Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Setiap hari bisa dibilang semakin banyak musisi dengan talenta yang berpotensial muncul ke permukaan, dan itu semua terdukung oleh betapa mudahnya mendapatkan informasipada saat ini. Tetapi kenyataannya, berhasil muncul di permukaan masih awal dari perjalanan para Lalu apa yang dibutuhkan untuk menjamin kesuksesan karir mereka? “Archipelago Festival” pun hadir untuk berusaha menjawab pertanyaan itu. Berlangsung selama dua hari, pada tanggal 14-15 Oktober 2017 di Soehanna Hall, festival ini adalah sebuah dan festival yang mempunyai tujuan mulia sebagai wadah akselerasi musik lokal, juga ruang memperkenalkan musik-musik baru yang patut diberikan perhatian lebih. Acara ini digagas oleh dua kolektif asal Indonesia, Studiorama dan Sounds From The Corner (SFTC), yang akan membawa 15 topik pembahasan seputar infrastruktur musik di Indonesia. Pada tahun pertamanya, “Archipelago Festival” menawarkan topik bahasan yang mengulas sisi-sisi industri yang jarang diperbincangkan, mulai dari merchandise, fans, musik, hingga label rekaman. Festival ini juga menawarkan tiga panel istimewa, yakni Band & Brands, Indie Pioneers, dan Indonesian Pop Music. Pembicara yang hadir juga tidak main-main, dengan Guruh Soekarno Putra, Yockie Suryo Prayogo, Arian13, Andien Dipha Barus, dan puluhan lainnya. Assosiate Editor kami, Muhammad Hilmi pun ikut mengambil peran dalam salah satu panel diskusi yang membahas 3 venue musik dari beragam level di Jakarta. Selain itu akan ada juga penampilan dari artis-artis baru terbaik dari dalam dan luar negeri, seperti rapper grime asal Inggris Afrikan Boy, produser elektronik muda Chloe Martini dari Polandia, unit hip hop lokal terpanas, Onar, dan band psychedelic kebanggaan Negeri Jiran, Ramayan. Lewat acara ini, Studiorama dan SFTC lagi-lagi menunjukan bahwa mereka serius dalam mendukung artis-artis baru ranah lokal yang bertalenta, dan festival ini bisa dibilang usaha paling ambisius bagi kedua kolektif. Tapi tentu saja siapa yang mau kehilangan kesempatan untuk belajar langsung dari Sukarno Putra dan Yockie Suryo Prayogo? Kita hanya bisa berharap bahwa “Archipelago Festival” akan membawa pengaruh yang besar dalam lingkup musik Indonesia, serta semakin mendorong kemunculan bakat-bakat yang masih mencari pijakannya dalam industri musik lokal. Belum terbayang akan seberapa kaya obrolan serta perspektif yang akan ditampilkan di festival ini? Berikut adalah video yang dibuat oleh SFTC bersama Guruh Soekarno Putra dan Yockie Suryo Prayogo. - 14-15 Oktober 2017 Soehanna Hall The Energy Building SCBD, Lot 11A Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53
Video teranyar Radiohead, “Lift” dari album OKNOTOK - edisi 20 tahun OK Computer - memperlihatkan sang vokalis Thom Yorke terjebak dalam elevator menuju antah berantah, dengan kantung plastik di kedua tangannya, dan orang-orang berperilaku aneh yang masuk silih berganti. Disutradarai oleh Oscar Hudson, video ini menyuguhkan visual yang lebih sederhana dari video-video Radiohead sebelumnya, tapi tetap memiliki plot twist seperti video-video klasiknya. Menarik, karena adegan di video ini diadaptasi secara terang-terangan dari lirik lagunya: Pada awal tahun, gitaris Radiohead Ed O’Brien mengungkapkan alasan “Lift” tidak dimuat di OK Computer. Ia menyatakan pada BBC 6 Music, jika lagu tersebut dimuat di album, Radiohead akan berada di jalur yang berbeda pada waktu itu, dan memungkinkan mereka untuk menjual lebih banyak album. OK Computer tidak pula bisa menyerupai Jagged Little Pill, album Alanis Morissette di tahun 1995; Banyak tekanan yang dialami Radiohead ketika “Lift” masuk rekaman.
Pernahkah sekali berpikir tentang sejarah sebuah tomat yang terjual di toko swayalan terdekat? Ilha das Flores, atau “Isle of Flowers” dalam inggris, adalah sebuah film pendek yang menceritakan tentang hal itu. Bagaimana perjalanan sebuah tomat dari proses pemetikan hingga tujuan terakhirnya, dan anehnya film ini bukan untuk yang mudah tersinggung atau yang berpikiran pendek. Berbentuk dokumenter pendek, film ini menjelaskan ceritanya dengan dipimpin seorang narator bernada mati yang bisa dibilang ekuivalen dari anak kecil yang baru saja mengenal Wikipedia. Jika di kronologiskan, menonton film ini pada awalnya akan membawa tawa karena lelucon-leluconnya yang sedikit berani, lalu dilanjutkan dengan rasa kesal, lalu marah karena gambar-gambar yang menyinggung, tetapi diakhiri dengan rasa empati yang dalam. Perasaan terakhir akan dirasakan penonton saat mengetahui apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan Jorge Furtado, yaitu tentang kenyataan strata sosial dan cara manusia memperlakukan sesama manusia. Sebuah kisah yang sebenarnya ironis dan menyayat hati namun dibalut dengan keacakan dan humor. Yang membuat pengungakapan terakhir ini lebih menggagetkan adalah bagaimana narator menyebalkan tadi akan membuat penonton linglung dengan memutar-mutar informasi yang diberikan. Walaupun aneh, bermain dengan pikiran dan emosi telah membuat penonton terus-menerus melekatkan mata mereka dalam pencarian arti yang terkandung di dalam film yang sangat serampangan ini, dan saat penonton akhirnya tahu mereka tidak akan kecewa. Sutradara: Jorge Furtado Sinopsis: Seorang narator yang senang melenceng menceritakan kisah sejarah tomat dengan pesan moral yang dalam.
Berangkat dari ketertarikannya mempelajari dunia desain dalam pembuatan gitar, seorang desainer asal Bandung, Raka Shiddiq, secara otodidak mulai menekuni tersebut pada tahun 2001. Selain itu, pertemuannya dengan Ki Anong Naini yang merupakan pertama di Indonesia ternyata banyak membantu Raka dalam mengumpulkan ilmu dan informasi tentang desain gitar akustik tradisional dan membuatnya ingin meneliti lebih jauh mengenai gitar sebagai alat musik progesif. Dari pengantar tersebut, akhirnya Raka memutuskan untuk membuat sebuah gitar alternatif dengan berukuran 8mm yang kemudian dinobatkan sebagai gitar tertipis di dunia. Di bawah nama Anymo, Raka memperkenalkan gitar buatannya dan mendapatkan banyak respon positif atas gebrakannya. Anymo ‘Essential Guitar’ telah meraih “The Most Marketable Product” pada Business of Design Week 2016, Hong Kong, juga sambutan-sambutan antusias pada pameran-pameran berskala Internasional, seperti South by South West (SXSW) 2017 Austin USA, Salone Del Mobile Milano 2017 dan Casa Bravacasa 2017. Selain perbedaan ukuran yang signifikan, selebihnya tidak ada yang membedakan gitar Anymo dengan gitar akustik pada umumnya. Namun ada kelebihan lain yang ditonjolkan pada gitar Anymo, yaitu yang mana merupakan poin khusus yang menjadi perhatian Raka pada setiap produk buatannya. Untuk tetap memberikan kesan akustik, bahan kayu masih dijadikan pilihan. Anymo juga memperkenal SORA (Sora Organic Resonance Augmentation) System™ Micro Chamber Design yang merupakan otak di balik desain gitar tersebut. Selain itu, suara gitar ini dikabarkan akan lebih panjang berkat konstruksi yang dikombinasikan dengan sistem untuk performa suara terbaik tanpa Anymo nampak seperti meleburkan batasan-batasan antara gitar tradisional dan modern. Berkat buah pemikiran desain progresif, gitar ini dirasa cocok untuk digunakan saat tampil di panggung ataupun pada saat rekaman.
Tahun 2017 menandai 8 tahun perjalanan yayasan Design+Art dalam menyelenggarakan salah satu perhelatan kolaborasi desain dan seni kontemporer terbesar di Indonesia. Yayasan Design+Art Indonesia sendiri, dibentuk oleh sekelompok desainer yang berasal dari berbagai latar belakang ilmu dan pengalaman. Melihat ada banyaknya potensinya yang dimiliki oleh para pelaku kreatif di Indonesia, yayasan ini dibuat agar bisa turut membangun industri kreatif di Indonesia yang bertumpu pada kekuatan sumber daya manusia juga kekayaan seni dan budaya. Sejak tahun 2009, di bawah nama Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD), Design+Art berusaha untuk menyajikan karya-karya terbaik dari para pelaku kreatif Indonesia dengan meleburkan batasan-batasan yang ada antara desain dan seni kontemporer. Sekarang ini tidak ada karya atau apa pun yang benar-benar original, yang ada hanyalah hasil dari adaptasi, mengolah atau menyempurnakan hal-hal yang sudah ada. Berangkat dari persoalan tersebut, kali ini ICAD mengangkat tema “esensialisme” atau secara sederhana dapat diwakili oleh kata “Murni?” Kata murni sendiri merupakan sebuah kosakata bahasa Indonesia yang cenderung dihindari karena memiliki makna yang mengandung beban dan mutlak, meskipun mengandung kompleksitas pemaknaan lain yang layak ditelusuri. Sedangkan simbol tanda tanya (“?”) di akhir kata “Murni?” pada tema ICAD 8 merupakan sebuah upaya agar para partisipan pameran bisa lebih kritis dalam memaknainya. Menghadirkan karya-karya lebih dari 50 seniman, desainer dan pelaku kreatif Indonesia, pameran ICAD 8 tahun ini akan diselenggarakan di Grandkemang Hotel, Jakarta selama 6 pekan dimulai dari tanggal 4 Oktober hingga 15 November 2017. Nantinya karya dari seniman-seniman tersebut akan tersebar di seluruh area publik hotel tersebut. Selain itu telah dipersiapkan juga serangkaian acara lain yang dapat menginspirasi dan mendekatkan seni kepada audiensnya lewat konvensi hingga pemutaran film. Dan nantinya juga turut mengundang pembicara seperti Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan), Antonio Pio Saracino (Arsitek Italia), Amoury Pudray (Desainer Produk Perancis), dan Kurt Rieder (Executive VP Asia Pacific 20th Century Fox). - 4 Oktober - 15 Oktober 2017 Grandkemang Hotel, Jakarta Jl. Kemang Raya 2H Jakarta
To enrich our readers’ music reference (laugh), we asked Dreems - the eccentric DJ with mind-bending music - about his top 5 most-listened songs. This man is on a mission to free everyone from the divisive shackles of flags and tongues. We added “why” into the question, but apparently he got to run to somewhere else. So here you go, 5 current favs on his rotation outside of the disco. But before that, keep what he said in mind, "Whatever your culture, sex, or species, there is a place in your heart for light, sound, and dance, and that is where I will make my home.” Find out how those 5 songs influence or inspire his mix and see him live at Dekadenz this Saturday at FJ on 7!
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.