Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Creating his own ‘storylines’ within the Russian music scene is one way of describing Kuznetsov or Antoha MC’s (as he’s better known) unconventional yet offbeat new energy in it. Taking his music into a way of telling the story of everyday experiences, Kuznetsov describes his process as “(getting) rid of all the superfluous stuff and transform the raw material into what’s really necessary.” A combination of dream-like vibrations, combined with a realist composition into the rhythms of his inspirations, Kuznetsov shows the world just how much positive vibrations may be channeled through music that speaks about everyday muses—books, travels, moods created by a balanced lifestyle, and so on. Safe to say that Kuznetsov’s music is a literal ‘soundtrack’ to daily life, as he delivers his sincere and uplifting energy into each note. The fresh, unique, yet enjoyable works of Kuznetsov may be a worthy alternative to the usual cliche rap, as his transcendent twist on rap can take his audience not only on an uplifting trip, but also a journey of nostalgia through the lyrics.
Homoerotic, gay pride, and celebration of sexuality are definitely the highlight of Nicola Formichetti’s Nicopanda with the Tom of Finland Foundation. The collaboration that launched in accordance with the NYC Pride LGBT March, accompanied with a look book that shows just how much the issue can be turned into a creative work of art, not only for gay men but also for anyone. The collaboration may also be a visual realization of how the taboo-ness of something homoerotic that is usually deemed as a controversial subject can actually be poured into a creative framework and turned into an enjoyable piece of art. Perhaps the work may also be seen as a fresh new intake on what would normally be considered ‘graphic’ or ‘sensual’ in terms of fashion illustrations, since the featured patches and tees embracing erect men would definitely be an interesting new sight for the eyes.
Mendengar kata “diva,” ada 2 makna yang langsung terlekat padanya. Pertama adalah kata benda berupa penyanyi perempuan yang glamor, kedua adalah kata sifat yang diambil berdasarkan karakter penyanyi perempuan yang dielu-elukan tersebut. Lantas ketika sebuah bertema marak ditemui di klub-klub, wajar jika lagu yang diputar adalah lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Madonna, Mariah Carey, dan tidak lupa Whitney Houston. Hal tersebut pula yang ingin dicoba oleh Videostarr. Setelah sukses dengan Time After Time After Time, kali ini mereka hadir dengan bernama CherryBomb! Menggunakan tema kali ini 4 orang sekawan di balik inisiator deretan inklusif ingin membuat pada pemahaman publik terhadap kata “diva.” Alih-alih sekadar menghadirkan lagu diva yang kita ketahui, mereka ingin menekankan kata “diva” sebagai kata sifat. Kami berkesempatan untuk menanyakan maksud CherryBomb dan meminta 5 lagu diva versi Videostarr. seperti pada umumnya? Lewat CherryBomb, kami mencoba untuk mengangkat lagu-lagu diva dengan kemasan dan interpretasi ala Videostarr. Kami ingin memberi pada pemahaman bahwa diva itu tidak melulu penyanyi wanita glamor, tapi lebih nunjukin kalau Lagipula, diva bukan penyanyi perempuan saja kok. Lewat CherryBomb, kami mencoba untuk mengangkat lagu-lagu diva dengan kemasan dan interpretasi ala Videostarr. Kita ingin memberi pada pemahaman bahwa diva itu tidak melulu penyanyi wanita glamor, tapi lebih nunjukin kalau diva sendiri itu juga dapat diartikan kedalam beberapa aspek, dari sehingga seseorang yang mengekspresikan dirinya dengan penuh percaya diri tanpa pengaruh dari orang lain. Jadi menurut kami, diva itu tersirat dari persona yg dibawa seseorang, dan di dunia musik, persona tersebut muncul baik di musisi pria maupun wanita, sehingga diva sepatutnya tidak memandang gender. ? Karena tidak harus ada batasannya dan kami ingin me- benang merah dengan lain kita. Layaknya lagu-lagu pada Time After Time After Time, banyak lagu yang dibawakan oleh para diva ini dikesampingkan di acara dansa. Mereka sudah diasingkan ke kategori karaoke padahal kebanyakan lagu mereka sangat bisa dinikmati di acara dansa. Madonna - Holiday Tina Turner - Love Explosion George Michael - Careless Whisper Ariana Grande - Focus Titi DJ - Sang Dewi Karena mereka lintas era, genre, gender dan - Rawdeal Klapr Ankka Kamis, 29 Juni 2017 Lucy in the Sky 21:00
A feast for the eyes is certainly one way of describing this 2014-released film directed by Jon Favreau, which also stars himself. A journey of passion, dream chasing, all in the midst of a mid-life-crisis-led epiphany, Favreau takes us diving into a world of culinary creativity, while showing us how equivalent to art food may be, and also how ageless passion is. Favreau definitely did his homework by turning himself into a seemingly experienced cook with what anyone would guess to be years of experience, which came just as natural as the dimensions of emotions that the film tried to show. Following the titular Chef’s struggles in getting back onto his feet after being publicly humiliated and fired from his job, this one would probably make you think twice about settling for just about anything. Overall, Chef makes a pleasing delivery of its storyline, which is further ‘spiced up’ by its choice of soundtracks (that you probably would feel like dancing to), and of course with generous amounts of screen time for the seemingly savory delights featured in it. Be careful not to watch it on an empty stomach though! Chef (2014) Directed by Jon Favreau Synopsis: Chef follows the journeys of a struggling chef trying to re-explore his love for cooking, while also juggling the ups and downs of his personal life.
Seni memang tak mengenal batasan. Ia dapat mendobrak sekat-sekat yang kiranya sulit diterobos demi mendapatkan esensi maupun filosofis kuat di dalamnya. Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu subjek pameran Skulptur Projekte Munster; sebuah acara seni tahunan yang diinisiasi oleh Kasper Konig di Münster, Jerman berjudul After ALife Ahead karya seniman asal Prancis, Pierre Hyughe. Dalam karyanya, Hyughe membuat sesuatu yang besar, kompleks, dan rumit secara teknis maupun penyampaian pesan. Ia menyulap gelanggang olahraga yang tidak terpakai menjadi wahana kreasinya. Tak main-main bereksplorasi, Hyughe menempatkan semacam pusat pengembangbiakkan sel kanker dengan kumpulan kehidupan yang saling berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung. Walaupun terdengar mengerikan, nyatanya Hyughe juga menyertakan instrumen pengetahuan yang dapat diakses melalui aplikasi buatannya. Mulai sekedar mengetahui pola alami dalam spektrum akuarium, memonitori pergerakan bakteri, mengawasi tingkat karbondioksida, sampai memastikan data algoritma yang ia pasang guna mengukur tingkat vitalitas rata-rata maupun capaian informasi pada inkubator sel berjalan sedemikian rupa. Sebelumnya dalam documenta 13 dan Palais de Tokyo, Huyghe juga pernah bereksperimen dengan kegilaan seperti ini. Ia tak ragu mengelola interaksi algoritma dan sel kanker dalam pengendalian kecepatan replikasi. Selain itu, ia membangun lingkungan dengan patung berkepala lebah serta dua bulldog sebagai pusatnya lantas orang-orang mengelilinginya seolah sedang terjadi absurditas di depannya. Dengan After ALife Ahead Huyghe hendak menyampaikan isi pikirannya menyoal kehidupan dalam lingkup luas. Bahwasanya di balik proses yang melibatkan pelbagai perkakas berat serta formulasi sulit macam perhitungan dan lain-lain, kita, manusia, hanya bisa mengendalikan sebagian kecil dari inti kehidupan. Yang bisa kita lakukan hanya mencampurinya dengan teknologi atau mengintervensi dengan bumbu politis. Dua hal yang membuktikan jika semua tak berakhir baik-baik saja.
Sudah banyak kasus mengenai keluarnya salah satu anggota band dengan alasan ingin fokus menggarap proyek pribadi. Hal tersebut pula yang terjadi pada Peter Sagar; gitaris Mac DeMarco. Di tahun 2014 Sagar membulatkan tekad untuk mundur dari naungan Mac DeMarco guna meneruskan -nya yang sudah dikerjakan sejak tahun 2012. Membawa entitas HOMESHAKE, dalam rentang waktu 3 tahun Peter telah melepas total tiga buah studio album; In the Shower (2014), Midnight Snack (2015), serta yang terbaru Fresh Air (2017). Walaupun mengusung tema Peter tak sendirian. Ia turut dibantu oleh Mark Goetz, Greg Napier, dan Brad Loughead dalam meramu karya-karyanya yang berlandaskan synth pop hingga alternative R&B. Berbicara tentang album barunya, kita akan menjumpai banyak kontemplasi yang unik. Fresh Air memuat 14 (empatbelas) nomor yang memiliki karakter kuat nan kaya eksprimen. Misal di track “Hello Welcome”, HOMESHAKE sedikit memberikan ketukan downtempo dengan sisipan nafas jazz di petikannya. Atau “Every Single Thing” yang membaurkan aroma soul dengan pedal yang samar-samar. Dan yang terbaik tetap jatuh pada “Wrapping Up”; komposisi pengkultusan lo-fi, pola sampai abstraknya mesin efek. Dari sepetak kamar di kawasan suburban Quebec dengan peralatan seadanya yang mungkin dipinjam dari studio sebelah apartemen, Peter dan teman-temannya membuat karya orisinil tiada dua. Membicarakan masalah identitas, bosannya kancah lokal setempat, maupun mencela habis-habisan konsepsi mengenai politik terdengar lebih menyenangkan dengan balut musikalitas yang berkelindan genre. Jadi, masih menyimpan berapa ratus yang belum diedarkan ke khalayak, Peter? Fresh Air by HOMESHAKE
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.