Latest stories

Column
26.11.15

Lima Film Baik

Pada tulisan pertamanya di section column, Alvi Iftikhar bercerita mengenai film-film yang memiliki makna lebih baginya. Lebih dari kategori film bagus, film-film pilihannya adalah karya yang mampu menggugah bahkan melalui alur cerita sederhana. Mulai dari film karya Woody Allen, hingga Yasujiro Ozu, Alvi mengajak pembaca untuk tertawa dan juga merenung melalui lima film pilihan ini.

25.11.15

Narasi dalam Ilustrasi bersama Jean-Marc Rochette

Jean-Marc Rochette adalah seorang ilustrator komik dari Perancis yang dikenal melalui seri Snowpiercer, sebuah karya fiksi ilmiah dengan tema universal yang tahun lalu diangkat menjadi feature film oleh Bon Joong Ho. Kami berbicara dengan Jean-Marc Rochette di tengah rangkaian acara Singapore Writers Festival mengenai karyanya di dunia komik dan juga lukisan.

23.11.15

Portofolio: FullFill Artplication

Portofolio adalah salah satu fitur terbaru pada section focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali ini FullFill Artplication menjadi fokus bahasan.

20.11.15

Silverglaze, Band Penting di Scene Shoegaze Bandung Rilis Single

Menjelang akhir tahun 2015, Anoa Records bersiap merilis album mini dari sebuah band Bandung yang ajaib. Begitu ajaibnya karena band ini dihuni oleh orang-orang yang bisa dibilang pernah tampil di beberapa band penting di Bandung seperti Cherry Bombshell, Themilo, Lass, hingga Puppen. Dan band bernama Silverglaze ini tak pernah sekalipun manggung meski sempat memamerkan dua lagu di laman Myspace. Itu pun tanpa woro-woro tentang siapa sebenarnya penghuni Silverglaze. Silverglaze terdiri dari Ajie Gergaji (Cherry Bombshell, Themilo), Widi (Cherry Bombshell, Lass) dan Ajo (Cherry Bombshell, Puppen). Masa lalu mereka memang saling terkait dengan Cherry Bombshell dimana ketiganya hadir di dua album penuh Waktu Hijau Dulu & Luka Yang Dalam. Kini mereka telah ‘reuni’ dalam wajah yang berbeda dan lebih segar. Bersama Anoa Records, Silverglaze akan meluncurkan EP bertitel Essay di awal Desember 2015, dengan single utama berjudul ‘We Can Do It Now Together’. Bersama Rollingstones.co.id, Silverglaze akan melepaskan single tersebut dalam format bebas unduh. Single utama ini mewakili corak musik Silverglaze yang indie pop/rock. Sebagai jebolan penikmat band-band alternatif 90an, tak akan susah mengendus karakter musik mereka, yang telah dirintis oleh band-band seperti Belly, Lush, Madder Rose, Velocity Girl, dan Juliana Hatfield. Dan sebenarnya, tak akan ada Cherry Bombshell tanpa kehadiran beberapa band-band diatas. We Can Do It Now Together adalah awal mula yang sempat tertunda di masa lalu. Kembalinya Widi & Ajo ke dunia yang sempat mereka tinggalkan setelah memutuskan untuk berkeluarga. Dan Aji melengkapi Silverglaze, bersama-sama, sebagai sahabat lama yang tak melupakan passion mereka dalam sebuah band. They can do it now together.

19.11.15

Jakarta Biennale 2015: Maju Kena, Mundur Kena. Bertindak Sekarang

Meskipun tema yang diangkat oleh Jakarta Biennale tahun 2015 ini mengingatkan pada salah satu judul film Warkop yang dirilis tahun 1983, ternyata komedi sedikit berjarak dengan misi yang ingin dicapai pada gelaran ini. Konsepsi yang skala dan dampaknya cukup besar menjadi dorongan utama eksibisi dua tahunan ini. Dengan perhatian pada lingkungan, terutamanya terhadap area kota yang ditempatkan pada sorotan utama, sejatinya Biennale ini adalah rupa rekaan seniman mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka. Ini juga sekaligus merupakan sebuah seruan untuk mengambil langkah untuk maju sekarang, supaya tak terjebak di masa lalu, juga tak tersesat pada utopia masa depan. Besarnya konsepsi juga bisa dirasakan pada bagaimana Jakarta Biennale 2015 memetakan rangkaian acara. Secara kuratorial, Yayasan Jakarta Biennale sebagai pelaksana pameran mengembangkan Curators Lab, sebuah program pembelajaran dan kolaborasi antara kurator muda dengan kurator profesional untuk mengembangkan konsep yang lebih relevan kepada permasalahan yang ada di sekitar. Tim kurator yang besar, berisi kombinasi 7 kurator muda dan senior, termasuk di dalamnya pegiat seni yang didatangkan dari penjuru negeri, dari Aceh, Surabaya, hingga Makassar, menunjukkan lebarnya skala yang dijangkau oleh pameran ini. Selain juga keterlibatan seniman dari berbagai suku bangsa yang diajak untuk menterjemahkan pemahaman mereka masing-masing terhadap tema utama. Kunjungi Gudang Sarinah untuk melihat dan merasakan bagaimana para seniman memaknai isu-isu perkotaan, sekaligus untuk memahami tindakan apa yang bisa diambil untuk bisa melangkah maju ke depan. Jakarta Biennale Website Jakarta Biennale Facebook Jakarta Biennale Twitter Jakarta Biennale Twitter

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.