Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
The World of Ghibli Jakarta bisa jadi kabar bahagia untuk banyak penggemar Studio Ghibli, tidak cuma di Jakarta, tapi juga di Indonesia. Rangkaian acara ini akan terdiri dari tiga fase dan pemutaran 22 film Studio Ghibli di 45 layar bioskop di Indonesia. Pertama adalah pemutaran lima film all time favorite karya Hayao Miyazaki selama lima bulan ke depan yaitu: Spirited Away, My Neighbor Totoro, Ponyo, Princess Mononoke, dan Howl’s Moving Castle yang akan ditayangkan bergilir dari bulan April-September 2017.
Menonton film-film Ghibli tentu menjadi sesuatu yang istimewa untuk penggemarnya di Indonesia. Bagaimana tidak, film-film Ghibli hampir tidak pernah diputar di bioskop-bioskop tanah air. Sehingga untukk kita-kita di Indonesia yang terbiasa menikmati warna-warni cerita film Ghibli via vlc media player, askes menontonnya di bioskop menjadi suatu kemewahan tersendiri.
Belum cukup dengan lima film yang ditayangkan selama lima bulan ke depan, The World of Ghibli Jakarta juga menggelar pameran yang akan memajang berbagai hal dari set film-film Ghibli yang ikonik. Mereka semacam ingin memanjakan penggemarnya lebih lagi dengan membawa mereka masuk ke dalam dunia Ghibli yang magis. Pameran ini kemudian juga menjadi fase kedua dari rangkaian acara tersebut dan berlangsung dari 10 Agustus-17 September 2017. The World of Ghibli Jakarta ini kemudian akan ditutup dengan pemutaran 22 film Studio Ghibli sampai Maret 2018.
Di sisi lain, rangkaian acara ini juga bisa dilihat ajang Studio Ghibli untuk menguji antusiasme pasar Indonesia terhadap film-film Studio Ghibli mengingat Studi Ghibli kini sedang melakukan proses developing pasca hiatus 2015 lalu. Sambutan hangat terhadap The World of Ghibli juga dapat dikatakan sebagai lampu hijau bagi pasar Studio Ghibli di Indonesia nantinya. Tapi terlepas dari apakah pameran besar-besaran Ghibli di Indonesia ini hanya sekadar untuk memuaskan kerinduan para penggemarnya di Indonesia atau memang ajak cek ombak, kapan lagi bisa nonton film Ghibli di bioskop?
An altered version of EDM with stuff from the legendary Italo producer, Giorgio Moroder to the contemporary synthpop group, Holy Ghost!
Listen to this episode of Bamboo Twist on Whiteboardjournal.com's Mixcloud page.
1. Humphrey Robertson - Don't Stop Loving Me
2. Limahl - Never Ending Story
3. Rygar - Star Tracks (Dance Version)
4. Sharon - Touch Me Baby (Special Disco Version)
5. Holy Ghost! - Dumb Disco Ideas
6. Space - Magic Fly
7. New Order - Blue Monday '88
8. Giorgio Moroder - Racer
9. Telex - Moskow Diskow (French Extended Version)
Dengan hanya bekal satu lagu berjudul “Void”, Heals mengemuka menjadi salah satu yang paling ditunggu dari Bandung post-2010’an. Tapi tak ada heran disitu, karena secara disonan dan komposisi, Alyuadi beserta kawan-kawan muncul dan mengisi kekosongan di irisan antara fans shoegaze dan alt-rock yang ternyata cukup besar dalam jumlah penggemar. Dan tentu tak hanya itu, nyatanya mereka mampu mengisi ceruk tersebut dengan kualitas yang mencukupi - kalau bukan lumayan, buktinya bisa dilihat pada angka nyaris empat puluh ribu plays di track "Void" yang mereka unggah 21 September 2014.
Tiga tahun berselang, Heals memperpanjang usia mereka dalam album penuh pertama berjudul “Spektrum”. Berisi 10 lagu, album ini memasukkan “Void” dan “Wave” yang sempat keluar sebagai pengisi penantian menuju album. Dirilis bersama record label senior, Fast Forward Records, album ini bisa didapatkan sejak Minggu, 9 April 2017 dalam bentuk fisik dan digital.
Jika “Void” telah menempatkan titik yang cukup tinggi pada ekspektasi kualitas karya Heals, album ini menjawabnya hingga tandas. Heals mengambil jarak yang cukup signifikan dengan shoegaze/post-rock ala Bandung kebanyakan. Alih-alih mengawang, album ini banyak berisi lick tajam (bahkan beraroma techy di beberapa part) yang akan mendapat penjelasan saat melihat latar belakang personilnya yang juga bermain di proyek musik metal (Alyuadi bermain di Caravan of Anaconda dan Deathless, Octavia bermain di Worthless Unit). Dan dengan itu, “Spektrum” bergabung bersama "Saudade" dari Annie Hall yang cukup distingtif diantara tren crossover shoegaze yang cenderung gitu-gitu aja sekarang.
Dengarkan albumnya berikut.
Portofolio adalah salah satu fitur pada kolom Focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali ini kami mengangkat studio desain SWG Design dari Jakarta yang melihat desain grafis sebagai sebuah strategi dalam berbagai hal setiap harinya.
Sejak pertama kali mendengar gubahan puisi "Buat Gadis Rasyid" dari Chairil Anwar yang diterjemahkan menjadi lagu yang indah oleh Galih di awal tahun 2000an, sulit untuk tidak tertarik dengan karya-karya lain bikinannya. Terasa ada nuansa grunge yang bersembunyi di balik serak tarikan suaranya, namun jelas jalan yang Galih ambil bukan untuk menjadi martir genre yang meneriakkan "grunge harga mati", ia memilih jalan yang lebih sunyi, namun memiliki jalan yang jauh lebih terang di hati. Alih-alih mengeksplorasi karakter suaranya yang seolah diimpor langsung dari Seattle, ia mendekatkan diri dengan tanah lahirnya, dan menyanyikan lagu tentang bumi yang menopang pijak kakinya.
Setelah merilis album Deugalih and Folks di tahun 2015, akhirnya ada karya baru dari Galih. Kali ini ia tampil sendiri bersama gitarnya menyanyikan lagu-lagu yang ada di kepalanya. Ini jelas adalah hal yang patut dirayakan, karena memang sejatinya, kualitas terbaik Galih ada di saat-saat seperti ini. Tulus dan jujur yang merupakan warna terbaik darinya bisa lebih terasa, dan dengan itu, indah sekali lagi ada.
Sebagai pembuka menuju album yang rencananya akan dirilis pada 22 April mendatang, Deugalih merilis satu lagu berjudul "Di Kampungku" yang mengingatkan pada lagu lagu Franky Sahilatua.
Simak lagunya berikut:
Proyek musik asal Yogyakarta, Sisir Tanah akan melakukan tur untuk 17 venue di berbagai kota berbarengan dengan peluncuran album perdana mereka Harus Berani. Berasal dari proyek solo Bagus Dwi Danto sejak 2010 lalu, nama Sisir Tanah kerap mengunjungi panggung-panggung dan kegiatan di beberapa kota. Sempat tampil dengan personil dan aransemen berbeda di setiap penampilan dan lagunya, kini mereka mengukuhkan bentuk.
Sisir Tanah terkenal memiliki kekuatan lirik berbahasa Indonesia dan bangunan musik folk yang kaya dengan banyak instrumen. Lagu-lagu mereka rencananya akan dirilis dalam format CD dan akan dipromosikan pada tur mereka tersebut.
Tur yang dipersembahkan oleh Kongsi Jahat Syndicate itu menggaet beberapa personil band Jogja lain semisal Faizal Rachman dari Answer Sheet dan Erson Padapiran dari Belkastrelka. Mereka akan melakukan tur dari tanggal 13 April hingga 4 Mei. Dimulai dari Jakarta dan berakhir di Jogjakarta.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?