Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Ever had a long, tiering week? I've had two and so this is for all of you grinding daily. Take time to lower the lights, pour yourself a drink, and unwind.
Listen to this mixtape on Whiteboard Journal's Mixcloud.
01. Sonny Rollins - God Bless the Child
02. Joe Pass - Nuages
03. Wayne Shorter - Teru
04. Grant Green - Idle Moments
05. George Benson - Summer Wishes, Winter Dreams
06. John Coltrane - Naima
07. Jackie Maclean - Truth
08. Stanley Turrentine - Little Girl Blue
09. Cecil Mclorin Salvant - Monday
10. Joe Henderson - La Mesha
11. Kenny Burrell - Gee Baby Ain't I Good to You
12. Kenny Dorham - Lotus Flower
Sejak diinisiasi empat tahun yang lalu, selalu tercipta kenangan tersendiri dari setiap gelaran Film Musik Makan. Selain mempertemukan dua bidang kreatif Film dan Musik yang selama ini terasa seperti berjalan terpisah, Film Musik Makan terutamanya penting karena tradisinya yang menawan. Hampir setiap tahun, film yang diputar di festival ini kemudian meraih pujian di ajang internasional, dari “The Fox Exploits The Tiger Must” yang meraih pujian di Cannes, “Prenjak” yang juga meraih pencapaian di ajang yang sama, hingga “Siti” yang meraih banyak penghargaan di luar dan piala citra untuk film terbaik tahun 2015.
Dengan sejarah yang demikian, ada ekspektasi yang cukup tinggi pada gelaran keempat Film, Musik Makan 2017. Diadakan di tempat yang sama Goethe Institut Jakarta, awal Maret mendatang, Film Musik Makan tahun ini memiliki segalanya untuk menjawab tingginya ekspektasi ini. Pada press conference yang diadakan pada hari Kamis, 16 Februari 2017 di Kinosaurus, Kemang, tim penyelenggara memperkenalkan konsep yang mereka angkat tahun ini, sekaligus memberi cuplikan dari salah satu film yang akan ditayangkan perdana di Jakarta saat acara nantinya. Salah satunya yang diputar pagi itu adalah film panjang berjudul “Turah”, karya sutradara Wicaksono Wisnu Legowo. Film ini bercerita mengenai dilema kehidupan sosial sebuah kampung di Tegal, Jawa Tengah. Skrip yang real, dengan akting yang sangat kuat oleh casting yang terdiri dari para pemain teater, “Turah” mengingatkan pada kualitas “Siti” yang monumental itu.
Selain “Turah” akan diputar pula dua film panjang, salah satunya “Apprentice” karya sutradara Singapura, Boo Junfeng yang telah meraih “Official Selection Un Certain Regard” dari Cannes Film Festival 2016. Dan juga “Ziarah” karya BW Purbanegara yang telah memenangi Best Asian Feature daru Salamindanaw Asian Film Festival 2016.
Jika tahun 2016, Film Musik Makan mengundang White Shoes and The Couples Company, maka tahun ini musisi tamu yang akan bermain adalah Pandai Besi. Yang membuat penampilan Pandai Besi di acara ini semakin spesial adalah bahwa Poppie Airil dan kawan-kawan akan merilis satu single baru yang dibaut dari komposisi original Pandai Besi.
Dari sisi makanan, aktor sekaligus sutradara Lola Amaria yang biasa meracik makanan di Nasi Pedes Cipete akan bergabung dengan sinematografer Batara Goempar dan Aline Jusria yang berperan sebagai penyedia pangan di acara ini dengan resep tradisi yang tentunya menjadi salah satu alasan untuk menikmati festival ini. Pada hari Sabtu, 4 Maret 2017 Film Musik Makan akan dimulai dengan screening film jam 12:00 dan diakhiri dengan pentas Pandai Besi. Film Musik Makan bisa dinikmati dengan nilai donasi sebesar 200.000 (tidak termasuk makanan).
Info selengkapnya dan reservasi:
Email: filmmusikmakan@gmail.com
Telepon/Whatsapp: 085693346659
Sukses mengadakan acara reuni berkedok malam karaoke lagu-lagu emo awal tahun 2000an, dan mengorek aib-aib masa muda, we.hum collective kembali bekerja sama dengan kolektif zine sobatindie, akan kembali menggelar malam karaoke yang kembali mengundang nostalgia. Kali ini soundtrack dari salah satu game console favorit, yakni “Tony Hawk’s Pro Skater” menjadi tema karaoke.
Sekali lagi malam karaoke kembali mengingatkan masa-masa dimana baju gombrong, sepatu sneakers dan plester di lutut dianggap sangat keren. “Buat beberapa di antara kami, soundtrack-soundtrack THPS adalah gerbang perkenalan menuju berbagai macam subgenre musik ngebut pemacu adrenalin” ujar #SobatHumming mengenai tema malam karaoke yang akan digelar nanti.
Supaya nostalgia tak berhenti disitu, malam karaoke kali ini dilengkapi dengan kompetisi THPS. Detail acara akan diumumkan melalui akun Twitter @sobatindi3 dan page event Facebook we.hum collective. Pesan dari #SobatHumming adalah “Sebaiknya kalian latihan sekarang, karena kami percaya tak ada perasaan lebih adiluhung daripada keberhasilan mempecundangi teman sekomplek kalian dalam meraih skor di pertarungan 1 on 1.”
Tandai tanggalnya, Jumat, 24 Februari 2017.
Informasi lebih lanjut, silahkan cek page we.hum collective di sini.
Percakapan antara 2 individu di sebuah warung kopi rupanya mampu menstimulasi duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening dalam proses bermusik. Bagi mereka, dialektika tersebut merupakan sebuah potret dari sebuah kota kelahiran mereka, yang mana kota tersebut pun dijadikan sebagai tema besar pada album perdananya yakni Surabaya. Melalui sepuluh lagu yang diringi dengan alunan dua gitar bolong, Silampukau mampu mengilustrasikan sudut-sudut berserta isi dari Kota Pahlawan dengan pendekatan yang berbeda. Lewat karakter liriknya yang kuat, sederhana dan cenderung puitis - karena struktur rima pada setiap lagunya - Silampukau mampu menyiratkan pesan-pesan yang ingin disampaikannya dengan apik.
Beberapa hari lalu, Silampukau baru saja mengeluarkan video klip untuk salah satu lagu andalannya, “Si Pelanggan” yang menceritakan salah satu lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, Dolly. Inspirasi lagu ini juga datang dari salah satu puisi karangan seorang penyair Surabaya yakni Indra Tjahyadi. Pada lagu ini, Silampukau menggambarkan bagaimana tiap individu di Dolly saling melengkapi satu sama lain. Penggalan lirik puitis pun menggambarkan kehampaan dan romantisme Dolly yang hanya diketahuin oleh para “pelanggan.”
Berdurasi kurang dari 5 menit dan berpusat pada sebuah set di kamar, alunan musik Silampukau membius dan memunculkan rasa campur aduk akan “teks” yang ingin ditampilkan melalui video ini. Lagi-lagi Silampukau mampu memberikan kesederhanaan namun meninggalkan bekas yang melekat lewat nomor “Si Pelanggan”.
Setelah Pemilu langsung, muncul beberapa lembaga survey politik di Indonesia yang memberikan prediksi pemenang secara terbuka. Kami menemui salah satu peneliti politik dari CSIS, Arya Fernandes untuk menggali mengenai skema politik domestik yang penuh spekulasi dan peta politik internasional pasca terpilihnya Presiden Ameria Serikat.
Setelah dua tahun “Footstep” lahir, akhirnya trio emotive hardcore asal Jakarta Vague, mengeluarkan single terbarunya yang diperdengarkan lewat akun Soundcloud mereka (14/2). Jika biasa mendengarkan Yudhis menyanyikan lirik berbahasa Inggris, lewat lagu bertajuk “Sajak Pucat Pasi” Vague menawarkan pengalaman lain. Patut diingat pula bahwa lagu ini merupakan lagu pertama Vague dengan bahasa Indonesia. Walau bahasa Indonesia sering menjadi problema dalam penulisan lirik di antara para musisi lokal, lewat lagu ini, Vague mampu memperlihatkan kemampuannya dalam berbahasa.
Dikabarkan juga, Vague akan merilis split EP dengan band post-hardcore Malaysia, Killeur Calculateur dengan track “Sajak Pucat Pasi” termasuk di dalamnya. Format album split EP ini akan dirilis dalam format vinyl 7” dan kaset sebagai bentuk kolaborasi antara Tandang Records (Malaysia) dan Alter Naive Production.
Untuk itu, sambil menunggu rilisan tersebut, silahkan cek single terbaru Vague di sini.
Foto diambil dari blog
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?