Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Kuartet musik eksperimental asal Jepang, Saicobab, akan segera merilis album debut mereka yang sudah lama dinanti-nantikan pada tanggal 20 Oktober. Saicobab membawa musik yang terinspirasi dari musik tradisional Jepang, tradisional India, kerohanian, dan numerologi kuno. Ditemukan pada tahun 2001 oleh pemain Sitar Yoshita Daikiti dan vokalis serta multi-instrumentalis asal Boredom dan OOIOO, Yoshimi Yokota, grup ini sekarang digabungi oleh Akita Goldman dan Motoyuki Hamamoto Album debut mereka akan diberi nama Sab Se Paruni Bab, yang berarti “bayi perempuan yang paling kuno” dalam Bahasa Hindi. Saicobab sendiri terdiri dari dua kata dari bahasa Jepang, Saico yang artinya “paling kuno” dan Bab yang artinya “bayi.” Menurut unit ini, koneksi antara kedua nama itu adalah refleksi dari hubungan antara musik tradisional India dan Jepang. Hal ini yang membuat Saicobab terinspirasi dengan musik tradisional Jepang dan India, di mana mereka berencana membuat sebuah karya dengan kedua unsur tradisional itu di dalam ranah modern yang kreatif. Album ini direncanakan akan dirilis dalam bentuk CD dan vinyl format 2 x LP dengan tambahan gratis serta eksklusif lagu “AWAWAW” oleh Cevdet Erek. Untuk beberapa pertama bisa juga mendapatkan vinyl berwarna yang terbatas. Sab Se Paruni Bab akan dirilis secara lewat Thrill Jockey, dan sudah bisa di di sini.
Bermakna bukan berarti harus berlama-lama. Mungkin itu satu cara untuk merangkum kesan pertama setelah menyaksikan film singkat karya Norman McLaren ini. Sebuah pengisahan nan kreatif akan bahaya dari ‘perang saudara’, McLaren memang berhasil untuk memotret horror dan kengerian dari ego manusia yang berapi-api, yang selalu haus akan kemenangan dengan cara yang komedik dan ringan. Semula mungkin tidak terduga, namun penampakan pertama yang menggambarkan dua pemuda bertampang lugu menikmati bacaan di depan rumah masing-masing tidak memberikan pertanda akan kekerasan yang mewarnai adegan-adegan akhir film hingga berakibat fatal. Tanpa kata, namun kaya akan ekspresi dan gerak yang sesuai. Tidak butuh kontemplasi terlalu lama untuk bisa menemukan intisari dari semuanya. Bahwasanya ego dan keserakahan yang tidak bisa dikendalikan memang bisa menyulut api bunuh diri. Dan permusuhan yang paling fatal adalah permusuhan dengan yang terdekat. Siapa sangka dua pemuda lugu yang sedang secara innocent menikmati momen bersama kawannya di pekarangan ternyata bisa memberikan pelajaran singkat namun tuntas akan ‘kanibalisasi’ akibat hati yang terlalu tinggi. Sutradara: Norman McLaren Sinopsis: Dua orang tetangga mulai berebut tanaman yang tumbuh di antara kedua rumah mereka, yang berakibat fatal.
Seniman Ai Weiwei sudah tidak asing dengan masalah-masalah perbatasan dan imigran. Dari projek-projek aktivismenya saat ia membela para imigran Suriah dengan membuat hiasan Lotus dari pelampung di Vienna, hingga pengalaman pribadi dia sendiri saat ditahan dan diawasi oleh pemerintah Cina. Sekarang, Weiwei berencana untuk mengangkat masalah imigrasi Amerika Serikat-Meksiko dan tembok yang sedang di bangun Donald Trump. Sang seniman merencanakan sebuah proyek yang megah, dan kali ini lokasinya adalah satu kota New York. Dalam proyek yang bernama “Good Fences Make Good Neighbours”, Ai Weiwei berencana akan membuat karya seni yang terinspirasi dari pagar perbatasan, kandang, serta jeruji penjara. Karya seni tersebut direncanakan dibangun di daerah-daerah pusat seperti Central Park, Washington Square Park dan monumen Unisphere dengan ukuran yang menarik perhatian. Selain itu, di sepanjang jalan akan dipasang juga karya seni 2D dan 3D yang ikut serta menyebar kesadaran masyarakat tentang masalah perbatasan tersebut. Salah satu karya seni yang ia rencanakan adalah sebuah seni ukir raksasa dengan inspirasi pagar perbatasan yang akan diletakkan di tengah-tengah monumen di Washington Square Park. Pameran seni dengan skala sebesar ini sayangnya membutuhkan pendanaan yang banyak dan juga stabil. Maka dari itu Ai Weiwei bekerja sama dengan Public Art Fund dalam membuat sebuah akun penggalangan dana di Kickstarter.com. Dengan target 80.000 USD, kedua pihak berharap target ini sudah dicapai sebelum tanggal 21 September ini. Jika tidak, Weiwei dan Public Art Fund tidak akan melanjutkan proyek ini.
Ambush seperti tidak ada hentinya dalam berkreasi, selalu menciptakan hal-hal baru dengan gaya khas. Koleksi terbarunya adalah sebuah kalung rantai dengan tutup botol perak yang dengan logo Ambush tercetak di bagian bawah permukaan tutup botol. Perhiasaan dengan gaya ini tetap terlihat mewah dan sepadan dengan harga yang ditanggungkan. Berawal dengan hanya fokus pada perhiasaan, Ambush mulai merambah ke dunia fashion secara keseluruhan pada tahun 2017 ini. Desainnya yang atraktif dan menjadi kelebihan utama dari yang didirikan oleh pasangan desainer Yoon Ahn dan Verbal. Menurut Yoon Ahn, desainnya yang dan juga unik bukanlah karena sebuah strategi terselubung sang desainer, namun karena Yoon Ahn mendesain sesuatu selayaknya dengan filosofi dan pendapat yang ia percayai, dan hal itu terjadi tanpa ia sadari. Kalung dengan desain tutup botol ini merupakan bagian dari serangkaian perhiasan bertema bernama “Stance” yang sudah bisa dibeli di sini.
Sepertinya band psychedelic rock asal Melbourne, King Gizzard & The Lizard Wizard, tidak ada lelahnya di tahun ini dalam merilis LP. Setelah merilis Flying Microtonal Banana pada bulan Februari serta Murder of The Universe pada bulan Juni, mereka melakukannya lagi dengan merilis Sketches of Brunswick East pada bulan Agustus melalui jejaring sosial Facebook. King Gizzard &The Lizard Wizard berencana untuk merilis 2 proyek lagi sebelum tahun 2017 berakhir. Sketches of Brunswick East adalah kolaborasi mereka dengan unit asal Los Angeles dan juga kawan tur, Mild High Club. Kerja sama yang dijalin oleh kedua pihak adalah dengan saling membuat lagu satu sama lain, menggabungkan bagian-bagian rekaman yang masing-masing unit kerjakan dan disatukan menjadi satu lagu. Berbeda dengan musik psychedelic rock yang biasanya King Gizzard & the Lizard Wizard berikan, album ini terdengar lebih mengambil unsur jazz dan bossa nova. Album ini sendiri terinspirasi dari kampung halaman mereka, yaitu Brunwick East, Melbourne, dan semua perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya. Sang vokalis, Stu Mackenzie, menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi di Brunwick East seperti mulai berdirinya apartemen tinggi serta melihat para membangun yang lebih besar bisa disambungkan lebih luas dengan perubahan yang terjadi di dunia. Sketches Of Brunswick East by King Gizzard & The Lizard Wizard with Mild High Club
Dengan motif yang terinspirasi dari Indonesia, klub pantai kegemaran warga Bali, Potato Head, merilis koleksi resminya. Terdiri dari kemeja, kaos, dan celana pendek, koleksi ini direncanakan akan terus bertambah dengan barang-barang baru seperti edisi terbatas yang akan berkolaborasi dengan brand luar negri. Desainer koleksi ini, yaitu tim Potato Head sendiri, terinspirasi dengan keindahan tropikal Indonesia. Motif dedaunan serta desain yang menyerupai kemeja batik memang menarik dan mengingatkan rumah. Salah satu desainnya adalah kemeja dengan motif penari legong, yakni merupakan desain pertama yang dipublikasikan. Kemeja ini membawakan tradisi-tradisi tanah air dengan sedikit sentuhan kemeja floral Hawaii. Bahan pembuatan ini menggunakan kain sutra yang ramah lingkungan serta tahan lama. Dengan kisaran harga IDR 300.000 hingga IDR 2.200.000, koleksi ini bisa dibeli di resmi Potato Head serta dibeli langsung di yang akan diadakan di Potato Head Beach Club. Selain itu, 10% penjualan akan diberikan kepada Merah Putih Hijau, sebuah komunitas lingkungan yang mempunyai misi menyelesaikan masalah sampah di Bali, serta mengajarkan masyarakat untuk mendaur ulang.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.