Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Meluncur di atas papan 4 roda dengan jalanan kota, bangunan pemerintah, dan gedung-gedung pembayar pajak sebagai lapangan bermainnya, seorang pemain skateboard tidak akan peduli dengan peraturan kota apa lagi kepada sosok otoritas. Memang adalah kegiatan yang bisa dibilang paling menggambarkan kata-kata seperti dan , tetapi Otherness adalah skateboard yang ingin menjadi pemberotak di dalam dunia penuh pemberontak. Otherness pertama kali diperkenalkan oleh Trasher “Skater of The Year” 2008, Marc Johnson, lewat akun Instagram-nya, di mana beberapa artwork yang diunggah oleh Johnson mendapatkan pujian dari banyak khalayak. Lewat sebuah wawancara oleh Street Canoe kepada pendiri pertama ini, yakni Thom Hornung dan Mat O’Brian, diketahui bahwa tim lengkapnya termasuk Marc Johnson, Barker Barret, Shannon May, dan Tony Cox. Belum banyak yang diketahui tentang ini, hanya saja sudah ada beberapa pilihan papan atraktif yang bisa dibeli di situs mereka. Grafik pada papan buatan Otherness memang tergolong berbeda dengan apa yang pada umunya dijual oleh skateboard lain, karena gambar-gambar dan ilustrasi buatan tangan dan pensil di lalu ditempel ke dalam papan berwarna pastel. Ilustrasi yang intens digabungkan dengan warna yang lembut memberikan kontras yang pintar serta menarik di mata. Terlihat seperti ada cerita di dalam setiap gambar yang mungkin sebenarnya kompleks, tetapi daripada dipusingkan lebih baik di sesuaikan saja dengan interpretasi setiap pembelinya.
The designer/DJ, Belda Farika is ready to stomp the dancefloor tonight to celebrate the 3rd anniversary of Never Too Disco! We talked to her to reveal her story during her stay in San Francisco and dig deeper about how she got the whole connection to Japan’s finest DJs. Definitely broaden my knowledge and taste in music and ripped my bank account to “nada” for all those goody records! California party scene was so much different than the party scene in East Coast and Midwest where I used to live before moving to San Francisco. Being exposed to the underground party scene in California was probably one of the best thing that had ever happen to me. It really changed my life and shaped me to the person I have become today. I remember my cousins took me to see Jeno play at DNA Lounge for the first time and it really got me curious about all these underground parties and the music they played at the party. I didn’t have that many friends back then in San Francisco, so I usually go to party by myself if I’m not with my cousins. I went to Jeno & Garth’s Back 2 Back party at 222 Hyde for the first time and showed up too early at the party. DJ Garth saw me and recognized that I’m Derry’s cousins, so he came up to me and says hello, then he gave me a drink ticket (laugh). I think he felt a bit sorry for me being there to early and not knowing any else there? That’s okay, I had a great time and I made my first few party friends that night! To me, the radio show was a challenge. When I first started the radio show in 2010, I was in my last year of my master degree program and was going through a lot of changes in my life. At the time, playing records was one of things that I like to do when I’m not in school, working on my thesis or at work. Psychologically it helps me go through many rough patches in my life. So, I just wanted to play records and share the all kinds of music that I’m really into at the moment through the radio show. However, when I listened to the archives of the show again, it felt like there was a lot of feelings involves throughout every single shows. It may sounds cheesy but true. There was some part of it that reminds me the exact feeling I’m having at that exact time when I played on the show. Needless to say, Imaginary Voyage had become a place for me to share not just music but also my personal life journey. Well…, someone once told me that the music that I played was “too disco” and my first respond in my mind was, “you can never go too disco.” After a short period of time, debating with myself on whether can one be too disco when it comes to music preferences, I found myself in my studio, picking out my favorite disco records and edits (including the cheesiest ones) and was just playing for hours. A few hours later I decided to make a short mixtape and called it Never Too Disco. The mixtape was published on my Mixcloud account in June 2013. In 2014 the mixtape evolved into a small intimate disco party in Jakarta and later on I was lucky enough to do Never Too Disco party in Singapore and Tokyo last year. Definitely all kinds of disco. Just like any other genre in music, disco has many different sub genre. When I first started this party with Gerhan in 2014, we were playing many kinds of disco music, from balearic disco, electronic disco, cosmic disco to disco rock and everything else in between. So my intention at the party was to not sound the same every hour for the next 4 to 5 hours. Every guest DJs that had played at NTD has their own definition of disco music. I like giving them the freedom to pick and choose their own disco and even mixing it with other tracks from different genre that goes well with disco. To me having all these different sounds creates different energy on the dance floor. I’m not sure how I ended up knowing all these crazy Japanese guys (laugh). But maybe because I met DJ KASEP? (laugh) I first discovered Force of Nature from the disco underground scene in California. Their music was one of the ones of many that got me started on buying records. I remember seeing the flyer of Force of Nature at Sarcastic Disco in LA and my thought was, I have to see these guys play at Sarcastic Disco! So I flew to LA, by myself, went to the party and it was one of the best party I have ever been to for as long as I can remember. When I moved to Jakarta, I met Chida and DJ Kent, they both played at Potato Head on a different times. Then not long after, one of their friend from college, Hikko aka the infamous DJ KASEP, moved to Jakarta to open a new branch of his company. We met and became really good friends and even started a party called Laid Back Sessions (LBS) at Mondo in Kemang. I think this is where I started knowing all these amazing Japanese DJs. I got all starstrucked when I met KZA for the first time in Jakarta because I’m such a big fan of his music! Before he left Jakarta, I wanted to have him sign one of his records but I can’t picked which one I want him to sign on. So I brought all his records to Tetsuya’s house, where he was staying, there were probably about 10 different records, and asked him to choose whichever he felt like signing on! (laugh) I’m glad to meet all these amazing people and I have to say they are all very humble and fun to hang out with. I’m really happy to see the progress of the party scene in Jakarta for the last 7 years I’ve been in this town and I am really proud to be a part of it! No disco, no future!! Okay that’s enough… I need to get my smoke machine and fake lashes ready for the party tonight! (and I hope the fake lashes made it through the night!) See you guys at the party! - 8 September 2017 21:00 the SAFEHOUSE KZA (Force Of Nature/JP) Gerhan Omar Belda
Ikuzumi Kitazawa atau lebih dikenal dengan nama panggungnya sebagai KZA adalah seorang DJ asal Jepang yang tergabung dengan unit Force of Nature bersama DJ Kent. Pada episode Gimme 5 kali ini, kami menemuinya di Mondo by the Rooftop untuk menanyakan lima lagu terbaik di tahun 2017 versinya. Sebenarnya, sebelum menemukan lagu inipun sudah tertarik untuk mendalami musik R&B, namun entah kenapa baru pada saat musim panas tahun inilah kemudian saya banyak mendengarkan lagu-lagu R&B yang berpotensi. Kemudian setelah itu baru mulailah mencari tahu lagu-lagu lainnya. Kurang lebih jawabannya mirip dengan alasan untuk lagu pertama (tertawa). Sebenarnya lagu ini pertama kali keluar di tahun 80-an dan di re-edit tahun 2017. Saya mendapatkannya pun lewat email promosi dan langsung menyukainya. Lagu inipun sebenarnya adalah Saya menyukai lagu ini karena terdengar atau terasa seperti memiliki dan rasanya cocok untuk anak muda zaman sekarang yang kebanyakan sangat melankolis dan mendayu-dayu. Saya tahu lagu ini karena sempat menjadi jawara di antara semua musik-musik Balearic lainnya. Biasanya musik-musik Balearic cenderung sangat tetapi tidak untuk lagu ini. Menurut saya lagu ini sangat pas dan karena itu saya menyukainya. Lagu ini sangat saya rekomendasikan untuk didengarkan di tahun 2017. Karena terdengar and sehingga terkesan bahaya. Saya pribadi sangat suka lagu ini. Saksikan penampilan DJ KZA di Never Too Disco 3rd Anniversary! - 8 September 2017 21:00 the SAFEHOUSE KZA (Force Of Nature/JP) Gerhan Omar Belda
Sebelum perang dunia kedua, warga desa Sazovice sudah mendambakan gedung gereja yang baru. Setelah melewati banyak skenario-skenario sejarah yang membuat membangun gereja baru tidak memungkinkan, akhirnya rencana impian ini kembali lagi ke dalam benak cucu-cucu para warga desa. Dengan bantuan studio arsitektur asal Brno, Atelier Stepan, rencana kuno itu berhasil direalisasikan dengan dibangunnya gereja St. Wenceslas. Atelier Stepan mendesain dan membangun gereja berbentuk silinder ini dengan inspirasi dari gedung-gedung romawi kuno yang biasa disebut rotunda. Arah yang diinginkan oleh studio tersebut ingin menghilangkan unsur materi di dalam bangunan, di mana bangunan terlihat ringan dan abstrak. Desainnya yang modern sangat kontras dengan tujuan gedungnya yang konservatif, tetapi bukan berarti tidak menarik untuk para jemaat beribadah di dalam. Jika gereja kuno pada umumnya mempunyai banyak ornamen dan ukiran indah yang bercerita tentang Yesus Kristus, gereja St. Wenceslas tampil putih polos di setiap sudut. Sang arsitek, Marek Jan Stepan, berpendapat bahwa manusia sudah mempunyai banyak informasi tentang cerita-cerita keagamaan, dan menurut dia gereja lebih baik dibuat agar jemaat bisa lebih mudah mencari dirinya sendiri dengan berefleksi. Dengan desain yang polos, jemaat tidak akan merasakan distraksi apa-apa dan akan lebih fokus beribadah.
Di era industrial ini yang penuh dengan pencemaran lingkungan, konsep arsitektur hijau menjadi hal yang paling diinginkan untuk kebanyakan orang. Tidak beda dengan Panyaden International School, sebuah sekolah yang berada di Chiang Mai, Thailand. Karena latar belakang sekolahnya yang mempunyai prinsip Buddha, sekolah ini memegang etos hijau dan mengajarkan murid-muidnya untuk mencintai alam. Setelah bekerja sama dengan Chiang Mai Life Architects and Construction, sekolah ini berhasil membuat gedung aula serbaguna yang indah dan ramah lingkungan dengan bahan utama bambu Penempatan bambu sengaja dibangun renggang tidak rapat agar murid-murid bisa lebih merasakan koneksi mereka dengan alam melewati angin yang berhembus ke dalam. Bentuk utama dari aula ini dibuat menyerupai bunga lotus yang merupakan simbol kesucian. Walaupun mempunyai bentuk yang terkesan rentan, keunikan dari segi arsitekturnya membuat gedung ini menjadi penarik perhatian utama di dalam sekolah itu. Selain hijau dan menarik, fungsionalitas gedung ini tetap diutamakan. Aula ini mampu menerima kapasitas sebanyak 300 murid, dan biasa digunakan untuk banyak acara sekolah. Bagian tengah aula adalah lapangan olahraga multi fungsi yang bisa digunakan untuk basket, futsal, dan badminton. Aula ini juga memiliki panggung yang biasa digunakan untuk pementasan drama, sebuah tempat penyimpanan alat-alat olahraga yang tertutup, serta balkon untuk para penonton yang ingin mendapatkan sudut pandang yang berbeda.
Band pegangan John Dwyer, Oh Sees, terkenal karena konsep band tersebut yang tidak pernah konsisten. Sebelum ini, band alternative rock ini dikenal dengan nama Thee Oh Sees, OCS, Orinoka Crash Suite dan Orange County Sound. Selain itu dalam segi suara juga tidak pernah menemukan titik fokus. Musik Oh Sees beragam dari psychedelic rock 60-an hingga post-punk 80-an, berevolusi bolak-balik selama 20 tahun berdiri. Memang sebenarnya di balik tidak adanya konsistensi dari band ini, terdapat unsur kreativitas dan adaptasi. Tetapi untuk menentukan apakah Oh Sees sebenarnya tidak konsisten atau malah inovatif tetap tergantung pada setiap opini pendengarnya. Apapun kebenarannya, sepertinya pada album terbarunya Oh Sees lebih mengarah ke jalan yang inovatif. Berjudul Orc, album ini menunjukan lagi-lagi sebuah petualangan sonik dari John Dwyer dan teman-teman. Dengan menggunakan dua , seorang , serta John Dwyer sendiri yang memegang gitar dan , Oh Sees seperti ingin menggapai nuansa-nuansa baru. Perjalanan mereka dibuka dengan “The Static God”, sebuah yang meledak di hadapan para pendengarnya dengan musiknya yang cepat dan agresif. Musik garage-punk yang garang bersama vokal Dwyer yang menakutkan bekerja sama dengan baik, tetapi chorus beserta -nya bisa dibilang bagian terbaik dari lagu ini, membawa musiknya melayang sejenak setiap kali chorus dinyanyikan. “Animated Violence” mungkin yang paling menarik didalam Orc, di mana Oh Sees membawakan musik berat yang terinspirasi dari heavy metal tahun 80-an. Dari vokal Dwyer yang dimirip-miripkan dengan stereotip vokalis glam-rock pada saat itu, serta yang diisi dengan teriakan-teriakan genit ala KISS. Outro ‘genit’ itu akan kemudian disambungkan dengan selanjutnya, sebuah berdurasi sekitar 8 menit yang epik berjudul “Keys to The Castle.” Setelah “Keys to The Castle”, Orc baru memulai menunjukan wajah barunya. Dengan “Cadaver Dog” dan “Paranoise”, Oh Sees mencoba untuk menggapai musik yang lebih santai dan istirahat dari musik biasa mereka. Musik yang dibawakan mulai memelan dan melemah, tetapi tetap membawa suasana rock yang kental. Contoh terbaiknya seperti di lagu “Drowning Beast”, di mana tempo yang cepat bagai serigala mereka tukar dengan riff gitar dan drum yang pelan dan berat bagai gajah. Perubahan memang selalu menyulut sebuah diskusi, dan untuk sebuah grup band perubahan mempunyai konsekuensi yang tidak sedikit. Tetapi Orc menunjukan bahwa sebuah perubahan tidak selalu berbahaya, memberikan hasil yang bisa dinikmati oleh penggemar lama dan juga yang baru. Kesimpulannya, John Dwyer dan kawan-kawan lagi-lagi berhasil membuktikan bahwa berubah bukanlah hal buruk, mau itu dalam skala besar seperti perubahan suara atau hal minor seperti berubah nama.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.