Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Teater Payung Hitam bukanlah nama baru, malah namanya seperti hantu yang ingin hidup kembali. Tahun lalu mereka melakukan pentas di rumahnya, Bandung untuk memperingati usia 34 tahun sejak Rachman Sabur mendirikannya. Rabu dan Kamis (17-18/5) lalu mereka tampil di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki setelah mungkin hampir 10 tahun tidak menggelar pertunjukan di sana. Membawa pementasan yang sama dengan pementasan akhir tahun lalu yang diberi judul “Post-Haste”, Payung Hitam dengan cermat membaca kritik yang kontekstual. Manajemen ruang dan para pemain yang bergerak di atas panggung memberi gambaran yang gelap. Properti yang rusak dan arus gerak pemain adalah jalan Rachman Sabur memberi tekanan akan modernisme yang kita jalani. Sesuatu terjadi dan dengan tanpa ancang-ancang yang pasti sesuatu lain terjadi seperti kejadian dan berita yang kita lihat mewarnai media. Kehidupan kini tak seperti kisah yang sederhana. Segalanya berjalan begitu cepat dan dengan tanpa gambaran yang jelas mengantar kita pada tujuan. Dengan membawa tubuh, gerak, dan gaya teater yang tak biasa, pesan satir justru bisa diterima oleh siapapun yang ingin sejenak berhenti dan menyadari bahwa kita telah diseret oleh kekuatan yang amat cepat.
Hip hop barangkali adalah subkultur yang dalam kurun waktu dekat bisa menelurkan banyak nilai dan simbol baru. Aplikasi musik, fashion, dan gaya hidup masyarakatnya yang terbuka menjadikan ruang ini seakan menerima apapun dan siapapun menjadi bagiannya. Dulu punk digadang-gadang sebagai budaya tandingan dari hip hop tapi nyatanya banyak juga yang mampu mengawinsilangkan mereka seperti apa yang dilakukan oleh Homicide. Tak jarang juga, beberapa yang tidak menawarkan gaya baru dalam hip hop hari ini justru menjadi penawar akan kerinduan pada bangunan beat yang sederhana namun menjelajah alam tekstual yang dulu menjadi kekuatan rap sebagai bagiannya. Tak banyak yang mengenal Alfabeta, satuan hip hop dari Ternate yang keriuhannya sudah ada sejak 2012. Sempat menelurkan album penuh berjudul Dream Rhyme Amazing atau yang biasa disingkat D.R.A., pada bulan April kemarin mereka meluncurkan EP berjudul Pancarima. Mengambil judul yang tegas dan menyindir, Alfabeta menekankan ‘rima’ sebagai kekuatan tekstual dari produk hip hop pada rilisan terbarunya. Rasanya sudah banyak wajah baru yang tampil hip hop namun terbata-bata saat menyusun rima, butuh waktu untuk wajah-wajah baru itu punya kualitas seperti Alfabeta. Mengambil bangunan dan beat beragam untuk setiap lagunya, 5 lagu mereka memberi variasi yang membuatnya mudah dinikmati. Yang menarik dari proyek baru mereka ini adalah hadirnya nama Senartogok, seorang vokalis folk yang juga banyak meremix beberapa lagu lintas-genre pada kanal YouTubenya. Senartogok campur tangan pada dua lagu dan salah satunya adalah pada lagu ‘Budi’ yang jika didengarkan dengan seksama terdapat sample lagu Tigapagi “Tangan Hampa Kaki Telanjang” yang petikan gitarnya diulang dan memberi nuansa nada pentatonik untuk mengiringi beat pada lagu. Jika produksi musik hip hop East Coast banyak mengemban sample tiupan terompet jazz, Alfabeta dengan cermat menggunakan elemen yang terasa lebih tradisional untuk mewarnainya. Ditambah muatan lirik yang penuh perhatian, bisa jadi Pancarima adalah rilisan hip hop dalam negeri terbaik menuju pertengahan tahun ini.
Dalam ajang Venice Biennale 2017 bulan lalu, perupa asal Inggris, Damien Hirst menampilkan pameran karyanya yang diberi judul “Treasure from The Wreck of The Unbelievable’s”. Ia menampilkan karya-karya barunya dalam sebuah balutan pameran temuan ekspedisi, lengkap dengan sebuah video dokumenter seolah-olah Hirst mengangkat artefak-artefak tersebut dari dalam lautan. Dalam pameran yang dilangsungkan di Punta Della Dogana itu karya Hirst seperti mengubah pameran karya seni rupa menjadi eksibisi artefak kuno. Beberapa patung ditampilkan lengkap dengan “sisa” koral yang masih menempel seperti salah satu patung yang ia beri judul “Cronos Devouring his Children” Sempat tak melakukan pameran selama hampir 10 tahun, Hirst membuka ruang diskursus yang baik untuk merespon kesenian kontemporer dengan proses arkeologis yang dilakukan untuk menerjemahkan peninggalan peradaban. Hirst mengeksplorasi berbagai teknik dan material seperti logam dari berbagai unsur yang ia tampilkan seperti seolah-olah perhiasan yang sudah tenggelam dan menjadi semacam harta karun. Usahanya ini membuka ruang wacana tentang apa yang disebut sebagai karya seni kontemporer dengan sesuatu seperti “harta karun”. Keduanya memiliki nilai dan tentunya “harga” yang juga hampir sama. Menuju akhir penutupan pameran, ada satu isu kalau Hirst melakukan cultural appropriation atau mengambil dan mengakui sautu bentuk kesenian dengan menampilkan sebuah karya yang Hirst beri judul “Golden Heads (Female)” yang mengimitasi bentuk patung yang berasal dari Nigeria. Victor Ehikhamenor, seorang seniman dari Nigeria yang datang melihat karya tersebut langsung mengunggah foto karya dan memberi tambahan “the British are back for more!”. Menurutnya Hirst tak memberi pengetahuan yang layak mengenai Ife, bentuk kesenian patung kepala manusia dari Nigeria yang dengan khas memberi tekanan garis pada kontur wajah patung. Patung Ife adalah produk kebudayaan orang Yoruba dari Nigeria dan saat kolonialisasi Inggris di Nigeria berlangsung, beberapa patung tersebut ada yang dibawa dan disimpan di The British Museum. Apa yang Hirst tampilkan pada showcase ini adalah koleksi karya yang dipengaruhi oleh berbagai kebudayaan di banyak penjuru dunia dan pada kurun kesejarahan yang panjang. Koleksi karya Hirst ini merespon peninggalan peradaban dan pada patung “Golden Heads (female)” Hirst mengambil material emas untuk membalut patung yang sebelumnya dalam produk Ife menggunakan perunggu. Lewat sentimen seorang seniman asal Nigeria yang merasa kebudayaannya diambil oleh Hirst itu timbul satu pertanyaan: “Sejauh apa seni kontemporer bisa merespon bentuk dan nilai kebudayaan tertentu?”
Membicarakan makanan memang tak pernah ada habisnya. Ia bisa dikupas dari pelbagai sisi. Lewat buku yang berjudul Feast for the Eyes, Atelier dan Sonya Dyakova mencoba membahas makanan dari kekayaan sejarah fotografi. Diterbitkan oleh Aperture, Feast for the Eyes memberi pandangan bahwa fotografi makanan dapat dibentuk melalui lintas disiplin; seni fashion, jurnalisme, relasi sosial, sampai periklanan yang nantinya dapat dilihat bagaimana fotografi ini berkembang seiring berjalannya waktu. Dalam proses pembuatan buku ini, serangkaian estetika berbeda hadir pada periode waktu tertentu. Menjadi tantangan ketika berbagai pengambilan gaya digabungkan agar memudahkan pembaca mencerna isi yang ada. Di satu sisi dapat menyajikan kualitas visual yang bagus, di satu sisi dapat menjadi santapan bacaan untuk semua kalangan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah Feast the Eyes menggunakan perpaduan gaya kitsch dan retro sebagai inspirasi; menghasilkan keseimbangan antara baru dan lama. Memenuhi eksistensi masa kini dan mewujudkan sisi kontemporernya, membuat buku ini memancarkan kualitas secara ilustratif dan variatif. Secara garis besar, Feast for Eyes menyadarkan tentang dua hal: bagaimana makanan berpusat pada hidup kita dan kita tak segan untuk terus mendokumentasinya lebih dari yang pernah ada, sekaligus mengkritisinya tentang fenomena unggah foto makanan di media sosial; yang terkadang menegaskan esensi makanan sebagai objek visual belaka.
Setiap tahun sejak 1977, tanggal 18 Mei diperingati sebagai International Museum Day. Museum Nasional adalah museum terbesar dan yang dikelola oleh pemerintah untuk menampilkan artefak dan produk kebudayaan Indonesia. Dalam waktu dekat Ruang Rupa sebagai kolektif Ibukota menjadi penampil sekaligus pengampu sebuah showcase memperingati International Museum Day dengan Museum Nasional bertajuk “RRREC Fest at The Museum 2017”. Jika sebelumnya RRREC Fest dikenal sebagai perhelatan konser musik Ruang Rupa yang beberapa tahun belakangan digelar di alam terbuka, kini kemeriahan dan keceriaan dalam RRREC Fest dibawa ke celah-celah lorong museum. Sejalan dengan tajuk International Museum Day yang digelar di seluruh dunia: “Museums as tools for creating peaceful communities” dan lewat garis besar Museums and contested histories: saying the unspeakable in museums, RRREC Fest membawa ruang museum sebagai alat untuk membicarakan nilai-nilai keseharian dan mengembalikan pengetahuan serta nilai kebudayaan sebagai alat membangun perdamaian di antara masyarakat. Berikut adalah siaran program RRREC Fest At The Museum 2017 yang berlangsung dari tanggal 18-24 Mei 2017 di Museum Nasional: Thursday, 18 May 2017 / 16.00 – 20.00 Lobby Gedung B, Museum Nasional Indonesia Jl. Medan Merdeka Barat, No.12, Gambir, Jakarta Pusat. Opening Program: 16.30 – 17.00 Opening Ceremony 17.30 – 18.00 Bina Vokalia Choir 18.30 – 19.30 Pasar Ilmu by Serrum, Live Printing by Grafis Huru Hara 19.00 – 20.00 DJ Sattle 20.00 – 20.30 Music Performance: Jason Ranti 18 – 24 MAY 2017 , menampilkan Aprilia Apsari, Cut & Rescue, Grafis Huru Hara, Kelas Pagi Jakarta, Marishka Soekarna, Serrum, The Jadugar, dan The Popo 18, 20 & 21 MAY 2017 , lineup: A Fine Tuning Creation, Adrian Adioetomo, Bina Vokalia, Bottlesmoker, Dangerdope, Jason Ranti, Joe Million, Nona Ria, Ramayana Soul, White Shoes & The Couples Company, Music Selecta’: Sattle’. Untuk mengetahui lebih lanjut informasi mengenai program festival dapat diperoleh di: Twitter: rrrec_fest | @MuseumNasional Instagram: rrrec_fest | @MuseumNasional Facebook: RRRec Fest | MUSEUM NASIONAL INDONESIA MUSIC – ART EXHIBITION – FILM SCREENING – WORKSHOP – TALKS – BAZAAR – ART EXHIBITION “THE ARCHIVE OF NOWHERE”
Menyambut hangatnya musim panas merupakan ritual wajib yang dilakukan bagi setiap orang tak terkecuali di Indonesia. Menyusun jadwal liburan, menentukan tempat vakansi, serta menimbang pelbagai kegiatan apa saja yang dilakukan adalah deretan contoh terkini. Asal bahagia, asal menarik tawa. Hal itu dipahami betul oleh Seazoo dengan melepas nomor baru yang menggambarkan kemeriahan pesta karnaval dan keceriaan pinggir pantai. Adalah “Roy’s World” yang menjadi tajuk lagu kuintet indie-pop dari Wales ini. Track sepanjang 3 menit tersebut menyediakan hal-hal yang bisa dinikmati; kocokan gitar jangly, liukan harmoni keyboard, sampai pukulan upbeat yang meriah. Hasilnya? “Roy’s World” dapat dipasang sembari bertukar cerita bersama kawan maupun menghabiskan siang yang terlampau sulit dilupakan. Seazoo memasukan “Roy’s World” dalam bagian album penuh yang rencananya dirilis di bulan Mei. Direkam pada jarak yang memisahkan antara studio rumah di sisi gunung Radnorshire dan bunker nuklir Wrexham, “Roy’s World” mengingatkan pada pesona Comet Gain, Hot Chip, maupun The Field Mice. Tapi yang terpenting: sertakan dalam usang dan putar kencang-kencang menuju medan penghiburan.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.