Blog

Latest stories

23.06.17

Gimme 5 : Muhammad Fahri

Muhammad Fahri adalah gitaris dari unit horror punk, “Kelalawar Malam”. Di panggung, ia dikenal dengan nama “Fahri Al-Maut” dimana ia bersama Kelalawar Malam menawarkan bangunan musik dengan ritme dan nuansa horror yang mencekam. Dalam episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Fahri untuk memilih lima album musik pilihannya. Berat, agresif, sekaligus melodis. Lagu - lagu di album ini cocok dinyanyikan bersama sembari mengasah kapak perimbas dan menunggu serangan dari dusun tetangga. Remission mungkin terdengar lebih laki - laki, tapi Crack the Skye membuat saya ingin mempelajari ilmu kebalnya Grigori Rasputin walaupun katanya itu hanya sebatas mitos. Jangkauan vokal bagai orang kerasukan, instrumen yang tampak lebih pantas digunakan untuk berburu macan di pedalaman, dan pertunjukan yang lebih mirip ritual tolak bala ketimbang sekedar konser musik. Senyawa adalah sekte. Lebih dari sekedar grup world music, Suarasama memainkan komposisi yang variatif, poliritmik, namun tetap terdengar natural. Album ini seketika membuat saya menjadi fanboy Irwansyah Harahap. Adik saya yang pertama kali memperkenalkan saya pada Rabu. Debut album ini disertai dengan kemasan yang menarik. Besek berisi cakram padat dan perlengkapan sesajen sederhana. Putar album ini untuk menghadirkan Asu Baung dalam tidur mu.

22.06.17

Adding ‘Colors’ to Getty Images

Surely we’ve all seen at least a couple of Getty’s stock photos at some point. However, perhaps it has failed to come to most of society’s attention that those photos may be too ‘generic’, too ‘bland’, and don’t inclusively reflect the actual picture of society race-wise. In reality, society has more colors, more vibrant characters, and certainly more to include in photos that supposedly represent society’s daily, regular endeavors. British-Ghanaian photographer Campbell Addy attempts “to highlight and celebrate diversity in society and ultimately drive positive change in visual language," as he puts it, in order to ‘recolor’ Getty’s stock photos to become more inclusive of society. By further examining the complexities of racial identity, Addy also attempts to explore more of not only race but also sexualities. It may be concluded that the upcoming Getty images would no longer simply be mere illustrations of society’s daily activities, but holds the grander purpose to capture society’s colors and energies beyond the illustrative functions of a photo. The 24 year-old London based photographer’s fresh new intakes of what to capture from society may be something to look forward to. After all, they may hold more than just posing models; they may hold ‘stories’ of today’s reality, which can be seen simply by paying attention to the colorful angles captured in them. Check out the complete collection here.

21.06.17

Lorde dan Pemahaman Pasca Bersembunyi

Di saat teman-temannya sibuk memilih gaun dan mencari pasangan untuk menghadiri pesta pelepasan, Ella Marija Lani Yelich-O'Connor justru berdiam diri di kamarnya. Ia seolah tak ambil pusing dengan acara bergengsi bagi remaja berusia 17 tahun dan meneruskan membaca Anderson, Carver, dan Salinger. Baginya, memenuhi isi kepala merupakan prioritas utama yang kelak jadi bekal terbaiknya dalam mengarungi dunia musik dan menciptakan salah satu karya besar berjudul Pure Heroin. Semesta mengenalnya sebagai Lorde; gadis belia asal Takapuna, Selandia Baru yang menghentak kekagetan massal kala melepas album perdana dengan hits “Royals.” Di usia yang kurang dari seperlima abad, Lorde sudah meraih segala bentuk kesuksesan; menguasai Billboard, tur dunia, serta merengkuh piala Grammy. Semua dilakukan begitu cepat atau jika tak ingin disebut mendadak, sebelum akhirnya ia memutuskan kembali ke kehidupannya yang normal. Namun empat tahun kiranya waktu yang cukup guna melepas bermacam atribut masa silam. Ia tak dapat berlama-lama sembunyi dari kejaran penantian dan lantas mewujudkan album keduanya yang baru dirilis beberapa hari yang lalu. Melodrama, begitu judul albumnya tertera, memuat sebelas nomor yang kaya warna art pop sampai indietronica. Menggandeng Jack Antonoff selaku produser, Lorde berhasil menaikan kapasitasnya ke level yang mengagumkan. Hal tersebut dapat dilihat tatkala ia menyanyikan “Perfect Places” dengan penjiwaan yang terlampau sukar ditebak. Suaranya membelah lautan kemustahilan; terkadang meletupkan secerah harapan, terkadang pula membunuhnya secara perlahan. Tak ada yang mengerti kegelisahan seperti apa di balik kontur electro pop berdurasi empat menit ini. Tapi mengapa musti ambil pusing? Setidaknya dengan kehadiran Melodrama kita paham ke mana Lorde membawa seluruh angannya yang setapak demi setapak menerangi isi batinnya.

21.06.17

Seni dan Realita Virtual

Seni memang tidak bisa dikatakan sebagai suatu kesatuan yang tetap, tapi justru layak diapresiasi dengan kedinamisannya. Dinamika kontemporer dari senilah yang ingin ditunjukkan melalui seni Acute Art di Stockholm tahun ini, di mana beberapa seniman ternama seperti Marina Abramović, Jeff Koons, dan Olafur Eliasson berupaya menciptakan suatu realita virtual yang ditampilkan bagi masyarakat umum untuk menggugah pemahaman dan perasaannya melalui ilusi akan realita yang bertemakan eksistensi, perubahan iklim, dan pencarian pelangi di tengah rintik-rintik air. Bentuk seni baru ini memang bertujuan untuk membuat penikmatnya merasa seolah berada di tengah suatu ilusi akan realita yang digambarkan melalui sebuah alat interaktif. https://casinoreg.net provides inexperienced players with the most detailed casino FAQ virtual, menerima keberadaan dari ilusi realita yang disuguhi jenis seni seperti inilah yang justru berkesan, lebih dipahami, dan bisa tetap sebagai lebih dari sekadar pameran seni ‘asal lewat’ saja. Kehadiran pada Acute Art ini menjadi wujud nyata ketahanan seni di masa digital bahwa seni mampu progresif dalam merespon zaman - dan menggugah pikiran dan perasaan melalui realita yang diciptakannya sendiri.

20.06.17

When Sports and Sexuality Married

Two seemingly contradicting topics that aren’t supposed to be naturally related to one another. However, Japanese artist Yuki Kobayashi begs to differ by using sports as a platform for his art on sexuality. Believing that sports is an area where there are still constant racial and gender stereotypes, Kobayashi attempts to lead his audience into thinking of the body just as it is, not as a subject of classification by gender-divided clothes. He explains, “Let's just see it as a real body – this is what you’re hiding under the clothes you choose. It's a body and you can't choose how you're born. That's your original skin.” Kobayashi also believes that sexuality should be more irrelevant in sports. Explorative and experimental as he is, he tries to challenge ideas that the mind has on the body through wearing female clothes for his art inhibition. Perhaps many would wonder, wouldn’t that turn him into some sort of a cross dresser? Wouldn’t it decrease his masculinity to some extent? And more similar questions that like it or not, becomes proof that society is still unable to separate one’s sex with simply their preferences; the clothes they choose to wear, the way they choose to behave, how they choose to engage in romantic and sexual relationships. On the contrary to these biases, Kobayashi believes that the body’s sex would not go through any change regardless of the gender that has been assigned to the clothes that the body wears. Therefore, he tries to explore any possibilities of clothes being more neutral, especially in sports. His point may be proven relevant in a society where the human body is often not seen as an example of raw, natural product of biology. But rather, the body becomes a subject of a certain boy/girl label that further dictates how the body should behave. The question then remains; can society free its mind and begin to release the human body from the binding chains of gender classifications?

19.06.17

Quick Review: Personal Shopper

Kristen Stewart merupakan aktris yang berbakat. Dunia mengenalnya sebagai penerus tahta Julia Roberts atau bahkan Naomi Watts. Tapi sayangnya, ekspektasi publik terhadap dirinya terlampau berlebihan dan membuat karirnya naik turun; memainkan vampir amatiran, pemburu salju, dan tunawisma dengan penampilan biasa saja. Seiring berjalannya waktu, entah dirinya sadar atau disadarkan, Kristen Stewart mencoba memulai karir aktingnya lagi dengan membintangi deretan film yang selektif. Bakat aslinya mulai muncul di The Cafe Society besutan Woody Allen di mana ia berhasil memerankan pengkhianat cinta bersama Jesse Eisenberg. Tak lama berselang, kebangkitannya membuahkan hasil ketika ia memainkan tokoh utama di Personal Shopper yang delusional sekaligus penuh ketegangan fiksi. Personal Shopper merupakan film garapan Olivier Assayas yang menceritakan mengenai dinamika konflik kepergian dan penolakan atas kehilangan saudara tersayangnya. Stewart sukses menghidupkan dua dimensi bersamaan antara asisten selebriti ternama penuh gemerlap urban, serta seorang saudara perempuan yang menanti kedatangan kedua saudara laki-lakinya dari kematian tiba-tiba. Di tengah usahanya berkomunikasi dengan sang saudara, berlimang tekanan psikologis kuat, rasa gelisah maupun was-was, ketegangan perlahan muncul; ia menerima pesan masuk dari orang asing yang mengetahui banyak tentang dirinya. Apakah itu memang orang asing? Atau jangan-jangan saudara kembarnya, Lewis yang menuliskan pesan? Tak ada yang pernah tahu. Secara garis besar Personal Shopper berjalan menarik. Assayas bisa dibilang memasak bumbu konflik dengan takaran pas. Bagaimana ia memadukan kondisi realita dengan kepercayaan spiritual perihal kembalinya Lewis adalah kekuatan utama Personal Shopper, ditambah aksi Stewart yang mampu membantu memberi nyawa pada interpretasi naskah Assayas. Dan akhirnya kita harus mengakui; Stewart bisa memperoleh panggung penebusan kesalahannya di masa silam. Personal Shopper (2016) Sutradara: Olivier Assayas Sinopsis: Personal Shopper bercerita tentang Maureen (Kristen Stewart), seorang gadis muda Amerika yang sedang berada di kota Paris, yang mencari nafkah dengan menjadi seorang ahli belanja pribadi untuk para selebriti. Namun dibalik itu, Maureen diam-diam merasa dirinya sedang mengalami kekuatan psikis sama seperti saudara laki-lakinya yang juga merasakannya, dan dia mulai menerima berbagai macam pesan dari sumber-sumber yang membingungkannya. (posfilm.com)

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.