Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Setelah lima tahun kemunculannya, band asal Bandung yang memperkenalkan diri sebagai band medieval-folk, Kamis 1 Desember 2016 mengunggah debut album perdana mereka. Berbeda dengan andalannya “Senandung Senja” dan “Black Sun”, melalui video berdurasi kurang dari satu menit yang diunggah pada kanal YouTube mereka, selain memperlihatkan penggarapan album, juga memperdengarkan musik dengan nuansa neo-psikadelia. Hal ini ditunjukkan dengan dominasi permainan synthesizer dan sound yang lebih bulat. Direncanakan Rusa Militan akan merilis 10 lagu pada album ini.
Dengarkan single Rusa Militan di sini
What began as a search for Brazilian tunes in my old computer ended up being a bit of a nostalgic trip with old favorites. Hope you enjoy all of this great music as much as I do.
Listen to this mixtape on whiteboard journal's mixcloud.
01. Karen Dalton - Reason to Believe
02. That's Why - Dyp Av Nade
03. Sarah Jones - Blood
04. Broadcast - The Be Colony
05. Tito Puente, Machito, Celia Cruz - Blues a la Machito
06. Erkin Koray - Seni Her Dordugumde
07. Francis Bebey - Sanza Tristesse
08. Glasslamp Killer - Nissim (Live)
09. Doug Carn - Acknowledgement
10. Joe Hisaishi - Howl's Moving Castle
Duo eksperimental asal Yogyakarta; Rully Shabara dan Wukir Suryadi, yang dikenal dengan Senyawa akan menggelar konser tunggal pertamanya di Indonesia. Dikenal berkat format musik yang tiada duanya, mereka berhasil membawa elemen dan semangat musik tradisional dalam kerangka musik modern ke dunia internasional. Berkat instrumen musik yang dibuat sendiri oleh Wukir, bebunyian yang hadir untuk mengiringi ragam frekuensi dari vokal Rully pun memiliki karakter kuat, sehingga mampu membedakan Senyawa dengan musisi lain dari seluruh dunia.
Adanya komposisi unik yang mereka hasilkan, membuat unit ini mampu berbagi panggung dan berkolaborasi dengan sejumlah nama penting seperti Damo Suzuki, Keiji Haino, Oren Ambarchi, Sun Ra Arkestra, Melt Banana, Death Grips, Trevor Dunn, Swans, hingga Bon Iver.
Kristi Monfries selaku manajer Senyawa mengatakan, “Kini, akhirnya Senyawa akan menggelar konser tunggal untuk pertama kalinya di tanah air, membawakan repertoar penuh yang mencerminkan progresi musik mereka selama ini dengan layak.” Mengambil dua judul lagu Senyawa, “Tanah" dan "Air,” konser yang diadakan oleh G Production ini, akan digelar di Gedung Kesenian Jakarta. Gedung ini dipilih berkat kualitas akustik yang besar sehingga Senyawa dapat mempresentasikan sejarah musik mereka dan mengajak penonton ke dalam perjalanan bunyi melalui perkembangan mereka sebagai unit musik. Dengan tata lampu minimalis serta gagasan menarik untuk menampilkan nomor-nomor dari Senyawa, konser ini akan menjadi penutup tahun yang berbeda.
-
Kamis, 22 Desember 2016
19:00
Gedung Kesenian Jakarta
Tiket:
Early bird Rp. 125.000 (berlaku sampai 21 Desember 2016) di Ruru Shop dan Omuniuum
On the spot Rp. 175.000
Informasi lengkap, silakan ke www.gproduction.co.id/senyawa
Honored to contribute another playlist for my buddy Jan's W Music program; Heart Attack. Selecting some new and not-so-new music from everywhere that has been regularly played on my smartphone's playlist to accompany my daily routines on the road. Nothing special here, just songs that i considered can give a slap in the face every time you need to be slapped in the face.
Listen to this episode of Heart Attack on Whiteboard Journal's Mixcloud.
01. Intro - Arus Kuat Arus Lemah
02. Razorheads - Black Blade
03. Gas Rag - Abort Them
04. Vaaska - Policia! Policia!
05. Bib - Pressure
06. Hoax - Down
07. Goon - Tall Buildings
08. Mongrel - Worthless
09. Hidden Bones - Slow Rot
10. A Sistem Rijek?! - Survive
11. Creep Stare - Cop Problem
12. Q - CQNTRQL
13. Failed Mutation - Flood Gates
14. Sonic Order - Common Thread
15. Technical Ecstasy - Pit Exists
16. Raid - What's Mine
17. Warthog - Functioning World
18. Slur - Control
19. Lubricant - Slave Driver
20. Peace or Annihilation - Nyanyikan Lagu Perang
Seolah tak pernah puas, muda-mudi yang bergelut di Indonesia terus mencari warna baru di lantai dansa. Setelah sekian banyak kolektif yang bermunculan dengan karakter masing-masing, sebuah inisiatif muncul dari 3 orang musisi dan asal Jakarta, untuk membuat Dekadenz - wadah bagi band dan DJ untuk berkesperimen dalam mengolah musik dengan
Adalah Jonathan “Ojon” Kusuma, Aditya Permana dan Ridwan Susanto yang bergerak bersama atas nama kolektif Dekadenz ini. Dalam eksekusinya, acara yang mereka gelar selalu hadir dengan nuansa ala yang disinari cahaya merah. Walau berlandaskan Electronic Body Music (EBM), nomor-nomor industrial, DIY dan turut mewarnai episode Dekadenz.
Kami berkesempatan untuk mengobrol dan menanyakan dekadensi yang mereka tawarkan untuk dance di Indonesia.
Kesamaan visi dalam musik.
-nya musik.
Genre musik yang disukai kami banyak yang sama dan bisa dieksplorasi untuk dijadikan kolektif di Jakarta.
Musik-musik dansa selama 30 tahun terakhir yang tidak populer, terasa absurd karena ritma etniknya yang terus berganti dan akhirnya bisa dimainkan oleh kita, orang Indonesia.
Dan cara kami menyuarakan musik yang mencerminkan hidup sehari-hari di Jakarta.
dan warna sendiri. Apa yang membedakan Dekadenz dengan kolektif yang lain?
Tiap kolektif punya warna musik yang berbeda-beda dan semua punya prinsip musik masing-masing. Dekadenz menyukai unsur musik gelap dan suara kasar dari analog atau synth dengan paduan unsur perkusi tropikal.
Yang membedakan kami dengan yang lainnya mungkin adalah kombinasi dari latar belakang kita masing-masing. Tapi secara lagu-lagu yang kami mainkan cenderung lebih bernuansa setidaknya menurut saya.
Selain dari musik, kami juga berusaha kolaborasi dengan musisi dan yang sejalan dengan konsep kami.
dalam musik dan acara yang kalian buat. Konsep apa yang kalian ingin berikan dalam tiap Dekadenz?
kalau kata Ridwan (tertawa).
Dan suasana di ruangan gelap bercahaya merah yang seru!
Konsep kolaborasi setiap Dekadenz lebih enak kalau ada hal-hal tersebut.
Adit paling bisa jelasin nih (tertawa).
Semangat untuk memainkan musik yang lebih baru dan aneh (tertawa).
Musik-musik yang lebih susah diterima oleh anak muda mungkin?
Kiri yang dimaksud adalah genre generalisasi di musik yang lebih komposisinya lebih eksperimental.
atau dari talenta lokal. Apakah dengan banyaknya variasi dalam kalian kesulitan dalam mengkurasi bakat-bakat yang sejalan dengan Dekadenz?
tapi sebisa mungkin kami kurasi dengan baik, dengan harapan, adanya Dekadenz bisa menjadi medium atau inspirasi ke yang lain.
Kami berharap akan lebih banyak lagi menemukan talenta-talenta muda lokal yang bisa kami ajak kerja sama.
Bertukar pikiran dalam membuat suatu karya adalah hal yang seru.
Podcast yang mengundang band atau produser lokal untuk memainkan lagu yang ‘Dekadenz’ menurut versi mereka. Juga mengeluarkan banyak Dekadenz edit.
https://www.mixcloud.com/dekadenz/
Di "Surga dan Hipokrisi Kita," Muhammad Hilmi merenungkan retorika agamis yang sering dipakai kali sebagai alat menggerakan massa. Berlabuh pada pemahamannya mengenai ajaran Islam dan pengalaman pribadi, Hilmi memberi kritik pemakaian agama dalam mengesahkan pesan-pesan dan gerakan intoleran.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?