Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Menyimak jalannya film besutan Denis Villeneuve ibarat menyaksikan kondisi global hari ini yang sering muncul di kanal media berbayar ataupun warta cetak setempat - dipaksa tegang mengamati dan tak paham bagaimana akhir dari yang terjadi. Menggunakan premis sederhana untuk filmnya, publik pun menerima Villeneuve dengan tangan terbuka dan hal tersebut memang tak bisa dipungkiri karena ia bukan sekadar sutradara kemarin sore yang menonjol di layar pertama. Villeneuve adalah hasil proses yang ditempa ribuan ide secara terus-menerus dengan durasi tak sebentar, dan lewat film pertamanya, Prisoners, ia membuka mata dunia mengenai potensinya. Film ini menuturkan misteri hilangnya sepasang anak dari dua keluarga di Pennsylvania pasca merayakan kunjungan Thanksgiving. Tanpa disadari, tanpa jejak, tanpa pertanda, keberadaan mereka lenyap dan seketika menimbulkan serangan panik bagi sang orang tua. Dari awal film, penonton diajak menyelusuri intrik yang membingungkan logika dengan apik lewat akting Hugh Jackman dan Jake Gyllenhaal berusaha membalap jalan waktu untuk menemukan anak yang hilang. Prisoners kiranya berhasil mengawali langkah perhitungan seorang Denis Villeneuve. Walaupun kritikan perihal monotonnya film ini sejak babak mula terdengar di sekitar telinga, tapi keseluruhan berkata bahwa Prisoners hadir mengesankan. Dari sini kelak kita menyaksikan dan perlahan memahami isi otaknya yang ditumbuhi keliaran menyoal mafia narkoba di film Sicario, abstraknya konflik sci-fi di Arrival, dan menerka-nerka kerumitan humanisme pada Blade Runner 2049. Prisoners (2013) Sutradara: Denis Villeneuve Sinopsis: Dari menit beralih ke jam, panik adalah satu-satunya yang ada dalam diri Dover. Sementara petunjuk hanya ada lewat RV bobrok yang tadinya di parkir di jalan mereka. Detektif Loki (Jake Gyllenhaal) telah menangkap pengendara RV itu, Alex Jones (Paul Dano). Tetapi penangkapan itu masih kurang bukti untuk menjadikan Alex seorang tersangka. Mengetahui nyawa putrinya sedang terancam, Dover memutuskan tidak ada pilihan lain kecuali menyelesaikan masalah ini dengan tangannya sendiri. (Film Bioskop)
Adrian Yunan terbangun pada suatu pagi dari suatu mimpi. Meski sulit diingat kembali apa isi dari mimpi itu, namun nyatanya mimpi itu cukup mendorongnya untuk kembali bangkit. Titik balik inilah yang kemudian menggugah niatnya untuk merilis album perdananya sebagai seorang solois. Sebelumnya, Adrian berkarir sebagai basis dari Efek Rumah Kaca. Memang sejak 2010, Adrian Yunan terpaksa absen dari panggung dikarenakan kondisi tubuh dan matanya yang terus menurun. Ia pun kemudian vakum dan fokus pada kesehatannya. “Saat itu saya merasa amat terpukul. Hingga di titik terendah, saya hanya hidup di atas tempat tidur saja tanpa melakukan apapun,” ujar Adrian. “Saat bangun saya jadi terpikir, apakah saya mau melanjutkan hidup sebagai orang yang kalah atau yang menang.” Akhirnya, Adrian menemukan bahwa dengan menulis lagu, ia mampu berangsur-angsur memulihkan kondisi fisik dan mentalnya. Kegiatan menulis lagu inilah pula yang menjadi semacam terapi bagi Adrian, yang memang sudah berpengalaman menulis lagu bahkan sejak sebelum Efek Rumah Kaca terbentuk. Dan benar, melalui menulis lagu Adrian pun melanjutkan hidup. Lagu demi lagu ia tulis, bahkan ia pada saat itu tidak memikirkan akan merekam lagu-lagu tersebut atau tidak. Yang jelas, kegiatan tersebut ialah bentuk kepulihannya. Memang pada akhirnya beberapa lagu yang ia tulis pada saat itu masuk di album ketiga Efek Rumah Kaca, namun tak sedikit yang tetap tak terpakai. Ide menjadikan lagu-lagu tersebut sebagai suatu kesatuan dalam sebuah album solo bagi Adrian pertama kali muncul dari Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca. Dengan bersemangat Adrian pun menyanggupinya, dan kemudian mengambil judul Sintas. Judul tersebut sendiri berarti bertahan hidup dalam kondisi yang tidak diinginkan. Makna dibaliknya memang menjadi suatu bukti dari perjuangan Adrian dalam menghadapi penyakitnya, dan tetap bertahan hingga dapat bebas dari masa sulit tersebut dan menjadi seorang ‘penyintas’. “Dari awal saya baru memulai kembali menulis lagu saat jatuh sakit, saya yakin suatu saat semua ini akan lewat dan akan menjadi sesuatu yang baik. Akhirnya terbukti dengan dirilisnya album Sintas, ada hikmah positif di balik semua ini.” Lebih jauh lagi gambaran akan bentuk perjuangan Adrian menghadapi dirinya sendiri hingga bangkit dari kejatuhannya dapat disimak dalam lirik-lirik yang terdapat dalam lagunya, diantaranya “Mikrofon”, “Tak Ada Histeria”, dan “Lari”, di mana lagu-lagu ini mengandung makna penghiburan diri dan kontemplasi akan batin Adrian sendiri. Selain itu, Adrian pun mendedikasikan satu lagi bertajuk “Ruang Yang Sama” bagi sesama kawan Difabel. Interaksi sehari-hari biasa Adrian dengan istri dan anaknya juga menjadi inspirasi bagi terciptanya lagu “Terminal Laut” dan “Mainan”. Lagu-lagu tersebut seolah hadir sebagai dokumentasi pribadi Adrian akan isi-isi kesehariannya yang penuh sentuhan pribadi dan sentimental. Album Sintas sudah bisa didapatkan di beberapa toko musik mulai Senin, 5 Juni 2017.
Dunia hip hop lokal kiranya sedang menuju ke fase yang berkembang. Talenta-talenta baru bermunculan membawa karakter masing-masing. Ada yang mengusung konsep lama, membaurkan diri dengan musik terkini, hingga mengubah pakem secara drastis. Tak masalah. Semakin beragam, semakin menyenangkan. Salah satu yang patut diwaspadai adalah Baskara Rizqullah atau akrab disapa dengan Basboi. Selepas meluncurkan nomor-nomor bernas seperti “Night Drive”, “These Kids”, serta “Out of Words”, kini ia kembali datang memikul karya terbarunya; “Cozy.” Track “Cozy” bercerita tentang bagaimana Basboi menyikapi kehidupan yang harus ia hadapi dan betapa bersyukurnya ia dengan segala kenyamanan dalam hidupnya; mulai dari bertutur kata perihal kampung halaman di Medan hingga perasaan terhadap realita sekarang. “Cozy” tersusun atas dentuman contrabass yang menimbulkan nuansa pada beberapa bagian lagu (terutama di bagian intro) dan mengingatkan pendengar kepada musik-musik jazz-klasik pengiring film Whiplash sebelum berubah menjadi hip hop elektronik dengan aroma modern di bagian dan Lagu berdurasi 3 menit sekian detik ini menunjukan kemampuan Basboi dalam meramu adonan hip hop yang fresh. Sebagai pengingat, “Cozy” akan masuk dalam mini album Basboi bertajuk Night Drive yang rencananya rilis pada tahun ini.
Duo peramu multimedia lintas negara yang terdiri dari Grey Filastine () dan Nova Ruth () seolah tak kehilangan ide untuk menyuarakan teriak perlawanan melalui medium karya. Pasca merilis tiga sajian audio-visual yang tersusun atas The Miner (Maret 2016), The Cleaner (Mei 2016), dan The Salarymen (Oktober 2016), kali ini Filastine kembali hadir bersama single terbarunya yang bertajuk “Los Chatarreros.” Video tersebut merupakan seri nomor empat dari Abandon; sebuah serial video musik yang mengambil tema utama tarian pembebasan dari kelas pekerja atau penindasan buruh. “Los Chatarerros” mengisahkan perjalanan pemulung besi tua yang hampir tiap malam menyisir sudut-sudut jalan Kota Barcelona. Berbekal troli usang, sang pemulung berjalan memburu rongsokan logam bekas, besi tua, hingga sampah-sampah perangkat keras yang teronggok di tempat umum. Pekerjaan yang kebanyakan dilakoni para imigran gelap dari Afrika ini berakhir di kala fajar menyingsing; ketika itu ia akan bergabung dengan para pemulung lainnya di sebuah kios besi tua untuk antri menjual hasil ‘panen’-nya. “Orang-orang (pemulung) seperti itu sebenarnya tersebar di mana-mana, namun seperti tak terlihat mata. Kehadiran mereka juga terbilang sangat aneh untuk citra Barcelona yang sering dicap sebagai kota yang trendi dan berbudaya,” ungkap Grey Filastine yang sudah bertahun-tahun tinggal di kota Barcelona. Abandon menyajikan profil pemberontakan para buruh bernilai rendah dalam konsep visual yang unik—mulai dari sosok pekerja tambang di Indonesia, petugas kebersihan di Portugis, karyawan kantor di Amerika Serikat, sampai pemulung logam bekas di Spanyol. Terdapat suar perlawanan yang coba diterjemahkan Filastine ke dalam bentuk karya yang dapat disaksikan berbagai kalangan.
Hampir semua anak pasti pernah mengalami perploncoan ketika memasuki perguruan tinggi - setidaknya bagi mereka yang memilih untuk mengikutinya. Prosesi ini seringkali mempraktekkan beragam hal kekanak-anakan atau tidak masuk akal, seperti memakai harus menunduk ketika bertemu senior, menggunakan seragam khusus, hingga memakan ginjal kelinci - seperti di film Raw karya Julia Ducournau. Menggunakan genre horor kanibal untuk menyampaikan cerita, Julia memvisualisasikan film ini ala film Eropa, yakni dengan eksplorasi identitas diri seseorang yang dibayangi oleh keluarganya hingga elemen seksualitas dan kematian yang mengibaratkan kebebasan. Mengutip perkataan Julia, kanibalisme yang ditunjukkan di film ini ditujukan untuk menyinggung hal personal dan pada diri manusia - tepatnya pada zaman ini. Hadir dengan visual Julia mencoba mengangkat isu bagaimana hasrat tersembunyi dalam tubuh seseorang dapat menyeruak ketika ia ditempatkan pada suatu situasi. Detail-detail seperti raut wajah dan gestur sang pemeran utama pun mampu memotret gejolak hasrat dan dalam waktu bersamaan hadir dengan penuh interpretasi: apakah ia mencoba untuk menahan hasratnya atau mencari cara terbaik untuk melampiaskannya secara manusiawi. Terlepas dari jalan cerita yang penuh dengan intensitas dan nuansa erotis, sayang, pengemasan film terasa singkat bahkan meninggalkan kejanggalan dikarenakan masih banyak hal yang belum tergambarkan. Namun, mengingat ada beberapa orang yang pingsan ketika film ini diputar pada ajang Toronto International Film Festival (TIFF) 2016, nampaknya masih banyak yang belum paham maupun dapat memposisikan konsep kanibalisme dalam sebuah konteks, dan hal ini menjustifikasi jalan yang dipilih oleh Julia untuk membuat kemasan film ini lebih terasa “pop.” Raw (2016) Sutradara: Julia Ducournau Sinopsis: Raw (2017) menceritakan tentang seorang mahasiswi vegetarian muda mengikuti sebuah ritual inisiasi, yang kemudian merubahnya menjadi seorang kanibal. (sumber: Film Bioskop)
Setiap musisi memiliki caranya masing-masing untuk merayakan rilisnya sebuah album. Menggelar konser penyambutan, mencari cara yang unik, atau bahkan mungkin tidak melakukan apa-apa. Semua bebas dilakukan asal niat utama dalam melepas album sudah terpenuhi. Tapi bagi Adrian Yunan, hadirnya album musti dirayakan dengan seksama. Dalam rangka pelepasan debut album solonya yang bertajuk "Sintas", personil Efek Rumah Kaca ini menggelar helatan syukuran bersama teman-teman difabel netra pada 4 Juni mendatang. Kegiatan akan dibagi menjadi dua bagian, yakni menonton film serta dilanjutkan penampilan musik selepas buka puasa. Untuk kegiatan menonton film sendiri akan dipandu bersama program Blind Date Sinema yang diinisasi oleh Pavilliun 28. Blind Date Sinema adalah media di mana pihak Pavilliun 28 berupaya menciptakan ruang dan kesempatan bagi semua teman-teman difabel netra untuk bisa menikmati film karya sineas lokal. Dalam prosesnya, kegiatan Blind Date Sinema menggunakan peran relawan untuk membantu menjelaskan atau menterjemahkan bahasa visual menjadi bahasa verbal dengan menceritakan langsung saat film berlangsung melalui indera pendengar. Simak penuturan Adrian mengenai album solonya melalui video berikut:
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.