Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Dari, untuk, oleh, dan soal perempuan. Begitulah kira-kira menjelaskan buku Girl on Girl: Art and Photography in the Age of Female Gaze karya jurnalis seni, Charlotte Jansen. Buku yang berisikan wawancara dengan 40 fotografer perempuan di 17 negara ini dibuat untuk merespon tumbuh pesatnya jumlah fotografer perempuan di dunia selama lima tahun terakhir.
Jansen menjelaskan bahwa foto yang dibuat oleh perempuan bukan sekadar narasi visual pembanding dari yang sudah dikonstruksi sebelumnya oleh kaum Adam. Akan tetapi buku ini juga dibuat untuk memperkaya ide mengenai ragam bentuk perempuan dan menumbuhkan empati akan kesetaraan gender.
Isu yang dibawa beragam. Mulai dari eksotifikasi tubuh perempuan di Brazil Utara oleh para kolonial barat karya fotografer Turki Pinar Yolacan, kritik akan pandangan orientalis para pelukis Eropa terhadap perempuan Arab karya Lalla Essaydi, kritik terhadap kapitalisme barat yang berusaha menyamaratakan identitas perempuan karya Yvonne Todd, sampai bagaimana fotografer perempuan sering kali tidak dianggap serius oleh klien seperti yang dialami fotografer Jepang Monika Mogi.
Jansen pun menyatakan bahwa usaha pemberdayaan perempuan oleh para fotografer dalam bukunya ini, tidak hanya dilakukan melalui pesan visual di depan lensa, namun juga melalui pendekatan terhadap subjek yang dilakukan para fotografer perempuan. Fotografer yang diwawancarainya cenderung memiliki kedekatan yang lebih dengan subjeknya yang membuat mereka terus mencari tahu dan mencoba memahami cerita dari para subjeknya sehingga memberikan kenyamanan bagi perempuan-perempuan yang menjadi modelnya.
Agnes Varda adalah sutradara perempuan berkebangsaan Perancis yang telah menciptakan beberapa karya penting pada karirnya. Selain menemukan gaya visual dan narasi yang kuat, tema individual dan kemanusiaan yang ia sematkan pada tokoh dalam ceritanya membuat sinema Perancis saat itu dikenal sebagai bentuk mutakhir dan berpengaruh. Agnes membawa gelombang new wave dalam filmography sebagai gairah kesenian yang baru pada era post-war.
Mac DeMarco mengajak pendengarnya berkontemplasi melalui single ketiganya tahun ini, “On the Level”. Bersamaan dengan lagu ini, terdapat dua lagu yang ia rilis sebelumnya, yakni “This Old Dog” dan “My Old Man” sebagai bentuk refleksi atas hubungannya dengan keluarga, terutama sang Ayah. Namun, jika dalam kedua lagu tersebut DeMarco lebih banyak menyuarakan kemarahannya, “On the Level” bicara mengenai penerimaan diri.
Kombinasi pengulangan chorus bagai mantra dan buaian melodi synth yang kental kemudian menghipnotis pendengar untuk masuk lebih dalam merenungi dirinya sendiri. Ia berbicara mengenai melalui untaian kalimat
Hadir dengan lirik dan melodi serupa dengan “Chamber of Reflection” dari album Salad Days, adalah lumrah jika kita menganggapnya sebagai kelanjutan cerita personal dari DeMarco akan kesendiriannya. Hal tersebut membuat This Old Dog menjadi sebuah album baru darinya yang patut ditunggu untuk didengar kala dalam perjalanan panjang.
Album Telefone yang dirilis pertengahan tahun lalu oleh Noname memiliki residu gaung yang kuat dan membuat Fatimah Warner dianggap sebagai yang perlu diperhitungkan. Dalam pertamanya itu ia menggaet nama penting seperti Saba, Mick Jenkins, dan rapper muda lain yang dikenal dengan nama Chance.
Lirik yang intim, bangunan musik sederhana dan kapasitas pendukung dalam Telefone jadi kesatuan yang harmonis dan menarik. Berangkat dari latar belakang tumbuh di lingkungan African-American di Chicago, lirik dalam Telefone menceritakan narasi yang sama dari sisi yang berbeda. Fatimah mengambil hubungannya dengan sang nenek dalam lagu ‘Reality Check’ dan dalam lagu ‘Bye Bye Baby’ ia mengangkat isu aborsi yang amat sensitif. Kurang lebih, Telefone menarasikan cerita suram perempuan lewat sudut pandang ibu dan nenek yang reflektif.
Dalam berlagu, Fatimah terkesan berdansa dengan kata-kata yang ia ucapkan. Ia fasih menarasikan lirik reflektif lewat lantunan rap yang tidak terlalu cepat namun dengan tekanan kata yang jelas. Berangkat lewat ketidakpercayadirian yang mungkin dialami oleh banyak perempuan kulit hitam di Amerika. Yang utama lewat liriknya, ia tidak menebar kebencian namun melagukan optimisme dan keindahan pada nostalgia yang liris.
Listen to this episode of Soundclass on Whiteboard Journal’s Mixcloud!
01. United Future Organisation - Stolen Moments
02. Boca Livre - Um Canto De Trabalho
03. Gil Scott-Heron - Lady Day and John Coltrane
04. Sleepwalker - The Voyage (featuring Pharoah Sanders)
05. Pupa - Spiritual Vibes
06. Vanessa Daou - Autumn Perspective
07. Roman Andren - Juanita
Get Out menjadi salah satu film yang paling diantisipasi tahun ini. Terutama pasca trailer super intens yang memberikan gambaran sehoror apa film ini jika disaksikan secara utuh. Melalui debut kesutradaraannya ini Jordan Peele menunjukkan kekayaan referensinya, mulai dari It Follows sampai Manderlay.
Namun, hal paling menarik dari film ini adalah isu rasisme yang dibawanya, mengingat film-film dengan isu rasisme biasanya berkutat pada kisah-kisah otobiografi atau menjadikan sejarah perbudakan orang kulit hitam sebagai pusat cerita. Pendekatan horor dari Peele mampu memberikan premis baru dan menjadikan Get Out film horor sosial dengan banyak lapisan.
Film ini bercerita mengenai sepasang kekasih, Rose (perempuan kulit putih) dan Chris (laki-laki kulit hitam), yang berencana berakhir pekan di rumah orang tua Rose, Skeptisme Chris mengenai penerimaan keluarga Rose terhadap dirinya kemudian terjawab dengan cara yang paling horor.
Peele berhasil mempertahankan ketegangan film ini sampai bagian paling akhir. Meski tak bisa dipungkiri ada pula logika-logika tak masuk akal khas film horor dalam film ini. Namun pada akhirnya penonton akan terlalu ketakutan untuk terdistraksi hal-hal tersebut.
Hal lainnya yang juga esensial dari film ini adalah pemilihan pemain yang berhasil menjaga intensitas film dari awal hingga akhir. Terbukti bahwa sebagai film horror, Get Out tidak hanya memompa adrenalin, tetapi juga memberikan pendekatan baru terhadap diskursus rasisme.
Quick Review Get Out: 4/5
Sutradara: Jordan Peele
Sinopsis: Film horor berjudul “Get Out” ini merupakan film yang bercerita tentang perjalanan kekasih berbeda ras, Rose yang berkulit putih dan Chris yang berkulit hitam, ke rumah keluarga Rose. Sesampainya di Armitage House, rumah keluarga Rose, Chris mulai mengalami berbagai kejadian aneh nan menyeramkan maka tak ada jalan lain bagi Chris selain untuk menyelamatkan diri.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?