Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Dimulai dengan menyantap pizza, Nabilah Basuki menulis mengenai autentisitas dan kesederhanaan makanan asal Itali ini sebelum menjelaskan bagaimana dua karakter tersebut membentuk pola makan dan mempengaruhi kualitas kesehatan penikmatnya. Selamat membaca submisi Open Column ini!
Setelah pesta peluncurannya, kompilasi Dentum Dansa Bawah Tanah pada Cassette Store Day beberapa waktu lalu, tidak hanya mempertunjukkan penampilan dari para unit musik yang terlibat, tapi juga menjadi sebuah penanda bahwa 14 unit musik yang dikurasi oleh Pepaya Records ini mampu merepresentasikan bagaimana musik elektronik bawah tanah saat ini. Tidak selesai sampai di situ, kompilasi sekali lagi akan mengadakan sebuah gelaran, berkolaborasi bersama sebuah gig rutin yang telah mendokumentasikan scene musik di Indonesia, yakni Superbad. Pada kesempatannya, Whoosah, Future Collective, dan Sumantra menjadi 3 dari 14 nama dari kompilasi ini yang akan bermain di Jaya Pub pada 18 Desember 2016 nanti. Kami berkesempatan untuk berbincang dengan mereka untuk menanyakan proses kreatif dalam menyiapkan kontribusi ke dalam kompilasi serta penampilan mereka untuk akhir minggu ini.
Berawal dari perbincangan hangat antara dua orang (Sawi Lieu & Tida Wilson), yang akhirnya terus berkembang menjadi sebuah grup musik.
Untuk kami konsep “future” adalah berkembangnya teknologi dari masa ke masa, sebagai contoh adalah MIDI.
Kami selalu bertukar referensi musik sebelum membuat lagu baru. Saling berkomentar juga salah satu proses kreatif dan eksperimentasi untuk kami. Kami mencoba menggunakan segala hal yang kami bisa dalam hal ini.
“Vista Panoramica” tadinya ingin menjadi seperti soundtrack film soft porn dari Italy, dengan alunan suara vocal ala Edda Dell’Orso. Tetapi hal ini tak pernah terjadi. Untuk sementara persiapan kami adalah latihan membawakan beberapa karya lama dan baru.
Awalnya saya memang suka dengar lagu elektronik, terutama hip hop. Lalu karena ketertarikan tersebut, saya jadi penasaran dengan para produser lagu hip hop dan bagaimana mereka membuat sebuah beat. Dari situ, lambat laun saya belajar sendiri untuk membuat beat.
Karena saya suka buat sample lagu, jadi biasanya dimulai dengan mendengar lagu. Bila ada lagu yang pas, saya buat sample dan kotak-katik sendiri, lalu jadilah sebuah lagu. Kadang-kadang bisa juga inspirasi datang ketika saya sedang mendengar lagu dari produser lain yang membuat saya mulai kotak-katik program sampai jadi lagu.
Saya memang waktu itu lagi ingin membuat beat hip hop dari lagu-lagu yang biasanya dipasang di elevator. Saya menemukan lagu yang pas, lalu saya buat sample dan jadilah “Elevator Music.” Yang paling sulit dalam proses membuat lagu adalah membuat judulnya, makanya judulnya straightforward sekali - “Elevator Music”.
Sejujurnya saya masih baru sekali dengan scene musik di Jakarta, tetapi menurut observasi saya scene musik di Jakarta itu sangat hidup. Hampir tiap minggu ada acara yang selalu ramai dan produser-produser dalam kotanya juga sangat banyak.
Persiapan khusus untuk acara Superbad! x Dentum Dansa Bawah Tanah nanti, adalah SP404 dan beat-beat pilihan yang akan saya mainkan nanti. Selamat berdansa.
Dance musik itu merupakan hal yang belum pernah kami buat sebelumnya. Pada awalnya kami memang cuma penasaran dengan cara membuat musik ini karena progresi nada dan pattern-nya lumayan berbeda dengan yang pernah kami lakukan saat membuat lagu dalam guitar-driven band. Intinya kami jadi merasa tertantang untuk belajar memproduksi sesuatu yang fresh, karena kami memang ingin mencoba untuk terus berkembang.
Esensi yang kami lakukan saat proses membuat musik di Sunmantra adalah kami berusaha agar tidak mengulang kembali hal-hal yang pernah kami lakukan dalam proses pembuatan. Dalam setiap lagu kami usahakan ada unsur-unsur suara yang berbeda, sehingga hal itu memacu kami untuk selalu berinovasi dalam proses produksi.
Sebenarnya subjek dari “Silver Ray” sendiri adalah kami sendiri yang di sini berusaha menghilangkan kebiasaan lama dalam membuat musik demi suatu karya yang lebih baik ke depannya.
Musik yang ditampilkan menurut kami sangat beragam ya warnanya, semuanya punya karakter masing-masing. Keren sekali.
Kalau kondisi memungkinkan, kami akan tampil dalam format band untuk sekali lagi, dan membawakan lagu baru dengan elemen yang lebih organik.
-
Superbad! x Dentum Dansa Bawah Tanah
Minggu, 18 Desember 2016
20:00
Jaya Pub
Jl. MH Thamrin No. 12
Jakarta
Evan Puschak adalah seorang Youtuber yang dikenal sebagai The Nerdwriter. Di kanal videonya, ia membuat esai-esai video yang membahas berbagai macam topik. Dari fenomena pop-culture, politik, sampai ilmu pengetahuan alam, The Nerdwriter adalah rumah untuk video informatif dan menghibur. Salah satu bintang Youtube dengan popularitasnya sedang menanjak, kami berkesempatan untuk berbincang dengan Evan Puschak setelah dia memberi lektur di Singapore Writers Festival.
Sebagai baru, Toko Misteri nampaknya tidak hanya ingin dikenal sebagai toko yang menjual barang-barang saja, melainkan melebarkan eksistensi tokonya dengan rutin mengadakan berbagai acara dan kegiatan di sana. Setelah sempat mengadakan kolaborasi bersama Manual Jakarta dan Binatang Press! pada Pekan Misteri, kali ini Eric Lim mengajak Ajeng Dewi Swastiari untuk ngobrol santai di tokonya dan menjadikan obrolan tersebut sebagai episode pertama “Bincang Misteri.”
Bincang Misteri direncanakan menjadi acara rutin dengan format obrolan santai bersama seorang bintang tamu. Pada setiap episodenya Eric Lim mengundang sosok-sosok menarik dari berbagai macam bidang kreatif yang diharapkan bisa memberikan berbagai macam wawasan baru untuk para Sobat Misteri. Untuk episode pertamanya, Bincang Misteri akan mengundang seorang fashion stylist asal Jakarta, Ajeng Svastiari. Selama tujuh tahun terakhir, kredibilitas Ajeng Dewi Swastiari cukup diakui, salah satunya dengan dipercaya untuk menjadi personal stylist salah seorang diva Indonesia, Titi DJ dan penyanyi lainnya seperti Bunga Citra Lestari, Sherina, hingga Dira Sugandi. Selain itu Ajeng juga mengajar jurusan fashion di Raffles Institute of Higher Education Jakarta dan menjadi seorang fashion director untuk label busana Tri Handoko. Dengan latar belakang tersebut, Ajeng Svastiari akan menjadi sosok yang tepat bagi pembuka seri Bincang Misteri.
Bincang Misteri
Sabtu, 17 Desember 2016
16:00
Toko Misteri - Bara Futsal
Jl. Falatehan No.68
Jakarta
Mendengar kata kemanusiaan, timbul sebuah relativitas yang dapat mencerminkan sifat manusia jika dihadapi dengan situasi tertentu. Ketika ranah konflik yang padat dengan permasalahan terkait bencana dan perang, kemanusiaan menjadi hal langka untuk memenuhi hak-hak mereka. Banyaknya konflik yang mendera tempat-tempat seperti Aleppo hingga Sierra Leone, membuat beberapa belahan dunia dipenuhi dengan penyintas yang membutuhkan pelayanan medis secara layak.
Berangkat dari hal tersebut, sebuah lembaga independen bernama Medecins Sans Frontieres (MSF) dibangun untuk mengumpulkan relawan dan dokter-dokter guna memberikan pelayanan medis layak kepada para penyintas di berbagai belahan dunia. Aksi yang mereka tawarkan tidak hanya terbatas pada hal berbau medis, tapi juga keberadaan mereka di antara para penyintas memberikan support mental yang dibutuhkan untuk mendorong semangat hidup.
Setelah berdiri selama puluhan tahun di lebih dari 60 negara, MSF kini ingin mengajak semua orang untuk merasakan perjalanan dan kenyataan yang dialami oleh pasien, pekerja medis, serta masyarakat di dunia lewat pameran foto bernama “No Borders.” Lewat instalasi foto dari fotografer ternama, pameran ini tidak hanya memberikan gambaran situasi yang dialami para penyintas untuk hidup layak, tapi juga informasi mendetail mengenai apa saja hal-hal yang mereka lewati dan alami untuk mendapatkan hak mereka sebagai manusia.
Bertempat di Grand Indonesia, pameran ini tiap harinya dihadiri oleh staf lapangan MSF dari Indonesia yang akan menjelaskan detail informasi mengenai isu-isu tertentu. Selain on-site staf, film-film yang menceritakan konflik di beberapa tempat juga akan diputar, serta diskusi dengan travel writer, dokter MSF dan fotografer Reuters hingga Getty Images. Lewat foto-foto dan data yang terpajang di pameran ini, pengunjung dapat memahami kehadiran MSF di antara mereka yang menjadi shelter bagi mereka yang didera bencana kemanusiaan, tanpa melihat ras, agama maupun politik tiap orang.
8-18 Desember 2016
11:00-21:00
Grand Indonesia
West Mall, Lantai 5
Jl. M.H. Thamrin No. 1
Jakarta
http://msf-seasia.org/indonesia
Episode Loka Suara kali ini berisikan lagu-lagu bergenre indie rock, psikedelik hingga hip hop
terbaik yang dirilis di seperempat terakhir tahun 2016.
Dengarkan episode Loka Suara kali ini di Mixcloud Whiteboard Journal.
01. Ray Magus - Rhymes of Adorer
02. Rusa Militan - Rusa dan Singa
03. Bagas Yudhiswa - Overstate
04. Skandal - Superfine
05. Textpack - Wasted
06. Dopest Dope - Balada Hampa Udara
07. Dizzyhead - You
08. Linger - Nobody's Property
09. Indigo Moire - Constant Soul
10. Gaung - Global Problem Listening Class
11. Matter - 44 Bars Remix (Instrumental by 6ix)
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?