Blog

Latest stories

31.05.17

Kolaborasi Sejalur dari Ar&thvsa

Selepas merilis terakhirnya dua bulan silam, Andre& kembali hadir dengan anyar berjudul “Roadin.” Kali ini, ia turut serta mengajak Arethvsa yang mana juga pernah berkolaborasi dengannya di nomor “Softside of Love.” Pemilihan Arethvsa sebagai tandem Andre& bukan tanpa alasan. Selain memiliki vokal emas yang mengingatkan pada sosok Erykah Badu, pemikirannya juga menyumbang kontribusi dalam pengembangan lagu - di mana dalam proses pengerjaannya, Andre& memberikan beberapa potong kepada Arethvsa untuk dipelajari terlebih dahulu sebelum Arethvsa mengisi bagiannya yang kental dengan nuansa 90’s RnB. Inspirasi pembuatan lagu pun “Roadin” berawal ketika Andre& sedang mengulik melalui mesin perangkat lunaknya. Dari situ ia merasa mendapati aliran ide yang banyak terlebih pasca mendengarkan lagu milik Joyce Wrice, “Rocket Science.” Kiranya, nomor-nomor tersebut mampu menjadi sebuah makanan pembuka sebelum menyantap sajian EP Andre& di bawah identitas Ar&thvsa.

30.05.17

Menghindari Depresi Bersama Kursus Fisika

Lagu dibuka dengan nuansa yang cukup gelap; tempo merayap, bayangan letupan distorsi, serta konstelasi memabukkan. Berselang kemudian, hentakan drum yang penuh presisi menemani transisi irama sekaligus mengajak telinga meluapkan kenikmatannya. Kira-kira seperti itu gambaran terbaru dari unit alternative-rock asal Yogyakarta, Kursus Fisika yang berjudul “Dye Your Hair, Don’t Die.” Dibentuk pada pertengahan 2016, Kursus Fisika menjadi nama yang tepat untuk merepresentasikan hari-hari seorang remaja sekolah yang bolos kelas kursus untuk ke studio musik dan memulai sebuah band. Namun alih-alih bicara tentang mata pelajaran yang membuat kepala mumet, unit ini merilis lagu dengan nuansa mengenai momen-momen depresi dalam kehidupan, serta menegaskan bahwa bunuh diri bukan jawaban yang dibutuhkan. Lewat lagu ini pula, unit ini menekankan anggapan ketimbang mengakhiri nyawa, mungkin mengecat rambut dengan warna-warna mencolok; yang dianggap sebagai pertanda seseorang mengalami sebuah fase menarik, dapat menjadi salah satu solusi.

29.05.17

The Breakfast Club dan Asupan Gizi di Waktu Pagi

Ada yang berkata bahwa cara tepat untuk merawat sebuah kenangan masa lampau adalah dengan memeluknya erat. Mendekap penuh hangat serta menjaganya agar esensi yang terkandung dapat disalurkan di momentum mendatang. Kiranya hal itu pula yang sekarang dilakukan oleh kolektif asal Malang, The Breakfast Club. Pasca melepas tiga nomor berjudul “Daisy”, “Distance”, serta “My Humanoid from the Outer Space” di tahun 2016, kali ini, The Breakfast Club kembali merilis nomor baru berjudul “Silent Caravan.” Sebuah lanskap yang menceritakan perihal kenangan serta upaya menikmati masa kebebasan. Apabila ditelisik lebih jauh, aroma 90’s indie/jangly pop ala Ballads Of The Cliché, Aztec Camera, Belle & Sebastian begitu terasa pada lagu-lagu mereka. Komposisi yang sederhana dengan warna riang juga tanpa beban menghiasi sudut-sudut rutinitas bersama keinginan menghilangkan penat di kepala. Beranggotakan Mucho Karmuko (vokal) dan Bimo Soerjoputro (gitar), The Breakfast Club dibentuk di tahun 2015. Rencananya, EP perdana mereka yang bertajuk Morning People akan diluncurkan ke khalayak ramai dalam waktu dekat. Membawa roman kejayaan Britpop, musik mereka patut dimasukan ke saku playlist guna menemani hari-hari yang membosankan. https://soundcloud.com/wearethebreakfastclub

29.05.17

Quick Review: Paterson

Jim Jarmusch, lewat karya terbarunya bertajuk Paterson, sengaja memberikan keleluasaan tafsir mengenai kisah pasangan di sebuah kota kecil. Tidak berbeda secara esensi dibanding film-film terdahulunya, Paterson menawarkan eskapisme, namun kali ini lebih berkat cerita. Seiring bergulirnya waktu, kedua tokoh utama dihadapkan pada kondisi di mana kenyamanan yang selama ini dirasakan dihadapi dengan fase kemustahilan. Film ini menangkap relasi intim antara keheningan-keheningan yang biasa dialami oleh manusia dalam keseharian, tanpa harus menambahkan tendensi sebagai bentuk artistik. Lewat film ini, Jim Jarmusch membuktikan kepiawaiannya dalam mentranslasi skenario menjadi mudah dinikmati penonton dari segala kelas. Didukung dengan dan alur yang tepat, Paterson menjadi film yang dapat ditonton berulang kali dengan sudut pandang berbeda. Paterson (2016) Sutradara: Jim Jarmusch Sinopsis: Berfokus pada Paterson, seorang pengemudi bus di kota Paterson, New Jersey. Setiap hari, Paterson selalu melakukan aktivitas yang sama dalam rutinitasnya yang sederhana, dia mengendarai busnya di rute yang sama, melihat kiri kanan kota itu melalui spion busnya sambil mendengar orang-orang berbicara di sekitarnya. Dia menulis syair di dalam laptopnya, berjalan bersama anjingnya, lalu berhenti di sebuah bar dan minum bir dan tepat hanya satu gelas saja, kemudian dia pulang ke istrinya Laura. Namun berbeda halnya dengan hati Laura; baginya dunia terasa terus berubah. Sebuah mimpi baru selalu hadir dipikirannya setiap hari. (Film Bioskop)

26.05.17

Senandung Trauma dalam “Menara Ingatan” oleh Teater Garasi

Sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan oleh pergerakan atas dasar konflik. Transisi kekuasaan dari era kolonial dan kemerdekaan menyisakan daftar sejarah yang memuat riwayat perang. Lewat sebuah pementasan bertajuk Menara Ingatan, Teater Garasi membawakan suguhan teater-musik yang mengangkat kembali riwayat-riwayat konflik di tanah air. Adalah Yennu Ariendra yang menginisiasikan pementasan tersebut. Yennu yang dikenal juga sebagai gitaris dari grup musik Melancholic Bitch ataupun Belkastrelka berusaha mengangkat lagi riwayat konflik tanah air. Ia menceritakan sebuah memoar akan kakeknya yang menjadi korban tragedi 65 pada pengantar pertunjukan. Penampilan “Menara Ingatan” ini didasarkan juga pada riwayat konflik yang signifikan seperti cerita Minak Jinga dan Suku Osing yang dalam sejarahnya selalu menolak dan berkata “tidak” pada kekuasaan yang represif. Teater Garasi dan Menara Ingatan, melakukan manajemen ruang yang baik untuk menampilkan musik dan teater yang proporsional. Pemain musik, penyanyi, dan para pemain teater berbagi panggung dan memainkan repertoire musik berbarengan dengan gerak dan olah tubuh dan eksplorasi properti. Kecermatan komposisi musik yang dibangun oleh Yennu dan kawan-kawan berangkat dari bangunan musik kontemporer yang beragam lewat perpaduan berbagai alat musik tradisional dan efek suara. Menarik bisa mencermati bentuk dramaturgi yang fleksibel dengan menggunakan bantuan medium musik. Saat gerak pemain dan repertoire lagu makin liris, selanjutnya tiba-tiba musik dangdut koplo dimainkan dan lampu warna-warni ikut menyoroti menonton. Ada unsur partisipatoris juga di sana, penonton diminta memakai properti topeng hewan berkulit merah dan diminta ikut berjoget. Saat penggambaran konflik mulai kuat dan berangsur liris, nyatanya semua dibuat lupa oleh sorotan kegembiraan dan perayaan. Jika isu konflik biasanya dibawakan pada karya yang eksplisit mengambil contoh, pelaku dan korban menjadi sorotan yang sensitif. Dengan membawa nuansa dan muatan yang disembunyikan, isu konflik menjadi sesuatu yang bisa direnungkan. Begitulah “Menara Ingatan” ditampilkan, memberi ruang refleksi atas konflik tanpa membebani pandangan tertentu.

24.05.17

Quick Review: American Gods

Belakangan, serial televisi Amerika dan Inggris banyak mengadaptasi buku yang telah lebih dulu terbit. Kesuksesan Game of Thrones yang dianggap sebagai serial terbaik sepanjang masa, menjadikan alih wahana buku ke dalam layar seperti hiburan yang baik untuk mengisi kesenjangan hiburan lokal. Nama Neil Gaiman sebagai penulis kontemporer yang penting memiliki tempat tersendiri bagi beberapa penggemarnya. Banyak rencana untuk mentransformasi beberapa tulisan Gaiman sebelumnya seperti novel grafis Sandman yang belum terealisasi sampai sekarang, namun mungkin tahun ini bisa jadi tahun yang baik karena American Gods mulai disiarkan. Dengan visual dan yang mendukung cerita, American Gods berkomitmen untuk menjalankan keseluruhan buku. Neil Gaiman dibawa sebagai produser eksekutif yang mengawal berbagai proses dari mulai hingga penyutradaraan. Bisa jadi, Gaiman ingin para pembaca dan penggemarnya yang lebih dulu membaca American Gods tidak kecewa dengan jalan cerita dalam serial yang bisa jadi cacat jika diterjemahkan oleh sembarang orang untuk kemudian diangkat ke dalam layar. American Gods kaya akan referensi mitologi. Tak hanya mitologi Nordic dan Slavic namun juga mengangkat tokoh-tokoh dari mitologi Mesir dan Hindu. Sederhananya, cerita dalam American Gods mengisahkan para dewa lama (Old Gods) yang akan berkonfrontasi dengan dewa baru (New Gods). Jika ditafsirkan secara kasar, Gaiman menghadirkan sajian konflik antara keyakinan lama yang digerus oleh modernitas. Peradaban dibangun oleh perang dan keyakinan yang berdasar pada suatu aspek dan simbol tertentu yang seiring waktu mengalami perubahan. American Gods adalah cerita yang menyediakan ruang yang baik untuk kembali mempertanyakan keyakinan dan membuka pandangan atas kekuasaan-kekuasaan yang kita kehendaki.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.