Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Ini bukan pertama kali Tame Impala, band asal Australia yang mengusung genre psychedelic bermain di Jakarta. Lima tahun yang lalu, Kevin Parker dan kawan-kawan telah menyapa penggemar di Indonesia. Jum’at kemarin, 29 April 2016, cuaca yang sedikit pengap tak mengurungkan niat para pecinta musik yang datang dengan gaya hippie untuk berbondong-bondong ke Parkir Selatan Senayan dan menyaksikan Tame Impala yang pertama atau mungkin kedua kalinya.
Tame Impala yang membuka tur dunia “Currents” sejak awal tahun ini, memasukkan Jakarta sebagai kota terakhir di Asia dimana tak hanya menghidupkan suasana konser malam itu, tapi juga semangat yang terpancar dari panggung. Konser yang dibuka oleh Barasuara sekitar jam 19:00 dengan enerjik mengangkat atmosfer di tempat yang tadinya masih lowong menjadi penuh ke depan panggung, setelah Iga cs menghantarkan lagu-lagu mereka.
Tak lama setelah itu, sekitar jam 20:15, orang-orang dengan jas putih layaknya peneliti sibuk mempersiapkan instrumen untuk Tame Impala hingga layar di panggung menampilkan visual magnetik berupa lingkaran hijau yang diiringi dengan musik mendebarkan, Kevin muncul dengan baju bergaris-garis menyapa sekitar 5000 penonton yang sedari tadi tak sabar menonton mereka.
Kejutan bermunculan tanpa menunggu hingga klimaks acara, dimana pada lagu berikutnya, confetti berterbangan ke arah penonton yang terkejut dengan aksi yang disiapkan oleh kiosPLAY selaku promotor. Set list berisi 17 lagu yang disiapkan memang fluktuatif, namun tak jarang penonton sibuk menikmati suasana dengan memejamkan mata, bahkan memakai kacamata 3D untuk mendapatkan visualisasi maksimal, apalagi di lagu “Mind Mischief” yang dimainkan setelah “Let It Happen” dari album “Currents.”
Sekitar 90 menit Kevin mempersembahkan penampilan memukau dan falsetto tanpa cela, hingga lagu “Apocalypse Dreams” yang didapuk menjadi penutup membuat penonton berteriak “Encore!” Kevin pun kembali muncul dengan lagu meriah bermandikan confetti, “Feels Like We Only Go Backwards.” Sebelum Kevin pamit, ia terus mengatakan bahwa dirinya berkeringat “in a good way!,” katanya. “NPSOM” kali ini benar-benar menjadi lagu terakhir dari Tame Impala dan penonton bubar dengan perasaan puas namun ketagihan karena kombinasi visual dan sound memikat menutup Jum’at malam mereka dengan sempurna.
Pada edisi seleksi karya kali ini, Whiteboard Journal memilih delapan film dari deretan film yang akan diputar di festival Europe on Screen 2016. Dikenal sebagai festival tahunan yang memutarkan beragam jenis film di beberapa kota besar di Indonesia, tahun ini Europe on Screen tak hanya menghadirkan film-film box office tapi juga arthouse yang menarik untuk disimak.
Amir Pohan merupakan salah satu pelaku dalam ranah film independen di Indonesia yang kini aktif menggerakkan distribusi film alternative melalui platform online – Buttonijo – sebuah Production House, distributor serta yayasan yang fokus pada perkembangan film pendek dan panjang buatan Indonesia yang memiliki kualitas internasional.
Salah satu festival yang ditunggu-tunggu adalah Europe on Screen.Tahun ini Europe on Screen hadir kembali dengan 6 macam section film yang terdiri sekitar 60 judul film dari Jerman, Perancis, Denmark, Belanda hingga Polandia. Section film dalam festival dibuat untuk memperkenalkan film Eropa kepada masyarakat yang awam akan warna perfilman di sana serta menawarkan deretan film pilihan yang telah mendapatkan penghargaan di beberapa festival film dunia dikarenakan cerita filmnya yang tidak biasa. Sebuah festival yang dibuat untuk mempertemukan pecinta film, tak hanya Eropa tapi global di Indonesia.
XTRA menjadi seksi yang terdiri dari 16 film box office, lalu untuk film-film unik bisa ditemui di DISCOVERY, seperti “A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence.” Selain itu DOCU masih jadi seksi sensasional dimana beberapa film seperti “Holy Cow” yang merupakan dokumenter teratas di Eropa. Untuk mereka yang cinta film retro bisa menemukan harta karun Georges Méliès di seksi RETRO. Pun jika ingin mencari film ringan yang bisa dinikmati bersama keluarga, seksi FAMILY bisa jadi pilihan dengan “The Little Prince” sebagai salah satu film yang terkenal. Terakhir adalah seksi OPEN AIR dimana beberapa film pilihan akan diadakan setiap malam di Erasmus Huis dan 5 malam di Mall Bintaro Exchange.
Mengambil beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bali, Medan, Surabaya dan Yogyakarta sebagai titik pemutaran film, Europe on Screen menjadikan budaya screening kembali bergairah guna meningkatkan dialog dan referensi perfilman untuk perkembangan skena lokal. Semua film dapat ditonton tanpa dipungut biaya sehingga semua orang bisa menikmati film-film Eropa yang telah melalui proses kurasi.
Untuk detail jadwal, cek http://europeonscreen.org/ dan Events Page Whiteboardjournal.com
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?