Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Mitos itu terlahir kembali. Setelah dibuat kali pertama pada 35 tahun yang lalu, mereka datang membawa penerusnya; Blade Runner 2049. Perlu diketahui, Blade Runner adalah pendobrak batasan. Kita mungkin tak pernah membayangkan bagaimana jadinya jika kompleksitas sci-fi digabungkan bersama dimensi noir yang . Namun Ridley Scott sudah memikirkan di kepalanya. Lewat Blade Runner, Ridley Scott seakan mengingatkan umat manusia tentang krisis bernama mempertanyakan kehidupan. Apabila semesta tak lagi bertumpu humanisme, lantas apa yang ingin diharapkan? Apabila di film pembuka topik berputar di sekitar perburuan serta kemelut identitas, kali ini Blade Runner 2049 mengambil latar waktu 30 tahun pasca 2019 di mana Opsir K (Ryan Gosling) dari kesatuan LAPD dihadapkan pergulatan serius mengenai kemanusiaan yang mendekati kemusnahan. Ia memutuskan untuk menelusuri pangkal permasalahan sekaligus menuntunnya pada sosok legenda, Rick Deckard (Harrison Ford). Dalam trailer resmi berdurasi 3 menit tersebut, suasana serta sangat terasa seperti premis terdahulu. Kekacauan membayangi setiap jengkal rutinitas di balik deru modernitas maupun dominasi mesin-mesin transformasi massal. Tatapan Gosling yang sulit diterka, ketakutan Ford, hingga makna ganda ketenangan Leto meramaikan fragmen demi fragmen. Menyimpan banyak misteri yang sengaja diacuhkan atau menunggu untuk dipecahkan. Di seri keduanya, Ridley Scott menyerahkan tongkat estafet penyutradaraan kepada Dennis Villeneuve (Prisoners, Sicario, Arrival). Nampaknya Ridley percaya bahwa karya emasnya bakal berkembang apabila diserahkan pada tangan yang tepat. Melihat reputasi Villeneuve yang dikenal pintar memainkan plot, Ridley tak perlu khawatir buah hatinya jatuh di pasaran. Ditambah pula keberadaan Roger Deakins sebagai pengambil gambar maupun Hampton Fancher selaku penulis naskah, membuat Blade Runner 2049 pantang dilewatkan di bulan Oktober.
Dalam perkembangannya, fotografi semakin berperan penting di setiap pertunjukan musik. Tak hanya sebagai pemanis belaka, disiplin ini juga berandil besar untuk mengarsipkan segala aktifitas yang terjadi di atas panggung. Mulai berdiri di baris paling depan sampai berkeliling ke seluruh penjuru demi mendapatkan sudut dan gambar terbaik. Mencatat visual lewat lensa berukuran proporsional agar teriak sang rockstar mampu ditangkap. Sama halnya dengan apa yang dilakukan IROCKUMENTARY.CLUB; sebuah kolektif yang bergerak pada bidang fotografi musik. Didirikan tahun 2009, IROCKUMENTARY.CLUB menampung berbagai fotografer yang memiliki passion maupun kesamaan sikap guna mendokumentasikan gerak-gerik di gelanggang penampilan. Hingga sekarang, sudah tak terhitung lagi berapa jumlah karya foto yang mereka hasilkan seraya menemani geliat musik yang terus tumbuh subur di Indonesia. Atas dasar itu pula, IROCKUMENTARY.CLUB mengadakan sesi diskusi terbuka bertemakan “The Role of Music Culture in Photography.” Helatan ini bertujuan untuk berbagi cerita, bertukar pikiran, ataupun transfer ilmu kepada mereka yang menggeluti dunia fotografi, terlebih fotografi musik. "THE ROLE OF MUSIC CULTURE IN PHOTOGRAPHY” RUCI'S Joint Wednesday, 17 May 2017 19.00 pm - 21.00 pm Free of charge #RUCISJoint #collaborativespace #IROCKUMENTARY
Kolibri Rekords dikenal sebagai salah satu label yang gencar mengenalkan musisi independen ke khalayak ramai. Berbasis di Jakarta, mereka konsisten memunculkan nama-nama baru yang patut diperhatikan. Tercatat ada Atsea, Bedchamber, Gizpel, Kaveh Kanes, Low Pink, hingga Seahoarse. Masing-masing memiliki karakter dan warna yang beragam dan terpenting menunjukkan semangat muda-mudi untuk berkarya. Kali ini, kabar baik datang dari salah satu unit asuhan mereka; Seahoarse. Kuartet asal Yogyakarta yang digawangi oleh Gisela Swaragita (bas, vokal), Rudi Yulianto (gitar), Judha Herdanta (gitar), dan Aditya Putra (drum) tersebut dipastikan mengeluarkan debut album penuh bertajuk Magical Objects. Rencananya, Magical Objects akan dilepas di waktu terdekat dengan memuat total 10 (sepuluh) lagu di dalamnya. Demi memenuhi dahaga para pengikutnya, pihak Kolibri Rekords sudah menyiapkan pemesanan Magical Objects via online. Seperti dilansir pada situs resmi mereka, terdapat dua macam barang yang bisa didapatkan: CD bundle dan T-shirt bundle. Sedangkan batas akhir pemesanan dipatok tanggal 31 Mei 2017. Di lain sisi, Seahoarse juga telah melepaskan sebuah berjudul “Apprentice.” Berdurasi tiga sekian menit, nomor ini kental dengan irama surf-pop yang menyenangkan. Alunan gitar yang renyah, perpindahan yang asyik, serta ketukan yang sempurna untuk mengajak pemirsa larut menjadi ciri khas tersendiri; dan mungkin menggambarkan bagaimana Magical Objects nantinya. Apabila kondisi batin berada di ambang keterpurukan, putar “Apprentice” lalu biarkan keriaannya meresap di kepala.
Sudah beberapa minggu sejak Humanz dirilis dan diperdengarkan. Beberapa video animasi khas juga telah mewarnai kanal YouTube sebulan terakhir ini. Setiap telinga dan jiwa memiliki kesan masing-masing untuk memaknainya. Albarn dan Hewlett masih mengemas album Gorillaz seperti keseluruhan karya sebelumnya yang banyak menggaet banyak musisi dan talenta dari seluruh dunia. Album ini mencantumkan 24 nama kolaborator yang beberapa di antaranya adalah Vince Staples, Peven Everett, Popcaan,D.R.A.M., dan Jehnny Beth serta keterlibatan Noel Gallagher yang turut berbagi panggung dengan Albarn saat konser Gorillaz bulan lalu. Proyek musik Albarn dan Hewlett yang dimulai dari 2 dekade lalu seakan ingin mewujudkan gagasan yang mereka pertahankan untuk selalu menggiring barisan artis yang variatif. Setelah fantasi akan peperangan dan perilaku konsumerisme serta masyarakat dilukiskan oleh album The Plastic Beach, muatan gelap Humanz menarasikan perubahan politis dunia yang terkesan tersegregasi. Kurang lebih ketakutan Albarn saat Trump terpilih serta bangkitnya individualisme menjadi ironi yang nyata saat album ini dirilis. Lewat judulnya tertanam pesan tegas tentang manusia dan kemanusiaan yang kini menghadapi fase baru. Beberapa mungkin masih kecewa karena album ini nyatanya tidak menghadirkan nuansa musik yang menghasilkan kekuatan seperti pada dua album pertama mereka. Banyak yang mengharapkan Albarn mengambil porsi vokal dan menuangkan senandung yang layak dilagukan lagi seperti dalam salah satu lagu terbaik mereka ‘Feel Good Inc.’, tetapi nyatanya bangunan musik belasan tahun lalu itu tidak diulang. Di sinilah justru musikalitas dan muatan pesan yang Humanz emban mengambil jalan yang sama, menghentikan romantisisme dan melakukan transisi yang berarti. Masih ada beberapa nuansa lagu yang kuat seperti pada potongan lirik repetitif yang dinyanyikan Vince Staples dalam lagu Ascension. Bagi beberapa telinga yang terlalu akrab dengan nuansa Demon Dayz, jelas ada keraguan untuk menerima Humanz yang instrumen dan nuansa musiknya lebih Di luar musikalitasnya, muatan Gorillaz juga dapat dicermati lewat visual yang lebih sederhana. Mengambil video musik yang lebih canggih, dunia yang 2D, Murdoc, Russel, dan Noodle jalani dalam video lebih nyata dan dengan memberi visual keseharian tentang kota, masyarakat urban, dan fantasi sederhana akan rumah horor. Lebih jauh, masih ada edisi Deluxe Vinyl Box Set yang rencananya baru akan dirilis Agustus nanti, memuat beberapa lagu baru yang belum pernah didengarkan untuk menjadi tambahan pada album baru mereka ini. Lengkap dengan sebuah Artbook, bisa jadi kemasan ini nantinya memberi muatan tekstual yang mendukung pesan satir dari Humanz seperti saat merilis album pertama ketika mereka juga memuat sebuah buku berjudul Rise of The Ogre! yang menarasikan kisah fiksional para karakter Gorillaz.
Dalam studio yang sepi, Danielle memainkan piano klasiknya. Tatapannya tenang seolah ia sudah bersiap menyalurkan emosinya sejak lama kala intonasinya perlahan menyibak kesunyian. Menjelang , Este mulai menimpali pondasi yang telah dirancang. Sedangkan Alana berupaya memenuhi bagiannya dengan kontemplasi distorsi yang minimalis sebelum akhirnya mereka menuntaskan klimaks; pukulan perkusi dan teriak pengharapan. Gambaran tersebut merupakan garis besar dari terbaru trio asal Los Angeles, HAIM yang berjudul “Right Now.” Selain memiliki karakter kuat, “Right Now” juga ditunjang secara sinematik oleh Paul Thomas Anderson (PTA). PTA dengan baik menangkap makna nada yang termaktub; menyoroti keintiman melalui sederhana selama hitungan menit berjalan. Tak lebih, tak kurang. “Right Now” menjadi bagian dari album penuh mereka bertajuk Something to Tell You yang rencananya akan dirilis pada bulan Juli mendatang. Memuat 11 (sebelas) nomor, HAIM masih membawa nuansa pop-rock yang menyegarkan. Jika dihitung, butuh waktu empat tahun untuk HAIM melepas rilisan kedua setelah Days Are Gone yang banjir pujian.
Jatuh hati tak mengenal situasi. Ia dapat lahir dalam bilik ketidakmungkinan, perkara ketidaksengajaan, ruang keraguan, di antara kepadatan ruas jalan, penduduk yang saling berkejaran menimbun masa depan, hingga gedung bertingkat dan rumah-rumah kumuh tanda kesenjangan. Saajan Fernandes (Irrfan Khan) dan Ila (Nimrat Kaur) adalah dua orang yang tak saling mengenal. Saajan bergelut dengan dunia akuntan dan rencananya untuk pensiun dari jabatan. Sedangkan Ila, hanya ibu rumah tangga yang berupaya mendapatkan perhatian dari suaminya. Sampai akhirnya, kotak makanan menghubungkan hari-hari keduanya. The Lunchbox merupakan drama romantis yang mengisahkan ikatan personal dari tokoh yang melawan keadaan. Apabila kebanyakan alur semacam ini berujung klise yang mudah ditebak, tidak demikian dengan The Lunchbox. Menggunakan medium yang unik, mereka merekatkan hubungan hangat sekaligus intens. Bercerita tentang keseharian maupun kehidupan, lalu terbawa arus yang menghanyutkan perasaan di balik lezatnya samosa dan parata. пинап казино есть большое количество азартных игр. В лобби сайта можно найти более 3000 классических и современных слотов, которые поражают своей графикой и увлекательными сюжетами. Все игровые автоматы имеют отдачу до 98%, что позволяет гемблеру выигрывать yang terlampau memekakan telinga. Tapi dengan menyaksikan The Lunchbox, kita musti sadar bahwa India mahir dalam memainkan urusan sederhana yang sering terlewat di depan mata; dan kita tak pernah menyadarinya. The Lunchbox (2013) Sutradara: Ritesh Batra Sinopsis:
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.