Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
In her final essay for Jakarta's Youth in Real Life, Yanti Sastrawan reflects on her return to Jakarta. Through her observations, Yanti talks about online communication and how people have integrated it into their regular interpesonal communication habit. Take a look at Human to Human in Real Life, the conclusion to Jakarta's Youth in Real Life.
Kartika Jahja adalah seorang musisi yang giat memperjuangkan isu kesetaraan perempuan. Lewat karyanya yang hadir dengan semangat dan lirik bermakna, ia menyebarkan kesadaran akan pentingnya pemahaman akan hak perempuan. Whiteboard Journal mengunjunginya ke kantor di bilangan Kemang untuk berbincang mengenai eksplorasi musik, ketertarikannya terhadap isu tubuh perempuan dan kolektif Mari Jeung Rebut Kembali.
Sebuah startup online bernama IniBudi menjadi contoh nyata dalam implementasi teknologi terhadap pendidikan. Bukan sekadar menyediakan informasi tak terbatas, kali ini internet menjadi media belajar online. Meskipun masih baru, IniBudi menawarkan solusi kreatif dalam menyampaikan mata pelajaran utama kepada siswa siswi, tanpa mengharuskan kedatangan, layaknya sekolah pada umumnya.
Bersamaan dengan semangat inovasi yang digalakkan IniBudi, sebuah kompetisi yang berfokus pada video pendidikan dibuka. “Ini Inspirasiku” mengajak para individu dengan passion seni dan sosial untuk berkontribusi dalam menyiapkan video berisi inspirasi dari deretan lagu yang sudah disiapkan oleh IniBudi. Adapun beberapa musisi yang terpilih lagunya untuk dicantumkan dalam video adalah, Efek Rumah Kaca hingga YACKO x JRSCK yang dikenal dengan lirik lagu bermakna. Peserta kompetisi yang dibagi berdasarkan masyarakat umum dan pelajar wajib menggambarkan pesan yang ada di lagu dan menjelaskan inspirasi yang muncul dari lagu tersebut. Submisi dibuka hingga 22 Mei 2016 lalu pengumuman finalis akan dilakukan pada tanggal 23-28 Mei 2016 sebelum pemenang akan diumumkan pada 29 Mei 2016.
http://inibudi.org/iniinspirasiku/
Ini bukan pertama kali Tame Impala, band asal Australia yang mengusung genre psychedelic bermain di Jakarta. Lima tahun yang lalu, Kevin Parker dan kawan-kawan telah menyapa penggemar di Indonesia. Jum’at kemarin, 29 April 2016, cuaca yang sedikit pengap tak mengurungkan niat para pecinta musik yang datang dengan gaya hippie untuk berbondong-bondong ke Parkir Selatan Senayan dan menyaksikan Tame Impala yang pertama atau mungkin kedua kalinya.
Tame Impala yang membuka tur dunia “Currents” sejak awal tahun ini, memasukkan Jakarta sebagai kota terakhir di Asia dimana tak hanya menghidupkan suasana konser malam itu, tapi juga semangat yang terpancar dari panggung. Konser yang dibuka oleh Barasuara sekitar jam 19:00 dengan enerjik mengangkat atmosfer di tempat yang tadinya masih lowong menjadi penuh ke depan panggung, setelah Iga cs menghantarkan lagu-lagu mereka.
Tak lama setelah itu, sekitar jam 20:15, orang-orang dengan jas putih layaknya peneliti sibuk mempersiapkan instrumen untuk Tame Impala hingga layar di panggung menampilkan visual magnetik berupa lingkaran hijau yang diiringi dengan musik mendebarkan, Kevin muncul dengan baju bergaris-garis menyapa sekitar 5000 penonton yang sedari tadi tak sabar menonton mereka.
Kejutan bermunculan tanpa menunggu hingga klimaks acara, dimana pada lagu berikutnya, confetti berterbangan ke arah penonton yang terkejut dengan aksi yang disiapkan oleh kiosPLAY selaku promotor. Set list berisi 17 lagu yang disiapkan memang fluktuatif, namun tak jarang penonton sibuk menikmati suasana dengan memejamkan mata, bahkan memakai kacamata 3D untuk mendapatkan visualisasi maksimal, apalagi di lagu “Mind Mischief” yang dimainkan setelah “Let It Happen” dari album “Currents.”
Sekitar 90 menit Kevin mempersembahkan penampilan memukau dan falsetto tanpa cela, hingga lagu “Apocalypse Dreams” yang didapuk menjadi penutup membuat penonton berteriak “Encore!” Kevin pun kembali muncul dengan lagu meriah bermandikan confetti, “Feels Like We Only Go Backwards.” Sebelum Kevin pamit, ia terus mengatakan bahwa dirinya berkeringat “in a good way!,” katanya. “NPSOM” kali ini benar-benar menjadi lagu terakhir dari Tame Impala dan penonton bubar dengan perasaan puas namun ketagihan karena kombinasi visual dan sound memikat menutup Jum’at malam mereka dengan sempurna.
Pada edisi seleksi karya kali ini, Whiteboard Journal memilih delapan film dari deretan film yang akan diputar di festival Europe on Screen 2016. Dikenal sebagai festival tahunan yang memutarkan beragam jenis film di beberapa kota besar di Indonesia, tahun ini Europe on Screen tak hanya menghadirkan film-film box office tapi juga arthouse yang menarik untuk disimak.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?