Blog

Latest stories

17.08.17

Penal Colony

Forum Lenteng tahun ini akan kembali lagi menyelenggarakan festival dokumenter dan eksperimental bertaraf internasional, ARKIPEL. Tahun ini ARKIPEL akan menjunjung tema “Penal Colony” yang berangkat dari cerita pendek literatur dunia karya salah satu penulis dunia, Franz Kafka yang bertujuan untuk menyiratkan semangat pengetahuan dalam mempelajari kejahatan seluas-luasnya. Dan karena film, baik fiksi maupun dokumenter adalah ranah yang paling sering mengambil fokus tentang kejahatan, maka ARKIPEL kali ini akan membahas tentang bagaimana sinema menanggapi kejahatan-kejahatan yang terjadi sekarang. Masih seperti episode sebelumnya, ARKIPEL hadir untuk menjadi ruang diskusi segala hal yang berhubungan dengan sinema dan media secara umum, mulai dari membahas setiap aspek estetika, kritik film, serta menjelaskan bagaimana peran sinema dan media melalui isu atau fenomena sosial-politik yang mempengaruhi kehidupan bermasyarakat, baik di Indonesia maupun global. Selain menjadi forum diskusi sinema dokumenter dan eksperimental, ARKIPEL akan mengundang para pembuat film muda dari seluruh dunia untuk mengikuti kompetisi internasional. Film dokumenter dan eksperimental yang terpilih akan ditayangkan di Studio XXI Ismail Marzuki dan Kineforum, serta diselenggarakan Kompetisi Internasional Kuratorial, Program Khusus Kuratorial, Pameran, dan Pemutaran Khusus Internasional. - Pembukaan Pameran Kultursinema 18 Agustus 2017, 19:00 Forumsinema & Lobby Hall A1 Gudang Sarinah Ekosistem . Malam Pembukaan 19 Agustus 2017, 19:00 GoetheHaus - Goethe-Institut Indonesien Diisi oleh seleksi film dari beberapa negara dan penampilan dari Frau . Kultursinema akan dibuka mulai 19-25 Agustus 2017 13.00 - 21.00 GoetheHaus, kineforum, Forumsinema . Malam Penghargaan 26 Agustus 2017 GoetheHaus - Goethe-Institut Indonesien Diisi dengan Arkipel Award Film Screening serta penampilan dari Indische Party

17.08.17

Antara Manusia dan Objek

Hubungan simbiosis antara manusia dan objek di sekitarnya adalah hal yang disuguhkan oleh Xiang Guang sebagai responnya terhadap budaya konsumen masa kini, yang menurutnya hanya melihat objek sehari-hari sebagai ‘peralatan’ dan bahkan ‘budak’ terhadap aktivitas manusia. Struktur furnitur yang jika dilihat tanpa pengguna mungkin aneh dan tidak utuh ini, memang membutuhkan seorang untuk menggunakannya agar bisa berfungsi dengan sempurna. Sebuah kursi yang baru bisa berdiri tegak jika terkait pada kedua kaki seseorang, sebuah meja yang juga baru bisa berdiri jika menyangga pada bahu penggunanya, dan sebuah lampu yang baru bisa menyala ketika dipakaikan sebagai topi pada kepala. Western saddles are used for disciplines and activities like trail riding, roping, reining, barrel racing, and calf cutting. These saddles are easily identifiable by the presence of a saddle horn and their overall large size. Many riders agree that Western saddles are more comfortable. #shop #western-saddles #online #United States #WestSad.com #WestSad. Menurut Guan, eksperimennya dalam meredefinisikan hubungan antara manusia dengan benda mati ini memiliki efek besar dalam menciptakan sebuah dunia berkelanjutan. Barangkali interaksi sepele antara manusai dengan objek sehari-hari ini memang terlalu sering diabaikan hubungan saling membutuhkannya. Dan mungkin semula akan menjadi suatu hal yang aneh untuk membayangkan bahwa memang ada hubungan antara manusia dan benda mati di sekitarnya, yang setiap hari tidak dipedulikan keberadaannya namun baru terasa merugikan jika tiada. Terhadap semua itu, Guan pun berhasil membuktikan bahwa manusia dan benda mati bisa menjadi bagian dari satu sama lain, dan memang itu tujuannya.

16.08.17

Kemerdekaan Ke-72 Indonesia Dari Mata Studio

Setiap hari kita bisa melihat bagaimana pemerintah Indonesia pelan-pelan mulai bisa memahami kebutuhan penyaluran kreativitas masyarakatnya. Dengan semakin banyaknya tokoh Indonesia yang sukses di dunia seni karena produktivitas mereka didukung oleh pemerintah, tentu ini sangat berbanding jauh dengan keadaan dulu di mana negara ini masih terasa kaku. Arah yang sekarang dipilih oleh pemerintah pastinya harus kita acungkan jempol, karena ini bisa membuka lebih banyak kesempatan untuk pemikiran-pemikiran yang lebih luas dan terbuka. Dan pada tanggal 17 Agustus, momen kemerdekaan adalah momen yang tepat untuk merayakan hal ini. Pada bulan Maret 2017 hingga Mei 2017, pemerintah mengadakan sebuah kompetisi pembuatan logo Peringatan HUT Ke-72 RI. Diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan didukung oleh Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI), ajang kompetisi ini mengajak masyarakat untuk membuat logo yang menyimbolisasikan tema HUT Ke-72 Indonesia yaitu Kerja Bersama. Tema Kerja Bersama sendiri mempunyai arti dimana pada umurnya yang ke-72, masyarakat Indonesia di harapkan bisa bergotong-royong membangun Indonesia yang lebih sejahtera dan maju. Logo yang terpilih adalah hasil ciptaan Agra Satria dari Studio Mata, anggota ADGI Jakarta. Karyanya menunjukan esensi tema Kerja Bersama, dengan desain angka 2 yang merangkul angka 7, logo ini menjadi penggambaran gotong royong dan kerjasama yang harus masyarakat Indonesia terapkan. Selain itu, logo ini disandingkan dengan slogan Kerja Bersama yang dimana kedua hal ini adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Untuk pengunduhan dan keterangan lebih lanjut tentang logo Peringatan HUT ke-72 RI, masyarakat Indonesia bisa mendatangi situs http://www.setneg.go.id/

15.08.17

Realisasi Dunia Wes Anderson

Jika pernah menyaksikan atau minimal mendengar mengenai segelintir judul karya dari sutradara Amerika Serikat yang kaya akan kekhasannya sendiri ini seperti Moonrise Kingdom, The Royal Tenenbaums, Fantastic Mr. Fox, hingga yang terbaru yakni The Grand Budapest Hotel, mungkin juga pernah mendengar bagaimana gaya pengambilan gambarnya yang simetris dan kaya akan estetika telah memainkan peran sangat besar dalam memikat penontonnya. Kesimetrisan tiap adegan yang ketepatannya perlu diacungi jempol, dibumbui dengan warna-warna pastel, serasi dan Belum lagi desain interior maupun eksterior yang ditampilkan cenderung dan seolah berasal dari imajinasi nostalgia seseorang di masa lalu membuat siapapun yang melihatnya merasa terpuaskan. Mungkin itulah beberapa kata yang bisa mendeskripsikan estetika sinematis dari Anderson. Siapa sangka, ternyata banyak orang dari seluruh belahan dunia yang bisa menemukan latar yang seolah berasal dari dunia Anderson dalam kehidupan nyata. Sebuah komunitas dari Reddit bertajuk Accidental Wes Anderson menjadi pionir gerakan berantai ini. Berbagai gambar yang diambil dengan persisi atau seolah berasal dari dunia khayalan yang menyamai ciri khas Anderson, mulai dari foto kolam renang di Jerman, bangunan hotel berwarna pastel di Slovakia, sebuah bar di Kuba, hingga tempat duduk di sebuah restoran di Tennessee, AS ini banyak mengisi sudut-sudut internet beberapa pekan terakhir. Siapa yang mengira, ternyata kemagisan sebuah adegan dari karya Wes Anderson tidak sesulit itu untuk bisa dirasakan oleh siapapun, di mana pun. Mungkin kini yang menjadi tantangan baru bagi para pemburu estetika alias pecinta kejeniusan sinematografis dari Anderson, yakni bagaimana merealisasikan kemagisan suatu tempat biasa hanya dengan memainkan persepsi - dan tentunya, sedikit imajinasi.

14.08.17

Glamor Dirty Bones di Soho, London

Sebuah usaha untuk menggambarkan kembali suasana dan keglamoran Studio 54 yang legendaris, lengkap dengan sensasi kembali ke era 70-an, Dirty Bones yang kini hadir di Soho, London tidak hanya menjadi sebuah peleburan nostalgia akan sebuah era retro dengan nuansa urban modern. Penggabungan material industri yang mentah dengan unsur mewah, seperti dalam penggunaan kain yang menutupi sebagian permukaan perabotan mampu menunjukkan eksperimentasi elemen dari Dirty Bones, yang justru makin meningkatkan daya tariknya. Mungkin sensasi berikutnya ialah dapat dirasakannya estetika sebuah apartemen yang penuh gaya dari Brooklyn, New York. Usaha desainer Lotti Lorenzetti ini untuk mereplika kembali atmosfer kultural dan musikal dari era 70-an tersebut dibarengi dengan angannya untuk juga menyuguhkan suasana familiar dan intim dari sebuah ruang publik. Mungkin kenyamanan dan keintiman rasa di antara keasingan dan kebisingan sebuah ruang publik yang mencoba disuguhkan oleh Dirty Bones justru berkontribusi dalam menciptakan atmosfer khasnya sendiri.

14.08.17

Quick Review: Cat Soup

Sebuah film animasi pendek Jepang yang mungkin membutuhkan sedikit waktu lebih untuk dipahami. Bercerita tentang petualangan seekor kucing bersama saudaranya menghadapi segala rintangan dalam perjalanannya untuk bisa kembali pulang setelah sebuah bencana melanda tempat tinggalnya. Sejenak mungkin ringkasan kisahnya tidak terlihat luar biasa. Namun percayalah, terlalu banyak surealisme dan analogi sepanjang alurnya untuk bisa ditelan mentah-mentah. Mungkin cara terbaik untuk bisa mendeskripsikan nuansa yang mewarnai film ini ialah skeptisisme, di samping surealisme dan sedikit bumbu melankolia. Satu cara untuk mempersepsikan pemaknaan dari keseluruhan film mungkin semudah pengisahan dengan analogi Tuhan, dunia, kasih sayang dalam keluarga, hubungan sebab-akibat dalam semesta, hingga keserakahan manusia. Dan tentunya, masih banyak pemaknaan yang bisa lahir untuk memahami animasi ini. Mengapa skeptis adalah hal pertama yang muncul dalam impresi animasi ini? Karena nuansa yang menghujani film dari awal hingga akhir sangat sulit untuk disebut bahagia. Mungkin satu-satunya yang menjadi penanda adanya harapan dalam film ini ialah di bagian mendekati akhir film yang menggambarkan kekuatak sentuhan kasih sayang yang mampu menghidupkan saudara sang kucing dari keadaan ‘mati.’ Walau durasinya tidak panjang, ada baiknya siapkan mental dan waktu luang untuk menonton film ini. Sutradara: Tatsuo Sato Sinopsis: Seekor kucing dan saudaranya mengalami sebuah petualangan surealis demi mengembalikan nyawa saudaranya dari kematian.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.