Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Mudah untuk melupakan relasi budaya dan sejarah antar negara Asia Tenggara yang sepertinya mudah terpecah belah. Tanpa menyinggung proses asimilasi yang memang sudah berjalan dengan seiringnya waktu, harus diakui jati diri negara-negara Asia Tenggara lebih didominasi budaya barat dan Tionghoa. Proyek Condition Report, sebuah program pengembangan kuratorial Jepang dan Asia Tenggara yang pertama kali digagas oleh Japan Foundation Asia Center pada tahun 2015, berusaha untuk membahas pertanyaan itu dengan mengambil tema “What Is Southeast Asia?” Proyek ini mempunyai dua fase: pertama adalah 4 pameran kolaboratif di Jakarta, Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok yang melibatkan 21 kurator dari Asia Tenggara. Bagian kedua adalah 12 proyek seni rupa yang akan di organisir oleh kurator-kurator muda Asia Tenggara di masing-masing negara mereka. Dengan fase pertama sudah dilewati, fase kedua sudah dimulai dan pameran “Resipro(vo)kasi” adalah salah satu dari rangkaian 12 proyek seni rupa tersebut. Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan Japan Foundation Asia Center untuk mengadakan pameran bertajuk “Resipro(vo)kasi: Praktik Seni Rupa Terlibat di Indonesia Pascareformasi” pada tanggal 5 hingga 19 Oktober 2017. Pameran ini bermaksud merepresentasikan perkembangan praktik seni rupa terlibat dalam kurun waktu pasca-reformasi hingga sekarang sebagai praktik penciptaan karya ‘alternatif’ dari dominasi karya individual berbasis studio. Bayu Genia Krishbie, sang kurator pameran, adalah salah satu peserta proyek Condition Report dan juga asisten kurator di Galeri Nasional Indonesia. “Resipro(vo)kasi” bisa diartikan dengan dua cara, “resiprokasi dan provokasi” ataupun “provokasi resiprokal”, yaitu metode komunikasi dan pertukaran gagasan dua arah secara egaliter antara perupa dan publik yang berrelasi langsung dalam proses penciptaan karya/peristiwa seni rupa, —disadari atau tidak— seolah saling memprovokasi satu sama lain. Sepuluh seniman individual dan kolektif akan menampilkan 10 karya dengan pendekatan mereka masing-masing seperti fotografi, instalasi, object, dokumentasi video, arsip, dan performance di ruang pameran. Perupa yang akan membawakan karyanya adalah Moelyono , Angki Purbandono, Wimo Ambala Bayang , Irwan Ahmett , Elia Nurvista , Fajar Abadi , Vincent Rumahloine, Alfiah Rahdini, Jatiwangi Art Factory, dan Cut and Rescue. - Kamis, 5 Oktober 2017 Pukul 17.00 WIB di Gedung B Galeri Nasional Indonesia Jl. Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat 10110 Kamis, 5 Oktober 2017 Pukul 19.00 WIB di Gedung B Galeri Nasional Indonesia Jl. Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat 10110 “Seni Rupa Terlibat di Indonesia Pasca Reformasi : Tinjauan Kritis” Jumat, 6 Oktober 2017 Pukul 14.00 WIB di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia
Juergen Tueller adalah seorang fotografer yang terkenal akan estetika yang minimalis dan ‘amatir,’ dengan keterampilan yang dipercayai oleh banyak desainer serta majalah fashion kelas atas. Di antara semua hal yang telah Teller lakukan, tidak ada yang lebih terkenal daripada kerja samanya dengan desainer modern Viviane Westwood. Untuk merayakan kolaborasi yang sudah sering dilakukan selama 1 dekade lebih, Westwood membuka pameran foto yang menunjukkan karya-karya kolaborasi mereka berdua selama ini di toko utamanya di New York. Foto-foto yang dipamerkan kebanyakan adalah foto Westwood bersama suaminya, Andreas Kronthaler, yang diambil oleh sang fotografer selama bertahun-tahun bekerja bersama. Tueller menyeleksi foto-foto yang memang paling menunjukkan kepribadian subversif Viviane Westwood serta kreativitas yang terlihat sangat dipercayai oleh Westwood. Selain itu, pameran ini akan menghadirkan katalog dan koleksi yang kedua pihak sudah kerjakan bersama-sama. Tueller, kepada Vogue, menyampaikan bahwa dia bahagia bekerja sama dengan Westwood dan suaminya. Kebebasan yang diberikan oleh sang desainer selama bertahun-tahun berkolaborasi, sangat dihargai oleh Tueller dan dia ingin merayakannya serta menunjukkannya kepada publik. Pameran ini diadakan di toko utama Viviane Westwood di New York semenjak tanggal 6 September hingga Oktober 2017.
Sonic skipper is what he’s known for. Not just because of the sonic skips that can be found in his music, but also from the exuded impression and nuance out of it. Dreems is his name and together with his insatiable thirst of unique sound from across the globe, he created a cult called Multi Culti. We had a chance to talk to him via email and asked some questions about his mission in making music, to his latest establishment with Kris Baha, Die Orangen. It is juicy! Multi Culti, which been providing exotic sonic sound since 2013. How did the interest towards exotic world music start? It was always there with both of us. However it was something that was a lot more personal and celebrated less through our DJ sets and production and more through our personal adventures together and time away from the dance-floor. Both of us had been fortunate enough to have travelled a lot through our lives and had exposure to disparate musics from lands far and wide and that informed us along the way I feel. Our love for music is insatiable. We are always looking in every dark corner (the internet, record stores, family & friends basements, recycling bins, etc) in every place we go for new sounds and sonic adventures. It might seem cliche now to say this, but I think it’s always been the same mission - to create a journey. Maybe it would be more appropriate to say “a trip” these days, as the music takes more and more cues from the psychedelic realm. Hypnotised or not, it’s always lovely to have someone hold your hand and guide you through new and unknown worlds, especially if they have the lay of that land. (Laughs) Very close. I do like the idea that we are “laid-back” though as that really suits our background disposition. It’s actually a melted genrefication of krautrock and outback. I would like to think that you could afford yourself the time to get atop a sand-dune and stare across a vast-plane with a cold beer in hand. However, if you are not situated close to such a desired scenario, maybe a tree-house with a cup of tea would suffice. JK has been a long musical hero for us over at Multi Culti. We have been fans of his tracks after discovering him a few years ago. Kris Baha was the catalyst for making the deeper connection - he is one that always has his finger on the electrical pulses emitting from earth’s wildest beings. My preparation these days is really different. I like to not think at all about what I’m going to play. Going in with a clear mind and opening my mind body to the vibrations that are felt when I come into the room always help me make the best decisions. I am a food nutcase. FOOD FOOD FOOD. And MORE FOOD. In-between meals, I would love to slip in a few snacks as well. Curious about what trip he refers to? Find it out by listening to Dreems' mix for Dekadenz below: You can also find out what are his top 5 most-listened songs here!
Grace Jones mungkin saja adalah tokoh paling fenomenal yang pernah menginjakkan kakinya di bumi. Kreatif dan bernyali, Jones adalah sosok yang tidak pernah malu untuk mengekspresikan dirinya, baik melalui fashion, dansa, dan pastinya musik. Seluruh hidupnya, Jones telah memukau dunia, menginspirasi banyak artis serta membuka pikiran masyarakat. Sekarang, hidup pribadinya serta profesionalnya akan dijadikan dokumenter. Dengan judul “Grace Jones: Bloodlight and Bami,” dokumenter ini akan mengikuti perjalanan sang musisi Jaimaika dari setiap konser dan penampilannya selama satu dasawarsa. Film ini disutradai oleh Sophie Fiennes yang terkenal karena karya-karya nya seperti “The Perverts Guide to Ideology” dan juga serial “The Perverts Guide to Cinema”. "Grace Jones: Bloodlight and Bami" akan memberikan klip-klip konser-konser besar sang artis serta klip-klip pribadi yang intim, dan semua diiringi dengan mulut Grace Jones yang tajam. Selain itu, dokumenter ini akan menunjukan juga penampilan-penampilan Jones yang tidak pernah dirilis. Beberapanya adalah penampilan spesial lagu-lagu terbesar sang musisi seperti “Slave to The Rythm” dan “Williams Blood”. Menurut Jones, seperti yang dilansir dalam Screen Daily, film ini akan menunjukan sudut pandang yang baru dalam melihat sang artis, seperti melihat dirinya telanjang.
Indie asal Auckland, Selandia Baru yang memperkenalkan diri sebagai Fazerdaze akan menggelar pertunjukan perdananya di Indonesia pada tanggal 21 Oktober 2017. Bertempat di Rossi Fatmawati, Jakarta, Amelia Murray akan di bantu oleh Gareth Thomas dan Andrea Holmes yang mengisi bagian bass dan drum. Penampilannya di Jakarta menyusupkan nilai sentimentil, karena kedatangannya ini dapat dijadikan sebagai momen pulang kampung untuk Murray selaku pemilik proyek musik Fazerdaze. Meski lahir dan dibesarkan di Selandia Baru, ia memiliki sebagian darah Indonesia yang berasal dari ibunya. Kali ini dengan berkolaborasi bersama Six Thirty Recordings dan salah satu asal Jakarta, noisewhore, sekali lagi Studiorama memperlihatkan usaha dan keseriusan mereka dalam memberikan opsi alternatif untuk para pencinta musik lokal lewat penampilan-penampilan menarik hasil kurasi mereka. Bagi Six Thirty kolaborasinya kali ini cukup berbeda, kalau biasanya mereka terlihat hanya mengundang band-band yang cenderung keras tapi tidak untuk kali ini “Kami suka Fazerdaze dari segi musik dan paras (tertawa). Ditambah kami mau bikin orang tidak berpikiran kalau Six Thirty cuma mau mendatangkan band-band keras," jelas mereka. Unit dream pop ini telah mengeluarkan satu album pendek di tahun 2014 dan satu album penuh yang keluar di awal tahun ini dengan judul “Morningside” lewat label rekaman independen Flying Nun Records. Album ini mengusung tema yang cukup personal untuk Murray, karena penggarapannya adalah sebuah upaya untuk menciptakan ruang yang aman di saat dirinya menghadapi keadaan yang tidak stabil saat itu. Keahliannya Murray yang dibalut suara mengawang khas dan riff gitar pada album tersebut juga mendapat pujian dari Pitchfork sebagai, Sebelumnya, Fazerdaze juga sempat menjadi untuk beberapa band seperti Unknown Mortal Orchestra, Explosions in the Sky dan Frankie Cosmos, oleh sebab itu dapat dipastikan bahwa penampilannya di atas panggung patut diperhitungkan. Tidak hanya itu, pada kesempatan kali ini turut mengundang unit indie pop asal Jakarta dan Yogyakarta yakni Sharesprings dan Grrrl Gang untuk membuka penampilan Fazerdaze di Jakarta. Tidak disangka animo penikmat musik sangat tinggi, sehingga tiket untuk konser ini telah terjual habis dalam waktu 2 hari saja. Jadi, bagi mereka yang beruntung mendapat tiket, sampai jumpa di Rossi! - Sharesprings (JKT) Grrrl Gang (YK) 21 Oktober 2017 Rossi Musik HTM Rp. 250.000 (SOLD OUT)
Marius Lauber adalah seorang musisi electronik asal Cologne, yang memperkenalkan diri sebagai Roosevelt. Pada karya-karyanya, para pendengar disuguhkan nuansa tropis layaknya hembusan angin di musim panas berkat nada-nada riang dan juga pilihan yang seakan menyuruh pendengarnya untuk bergoyang. Kemampuan Marius dalam mengolah musik Roosevelt patut diperhitungkan, tidak hanya bicara soal musik electro-pop segar nan , namun juga melihat bagaimana suara melankolis Marius, sukses menambahkan kesan ala musik disko 80-an sehingga karakternya semakin kuat. Roosevelt telah mengeluarkan satu album pendek berjudul Elliot (2013) dan debut album penuh melalui Greco-Roman/City Slang (2016). Selain bersenang-senang bersama Roosevelt, Marius juga merupakan seorang DJ yang sudah menghasilkan banyak deretan remix dari unit-unit seperti Glass Animal, Jax Jones hingga Kakkmaddafakka. Untuk membuktikan seperti apa yang dimaksud, silahkan dengarkan salah satu jagoan mereka versi Pitchfork di bawah ini.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.