terhadap subjek yang dilakukan para fotografer perempuan. Fotografer yang diwawancarainya cenderung memiliki kedekatan yang lebih dengan subjeknya yang membuat mereka terus mencari tahu dan mencoba memahami cerita dari para subjeknya sehingga memberikan kenyamanan bagi perempuan-perempuan yang menjadi modelnya.

16.04.17

Kejujuran Mac DeMarco lewat “On the Level”

Mac DeMarco mengajak pendengarnya berkontemplasi melalui single ketiganya tahun ini, “On the Level”. Bersamaan dengan lagu ini, terdapat dua lagu yang ia rilis sebelumnya, yakni “This Old Dog” dan “My Old Man” sebagai bentuk refleksi atas hubungannya dengan keluarga, terutama sang Ayah. Namun, jika dalam kedua lagu tersebut DeMarco lebih banyak menyuarakan kemarahannya, “On the Level” bicara mengenai penerimaan diri. Kombinasi pengulangan chorus bagai mantra dan buaian melodi synth yang kental kemudian menghipnotis pendengar untuk masuk lebih dalam merenungi dirinya sendiri. Ia berbicara mengenai melalui untaian kalimat Hadir dengan lirik dan melodi serupa dengan “Chamber of Reflection” dari album Salad Days, adalah lumrah jika kita menganggapnya sebagai kelanjutan cerita personal dari DeMarco akan kesendiriannya. Hal tersebut membuat This Old Dog menjadi sebuah album baru darinya yang patut ditunggu untuk didengar kala dalam perjalanan panjang.

14.04.17

Intimasi Album Telefone dari Noname

Album Telefone yang dirilis pertengahan tahun lalu oleh Noname memiliki residu gaung yang kuat dan membuat Fatimah Warner dianggap sebagai yang perlu diperhitungkan. Dalam pertamanya itu ia menggaet nama penting seperti Saba, Mick Jenkins, dan rapper muda lain yang dikenal dengan nama Chance. Lirik yang intim, bangunan musik sederhana dan kapasitas pendukung dalam Telefone jadi kesatuan yang harmonis dan menarik. Berangkat dari latar belakang tumbuh di lingkungan African-American di Chicago, lirik dalam Telefone menceritakan narasi yang sama dari sisi yang berbeda. Fatimah mengambil hubungannya dengan sang nenek dalam lagu ‘Reality Check’ dan dalam lagu ‘Bye Bye Baby’ ia mengangkat isu aborsi yang amat sensitif. Kurang lebih, Telefone menarasikan cerita suram perempuan lewat sudut pandang ibu dan nenek yang reflektif. Dalam berlagu, Fatimah terkesan berdansa dengan kata-kata yang ia ucapkan. Ia fasih menarasikan lirik reflektif lewat lantunan rap yang tidak terlalu cepat namun dengan tekanan kata yang jelas. Berangkat lewat ketidakpercayadirian yang mungkin dialami oleh banyak perempuan kulit hitam di Amerika. Yang utama lewat liriknya, ia tidak menebar kebencian namun melagukan optimisme dan keindahan pada nostalgia yang liris.

13.04.17

Quick Review: Get Out

Get Out menjadi salah satu film yang paling diantisipasi tahun ini. Terutama pasca trailer super intens yang memberikan gambaran sehoror apa film ini jika disaksikan secara utuh. Melalui debut kesutradaraannya ini Jordan Peele menunjukkan kekayaan referensinya, mulai dari It Follows sampai Manderlay. Namun, hal paling menarik dari film ini adalah isu rasisme yang dibawanya, mengingat film-film dengan isu rasisme biasanya berkutat pada kisah-kisah otobiografi atau menjadikan sejarah perbudakan orang kulit hitam sebagai pusat cerita. Pendekatan horor dari Peele mampu memberikan premis baru dan menjadikan Get Out film horor sosial dengan banyak lapisan. Film ini bercerita mengenai sepasang kekasih, Rose (perempuan kulit putih) dan Chris (laki-laki kulit hitam), yang berencana berakhir pekan di rumah orang tua Rose, Skeptisme Chris mengenai penerimaan keluarga Rose terhadap dirinya kemudian terjawab dengan cara yang paling horor. Peele berhasil mempertahankan ketegangan film ini sampai bagian paling akhir. Meski tak bisa dipungkiri ada pula logika-logika tak masuk akal khas film horor dalam film ini. Namun pada akhirnya penonton akan terlalu ketakutan untuk terdistraksi hal-hal tersebut. Hal lainnya yang juga esensial dari film ini adalah pemilihan pemain yang berhasil menjaga intensitas film dari awal hingga akhir. Terbukti bahwa sebagai film horror, Get Out tidak hanya memompa adrenalin, tetapi juga memberikan pendekatan baru terhadap diskursus rasisme. Quick Review Get Out: 4/5 Sutradara: Jordan Peele Sinopsis: Film horor berjudul “Get Out” ini merupakan film yang bercerita tentang perjalanan kekasih berbeda ras, Rose yang berkulit putih dan Chris yang berkulit hitam, ke rumah keluarga Rose. Sesampainya di Armitage House, rumah keluarga Rose, Chris mulai mengalami berbagai kejadian aneh nan menyeramkan maka tak ada jalan lain bagi Chris selain untuk menyelamatkan diri.

13.04.17

Usaha Supreme Membumikan Comme des Garcons

Bisnis di industri fashion semakin menantang. Para desainer dan rumah mode besar dunia pun kini mesti bersaing ketat dengan toko-toko ritel penjaja pakaian dengan tren yang bergulir sangat cepat dan murah. Belum lagi di sisi lain mereka juga harus bersaing dengan baru yang menggabungkan citra dengan harga yang lebih terjangkau. Alhasil berbagai strategi bisnis pun digencarkan. Terakhir, rumah-rumah mode kenamaan dunia berlomba-lomba menerapkan model bisnis yang memungkinkan pengunjung dapat langsung membeli koleksi tersebut di tempat. Namun, metode untuk ternyata membutuhkan investasi yang terlalu besar. Jalan lainnya adalah melalui kolaborasi dengan , meski tidak signifikan. Selain menguntungkan karena biaya produksi yang tak setinggi produksi koleksi mereka sendiri, kolaborasi juga tentu akan membuat desainer dan rumah mode besar dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Salah satunya Comme des Garcons yang akan mengeluarkan kolaborasi terbarunya bersama Supreme pada Mei mendatang. Ini bukan yang pertama bagi Supreme untuk berkolaborasi dengan mewah. Sebelumnya Supreme juga sempat menjajal Paris Menswear Fall 2017 Fashion Week bersama dengan Louis Vuitton. Namun kolaborasinya dengan Comme des Garcons ini berbeda. Jika dulu Louis Vuitton membawa Supreme ke level melalui koleksi kolaborasi mereka, dalam kolaborasinya kini Supreme membumikan Comme des Garcons ke jalanan. Tentu saja, bukan suatu hal yang buruk.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.