Latest stories

Selected
18.10.16

Klapr

There are 26 songs in this mix. Guaranteed smooth!

17.10.16

Perpustakaan Digital Lokananta

Pengarsipan seringkali dianggap sepele oleh segelintir orang, padahal kegiatan ini dapat mempermudah kategorisasi suatu hal yang terkait dengan momen. Foto merupakan salah satu bentuk pengarsipan yang sebenarnya sudah pernah menjadi bagian dari rutinitas kita. Dengan kembali menggerakkan pengarsipan dan menikahkannya dengan perkembangan teknologi, Lokananta, dan studio musik milik pemerintah, meluncurkan perpustakaan digital untuk koleksi arsip musiknya melalui situs http://www.lokanantamusik.com/ pada Februari 2016 yang lalu. Mengingat Lokananta sebagai pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1956, adalah hal wajar jika akhirnya mereka ingin mengukuhkan segala musik yang mereka rilis dalam bentuk digital. Awalnya berlokasi di Solo, Jawa Tengah, kini Lokananta dapat diakses dengan mudah melalui internet. Adapun koleksi piringan hitam dan kaset yang berjumlah lebih dari 40.000 nantinya akan diubah menjadi musik digital lengkap dengan album album hingga penjelasan album. Selain merilis perpustakaan digital, sebuah buku hasil riset tiga penulis yakni Dzulfikri Putra Malawi, Fakhri Zakaria, dan Syaura Qotrunadha; yang hanya dicetak sebanyak 500 eksemplar, juga akan melengkapi proyek sebagai bentuk nyata kerjasama Perum Percetakan Negara Republik Indonesia Cabang Surakarta “Lokananta” dengan Lokananta Project. Proyek yang didukung Djarum Foundation ini, diharapkan dapat mempermudah alur informasi mengenai kiprah Lokananta dalam industri musik Indonesia serta perannya sebagai produsen ribuan lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia, lagu-lagu pop lama termasuk di antaranya lagu-lagu keroncong, bahkan rekaman pidato-pidato kenegaraan Presiden Soekarno kepada generasi hari ini hingga akan datang.

17.10.16

ICAD 2016: Seven Scenes

Pada 7 Oktober hingga 7 Desember 2016 mendatang, Indonesian Contemporary Art & Design menggelar pamerannya yang ke-7 dengan tajuk “Seven Scenes.” Dengan menggunakan ruang-ruang di grandkemang Hotel, pameran ini membuka pintunya selama 24 jam untuk mengajak pecinta seni melihat Kemang sebagai salah satu sudut kota yang mempengaruhi relasi yang terbentuk di masyarakat.

14.10.16

Low Pink – Phases (Official Video)

Label muda produktif asal Jakarta, Kolibri Records merilis video musik untuk rilisan terbarunya, Low Pink. Lagu yang dipilih adalah "Phases" yang juga merupakan judul EP dari Low Pink. Disutradarai oleh Ratta Bill (vokalis Bedchamber, sekaligus owner dari label ini), pendekatan yang diambil agak mengingatkan pada video Gizpel - Zittau yang mereka rilis sebelumnya. Menampilkan model yang juga sekaligus personil Low Pink ketika live, Phases bermain-main dengan white space, tone warna khas filter social media, dan gerakan minimal nan awkward, seolah berusaha menerjemahkan potongan lirik "I am my limitless efforts, my worst mistakes" dalam bentuk visual. Dan, bersamaan dengan dirilisnya video ini, Kolibri Records juga mengumumkan jadwal tur yang akan dijalani oleh Low Pink menuju enam kota di pulau Jawa (Bogor, Bandung, Solo, Jogja, Surabaya, dan Malang) pada 15-22 Oktober 2016. -- Dapatkan EP Low Pink dan rilisan Kolibri lainnya di sini.

13.10.16

Bandempo dan Dekonstruksi ala Sutardji Calzoum Bachri

Sejujurnya, Bandempo adalah band yang cukup sulit untuk dipahami. Setelah berulang kali mendengar lagunya, dan menemukan Bandempo menjadi nomor satu di 15 Album Indonesia Terbaik Dekade 2000-2010 versi Jakarta Beat, paham itu tak kunjung datang, bahkan justru bingung yang menyerang. Secara musik jelas mereka bukan tipe yang mudah bersahabat dengan kuping, sound rekaman mereka seperti direkam langsung dari amplifier studio latihan di pinggiran kota yang dihasilkan dari alat murahan dan efek gitar seadanya. Belum lagi mengenai cara menyanyi Anggun Priambodo yang jauh dari kata merdu, bahkan band sekolahan level SMP pun memiliki vokalis yang lebih enak dengar dibanding Anggun yang bernyanyi seolah enggan beranjak menuju akil baligh, meskipun ia telah sunat tiga kali. Dosisi tinggi absurditas pada lirik mereka jelas tak membantu. Maka, ketika Elevation Records mengumumkan bahwa mereka akan merilis reissue album satu-satunya dari diskografi Bandempo yang dulu dirilis pada tahun 2000, bingung itu kembali melanda. Buat apa merilis ulang sebuah album yang tak jelas jeluntrungannya ketika sekarang ada banyak sekali band baru yang menawarkan musik yang lebih menarik di telinga? Ternyata, layaknya pertanyaan penting lainnya, jawaban atas kebingungan itu datang pada saat yang tak terduga. Datang tanpa ekspektasi pada pesta rilis album vinyl reissue yang berlangsung pada 2 Oktober 2016, di Ruru Radio, Gudang Sarinah Ekosistem, Bandempo membuktikan diri sebagai band yang memiliki kualitas tersendiri. Kalau boleh menganalogikan, Bandempo memiliki perspektif yang mirip dengan Sutadji Calzoum Bachri, sastrawan nyeleneh yang mengobrak-abrik makna dan struktur puisi yang umum ditemui. Dengan gayanya sendiri, Sutardji membebaskan kata-kata, di tangannya puisi lebih dari sekedar indahnya persajakan dan rima, puisi karya Sutardji adalah karya instalasi yang melihat lebih dalam dari sekedar makna yang ada pada setiap kata (simak puisi karya Sutardji disini). Puisi bikinannya, bebas dari kungkungan makna leksikal, hingga tak jarang terdengar mirip seperti mantra. Malam itu, Anggun melakukan hal yang sama. Alih-alih bernyanyi, ia nyaris terdengar seperti sedang merapalkan mantra. Bersama rekan setimnya, Anggun mengobrak-abrik kaidah musik yang ada di kepala semua penontonnya. Dalam hal ini, musik Bandempo pun membebaskan diri dari makna leksikal, bahwa lirik tak harus gamblang maknanya, dan tentang terminologi genre yang tak lebih dari omong kosong belaka. Karena, indie-rock jelas tak akan cukup merangkum kombinasi nyanyian "biri-biri terbanglah tinggi", diantara irama musik yang kadang berisik, kadang berdendang, dan seringkali kekanakan itu. Penampilan Bandempo pada acara tersebut - tanpa atau dengan kostum ala Afrika itu, seolah menjelaskan mana posisi yang mereka ambil (entah sengaja atau tidak) melalui musik yang mereka mainkan. Jika sekali lagi boleh membandingkan, kalau Efek Rumah Kaca mungkin adalah personifikasi karya Chairil Anwar dalam bentuk musik, maka Bandempo jelas sekali adalah Sutardji Calzoum Bachri. Dua-duanya memiliki sumbangsih yang jelas pada kesusastraan lokal, dan dua-duanya dihargai sebagai sosok yang penting. Dan, dengan begitu, Elevation Records sekali lagi membuktikan tajamnya pengamatan mereka tentang musik baik yang harus diabadikan dalam bentuk rilisan. -- Vinyl Bandempo reissue bisa didapatkan di High Fidelity Jakarta, Omuniuum dan Kineruku Bandung atau via mail order ke elevation1977@gmail.com.

Column
13.10.16

The Imaginary Freedom and Nationalism

In this Open Column submission, Debora Irene Christine writes about freedom and nationality in Indonesia that have been vaguely interpreted by its people. Debora reveals how we’ve been living in utopian world and hopeful to the idea of freedom in the current sociopolitical condition of Indonesia.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.